
Happy readingπππ
*Bisakah aku kembali mencintai seperti dulu.......
Aku takut jika mengecewakanmu....
Atau sebaliknya*....
Maid itu mengantarku dan appa ke kamar masing-masing.
Kupandangi kamar yang sangat luas itu lalu mendudukkan diriku di tepi tempat tidur.
Kupegang bibirku yang lecet akibat ulang Jungkook tadi. Aku meringis pelan.
Aku masih bertanya kenapa dia menciumku? Bukankah dia suami Eunmi? Tapi kenapa dia melakukan itu padaku?
Aku benci diriku yang lemah. Air mataku lolos begitu saja. Menyalurkan rasa sakit dari hatiku. Sangat sulit untukku melupakan Jungkook tapi aku harus.
Aku menyapu air mataku kasar. Aku butuh mandi. Mungkin setelah itu fikiranku akan kembali jernih.
Setelah membersihkan diri aku keluar dari kamar itu berniat untuk menemui Taehyung. Aku khawatir padanya. Dia berlari sangat kencang tadi padahal kakinya masih terluka.
"Permisi......kamar Taehyung dimana?" tanyaku pada seorang maid yang lewat di depanku. Kulihat dia mengerutkan keningnya bingung.
"Maksudku Jack"
"Ohh tuan Jack. Mari saya antar" kata maid itu ramah.
Ternyata di rumah ini juga tidak ada yang mengenal Taehyung dengan nama Choi Taehyung.
"Ini kamar Tuan Jack Nona" kata maid itu menunjuk satu kamar dengan pintu besar. Lebih besar dari yang lainnya.
Aku berterima kasih pada maid itu. Berniat ingin mengetuk pintu, namun urung saat pintu kamar itu terbuka menampilkan seorang wanita.
Wanita yang menangani Taehyung di rumah sakit. Dia tersenyum ramah padaku yang kubalas dengan senyuman tipis.
Tanpa berkata apa-apa aku langsung masuk kedalam kamar itu. Aku melihat Taehyung sedang tertidur sambil menutup mata dengan tangannya.
"Taehyung-ah apa kau sudah tidur?" kataku hati-hati.
Taehyung menurunkan tangannya lalu menatapku. Aku mendekat lalu duduk di sampingnya. Kutatap betisnya yang berbalut perban.
"Apa lukamu makin parah?" tanyaku khawatir.
"Ne(ya)...mungkin karna tadi aku berlari jadi lukanya kembali terbuka" jawab Taehyung sedikit terkekeh.
"Mianhaeyo(maafkan aku)" kataku menunduk.
Taehyung menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Tangannya terulur mengangkat daguku.
Dia menyapu bibirku yang terluka. Aku meringis membuat dia melepaskan tangannya. Taehyung membuka laci di sampingnya mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Mendekatlah" katanya membuatku membulatkan mataku.
"Aku bilang mendekat bukannya melotot seperti itu" kata Taehyung jengah.
"Ahh ne..." jawabku lalu mendekat padanya.
Taehyung mencondongkan tubuhnya. Mengeluarkan sedikit obat yang dia ambil dari laci keujung tangannya lalu mengoleskannya pada lukaku.
Aku menatapnya. Namja yang begitu kubenci menyelamatkan hidupku bukan hanya sekali namun sudah beberapa kali. Dia bahkan mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkanku.
Mungkin aku belum bisa percaya sepenuhnya pada Taehyung. Tapi akan ku coba untuk mulai membangun rasa percaya itu padanya.
"Cahhh sudah selesai" katanya menyadarkanku dari lamunanku.
"Gumawo(terima kasih)" kataku singkat.
"Gweanchana?(kau baik-baik saja)" tanya Taehyung.
Aku tersenyum tipis. "Ne gweachana(ya aku baik-baik saja)"
Tok......tok.....tok....
Pandangan kami teralih ke arah pintu yang terbuka.
"Kau baik-baik saja?" tanya ayahku berjalan masuk kedalam kamar.
"Ne aboji, aku baik-baik saja" jawab Taehyung.
Ayah duduk di sampingku lalu mengusap rambutku lembut. Pandangan ayah teralih ke Taehyung.
"Bagaimana denganmu nak. Kau baik-baik saja?" tanya ayah padaku.
"Ne appa aku baik-baik saja" jawabku.
"Mulai sekarang kita harus waspada. Jungkook sudah tau semuanya" kata Taehyung.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.
"Mungkin kita harus menjalankan rencana aboji" timpal Taehyung.
"Aniyo(tidak)......keadaanmu masih seperti ini. Kita tidak bisa menjalankan rencana sekarang" bantah ayahku.
Taehyung membuang napasnya berat seakan menyesali karna dia masih terluka.
"Lebih baik kau fokus untuk sembuh dulu. Lagi pula kita akan aman disini" ucap ayahku.
"Target mereka bukan hanya Soora sekarang tapi kita bertiga. Dan aku yakin mereka tidak akan berhenti sampai mereka menemukan kita........" kata ayah lagi.
".......untuk itu kau harus bisa menjaga dirimu sendiri Soora" lanjut ayah menatapku penuh harap.
Dan aku benci tatapan itu. Seakan itu menandakan jika mereka tidak akan sanggup melawan Tuan Lee dan Jungkook.
πππ
Aku tidak menyangka di rumah besar milik Taehyung ini terdapat ruang latihan menembak. Itu terletak di ruang bawah tanah dan kenapa aku bisa mengetahuinya itu karna aku diam-diam mengikuti para penjaga yang ada dirumah ini.
Mereka semua memiliki senjata yang selalu mereka bawa. Awalnya aku takut mereka marah tapi ternyata mereka malah membiarkan ku untuk latihan disana.
