The Games

The Games
Chapter 19



Happy reading😘😘😘


Baru saja aku akan menata segalanya


Kau kembali


Mengingatkan luka


Yang ingin kulupakan.........


Aku duduk terdiam di ruang tunggu rumah sakit. Memandangi tanganku dengan perasaan campur aduk.


Tangan ini sudah melenyapkan satu nyawa manusia. Bagaimana jika besok pagi namaku tertera di tv dan media sosial sebagai seorang pembunuh. Oh Tuhan maafkan aku.


Ayah membawaku dalam pelukannya. Mungkin dia bisa merasakan ketakutan yang menyerangku sejak tadi.


"Gweachana(tak apa) Soora-ya.......kau tidak perlu khawatir seperti ini" kata ayah sambil mengelus punggungku lembut.


"Aku sudah melenyapkan nyawa seseorang appa hiks......" lirihku memeluk erat lengannya. Menyembunyikan tangisku yang memang sudah kutahan sejak tadi.


"Itu bentuk pertahan diri. Dunia kita tidak sama dengan orang-orang di luar sana. Sosok yang kita hadapi bahkan lebih kejam....." kata ayah melepaskan pelukannya. Menatapku sambil menggeleng lalu menghapus sisa air mataku.


"......kau harus bisa kuat nak. Kau jangan lemah seperti ini. Ingatlah kau anak seorang polisi jadi itu wajar. Arasso(paham)" lanjut ayah.


Aku mencoba mengangguk namun hatiku masih belum sekuat itu. Aku belum sanggup.


"Kau selalu kembali kesini dengan keadaan terluka, tidak bisakah kau berhenti?". Suara wanita itu membuat aku dan ayah menoleh.


Taehyung terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya, dia mendapat omelan dari wanita berjas dokter itu.


Aku dan ayah menghampirinya. Wanita itu memberi Taehyung sebuah kantong plastik berwarna putih namun aku tidak tau apa isinya karna kantong itu tidak trasparan.


"Aku tidak ingin kau terluka Jack, kumohon". Entah kenapa hatiku panas melihat wanita itu memeluk Taehyung.


Aku berdehem membuat mereka melerai pelukan.


"Gumawo(terima kasih) Miraa-ya" tutur Taehyung tersenyum pada wanita itu dan tanpa permisi mengalungkan tangannya di leherku.


"Kajja(ayo)"


Aku menatapnya seakaan bertanya apa-apaan dia.


"Kakiku masih sakit aku belum bisa berjalan sendiri" ucapnya memelas. Ingin rasanya kudorong tubuh besarnya itu. Sepertinya dia memang sangat hobi membuatku kesal dengan tingkahnya.


Kudengar ayah berterima kasih juga pada wanita itu. Sementara Taehyung sudah menyeret ku lebih dulu keluar dari rumah sakit itu.


Di rumah....


"Aagghhhhh......." teriak Taehyung memecah keheningan malam.


"Bisakah kau sedikit lebih lembut, itu sangat sakit" protes Taehyung meringis.


"Sudah kucoba tapi tanganku tidak mau berhenti gemetar" jawabku sedikit memekik.


"Aku bisa mati jika kau yang mengobatiku. Appoooooo(sakit)".


Aku mendongak. Apa pria itu benar-benar menangis atau hanya sedang mengerjaiku.


Tapi kurasa dia sedang tidak bercanda dilihat dari luka di betisnya itu cukup dalam dan membuatku ngeri hingga tanganku gemetar hebat.


Aku menarik napas dalam, mencoba kembali membantu Taehyung untuk memberi obat pada lukanya.


Dengan sangat pelan aku memberikan obat itu. Taehyung sudah tidak bersuara lagi. Aku meniup sedikit lukanya, mengambil perban lalu membalutnya dengan sangat hati-hati.


"Cah Sudah......" ucapku. Aku melihat Taehyung dia tidak bereaksi apa-apa. Seketika aku panik.


"Taehyung-ah....." kataku menepuk-nepuk pipinya. Ya ampun pria itu pingsan karna tidak sanggup menahan sakit.


Aku berniat beranjak namun terhenti saat Taehyung tiba-tiba menarikku.


Aku memejamkan mataku dan membukanya perlahan. Jarak antara wajahku dan Taehyung hanya beberapa senti. Tanganku berada diatas dadanya sebagai penyangga jarak antara tubuh kami. Walaupun itu tetap membuat kami menempel karna satu tangan Taehyung merangkul tubuhku.


