
Happy readingπππ
Kau ada dimana?
Kau tidak meninggalkanku kan?
Kau sudah berjanji
Jangan di ingkari
Mataku terasa sangat berat saat aku akan membukanya. Aroma khas obat menyeruak di indra penciumanku. Bisa ku tebak aku sedang berada di rumah sakit.
Ruangan yang di dominasi dengan warna putih. Aku menggerakkan sedikit tubuhku yang terasa sangat kaku. Sudah berapa lama aku berbaring? Aku melihat sekeliling. Disini sunyi sekali.
Tentu saja. Aku sendirian disini.
Kemana semua orang?
Tunggu. Memangnya siapa yang sedang aku cari.
Tidak.
Hanya satu orang yang kuharap ada disini, orang yang sangat aku cintai.
Cklek.....
Suara pintu terbuka. Aku menoleh. Sosok itu masuk tanpa ekspresi.
"Kau sudah sadar?" tanyanya dingin.
"Seperti yang kau lihat" jawabku seadanya.
"Kau jangan terlalu banyak bergerak dulu" katanya seakan memerintahku.
Aku terkekeh. Sejak kapan dia jadi perhatian padaku? Atau jangan-jangan dia sedang sakit?
Pria itu berjalan menuju sofa yang berada di kamar inapku.
"Taehyung-ah" panggilku.
"Hmmm"
"Tuan Lee dan Eunmi apa___"
"Mereka sudah tiada" potong Taehyung mengambil buah apel yang berada di atas meja. Mengupasnya pelan.
Aku terdiam sejenak larut dalam pikiranku.
"Apa kau mau?" tanyanya menyodorkan potongan apel padaku.
"Tidak terima kasih" tolakku tersenyum tipis.
Taehyung menggedikkan bahunya dan mulai mengunyah apel itu.
"Lalu....." aku membuang napasku pelan lalu melanjutkan perkataanku sambil menatap Taehyung.
"Dimana Soora?" tanyaku.
Seketikan Taehyung berhenti mengunyah. Dia terlihat bimbang untuk menjawab pertanyaanku. Taehyung menatapku sesaat lalu mengalihkan pandangannya lagi.
Dia menaruh apel itu yang masih tersisa setengah. "Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksamu"
Kenapa dia malah mengalihkan pembicaraan?
"Yak Taehyung-ah..."
Dia menghentikan langkahnya. "Aku akan memanggil dokter"
Kembali dia melanjutkan langkahnya meninggalkanku yang masih bingung.
Kemana Soora? Apakah dia baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkannya.
"Aakkhhhhh......" aku meringis saat kurasakan dadaku berdenyut.
Aku bisa merasakan jantungku berdegub kencang. Apa yang terjadi? Apa yang tidak aku ketahui?
Tak berselang lama, seorang dokter dan suster datang menghampiriku. Namun Taehyung, pria itu tidak bersama mereka.
"Bagaimana perasaan anda Tuan Lee Jungkook?" tanya dokter yang kuakui cukup tampan. Tapi aku lebih tampan tentunya.
"Aku sudah merasa lebih baik" jawabku singkat.
"Apakah masih ada yang sakit?"
"Aku hanya merasakan sakit tadi di bagian dadaku" jawabku.
Dia tersenyum. "Tentu saja karna anda baru saja menjalani operasi"
"Nde?(apa) Operasi? Operasi apa?" tanyaku bertubi-tubi.
"Operasi jantung"
ππππ
Aku menaruh tanganku di kantong celana kain berwarna hitam yang kukenakan. Tersenyum tipis melihatnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja" jawabnya tersenyum manis. Senyum yang selalu aku rindukan.
"Jungkook sudah sadar" kataku karna dia harus tau itu.
"Ahhh syukurlah jika dia sudah sadar. Dia tertidur cukup lama. Aku sampai takut dia tidak akan bangun lagi" katanya yang diiringi kekehan di akhir katanya.
"Ne(iya) tapi dia bertanya dimana dirimu" kataku.
Gadis itu mengangkat wajahnya. Awalnya dia terlihat sedih namun dia tersenyum kembali.
"Katakan padanya jika aku ada bersamanya" ucap gadis itu hangat.
Aku menunduk. Tak sanggup menatap wajahnya lagi.
Cinta itu begitu besar tapi bukan Untukku. Dan aku tidak akan pernah bisa menggantikannya apalagi mengisi hati wanita yang sangat aku cintai ini.
