The Games

The Games
Chapter 3



Happy reading😘😘


*Aku tidak tau apakah keputusanku ini benar atau salah. Tapi bukankah setiap keputusan pasti akan ada dampak baik dan juga buruknya?


Dan kuharap keputusan yang ku ambil ini benar*.


"Tinggal bersamamu?" tanyaku membulatkan mataku.


Kulihat Jungkook menaikkan satu tangannya. "Bukan begitu maksudku...." dia menggaruk tengkuk yang ku yakin tak gatal.


"Aku hanya ingin menolongmu. Kau tau kan Eunmi juga akan segera pindah ke apartemen yang sama denganku. Jika dia sudah pindah kau bisa tinggal bersamanya" jelas Jungkook.


Aku terdiam mencerna apa yang dia katakan. Aku memang ingin pergi dari rumah halmoni tapi haruskah aku tinggal bersama Jungkook atau Eunmi.


Aku hanya tidak ingin menjadi beban mereka. Tersenyum manis aku menggeleng pelan. "Aniyo.....aku bisa mencari tempat tinggal lain setelah menerima uang penjualan rumahku"


"Aku berniat menolongmu untuk mendapatkan kembali rumah itu Soora" ucap Jungkook.


"Nde?" bingungku.


"Kau pasti tidak ingin rumah itu dijual kan. Aku akan membantumu untuk mendapatkannya kembali"


Hatiku menghangat melihat kesungguhan Jungkook ingin membantuku. Rasa yakin itu makin besar seiring dengan rasa percayaku padanya.


"Gumawo" kataku singkat sambil tersenyum.


"Tentu Soora. Apapun itu" timpal Jungkook membalas senyumanku.


Sesuai kesepakatan aku ikut ke apartemen Jungkook. Aku tidak sepenuhnya ingin tinggal bersamanya tapi aku terlalu malas untuk pulang kerumah Halmoni. Terlalu sakit tepatnya.



Canggung. Tentu saja. Apalagi Jungkook sempat membelikanku beberapa pakaian untuk ku kenakan saat berada di tempatnya.



Dia menyuruhku untuk memakai kamar yang berada di samping kamarnya.



Aku tercengang melihat kamar itu 2 kali lebih besar dari kamarku di rumah halmoni. Luar biasa.



Aku membersihkan diri dengan berendam di bathtub. Aku sangat merindukan moment seperti ini. Entah kapan terakhir kali aku mandi dengan cara berendam.



Jujur saja berendam seperti ini membuatku tenang terlebih lagi tadi aku sempat menangis kencang dan itu membuatku sedikit pusing.



Setelah puas berendam aku kembali kedalam kamar memakai pakaian yang telah di beli Jungkook untukku. Aku tersenyum melihat pakaian itu. Sungguh sesuai dengan seleraku.



Setelah berpakaian aku keluar dan mendapati Jungkook sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karna saat melihatku Jungkook langsung mematikan telponnya.



"Kau sudah selesai mandi?" tanya nya.



Aku mengangguk lalu berjalan kearahnya. Dia juga sepertinya baru saja selesai mandi. Itu terlihat dari rambutnya yang masih sedikit basah.



"Soora\-ya bisakah kau membantuku?" tanya Jungkook.


"Membantu apa?" tanyaku.



Dia menarik tanganku masuk kedalam kamarnya. Ya Tuhan apa yang akan di lakukan Jungkook padaku?



Jantungku berdegub kencang. Aku tidak bodoh. Tapi melihat keadaan kami sekarang yang hanya berdua apa lagi kami sedang berada di dalam kamar. Aku menggeleng cepat saat pikiran laknat itu menghampiri otakku.



Jungkook tidak mungkin seperti itu.



Dia menyuruhku untuk duduk ditepi tempat tidur lalu menyodorkan hair dryer padaku.



"Tolong bantu aku mengeringkan rambutku" ucap Jungkook.



Entah kenapa aku membuang napas lega atau justru kecewa. Karna apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi.



Jungkook duduk didepanku. Dia mendongak seakan mengisyaratkan agar aku segera melakukan apa yang disuruhkannya padaku.



Dengan telaten aku mengusap rambut Jungkook yang terasa sangat lembut. Aku sangat menyukai ini. Rambutnya yang agak panjang itu membuatku sangat gemas.



"Soora\-ya apa kau sudah mempunyai pacar?" tanya Jungkook.



Aku terdiam sejenak lalu menjawab. "tidak"



"Waeyo?". Pertanyaan macam itu? Atau justru yang harus aku tanyakan apa jawaban yang tepat.



"Entahlah" jawabku asal.