Diapun perlahan membuka matanya membuat netra kami bertemu.


"Gumawo(terima kasih)..." kata pertama yang kudengar.


"Sama-sama" timpalku cepat.


Aku menggeliat untuk bangun namun Taehyung makin mengeratkan pelukannya.


"Jangan pergi" katanya setengah berbisik.


"Aku harus___"


Ucapanku terhenti saat Taehyung menempelkan kepalaku di dadanya.


"Kau mendengarnya?" tanya Taehyung.


Aku mengangguk sebagai jawaban dan dia pasti bisa merasakannya.


"Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini saat bersama seorang wanita......." kata Taehyung. Sementara aku disini masih diam mendengar detak jantung Taehyung yang bekerja 2x lipat seakan jantung itu ingin keluar dari tempatnya.


"......tapi saat bersamamu jantung ini berdegub kencang." katanya terkekeh pelan.


"......seperti saat aku dikejar oleh musuhku" lanjutnya.


"Katakan padaku Soora....apa kau adalah musuhku?". Aku sontak bangun dari posisi itu.


Sialan. Wajahku sudah memerah tadi karna ku kira dia sedang menggodaku. Aku menatap tajam wajah polos menyebalkannya itu.


"Wae?(kenapa)"


Aku tidak menjawab dan langsung meninggalkannya. Aku bisa mendengar dia tertawa puas dibelakangku


Dasar Taehyung sialan.


Beberapa hari kemudian......



Taehyung berjalan pincang kearahku dan Ayah.


"Kau yang memasak semua ini?" tanya Taehyung setelah mendudukkan dirinya.


"Kenapa kau menanyakan hal yang kau tau jawabannya?" ketusku.



"Tentu saja appaku yang memasak. Aku kan tidak bisa apa\-apa" kataku lagi sambil memanyungkan bibirku.


"Kau sadar diri rupanya" kata Taehyung terkekeh di ikuti ayahku.



Aku hanya diam tidak ingin berkomentar lagi. Menyantap makanan itu dengan lahap. Jujur aku sangat rindu dengan masakan ayahku. Aku tersenyum padanya sambil menaikkan kedua jempolku.



"Wah masakan aboji enak sekali. Yak Han Soora seharusnya kau belajar memasak dari ayahmu eoh!!"



"Hmmm" gumamku tak ingin terlalu mengubrisnya.


"Aku kasihan pada suaminya nanti, pasti dia akan sangat tersiksa punya istri sepertimu"



Aku masih diam dan terus menyantap makananku menganggap semua yang dikatakan pria menyebalkan itu tidak ada.



"Jika aku jadi dia aku pasti sangat menyesal sudah menikahimu" celotehnya lagi.



Tak??!!!



Aku menaruh sumpit itu dengan kasar membuat mereka menoleh ke arahku. Selera makanku hilang seketika. Aku menatap Taehyung tajam lalu pergi dari sana. Masa bodoh dengan rasa lapar yang menyerang aku terlalu kesal sekarang.



Aku berjalan keluar rumah tak tau mau kemana kakiku terus melangkah menjauh dari rumah itu. Aku tak habis pikir kenapa Taehyung senang sekali membuatku kesal.



Aku berhenti di kebun teh yang pernah ku datangi bersama Taehyung. Kenapa aku malah kesini?



Entahlah. Aku lelah dan ingin Beristirahat.



Lagi pula di sini sangat tenang. Aku menyukainya.



"Disini kau rupanya". aku tidak langsung menoleh karna aku tau itu siapa.



Siapa lagi jika bukan Choi Taehyung menyebalkan itu.



"Kenapa kau kemari belum puas membuatku kesal padamu?" kataku dengan nada ketus.


"Aku tidak akan pernah puas sampai aku mendapatkanmu" ucapnya.



Aku menegang.


Itu bukan Taehyung.



Aku berdiri lalu menoleh pelan\-pelan.



Mataku membulat saat melihatnya. Degub jantungku langsung berpacu dan tanganku yang mengepal kuat.



"Annyeong\(hallo\) Han Soora" katanya sambil tersenyum. Aku mundur beberapa langkah namun dia langsung menggenggam lenganku.



"Lepaskan aku....." kataku memberontak.



Tiba\-tiba di menodongkan pisau kearahku. Memutar tanganku hingga dia sekarang berada di belakangku.



"Diamlah jika kau masih ingin selamat sayang" bisiknya.



Aku sangat muak dengan kata\-kata itu.