Seperti kata ayah aku harus bisa melindungi diriku agar kejadian seperti tempo hari tidak terulang lagi. Aku harus bisa melawan Jungkook.
Aku mengambil senjata itu, mengisinya dengan peluru lalu mulai mengarahkannya ke sasaran disana.
Tanganku kembali gemetar. Aku menembak namun aku salah sasaran.
Sialan.
Aku mencobanya lagi namun kembali aku gagal. Mendengus kesal, aku meletakkan senjata itu dan duduk di sofa yang ada disana.
"Jika kau marah seperti itu kau tidak akan pernah bisa melakukannya"
Aku menoleh kesumber suara. Itu Taehyung. Pria itu duduk disampingku sambil menyeruput jus yang dia bawa.
"Kau harus bisa tenang dan menganggapnya seperti sebuah hiburan"
"Maksudmu?"
Dia menaruh gelas itu di atas meja lalu menatapku. "Jika kau ingin bisa menembak dengan benar, kau harus membuat hatimu tenang terlebih dahulu, kau boleh marah pada sasaranmu namun jangan karna marah kau menjadi tergesah-gesah dan malah tidak tenang"
Ya aku memang marah. Sangat marah. Bahkan tadi aku membayangkan Jungkook lah yang ada di depan sana.
"Kau ingat saat aku mengajarimu. Praktekkanlah itu" ucap Taehyung lalu menggerakkan kepalanya menyuruhku untuk kembali latihan.
Aku mengangguk lalu masuk kembali keruangan itu. Menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan.
Aku harus tenang walaupun aku sedang marah dan kesal. Aku mengarahkan pistol itu kedepan dan kutarik pelatuknya.
Tersenyum puas aku menoleh kearah Taehyung. Dia mengangkat gelasnya sambil tersenyum.
Walaupun mungkin masih meleset, setidaknya sasaranku sudah benar.
Aku berlatih setiap harinya. Bukan hanya latihan menembak namun juga bela diri. Setidaknya aku bisa melindungi diriku sendiri walau hanya dengan bela diri dasar.
Soora yang dulu lemah tidak ada lagi. Dia sudah tergantikan dengan Soora yang kuat dengan tekad menghancurkan semua musuhnya.
Waktu itu makin dekat.
Taehyung dan ayah mempersiapkan segala rencana mereka dengan matang tidak boleh ada kesalahan. Semua harus berjalan dengan lancar.
Beberapa bulan kemudian.....
"Han Soora...." kata Taehyung merangkulku.
"Ne?(apa)" kataku menyapu keringatku dengan handuk. Aku baru saja selesai latihan bela diri.
"Aku tidak menyangka kau berubah dalam waktu singkat" katanya.
"Itu harus dan terima kasih berkatmu aku bisa seperti ini" ucapku tersenyum tipis.
"Sama-sama......" Taehyung berdiri lalu mengulurkan tangannya.
"Mwo?(apa)"
"Aku ingin tau seberapa jagonya dirimu sekarang. Apakah tidak sia-sia aku membayar mahal pelatih untuk melatihmu?" kata Taehyung menantangku.
Aku menyambut tangannya. "Kajja(ayo)...." ajakku.
Kami memasuki arena latihan.
"Aku tidak akan mengecewakanmu sekarang" ucapku mulai memasang kuda-kuda.
Ya begitulah karna selama ini saat aku bertarung dengan Taehyung aku selalu kalah darinya. Dan berakhir dia akan mengejekku. Namun kali ini aku yang akan mengalahkannya.
"Kita lihat saja nanti" ucap Taehyung.
Pertarungan kami pun dimulai. Mungkin karna awalnya Taehyung yang mengajariku, gerakan kami hampir sama.
Pertarungan kami berlangsung sengit. Kurasa kemampuanku memang sudah lebih baik sekarang.
Namun tanpa kusadari Taehyung membuatku tumbang. Itulah kelemahanku aku mudah sekali lengah akan serangan lawan.
Sial aku kalah lagi.
Dadaku naik turun memperhatikan Taehyung yang sedang berada di atasku. Menyangga dirinya dengan kedua lengan agar tidak menimpaku. Dia pun sama seperti diriku, cucuran keringatnya bahkan menetes mengenai wajahku.
"Yak menyingkirlah...." kataku mendorong tubuhnya namun mungkin karna terlalu lelah tubuh Taehyung tidak bergerak sama sekali.
Pria itu malah menatapku intens dan itu sukses membuat jantungku berdegub kencang. Mata coklatnya itu seakan menghipnotisku untuk tidak bergerak sama sekali.
Taehyung menelan salivanya berat mendekatkan wajah sexy berkeringatnya padaku. Dan aku tau yang akan terjadi selanjutnya.
Sontak aku menutup mata dan merasakan bibir kenyal Taehyung menyapu bibirku.
Awalnya hanya menempel hingga dia mulai bergerak melumat bibir atas dan bawahku secara bergantian.
Aku begitu terbuai dengan permainannya hingga tanpa sadar aku mengalungkan tanganku di lehernya. Menarik Taehyung untuk memperdalam ciuman kami.
Aku membalas ciumannya sebisaku. Ciuman itu begitu lembut hingga membuatku tidak ingin berhenti. Pria ini seakan bagai candu bagiku.
Apa yang terjadi padaku? Apakah aku mulai mencintai Taehyung? Atau justru yang lain?
Sungguh aku tidak tau namun aku sangat menikmati momen ini.
Kami melepaskan tautan dan Taehyung kembali menatapku.
"Jadilah milikku Han Soora" kata Taehyung dengan suara seraknya.
Bagaimana ini? Apa harus aku jawab?
TBC........
Jawab iya aja Susah bgt sih.πππ
See you next chap
By Raraπ