"Kau cantik, baik, dan sangat menggemaskan Dan juga sedikit pintar. Tidak mungkin kan tidak ada yang menyukaimu?" kata Jungkook lagi. Jujur aku merasa sedikit tersinggung dengan kata 'sedikit pintar'. Tapi itu memang benar adanya jadi aku tidak bisa protes.



Dia menyandarkan kepalanya di pahaku membuatku sedikit tersentak.



"Katakan padaku namja yang seperti apa yang kau suka?"



Boleh kah aku jujur. Aku menyukai namja sepertimu Jungkook.



Aku masih mengusap rambutnya yang sudah mulai mengering.



"Entahlah aku juga tidak tau" jawabku main aman.


"Kau tidak punya tipe namja yang kau sukai"



Aku menggeleng. "Aku tidak memikirkan bagaimana fisik namja itu. Aku akan lebih melihat sifat dan sikap sang namja"



Jungkook menggangguk pelan dan malah membuat pahaku geli.



"Rambutmu sudah kering" kataku mematikan hair dryer.



Dia bangkit lalu menuduk mensejajarkan wajahnya denganku.



"Aku yakin laki\-laki yang mengisi hatimu nanti adalah laki\-laki yang sangat kau cintai dan juga akan mencintaimu sampai rela mengorbankan nyawanya sendiri untukmu" kata Jungkook lalu beranjak membaringkan tubuhnya di tempat tidur.



'Dan kuharap laki\-laki itu adalah dirimu' monolog ku menatap Jungkook.



"Aku akan kekamarku" kataku berdiri.


"Kau tidak mau tidur bersamaku?"



Sontak aku menghentikan langkahku lalu berbalik menatapnya. "Yak Lee Jungkook"



Dia tertawa lebar. "Aniyo aku hanya bercanda. Selamat malam"



Aku tersenyum sambil menggeleng. "Ne selamat malam".



Dia masih saja sempat menggodaku. Dasar namja nakal.



πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ



Aku sedikit mengerjabkan mataku saat cahaya matahari masuk kedalam kamar itu melalui celah jendela.



Aku bangun, mencuci muka dan berniat untuk membuat sarapan.



Ini terlihat lancang tapi aku ingin memasak. Aku membuka kulkas dan mendapati banyak sekali bahan makanan disana.



"Wahhh......aku akan masak apa yah?" tanyaku pada diri sendiri.



"Han soora"



Sontak aku berbalik. Itu Jungkook dia mengusap rambutnya sambil berjalan kearahku.




"Kau lapar?". Aku mengangguk.



"Tapi aku ingin sekali memasak sendiri" rengekku.



"Andwee...... Aku yang akan masak untukmu"



Wah dia waspada sekali rupanya. "Aku ingin membantumu"



"Tidak Soora. Aku tidak mau ambil resiko. Sekarang kau duduk disana. Arasso" titahnya padaku.



Dengan langkah malas aku menuju meja makan. Duduk disana sambil memperhatikan Jungkook memasak.



Dia terlihat makin tampan jika sedang bergelut di dapur. Tanpa sadar aku terus memandanginya sambil tersenyum lebar.



"Kau jangan terlalu menatapku seperti itu. Nanti kau bisa jatuh cinta padaku" kata Jungkook melirik kearahku. Dia memberiku wink dan seketika membuat pipiku memanas.



Jungkook sialan.



Kau bahkan sudah membuatku jatuh cinta padamu tanpa melakukan apa\-apa.



Aku merotasikan mataku lalu memberinya tatapan jengah.



Beberapa saat kemudian dia datang membawa makanan yang dia masak dengan susah payah.



Jungkook membuat pan cake dan itu terlihat sangat lezat dengan cairan madu di atasnya.



"Cah....ayo kita sarapan" ucapnya meletakkan dua gelas susu di atas meja.



Aku menyantap pan cake buatan Jungkook. "Wahhh ini enak sekali" ucapku spontan setelah suapan pertama.



"Kau menyukainya?". Aku mengangguk lalu melanjutkan makanku. Dan tidak lupa aku meminum susu yang di buat Jungkook tadi.



Ting tong......



Suara bel. Ada tamu.



"Sebentar yah" kata Jungkook beranjak.



Aku mengidikkan bahu lalu kembali meminum susu yang tinggal seperdua gelas.



Jungkook kembali. "Nugu?" tanyaku.



"Temanku" jawabnya mulai memotong pan cakenya.



"Soora\-ya kau mau ku antar kemana?" tanya Jungkook menatapku.


"Aku akan ke tempat kerja" jawabku.



"Baiklah aku akan mengantarmu" katanya.



"Kau mau kemana?" Tanyaku karna raut wajahnya jadi agak serius.