Aku bisa melihat setitik air mataku yang jatuh di depan sepatu sneakers yang aku kenakan.
"Taehyung-ah kau menangis?". Suara itu malah makin menyayat hatiku.
Aku mendongak. Kulihat dia sangat khawatir.
"Taehyung-ah uljima jebal(jangan menangis kumohon)" mohonnya.
"Soora-ya apa itu artinya kau akan segera pergi?"
Soora terdiam menatapku lalu menunduk.
"Kurasa begitu. Tapi bukankah kau ingin aku pergi bukan?" dia malah menggodaku.
"mollayo(Entahlah)" jawabku terkekeh miris.
"Soora-ya apa aku tidak punya tempat sama sekali di hatimu?" lirihku.
"Kau punya Taehyung"
"Ckkk benarkah? kau sedang tidak mencoba menghiburku kan?"
"Aniyo(tidak)...... kau punya tempat khusus dihatiku"
Soora meraih dua tanganku menggenggamnya erat namun aku tak bisa merasakan kehangatan sama sekali.
"Berbahagialah untukku Taehyung seperti janjimu" ucapnya diiringin dengan air matanya yang menetes di pipi.
Aku mencoba menghapusnya namun dengan cepat Soora menyapu sendiri air matanya.
"Kau tidak perlu khawatir lagi padaku. Aku pun sudah bahagia" katanya lagi.
Aku menyapu air mataku lalu tersenyum lebar.
"Ara. Kau pasti sangat bahagia. Bisa terlihat pipimu makin berisi" kataku menggodanya.
"Yak aku tidak gemuk eoh" protesnya mengerucutkan bibirnya. Itu selalu sukses membuatku sangat gemas.
Aku tertawa. "Apakah kau akan terus disini?" tanya Soora membuatku menghentikan tawaku.
"Sepertinya aku akan pulang sebentar lagi" jawabku.
"hmmmm" gumamnya mengangguk.
"Taehyung-ah apakah surat yang aku titipkan padamu sudah kau berikan pada Jungkook?"
"Apakah aku harus memberikannya sekarang?" aku malah balik bertanya.
Soora tertawa dengan wajah bodoh.
"Dasar gadis bodoh, bukankah waktu itu kau katakan untuk memberikan padanya saat di benar-benar sembuh" omelku.
"Ahh arasso(aku paham). Mianhae(maaf) aku lupa" katanya masih mempertahankan senyum bodohnya.
"Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Jalga(sampai jumpa)" kataku lalu pergi dari sana.
Saat berjalan keluar dari tempat itu aku bisa melihat beberapa orang memperhatikanku. Ya aku tau aku tampan. Namun bukan karna itu tapi karna berpikir aku sudah gila.
Ya aku memang gila.
"Yak kau dari mana saja?"
Kata pertama yang ku dengar saat membuka pintu ruang inap milik Jungkook.
"Kau merindukanku?" aku malah menggodanya.
"Yak hentikan. Kau menjijikkan sekali Choi Taehyung" katanya sambil tergidik.
Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya. Aku senang karna Jungkook tidak lagi memanggilku dengan sebutan Jack sejak hari itu.
Tunggu? Aku senang? Entahlah.
"Apa kau sudah di periksa?"
"Ne\(iya\)". Dia terlihat takut untuk melanjutkan ucapannya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Apa benar aku menjalani operasi jantung?"
"Mwo?\(apa\)"
"Kau tertembak di bagian dada saat itu dan itu mengharuskanmu di operasi karna jantungmu terluka" jelasku.
Aku tau apa yang ada dalam pikiran Jungkook. Dia terlihat sangat frustasi dan juga bingung di saat yang bersamaan.
"Sudahlah kau fokus saja untuk sembuh" kataku.
"Lalu Soora kemana? Aku belum melihatnya. Dia baik\-baik saja kan?"
Aku tersenyum lalu menepuk pundaknya. "Setelah kau sembuh total kita akan menemuinya"
Jungkook tersenyum girang. "Benarkah?"
"Tentu"
"Tapi kenapa dia tidak datang saja kemari menjengukku? Dia sudah berjanji saat itu akan merawatku" gerutunya.
"Dia tidak bisa melakukannya"
"Waeyo?\(kenapa\)"
"Kau terlalu banyak tanya eoh. Sudahlah aku mau pulang. Jaga dirimu" kataku pamit.
