
Happy reading😘😘😘
*Haruskah aku percaya saat semua orang menghianatiku......?
Aku tak ingin sakit lagi......
Sudah cukup......
Aku kapok*......
Aku terduduk di sebuah kamar disana. Ya aku kembali kerumah itu. Rumah Tuan Lee.
Mereka semua memang licik melibatkan keluargaku dalam kejahatan mereka yang bahkan aku sendiri tidak tau.
Tentu saja aku penasaran apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan padaku. Tapi aku harus bertanya pada siapa? Aku sendirian disini. Lagi pula aku terlalu kecewa pada mereka.
Cklek.....
Aku menoleh kearah pintu. Itu Eunmi.
"Soora-ya...." panggilnya tapi aku memalingkan wajahku. Sungguh aku sangat muak melihat gadis ini.
Mengingat bagaimana dia sangat lihai membohongiku dengan wajah lugunya itu.
"Makanlah dan obati lukamu" ucapnya meletakkan nampan berisi makanan dan minuman serta beberpa plaster obat di atas meja nakas.
Dia berniat ingin beranjak.
"Eunmi-ya tunggu" langkahnya terhenti namun Eunmi tidak membalikkan badannya.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" tanyaku berdiri di belakangnya.
"Karna aku harus" jawabnya.
"Ckk...harus? Lalu untuk apa kebaikan yang selama ini kau berikan? Semua itu hanya bohong begitu?" pekikku.
"Yang kau lihat belum tentu ada tapi yang tak terlihat mungkin saja ada". Dia malah membuatku makin kesal dengan jawabannya yang berbelit-belit.
"Yak..."
Eunmi berbalik menatapku. "Kau tidak perlu banyak tanya jika masih ingin selamat. Orang-orang yang kau hadapi bukan manusia melainkan binatang buas yang kapan saja bisa menerkammu" kata Eunmi kembali berbalik lalu pergi dari sana.
Aku kembali terduduk dengan tulangku yang terasa sangat lemas. Binatang buas.
Eunmi bahkan mengibaratkan dirinya dan yang lain binatang buas.
Jika benar seperti itu mereka bisa melakukan hal yang tak pernah ku bayangkan.
Apakah tidak ada jalan untuk aku keluar dari sini? Apa yang akan terjadi denganku? Apa aku kan berakhir menyedihkan di tangan orang-orang yang sangat aku percaya.
Aku kembali menangis tersedu-sedu. Kenapa takdir begitu kejam padaku?
Kepalaku terasa sangat sakit. Aku mendekat kearah makanan dan minuman yang dibawa Eunmi tadi.
Aku meneguk air itu sampai habis. Bukannya berkurang tapi pusingku makin parah. Sekitarku terasa berputar hingga aku terjatuh di atas lantai.
Ku lihat kearah pintu. Ada seseorang mendekat. Aku yakin dia seorang pria. Apa itu Jungkook? Aku mencoba melawan agar pria itu tidak mendekat. Namun aku terlalu lemah bahkan aku tidak bisa bergerak sedikitpun.
Tangan hangatnya meraup kedua pipiku. Di tepuknya beberapa kali sambil menyebut namaku beberapa kali. Aku tidak bisa mengenali suaranya. Wajahnya juga tidak terlalu jelas karna pandanganku yang samar\-samar.
Pria itu mengangkat tubuhku. Semula aku mengira dia akan meletakkanku di atas tempat tidur namun ternyata dia membawaku keluar dari rumah itu.
"Kemana kau akan membawaku?" tanyaku dengan sedikit tenaga yang kupunya.
Dia tidak menjawab dan memasangkan tali pengaman di tubuhku.
Pandanganku semakin kabur dan yang terakhir yang kuingat aku berada di atas sebuah mobil yang melaju membawaku entah kemana sebelum seluruh pandanganku akhirnya hitam.
💜💜💜
Aku membuka mataku perlahan. Mengumpulkan kesadaranku. Aku bangun dan memperhatikan sekitarku. Dimana aku? Pertanyaan pertama yang terlintas dipikiranku.
Aku berniat beranjak namun urung saat kurasakan nyeri di lututku. Lukaku terlah berbalut beberapa plaster obat. Siapa yang telah merawatku? Aku berjalan keluar dari rumah yang terbuat dari kayu itu. Terlihat seperti rumah pohon tapi sangat bagus. Aku menyukainya.
Aku kaget saat sampai di luar. Yang benar saja ini memang rumah pohon. Aku menoleh kebawah melihat seseorang.
Menelan salivaku, aku turun perlahan menghampiri sosok itu. Sebelum sempat aku memegang pundaknya dia bersuara membuatku mengurungkan niat.
"Selamat pagi Han Soora" katanya tanpa berbalik.
"Nuguya?\(siapa\)" tanyaku sedikit gemetar.