"Aku ada urusan pekerjaan" jawab Jungkook menghabiskan pan cakenya.



Aku tersenyum. "Kalau begitu aku naik bus saja" kataku. Lagipula Jungkook kan ada urusan. Aku tidak ingin merepotkannya.



Dia menggeleng lalu menatapku.


"Tidak. Aku akan mengantarmu nanti baru aku akan bekerja". Kenapa terdengar seperti memerintah.



"Baiklah" kataku menurut.



Dia mengantarku ke tempat kerja. Jungkook juga mengatakan dia akan menjemputku nanti. Entah perasaanku saja Jungkook agak posesif setelah bertemu dengan temannya tadi pagi.


Aku menggeleng cepat. Aku tidak boleh terlalu berharap. Jungkook hanya khawatir padaku.


Seperti biasa aku akan sangat sibuk di jam makan siang. Aku sampai tidak bisa duduk sama sekali karna pelanggang yang terus berdatangan.


"Silakan Tuan. Ini buku menunya" kataku meletakkan buku menu didepan namja itu.


Dia tersenyum padaku lalu mulai membuka buku menu.


Aku bisa melihatnya dari samping. Dia namja yang sangat tampan menurutku. Postur wajahnya sungguh sempurna. Mungkin usianya tidak beda jauh dengan Jungkook.


Dengan balutan outfit santai dan kaca mata. Dia terlihat sangat berwibawa.


"Hmmmm aku bingung harus memesan apa, karna ini pertama kalinya aku kesini" ucap Namja itu.


Dia menatapku. "Bisa kah kau merekomendasikan makanan yang enak disini padaku?"


Suaranya sungguh luar biasa. Sangat berat tapi terkesan sexy.


"Tentu Tuan___"


"Choi Taehyung"


"Nde?"


"Choi Taehyung imnida"


"Ahh tuan Choi___"


"Ani.....kau jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Apa aku terlihat seperti ahjussi karna memakai kaca mata?"


Aku tersenyum kikuk. "Tidak tapi rasanya tidak sopan saja. Jika aku memanggilmu dengan nama"


"Aku yang menyuruhmu bukan?"


Ternyata dia keras kepala juga. Aku membuang napas lalu menangguk. "Baiklah Taehyung-ssi"


Dia tersenyum lebar. Ternyata dia memiliki senyum yang sangat khas. Box smile.


"Aku suka. Jadi nona Han. Makanan apa yang akan kau rekomendasikan padaku?" tanya Taehyung sambil menaruh tangannya di dagu.


Menggemaskan sekali untuk namja seusianya.


Aku mejunduk sedikit sambil menunjuk beberapa makanan yang menurutku menu andalan disini.


Dia memesan beberapa dan aku segera mencatatnya. Aku pamit untuk menyiapkan pesanannya.


Saat kembali membawa makanan dia terlihat sangat antusias. Terbukti saat Taehyung menyantap makanannya sungguh dia sangat menikmatinya.


Aku kembali kepelanggan yang lain meninggalkan Taehyung yang sedang asyik sendiri dengan makanannya.


"Nona Han". Aku menoleh pada sumber suara.


"Ne" kataku setelah berdiri di depan mejanya.


"Aku sangat menyukai makanannya. Gumasimnida"


"Tidak masalah" jawabku membungkuk sedikit.


"Ini untukmu"


"Aniyo.....kami tidak menerima tip" tolakku.


"Ini bukan tip. Ambillah" ucapnya masih menyodorkan sesuatu padaku.


Aku menatap tangannya. Ternyata benar itu bukan uang tapi sebuah amplop berwarna coklat. Aku tidak langsung mengambilnya.


"Apa ini?"


"Kau akan tau nanti"


Dengan berat aku mengambil amplop itu sambil tersenyum padanya. Dia mendekat lalu berbisik padaku.


"Jaga dirimu baik-baik"


Aku terdiam bahkan saat Taehyung sudah berlalu di depanku. Tatapan itu kenapa terlihat sangat menakutkan?


Aku berbalik mencarinya tapi sepertinya dia sudah tidak berada di cafe ini lagi. Aku menatap amplop yang ada ditanganku.


Entah kenapa aku merasa sangat takut sekarang. Aku berlari kecil menuju lokerku.


Tidak.


Aku tidak membuka amplop itu dan malah menaruhnya dalam tasku. Nanti saja aku masih sangat sibuk.


Tbc.........


**Yeahhhh Taehyung udah muncul guys. Mari menebak dia akan berperan sebagai apa disini???


Ok see you next chapπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


By RaraπŸ’œπŸ’œπŸ’œ**