
Happy readingπππ
*Kuharap aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi........
Ku sejahat yang ku fikirkan*.....
Aku tidak pernah menyangka akan berakhir berbaring di rumah sakit. Aku malah mengira aku akan berbaring di peti mati.
Tapi ku rasa Tuhan masih menyayangiku hingga aku hanya berakhir dengan luka kecil.
Tidak bisa di katakan kecil juga karna aku mendapat sampai 15 jahitan lebih di pahaku.
Aku menatap Jungkook dan Eunmi yang masih diam setelah tadi mereka panik karna kejadian yang menimpaku.
"Pulanglah........aku akan menjaga Soora di sini" kata Jungkook berdiri yang di ikuti oleh Eunmi.
Mereka menghampiri tempat tidurku. Aku mencoba tersenyum tipis.
"Aku pulang dulu. Besok aku akan kesini lagi" ucap Eunmi mengelus tanganku.
"Ne(iya).....hati hati" jawabku mempertahankan senyumku.
Setelah berpamitan padaku dan Jungkook, Eunmi pun berlalu meninggalkan ruangan itu. Dia pasti sangat lelah. Karna tadi dia juga harus kembali ke apartemen mengambil beberapa pakaianku.
Jangan tanya gaunku sudah penuh dengan darah jadi tidak bisa di kenakan lagi.
Jungkook membuang napasnya pelan. Duduk di kursi yang ada disana. Mengambil tempat di sampingku.
"Apa masih sakit?" tanya Jungkook sambil menatapku lalu beralih ke lukaku yang tertutup perban dan selimut.
"Masih sedikit perih" jawabku.
Jungkook menunduk mengecup tanganku yang di genggamnya. Aku tau pasti dia akan menyalahkan dirinya sekarang karna aku terluka.
"Ini bukan salahmu" ucapku sebelum Jungkook bersuara.
"Jika bukan salahku lalu siapa? Aku lalai dalam menjaganmu. Hingga kau terluka parah seperti ini" ucap Jungkook dengan nada kesalnya.
Dia berdiri menjauhiku. Kembali Jungkook berada di titik paling kacaunya dan itu karnaku.
Entah kenapa hal yang paling di benci Jungkook justru selalu menghampiriku. Terhitung sudah beberapa kali aku terluka entah itu karna ceroboh atau karna seseorang sengaja membuatku terluka.
Aku selalu saja membuatnya marah dan kesal. Itu seakan seperti keahlianku yang tidak patut untuk di banggakan.
Jika bisa ku kendalikan aku juga tidak mau ini semua terjadi. Ini semua karna Choi Taehyung sialan itu.
Jungkook kembali menghampiriku, tapi bedanya sekarang dia duduk di ranjangku. Membawaku dalam dekapannya. Aku memejamkan mataku lalu membalas pelukannya.
"Aku sangat benci saat kau terluka. Tapi entah kenapa kau malah selalu terluka........" ucap Jungkook terdengar sangat kesal.
"........dan yang makin membuatku marah, aku tidak bisa melindungimu"
Sudah ku duga dia pasti akan menyalahkan dirinya.
"Jungkook-ah....."
Dia melepaskan pelukannya, meraup pipiku sambil menatapku lekat.
"Apa yang terjadi Soora?"
Ya aku belum memberitahu Jungkook apa yang terjadi. Itu karna tadi mereka sibuk memberiku pertolongan pertama lebih dulu.
"Dia datang Jungkook-ah"
"Nugu?(siapa)"
"Choi Taehyung"
Jungkook mengerutkan keningnya. "Yang memberimu surat itu?"
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi kenapa dia bisa masuk kedalam pesta itu? "
"Aku tidak Tau. Kau yakin tidak mengenalnya?"
"Aku tidak pernah mendengar namanya. Dan seingatku kami tidak punya rekan bisnis bernama Choi Taehyung"
Dugaanku benar semua yang hadir dalam pesta tadi adalah rekan kerja Jungkook dan Eunmi. Lalu siapa Choi Taehyung? Apakah dia seorang penyusup?
"Aku akan menyuruh anak buahku untuk menyelidiki pria itu" ucap Jungkook kembali membawaku dalam pelukannya.
Aku menunduk mengingat kembali potongan-potongan yang terjadi tadi.
*Flashback
"Apa kau gila eoh?" pekikku saat Taehyung semakin dekat. Dia terus memainkan cutter itu dan tersenyum miring kearahku.
"Diamlah Han Soora. Kau tidak ingin ini berlangsung lama bukan?"
Ya Tuhan siapa saja tolong datang dan selamatkan aku dari orang ini.
Taehyung duduk di depanku dan aku sendiri sudah bergetar hebat karna takut. Dia menatapku dengan tatapan seperti pemangsa yang mendapatkan mangsanya.
Dia mengangkat wajahku untuk melihatnya lebih dekat.