Dalam perjalanan pulang aku merasa seperti sedang mengulang masa lalu. Dimana aku dan Jungkook sangat dekat bahkan seperti saudara.
Dan itu terulang sekarang. Aku memang membencinya karna terlalu menurut pada Tuan Lee. Bahkan dia lebih kuat dariku tapi kenapa dia tidak ingin melawan dan menyelamatkan wanita yang dia cintai? Pengecut. Julukan yang kuberikan padanya.
Tapi malam itu saat dia datang bersama Soora, aku jadi mengerti jika Jungkook bukanlah seorang pengecut. Dia adalah laki\-laki yang hebat. Memperjuangkan wanita yang dia cintai walaupun wanita itu sudah sangat membencinya.
Jungkook tetap tinggal dan mempertaruhkan nyawanya untuk Soora. Dan aku bangga menyebutnya sahabatku dan juga adikku.
Beberapa minggu kemudian.........
Jungkook sudah dinyatakan sembuh. Namun masih harus terus melakukan check up beberapa bulan kedepan.
Aku menjemputnya dirumah sakit.
"Kau mau kuantar kemana?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari jalanan.
"Bisakah kita bertemu dengan Soora dulu?"
"Kau sudah sangat merindukannya yah" kataku terkekeh.
"Tentu saja"
"Baiklah kita akan menemuinya sekarang" kataku.
ππππ
Aku tersenyum lebar saat Taehyung mengiyakan untuk aku bertemu Soora hari ini.
Jujur saja aku sudah sangat merindukan gadis itu. Selama aku di rawat dia tidak pernah sekalipun datang. Aku sudah menanyai Taehyung beberapa kali namun dia selalu mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya aku mengisi kesepianku dengan mengenang masa lalu saat bersamanya. Bukan hanya itu aku juga berencana untuk melamar Soora sesegera mungkin.
Sekarang tidak akan ada lagi yang menghalangi cinta kami.
Hari hari buruk itu telah berlalu. Dan sekarang saatnya aku dan Soora bahagia. Kami berhak untuk itu.
Tidak akan ku biarkan siapapun menghalangi kebahagian kami.
Tidak akan.
Mobil itu berhenti di sebuah tempat yang entah kenapa membuat senyumku langsung luntur.
"Kenapa kita kesini?" tanyaku pada Taehyung.
Dia tersenyum. "Ayo kita turun"
Aku mengikutinya dan memperhatikan sekeliling.
Aku tidak salah lihat. Mengerutkan dahiku aku kembali menatap Taehyung seakan bertanya namun dia hanya tersenyum tidak jelas.
"Yak Choi Taehyung"
"Tidak usah protes ikut saja"
"Tapi aku ingin menemui Soora. Mungkin saja sekarang dia sedang menunggu kita. Apakah kau tidak takut jika dia mengamuk dan menjambak rambut kita berdua karna membiarkannya menunggu?" ocehku.
"Kenapa sekarang kau jadi sangat cerewet eoh?"
Benar juga. Sejak kapan aku jadi sangat cerewet seperti sekarang?
Tidak.
Aku sebenarnya memang sangat cerewet apalagi pada Jack aka Taehyung. Entah kenapa sifat Manja seperti seorang adik pada kakaknya keluar begitu saja saat bersamanya.
"Mollayo\(entahlah\)"
"Kau tenang saja Soora tidak akan marah jika kita mampir sebentar" ucap Taehyung.
Sekarang aku paham, Taehyung mungkin ingin mengunjungi keluarganya disini. Baiklah aku akan ikut karna aku juga ingin tau.
'Tunggulah sebentar Soora aku akan segera datang' monologku.
Saat sampai di sana, Langkahku terhenti saat netraku menagkap sosok di depanku. Aku bahkan seakan lupa untuk berkedip. Aku memegang jantungku yang berdegub kencang hingga terasa sakit.
Semuanya terlihat seperti mimpi. Tapi ini kenyataan karna aku bisa merasakan sakit.
Taehyung menepuk bahuku membuatku tersadar. Ini memang bukan mimpi. Aku menoleh pada pria di sampingku.
"Kau tidak ingin menyapanya?"
Tbc.......
**Kira\-kira mereka ketemu siapa????
Ada yg bisa nebak??
Ok see u next chapπππ
By Raraπ**