Aku menutup mulutku saat sosok itu berbalik. Aku refleks mundur dan mengambil ancang\-ancang untuk lari dari sana.
Berbalik lalu mulai berlari namun.......
"Pergilah maka kau akan tersesat di hutan ini" teriaknya membuatku menghentikan langkahku dengan napas yang terengah\-engah. Bahkan aku baru lari beberapa langkah.
Aku berbalik padanya. Meliarkan pandanganku mencoba mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk melawannya. Aku mengambil sebilah kayu lalu kutodongkan padanya.
"Jangan mendekat" ancamku.
Dia berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kau mau mengajakku berkelahi?" tanyanya.
"Apa yang kau inginkan eoh? Dan dimana ini?" teriakku.
"Aku menginginkanmu dan kita sedang ada di dalam hutan" jawabnya tanpa beban sama sekali sedangkan aku disini sudah hampir gila dibuatnya.
"Sudahlah letakkan kayu itu dan ayo kita sarapan" ucapnya sambil menata makanan di atas meja sederhana yang kuyakin dia rakit sendiri dari kayu yang ada di hutan ini.
"Shireo\(tidak mau\)...." pekikku masih menodongkan sebilah kayu itu padanya.
Dia mendekat seakan tidak takut sama sekali. Dia menatapku tajam lalu secepat kilat menyambar kayu itu lalu membekuk tanganku kebelakang.
"Ahhh....." lirihku.
"Kau seharusnya berterima kasih karna aku sudah menyelamatkanmu, bukannya malah ingin memukulku" ucapnya tepat di telingaku.
"Lepaskan aku" ucapku mencoba melepaskan diri.
"Untuk apa aku berterima kasih padamu? Kau bahkan sama saja seperti Jungkook dan komplotannya. Orang jahat" ucapku.
Dia membuang napas membalik tubuhku untuk menatapnya namun aku menutup mataku. Rasa takut itu kembali menyelimutiku. Ternyata aku belum siap untuk bertemu dengannya. Tapi aku tidak bisa lari atau minta tolong sekarang. Aku bagai lepas di kandang singa tapi tersesat di kandang macan.
Namun tanpa kuduga dia malah memelukku sambil mengelus rambutku lembut.
"Kau masih takut padaku rupanya" lirihnya meletakkan dagunya di pundakku. Aku tidak bereaksi apa\-apa. Aku hanya diam tanpa memberonta.
Entah kenapa rasa takut itu beransur menghilang. Napasku sudah kembali beraturan. Dia melepaskan pelukannya lalu menatapku. Kali ini aku pun memberanikan diri untuk menatapnya.
Mata itu tidak pernah berubah sama sekali masih sangat tajam.
"Choi Taehyung..." lirihku.
"Ayo kita makan" ucapnya menggenggam tanganku menuju meja makan. Aku tidak menolak dan malah mengikuti langkahnya.
Taehyung tersenyum kearahku, aku menunduk melihat makanan yang ada diatas meja. Aku mengerjabkan mataku beberapa kali.
"Apa ini?" tanyaku.
"makanan" jawabnya singkat.
"Kau yakin kita akan makan ini?"
"Tentu saja memangnya apa yang bisa dapatkan didalam hutan seperti ini. Sudahlah tidak perlu protes dan makan saja" timpalnya lalu mulai menyantap makanannya.
Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya memamakan makanan ini. Ikan bakar yang sedikit hangus. Tidak ini sudah gosong. Aku memperhatikan Taehyung dan mengikutinya.
Awalnya aku ragu untuk memakannya namun saat ku coba. Ternyata enak juga membuatku tersenyum tipis lalu lanjut menyantapnya.
Takut?
Tentu saja aku masih sangat takut pada Taehyung. Mungkin traumaku belum sepenuhnya hilang padanya.
Menurut dokter memang tidak akan mudah menyembuhkan trauma bahkan orang yang sudah dinyatakan sembuh saja bisa saja kumat kembali.
Tapi setidaknya aku sudah tidak histeris seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku bisa sedikit mengontrol rasa takut ku sekarang. Kurasa.
Untuk itu aku selalu menjaga jarak dengannya. Seperti sekarang dia sedang membuat sesuatu seperti senjata dari sebuah kayu disana. Sementara aku masih duduk dimeja makan sambil memperhatikannya.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya setelah sekian lama hening menghampiri kami.
"Apa kau lupa dengan suratku?" dia malah balik bertanya. Baiklah tentang surat itu. Tentu saja aku tidak pernah lupa dengan isi didalamnya.
"Jadi maksudmu ini waktu yang tepat kau datang?" tebakku yang di jawab anggukan oleh Taehyung.
Aku masih bingung. Bukankah dia berniat untuk mencelakaiku saat itu. Lalu kenapa sekarang dia malah menyelamatkanku dari Jungkook?