"Kau memang terlalu cantik" sinisnya.
Taehyung mengarahkan cutter itu kewajahku. Aku mendorong tangannya hingga cutter itu malah mengenai pahaku yang tak tertutup gaun.
"Akkkhhhhh........" rintihku sambil memegang luka yang kurasa sangat lebar itu.
"Han Soora....." Taehyung panik melihat darah yang terus keluar dari lukaku. Aku memegangi lukaku sambil terus merintih kesakitan. Seketika tanganku sudah penuh dengan darah.
Rasanya perih sekali.
"Apa yang kau lakukan eoh?" pekik Taehyung berdiri.
Aku menatapnya dengan linangan air mata yang mengucur deras.
"TOLONG AKU KOMOHON??!!!!!!!"
Aku berteriak sebisaku. Aku tidak tau apa yang ada dalam fikiran Taehyung sekarang. Tapi dia terlihat sangat ketakutan disana.
"Jangan menyentuhku. Kumohon hikss.......ampuni aku Taehyung-ssi" mohonku padanya meminta sedikit belas kasihan saat dia mendekat kembali.
Pria itu masih berdiri, menatapku beberapa saat lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan aku yang makin kesakitan.
Aku berusaha berjalan menuju pintu tapi belum aku sampai Jungkook dan yang lain sudah datang.
"Astaga Han Soora......" kata pertama yang aku dengar sebelum Jungkook mengangkat tubuhku dan semuanya menjadi gelap.
Flashback off*.
Air mataku kembali mengalir namun segera aku menyapunya dengan kasar.
Sungguh aku tidak menyangka Taehyung akan berbuat demikian. Mungkin memang benar bukan Taehyung yang melukaiku tapi jika aku tidak menghalanginya pasti wajahku yang akan terluka parah.
Pria itu seorang piscopat atau apa?
Aku menggeleng cepat menghilangkan segala ingatan buruk yang malah membuatku semakin takut. Sungguh kejadian ini membuatku trauma berat.
"Soora-ya kenapa kau menangis?" tanya Jungkook menyadari tangisanku.
Jungkook mengusap air mataku lembut sambil menggeleng pelan.
"Apa lukamu terasa sakit lagi? Haruskah aku panggilkan dokter untuk memeriksanya?"
"Aniyo(tidak).....aku hanya sangat takut Jungkook-ah" ucapku. Tubuhku bergetar hebat.
"Kau tidak perlu takut lagi aku ada disini. Arasso(mengerti)"
"Tapi bagaimana jika dia datang kembali Jungkook-ah. Jebal jangan jauh-jauh dariku. Aku takut" kataku menarik Jungkook untuk kupeluk. Baru kali ini aku merasa sangat takut dalam hidupku.
"Jika dia kembali........"
Jungkook menjeda kalimatnya lalu mengelus rambutku.
".......dia tidak akan bernyawa lagi"
Sontak aku membulatkan mataku. Apakah Jungkook akan membunuhnya?!!!
Aku memegang tangan Jungkook dengan erat. Dia mengelus tanganku seakan mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.Tapi tetap saja aku masih sangat takut.
Dua hari yang lalu aku sudah di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Walaupun masih dengan bantuan kursi roda. Itu saran dari dokter agar meminimalisir pergerakan kakiku. Karna luka yang kuderita cukup dalam dan lebar hingga proses penyembuhannya pun lama.
Video CCTV di depanku mulai di putar. Aku, Jungkook dan Eunmi sedang berada di tempat berlangsungnya pesta kemarin. Sebenarnya aku masih sangat trauma dengan tempat ini. Tapi tidak ada jalan lain karna hanya aku yang mengenali wajah Choi Taehyung.
Aku bertanya pada Jungkook kenapa tidak melapor polisi saja tapi dia hanya mengatakan bisa menanganinya tanpa bantuan polisi.
Degub jantungku berdebar saat kulihat sosok yang mirip dengan Choi Taehyung.
"Hentikan...." ucapku membuat pria yang bertugas menjaga keamanan itu menghentikan videonya.
"Apa kau mengenalinya?" tanya Jungkook yang juga serius melihat kearah layar.
Aku memicingkan mataku untuk memastikan apa yang kulihat.
"Itu bukan dia" jawabku setelah memastikan.
Video kembali di putar. Aku bisa melihat diriku saat duduk di meja sendirian.
"Lihat aku sedang duduk disana sebentar lagi pasti aku akan menuju toilet" kataku menunjuk layar komputer yang menampilkan diriku.
Mereka semua memperhatikan secara seksama. Dalam video itu aku mulai berjalan menuju toilet lalu Video itu berpindah ke lorong sebelum toilet saat tapi ternyata tidak ada rekaman saat Taehyung menyeretku.
"Soora masuk kesana tapi dalam video ini dia tidak ada lagi. Itu berarti dia menyeretmu sebelum ada cctv lagi" ucap Jungkook.
