
Happy reading😘
*Bertahan.....
Itulah yang harus aku lakukan
Walaupun mungkin aku takut dan itu tidak mudah......
Namun akan ku tempuh*.....
Aku tidak tau apa yang ada dalam fikiran Taehyung. Aku juga tidak tau apa pria itu punya kepribadian ganda atau memang sifatnya seperti itu.
Aku, Taehyung dan ayah mengunjungi salah satu tempat untuk latihan tembak. Entahlah aku tidak tau kenapa dua pria itu membawaku kesini.
Aku hanya menunggu di luar. Aku sangat takut jika harus ikut masuk belum lagi suara bising dari senjata api itu membuat gendang telingaku terasa akan pecah. Aku masih bisa melihat mereka dari balik dinding kaca yang menghalang kami.
Aku menatap Taehyung kesal. Taehyung bisa dengan santainya mengobrol dengan ayahku, tertawa Sambil mengarahkan senjata itu pada sasaran di depannya. Dia bersikap seakan tidak mengatakan apa-apa padaku semalam.
Sementara aku disini merasa tidak karuan, bingung dan kesal. Tidak bisa kupungkiri Taehyung terlihat sangat keren saat menembak sasarannya. Aku juga bisa melihat dia selalu tepat sasaran. Sepertinya Taehyung memang sudah sangat mahir menggunakan senjata. Hampir sama dengan ayahku yang notabennya seorang polisi dan dektektif.
Taehyung menatapku, melepaskan pelindung telinganya lalu keluar dari sana menghampiriku.
"Yak Han Soora apa kau tidak mau belajar menggunakan senjata?" tanyanya.
"Shireo(tidak mau)...." tolakku membuang muka.
Dia terkekeh lalu menyeret tanganku masuk kedalam ruangan itu.
"Shireo Taehyung-ah haljima(tidak mau Taehyung. Hentikan)" ucapku melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku menatapnya dengan tatapan tajam dan dia membalasku dengan tatapan tak kalah tajamnya.
"Musuhmu bukanlah orang sembarangan Han Soora. Jika menggunakan senjata saja kau tidak bisa lalu bagaimana kau bisa melawan Jungkook?" tanya Taehyung.
Aku merendahkan sedikit pandanganku. Benar yang dikatakan Taehyung. Mereka semua lihai dalam menggunakan senjata sementara aku......
Melihatnya saja aku sudah sangat ketakutan.
Aku mengangguk pelan mengikuti langkah Taehyung masuk kedalam ruang latihan.
Ayah tersenyum lembut padaku dan kubalas dengan senyum tipis. Taehyung memasang pelindung telinga padaku.
"Pilih senjatamu" kata Taehyung menunjuk senjata yang berjejer rapi disana. Aku bingung harus memilih yang mana.
"Aku tidak tau" kataku mengalihkan pandangan pada Taehyung.
Pria itu memilihkan satu senjata untukku. Menelan salivaku berat aku mengambil pistol itu. Tanganku bergetar.
"Jangan gemetar seperti itu" marah Taehyung.
"T--ta---tapi....."
"Pegang erat pistol itu Soora" titah Taehyung.
Aku mencoba untuk memegang erat pistol itu dengan kedua tanganku tapi tetap saja sangat sulit.
Pistol itu seperti benda dengan berat luar biasa hingga aku tidak bisa mengangkatnya.
Aku mengarahkannya kesasaran dan tanpa sadar pelatuknya tertekan.
Doorrr?!!!!
Aku berteriak melepaskan pistol itu dari tanganku.
"Yak Han Soora..." bentak Taehyung.
Aku melepas pelindung telingaku. "Aku sudah bilang aku tidak mau. Aku tidak bisa melakukannya" kataku akan pergi dari sana. Namun Taehyung menghalangi langkahku.
"Aniyo(tidak).....kau tidak akan keluar dari sini sebelum bisa menembak dengan benar" tutur Taehyung dengan penuh penekanan.
Entah karna sangat kesal, aku mengambil kembali pistol yang terjatuh tadi dan mengarahkannya pada Taehyung.
"Yak Han Soora..." pekik ayahku.
Napasku tersengal-sengal menatap Taehyung yang diam saja.
"Kau mau menjadikanku sasaranmu?" tanyanya.
"Kau sangat cerewet dan pemaksa" timpalku.
Bukannya takut Taehyung malah mengarahkan pistol itu tepat di kepalanya.
"Tembaklah. Aku akan menutup mataku" katanya begitu pasrah.
Aku membulatkan mataku tak percaya. Apa Taehyung sudah gila? Aku diam dan dia mulai membuka kembali matanya. Menatapku seakan bertanya kenapa aku tak kunjung menarik pelatuk pistol itu.