Tidak.
Aku tidak akan tertipu. Cukup Jungkook yang sudah membohongiku mentah-mentah sekarang aku tidak akan percaya pada siapapun termasuk Taehyung. Dia mungin sama saja dengan Jungkook hanya ingin memanfaatkanku. Rasa percayaku pada seseorang sudah hilang. Aku harus tetap waspada, aku tidak ingin merasakan sakit lagi.
"Aku tidak akan memanfaatkanmu seperti yang kau fikirkan"
Apakah Taehyung seorang cenayah yang bisa membaca pikiran orang lain?
" Jika kau tidak ingin Memanfaatkanku, lalu kenapa kau menyelamatkanku?" kataku mengulang pertanyaanku.
Taehyung terdiam dan malah melanjutkan aktifitasnya tanpa memperdulikanku.
"Yak Choi Taehyung..." panggilku.
Dia tetap diam. Aku akan bersuara kembali namun dia menaikkan tangannya mengisyaratkan untuk aku berhenti bersuara.
Ada apa? Kulihat dia mengedarkan pandangannya. Sekarang aku mendengarnya. Suara seseorang.
Taehyung menatapku lalu tanpa aba-aba dia menyeretku untuk berlari dari sana.
Aku bisa mendengar dibelakang kami ada beberapa orang yang mengejar. Yang membuatku makin takut orang itu memanggil Namaku yang berarti mereka suruhan Jungkook.
Taehyung berhenti di sebuah pohon besar. Napas kami terengah-engah.
"Sial......kenapa mereka bisa menemukan kita" umpat Taehyung. Dia menatapku.
"Apa kau membawa ponsel?"
Aku mengecek saku celana dan meraba bagian yang mungkin ponselku terselip. "Aniyo..." jawabku.
"Lalu bagaimana bisa mereka menemukan kita?". Taehyung terlihat frustasi.
Dorrr??!!!!!
Aku refleks memeluk Taehyung. Mereka menembak kami. Tubuhku bergetar hebat. Untuk pertama kalinya aku mendengar suara senjata api dan itu di arahkan padaku.
"Ayo kita harus lari dari sini" ucap Taehyung.
"Aniyo(tidak).....aku takut" kataku histeris dengan napas tersengal-sengal.
"Soora-ya dengarkan aku......" Taehyung meraup kedua pipiku. Aku menatapnya.
"Kita akan baik-baik saja kau jangan kalah oleh rasa takutmu. Percaya padaku" kata Taehyung mencoba meyakinkanku.
Entah karna rasa takut atau karna tatapan mata itu, Aku menelan salivaku berat lalu mengangguk. "Aku percaya padamu". Kembali aku memberi kepercayaan yang kuharap tidak akan di balas penghianatan.
Dia menggenggam tanganku lalu membawaku berlari.
Suara tembakan terus bertubi-tubi menghampiri kami. Tapi untungnya kami bisa lolos. Aku merasa Taehyung sudah biasa dalam situasi seperti ini hingga dia tau bagaimana caranya agar kami bisa lolos dari tembakan itu.
Ada sebuah gubuk di depan. Taehyung membawaku masuk kedalam. Aku menyapu keringatku yang bercucuran.
"Apa ini?" tanya Taehyung menggenggam tanganku lalu menunjuk gelang yang melingkar disana.
"Ini gelang yang berikan Jungkook" jawabku.
Taehyung langsung menariknya hingga putus.
"Akkkhhh......" rintihku.
"apa kau sudah gila.......kau kan bisa memintanya?" protesku.
Taehyung mengutak atik gelang itu. "Lihat ternyata Jungkook memasang alat perlacak padamu. Pantas saja mereka bisa menemukan kita"
Luar biasa pantas saja Jungkook selalu tau kemana aku pergi. Jadi dia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.
"Aku akan mengecoh mereka" kata Taehyung berdiri namun aku menahannya.
Dia berbalik menatapku seakan bertanya.
"Kau akan meninggalkanku sendirian disini?"
"Aku akan kembali kesini untuk menjemputmu" katanya melepaskan tanganku pada lengannya.
"Taehyung-ah......"
Pria itu hilang di balik pintu gubuk itu. Aku tidak berbohong, aku khawatir dengan keselamatan Taehyung. Mereka membawa senjata api. Dan aku juga khawatir pada diriku sendiri bagaimana jika mereka tau aku disini dan........aaakkhhhhh. Aku menutup mata dan telingaku.
Baru saja aku merasa punya pelindung tapi sekarang apakah aku akan kembali kehilangan?
"Taehyung.......kumohon kembali" lirihku.
Ini memang gila berharap seseorang yang sangat ku benci kembali dan menyelamatkanku.
Tbc..........
See you next chap
by Rara💜💜