"Sepertinya dia sangat tau letak dari CCTV nya jadi kita tidak bisa melihatnya" kata Eunmi.
"Apa kau yakin tidak ada cctv lain lagi?" tanya Jungkook pada namja itu.
"Kalian perhatikan saja semuanya aku yakin dia pasti ada disalah satu rekamannya" jawab Namja itu.
Sudah hampir 2 jam tapi ternyata tidak ada satupun rekaman yang menunjukkan wajah Taehyung.
Raut kecewa terlihat jelas di wajah Jungkook dan Eunmi. Padahal ini satu-satunya cara untuk bisa melacak Choi Taehyung. Tapi kami seakan tidak menemukan titik terang.
"Dia bukan orang biasa. Dia pasti sudah sangat profesional dalam menjalankan misi" ucap Eunmi begitu serius.
"Ne(iya).....tapi aku tidak akan menyerah untuk menemukannya" kata Jungkook penuh penekanan. Sungguh auranya sangat menakutkan.
"Apakah Taehyung seberbahaya itu?" tanyaku.
Jungkook dan Eunmi menatapku. Namja itu duduk didepanku sambil menggenggam kedua tanganku erat.
"Kurasa begitu. Jadi mulai sekarang kau harus selalu dalam pengawasanku. Aku yakin Taehyung pasti akan kembali" ucap Jungkook.
Biasanya kata-kata Jungkook akan membuatku merasa tenang tapi baru kali ini aku benar-benar takut dan bujukan Jungkook tak berpengaruh sama sekali padaku.
Sebisa mungkin aku mengangguk. Aku harus bisa percaya Jungkook pasti akan melindungiku dari Taehyung.
Aku pulang bersama Jungkook sementara Eunmi, dia tidak pulang bersama kami karna ada urusan yang katanya harus di selesaikan secepatnya.
Menatap datar keluar jendela aku kembali memikirkan Taehyung. Tak habis pikir apa yang dia inginkan dariku. Aku juga mencoba mengingat mungkin dimasa lalu aku pernah punya masalah dengannya atau mungkin keluarganya. Taehyung mungkin saja sedang mencoba membalas dendam padaku.
Tapi aku tidak mengingat apapun. Semuanya buntu. Apa dia musuh orang tuaku? Jika iya berarti nyawaku memang dalam bahaya sekarang.
Sontak aku mencengkram lengan Jungkook. "Soora\-ya gwenchana?\(kau baik\-baik saja\)" tanya Jungkook.
"Aku takut Jungkook\-ah" lirihku dengan linangan air mata yang keluar tanpa bisa aku bendung lagi.
Untung saja kami sudah sampai di apartemen. Jungkook memberiku segelas air dan menyuruhku untuk meminumnya sampai habis.
"Apa yang kau fikirkan sampai kau ketakutan seperti ini?"
"Jungkook\-ah apa mungkin Taehyung adalah musuh orang tuaku dan karna orang tuaku sudah tiada dia berniat untuk membalas dendam padaku?" kataku meluangkan segala yang aku fikirkan.
"Ssstthhhh......Soora\-ya dengarkan aku"
Jungkook memegang pipiku lalu mengarahkan wajahku menatapnya.
"Tidak ada yang akan menyakitimu selama aku ada disini. Arasso\(mengerti\)". Kembali Jungkook menenangkanku.
"Tapi\_\_\_"
"Andwee\(jangan\)......semuanya akan baik\-baik saja. Percaya padaku"
Jungkook mengusap lembut air mataku. Aku memejamkan mataku berharap segala ketakutanku bisa sirna lewat rasa hangat yang disalurkan Jungkook lewat sentuhan lembutnya.
Aku membuka mataku perlahan dan melihat Jungkook tersenyum lalu menarik tengkukku untuk menyatukan bibir kami.
Kembali aku memejamkan mata saat kurasakan Jungkook mulai melumat dan menghisap bibirku secara bergantian.
Dia mengarahkan tanganku kelehernya. Tangan kanan Jungkook menekan tengkukku untuk memperdalam ciuman kami.
Sangat lembut walaupun terasa adanya tuntutan untuk mendapatkan lebih.
"Sudah lebih tenang?" tanya Jungkook saat melepaskan tautan kami.
Menarik dua sudut bibirku, aku tersenyum padanya. "Gumawo\(terima kasih\)"
"Aku mencintaimu Han Soora. Sangat" bisik Jungkook lalu kembali mencium bibirku.
'Akupun sangat mencintaimu Lee Jungkook'
Tbc...........
**Siapa yang ikutan hanyut hayoππππππ. Jangan terlalu di bayangin yah bahaya soalnyaπππ. \(readers: Trus ngapain lo bikin part kek gituπππ\). Sengaja bikin kalian panasπ. \(Readers: πͺπͺπͺ\). Iya deh maap maap.
See u next partπππ
By Raraπ**