Taehyung tersenyum tipis, maju sedikit lalu memasang kembali pelindung telingaku.
Kemudian Taehyung beralih kebelakangku. Menggenggam kedua tanganku lalu mengarahkannya kesasaran di depan sana.
"Tutup matamu" ucap Taehyung tepat di telingaku. Walau aku memakai pelindung telinga tapi aku bisa mendengarnya. Mungkin karna jarak Taehyung yang sangat dekat denganku.
Aku mengikuti instruksinya walaupun aku bingung kenapa dia menyuruhku untuk menutup mata. Aku berfikir bagaimana aku bisa menembak dengan benar jika aku menuntup mataku. Dasar aneh.
"Sekarang bayangkan orang yang paling kau benci" kata Taehyung lagi.
Terlintas dalam ingatanku wajah Jungkook. Segala kenangan indah saat dia bersamaku. Kata-kata indah yang dia lontarkan padaku semuanya bagai sembilu yang melilit hatiku.
"Ingat saat dia menyakitimu"
Mengingat moment di mana Jungkook mengatakan semuanya. Bahkan aku masih sangat ingat senyum miringnya yang merendahkanku.
Gejolak kemarahan mulai timbul dari dalam diriku.
"Bayangkan saat kau membuka mata dia ada di depanmu. Dan tembak......"
Aku membuka mata dan melihat Jungkook sedang tersenyum disana.
Aku menarik pelatuk dari pistol dan.....
Dooorrrrr???!!!!!
"Awal yang bagus" ucap Taehyung menyadarkanku dari lamunanku. Aku tidak percaya bisa melakukannya.
Sasaran itu di tarik kearahku. Kami semua terdiam saat melihatnya lalu tawakupun meledak. Begitupun ayahku.
"Apa kau yakin akan menembaknya di sana?" tanya Ayah.
"Mungkin" jawabku disela tawaku sementara Taehyung.
Dia masih terdiam dan menatap ngeri foto itu.
"Kau sangat sadis Soora-ya" akhirnya dia berkata.
Melepas pelindung telinganya, Taehyung sedikit menggerutu lalu berjalan keluar sambil melindungi area privasinya dengan tangan.
Aku jadi geli sendiri melihatnya. Sebegitu takutnya dia.
Sasaranku tadi berbentuk foto dengan gambar seorang pria. Dan lucunya adalah aku menembak gambar itu tepat di bagian selangkanya.
Aku tidak berniat sama sekali tapi sasaranku malah kesana.
Kami pulang menjelang sore. Taehyung memarkirkan mobilnya disebuah supermarket dekat sana.
"Aku akan membeli beberapa bahan makanan" ucapnya melepaskan sabuk pengaman.
"Boleh aku ikut?" tanyaku.
"Kajja\(ayo\)" katanya tersenyum.
"Appa kau\_"
"Appa menunggu di mobil saja" kata ayahku. Aku mengangguk lalu turun menyusul Taehyung yang sudah lebih dulu turun.
"Apa yang ingin kau beli?" tanyaku.
"Bahan makanan" jawab Taehyung sambil mendorong troli itu.
"Ara\(aku tau\).....tapi apa aku akan mengambilkannya" kataku.
"Baiklah, kau tolong cari bawang putih, bawang merah, kentang, dan kubis" jawabnya. Aku mengangguk lalu mulai mencari apa yang sebutkan Taehyung tadi.
"Apakah dia seorang vegetarian, semua yang dia sebut tadi sayuran semua kan?" gumamku sambil melihat sekeliling.
Aku mengambil bahan yang di sebutkan Taehyung tadi, aku sedikit kesulitan.
"Masukkan kesini" kata Taehyung yang sudah berdiri di belakangku.
"Ahh ne" jawabku lalu menaruh bahan makanan itu.
"Aku kira itu kentang" timpalku.
Taehyung memutar bola matanya malas. "Kembalikan ketempatnya" ucapnya menyodorkan ubi itu padaku.
"Bentuknya sama saja jadi aku kira ini kentang" gumamku menaruh kembali ubi itu di tempatnya.
Aku dan Taehyung menuju kasir setelah semua di rasa sudah cukup. Taehyung terlihat sangat frustasi bagaimana tidak sejak tadi dia mengomeliku karna salah mengambil bahan makanan.
Yah mana aku tau. Selama ini aku hanya memakan makanan instan atau makanan yang sudah siap santap jadi aku tidak tau bentuk awal dari bahan makanan itu seperti apa.