Lee Jungkook mengarahkan pisau itu kepipiku. Napasku tersengal\-sengal. Aku sangat takut namun aku mencoba menyembunyikannya. Dia tidak boleh melihatku takut.



"Jika kau ingin membunuhku. Bunuh saja" kataku geram karna dia sepertinya hanya ingin bermain\-main.



"Membunuhmu???" Jungkook terkekeh pelan. "Itu sangat mudah untukku.......tapi kau tidak boleh mati sekarang"



"Waeyo?\(kenapa\)" pekikku.


"Karna aku belum mendapatkan apa yang kuinginkan darimu". Aku bisa melihat Jungkook tersenyum miring dari sudut mataku.



"Kau tidak akan mendapatkan apa\-apa dariku Lee Jungkook" bentakku.



Aku tetap mencoba menarik tanganku tapi Jungkook malah menggenggamnya sangat kuat. Kenapa tidak ada orang disini? Kemana mereka semua? Tidak adakah orang yang bisa menolongku sekarang?



"Ahh benarkah?? Aku juga baru tau jika yang membantumu adalah Jack atau lebih kau kenal dengan nama Taehyung"



Aku terdiam.



"Dia beraninya menghianatiku....." Jungkook tertawa renyah.



Aku berfikir jika Jungkook tau tentang Taehyung berarti dia juga tau tentang ayahku.



"Tapi dari yang aku tau kau sangat membencinya lalu kenapa sekarang kau malah bersamanya?"



"Dia melukaiku di fisik Lee Jungkook namun kau.......kau menyakitiku lebih dari dia. Kau melukai perasaanku" kataku penuh penekanan.



"Membohongiku, menghianatiku, kau bahkan lebih rendah darinya" lanjutku.



"Ohh ya? Begitu?"



Jungkook membalikkan tubuhku menghadap padanya. Dia menatapku dalam.



Perasaan apa ini? Kenapa aku seakan lemah karna dia menatapku? Apakah aku masih mencintainya? Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Mataku memanas menahan beban air mata yang akan tumpah jika aku tidak menahannya.



Aku mengalihkan pandanganku namun Jungkook menarik tengkukku dan menyatukan bibir kami.



Aku mencoba memberoktak namun dia memeluk pinggangku dan satu tangannya menekan tengkukku untuk memperdalam ciumannya.



Aku menangis di sela ciuman itu. Rasanya seperti di lecehkan. Ya Tuhan lepaskan aku dari monster ini. Jerit batinku.



Belum lagi Jungkook sangat brutal menciumku hingga kurasakan bibirku lecet olehnya.



Seseorang menarik kerah baju Jungkook lalu.....



Bugh??!!!!!



Sebuah pukulan mendarat sempurna di pipi kanannya. Sosok itu memukuli Jungkook brutal hingga Jungkook tidak sempat untuk melawan.



Aku mendengar suara riuh mendekat. Itu mungkin anak buah Jungkook.



"Sudah cukup kita harus pergi sekarang" kataku menghentikan sosok itu. Dia Taehyung.



Tanpa berbicara Taehyung menarik tanganku berlari dari sana meninggalkan Jungkook yang masih berbaring disana entah dia pingsan atau masih sadar.



"Kita harus pergi dari sini" ucap Taehyung saat kami sampai di rumah.



Dengan tergesah kami mengemasi barang masing\-masing lalu menuju mobil.



Aku melihat Taehyung menelpon seseorang saat perjalanan. Ayahku yang mengemudi.



Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah lorong. Taehyung mengintruksikan aku dan ayah berpindah mobil.



Sementara dia dibantu oleh pengemudi mobil yang kami tumpangi membakar mobil yang tadi.



Haruskah sampai seperti itu? Sayang sekali.



Mereka kembali masuk kedalam mobil dan berlalu dari sana. Aku menoleh kebelakang melihat mobil itu dan tak lama mobil itu pun meledak.



Mobil yang membawa kami terparkir di sebuah rumah yang sangat besar. Rumah siapa ini? Pikirku.


Kami di sambut oleh beberapa pria berjas hitam dan wanita dengan pakaian seragam berwarna hitam putih.


"Antar mereka kekamar masing-masing" titah Taehyung pada maid wanita disana.


"Baik Tuan" jawab salah satu dari mereka dan sekarang aku tau jika rumah ini milik Taehyung.


Kurasa.


Tbc........


**Jungkook-ah waeyo😭😭😭😭


See u next chap


By Rara💜**