Kami masing\-masing membawa satu kantung berisi makanan. Aku tidak sadar jika hari sudah gelap.
"Kenapa kalian lama sekali" tanya ayahku.
"Aku\_\_\_\_"
"Lain kali jika kau ingin ikut berbelanja denganku aku tidak akan membiarkanmu" kata Taehyung menyalakan mesin mobil.
"Ada apa?"
"Aboji anakmu bisanya apa? Aku sampai pusing tadi di dalam tidak ada satupun yang dia tau tetang bahan makanan" gerutu Taehyung terlihat sangat kesal.
Ayahku malah tertawa. Aku mengerucutkan bibirku. Merasa sangat tidak berguna.
"Padahal kau bekerja di sebuah cafe"
"Aku bekerja sebagai pelayan bukan cafe. Ara..." kataku protes.
"Setidaknya bertanya agar kau tau, dasar pemalas"
"Yak Choi Taehyung.....aku tidak punya waktu untuk seperti itu, tugasku hanya melayani tamu, itu saja sudah sangat melelahkan" kata ku bersandar kesal di jok mobil.
"Bilang saja kalau kau itu memang tidak bisa apa\-apa"
"Aiisshhh jinjja\(yang benar saja\)...pria ini..."
Tidak habis\-habis dia membuatku kesal. Dasar pria menyebalkan.
Aku dan ayah tersentak saat Taehyung tiba\-tiba menginjak pedal rem.
"Apa apa?" tanyaku.
"Lihat didepan" ucap Ayah.
Aku menoleh dan melihat beberapa orang menghadang jalan kami.
"Jack apa kau membawa senjata?" tanya ayah.
"Di bawah jok ada satu senjata" ujar Taehyung sambil mengisi peluru senjata yang entah dari mana.
Pria itu menatap tajam kedepan. Mulai membuka pintu namum urung. Dia menatapku sekilas.
"Ada senjata di depanmu.....gunakankah" katanya lalu benar\-benar turun.
Aku tidak berniat untuk mengambil senjata itu dan malah duduk merunduk di dalam mobil.
Suara tembakan terdengar begitu kencang dan bertubi\-tubi. Aku menutup telingaku.
Aku berfikir dalam ketakutanku, apa aku akan tetap disini? Jika dengan mereka saja aku takut lalu bagaimana aku menghadapi Jungkook?
Taehyung benar aku harus melawan ketakutanku. Aku beranjak kembali ketempat duduk. Membuka laci mobil di sana dan menemukan sebuah pistol. Hampir sama dengan yang kupakai saat latihan tadi.
Adegan tembak menembak di sana masih berlangsung. Menelan salivaku berat aku mengambil pistol itu. Menarik sisi atasnya lalu keluar dari mobil.
Kuarahkan pistol itu namun tak kunjung aku menarik pelatuknya.
Aku masih gemetar dan terlalu takut. Ini tidak semudah yang ku bayangkan. Menembak sasaran atau benda beda dengan menembak manusia.
Selama ini aku tidak pernah menyakiti siapapun dan sekarang apakah aku harus menyelapnya nyawa seseorang? Aku tidak bisa.
Aku berlari kebelakang mobil untuk bersembunyi. Menutup kedua telingaku agar tidak mendengar suara tembakan lagi. Tapi sayang suara itu tembakan itu lebih besar aku masih bisa mendengarnya.
"Soora\-ya......." panggil seseorang. Itu ayahku. Aku mendongak lalu berlari menghampirinya.
"Appa...." suaraku bergetar.
"Cepat bantu Jack dia tertembak" kata ayahku.
Aku mengalungkan tangan Taehyung keleherku. Dia tertembak di bagian kaki. Sudut netraku menangkap ada seseorang yang mencoba menembak kearah kami.
Aku menatapnya dan tanpa sadar tanganku yang menggenggam senjata ku arahkan padanya.
Dalam sekejab peluru dari pistolku menembus dada orang tersebut. Aku makin gemetar dengan mulut menganga tak percaya. Pistol itu terjatuh begitu saja dari genggamanku.
"Good girl" tutur Taehyung sambil tersenyum ke arahku di tengah rasa sakitnya. Aku tersadar dan kembali berjalan memapah Taehyung menuju mobil.
Ayah kembali mengambil pistolku yang terjatuh. Aku dan Taehyung duduk di belakang dengan Taehyung tidur di atas pahaku. Sementara ayahku langsung melajukan mobil pergi menjauh dari sana.
Taehyung harus segera mendapat pertolongan.
Tbc........
**Taehyung\-ah 😭😭😭. Kamu baik\-baik saja kan?
See you next chap
By Rara💜**