
Happy reading😘😘😘
*Aku tidak menyangka akhir yang terjadi tidak seperti akhir yang ku inginkan......
Semuanya hancur.....
Tanpa ada yang tersisa lagi untukku*
Tuan Lee bertepuk tangan sambil tertawa keras.
"Kalian benar-benar menguji kesabaranku eoh?" pekiknya setelah tawanya berhenti.
"Kembalikan berlian Itu dan juga flashdisknya" sarkah Tuan Lee menodongkan senjata pada kami.
"Kenapa kami harus memberikannya padamu?" tantang ayahku.
Ayah merogok kantung celananya dan mengeluarkan flashdisk berwarna putih itu.
"Dengan benda ini aku bisa menjobloskanmu kedalam penjara Lee Jongsun" kata ayahku menatap tajam pria yang berjarak beberapa meter di depannya.
"Kau sedang mengancamku?" Tuan Lee tertawa keras. "Tapi kenapa kau malah membawa kami kedalam hutan? Itu malah memudahkan kami untuk melenyapkan kalian" katanya begitu percaya diri.
"Ohh jinjjayo?(benarkah) Kita lihat saja"
Tanpa mereka sadari, mobil polisi telah berjejer mengepung mereka. Aku tersenyum tipis melihat mereka kegalaban.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan Tuan Lee?" kata ayahku berseringai melihat Tuan Lee yang sekarang terjebak.
Tapi wajahnya sama sekali tidak menampakkan ketakutan. Dan malah tersenyum tipis dan menatap kami tajam membuatku bingung.
Taehyung menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya namun dia tidak mengalihkan pandangannya dari Jungkook.
Pancaran kebencian terlihat jelas di matanya apalagi genggaman tangannya padaku sangat erat. Aku mengalihkan pandangaku kedepan. Kulihat satu persatu dari mereka mulai dari Tuan Lee.
Aku masih ingat jelas dia begitu baik padaku saat dia memberikan boneka itu. Senyum yang merekah serta tatapan hangatnya begitu tulus. Tidak terlintas sama sekali dia adalah pria yang sekarang menatap tajam kearahku dan ayah.
Eunmi. Dia adalah sahabatku, aku menganggapnya seperti saudara. Eunmi yang selalu memelukku saat aku sedih. Dia menenangkanku dan selalu ada untukku. Tak ku sangka itu semua hanya kedok semata.
Jungkook. Pria yang mengambil seluruh perasaanku. Pria yang begitu aku cintai dengan tulus. Aku memegang pipiku sendiri seakan merasakan sentuhan hangat yang selalu di berikan padaku. Pelukan hangatnya bahkan masih bisa aku rasakan. Tapi semuanya berakhir saat aku tau dia hanya mengincarku karna aku adalah taruhan berharganya.
Tak terasa air mataku lolos. Namun Segera aku menyapunya kasar lalu menatap mereka kembali.
Ingat Soora mereka yang ada di depanmu adalah monster yang telah menghancurkan keluargamu, menghancurkan masa depanmu dan juga menghancurkan perasaanmu.
Orang seperti mereka tidak pantas kau tangisi.
Ayah berbalik tersenyum kearahku dan Taehyung. Seakan menandakan semuanya telah berakhir. Rencana kami berhasil.
Namun senyum itu pudar seketika saat sebuah peluru bersarang di dadanya.
"APPAAAAAAAAA???!!!!!!!" pekikku berlari menghampiri tubuh ayahku yang mulai tumbang.
"Appa......" lirihku sambil memegang dadanya yang sudah bercucuran darah.
"Jack.....ba....bawa.....Soora....pergi dari sini. Cepat......" kata ayahku terbata-bata sambil memberikan flashdisk itu padaku.
"Aniyo(tidak).....aku tidak mungkin meningggalkanmu appa hiks." tolakku.
Dorrrr??!!!
Suara tembakan kembali terdengar antara polisi dan komplotan Tuan Lee. Untung saja Taehyung sudah menyeretku untuk pergi dari Sana ketempat yang lebih aman.
"Lepaskan aku Taehyung-ah......" kataku memberontak.
"Kenapa kita meninggalkan ayahku eoh? Aku akan kembali kesana. Aku akan membunuh mereka semua" pekikku akan beranjak.
"Apa kau sudah gila? Kau akan mati disana. Para polisi akan mengurus semuanya" teriak Taehyung mengguncang tubuhku.
"Mwo??!!(apa) Apa kau sudah tidak yakin dengan kemapuanmu? Aku yang akan melawan mereka Choi Taehyung jika kau tidak mau membantuku" sarkahku.
"Ya pergilah dengan amarahmu, apa kau lupa jika kau sedang marah seperti ini......aku yakin kau akan mati konyol di sana" teriak Taehyung membuat langkahku terhenti.
Lalu apa yang harus aku lakukan?
Tulangku terasa lemas. Aku terduduk di atas Tanah dengan linangan air mata.
Aku melihat dengan jelas Tuan Lee melenyapkan ayahku di depan mataku.
Memeluk lututku aku menangis sejadi-jadinya. Satu-satunya keluarga yang baru saja kutemukan kini benar benar meninggalkanku.
Aku memejamkan mataku membiarkan semua bulir air mataku jatuh membasahi pipiku.
Taehyung duduk di depanku meraup kedua pipiku untuk menatapnya.
"Seperti kata aboji, Kita harus menyelamatkan diri Soora. Kajja(ayo)" kata Taehyung.
Aku masih terdiam lalu berdiri mengikuti langkah Taehyung. Pria itu membawaku semakin masuk kedalam hutan.
"Tunggulah disini" kata Taehyung menyuruhku bersembunyi di balik pohon besar disana.
Aku tak berkata apa-apa. Pikiranku masih blank. Aku menatap kepergian Taehyung. Tak lama aku mendengar suara di belakangku.
Aku mengintip sedikit. Itu Jungkook. Saat sinar senternya akan mengenaiku aku kembali keposisiku semula. Dia ternyata bisa lolos dari polisi yang mengepungnya.
Merogoh pistol yang berada di tasku. Aku akan menghabisinya malam ini. Ayahnya sudah merenggut nyawa ayaku dan sekarang akulah yang akan melenyapkan Jungkook dengan tanganku sendiri.
Nyawa harus dibayar dengan nyawa.
Aku berdiri lalu berbalik. Betapa kagetnya saat mendapati Jungkook sudah berdiri didepanku sambil tersenyum tipis. Refleks aku mengarahkan pistol itu padanya.
Namun dia menurunkan pistol itu lalu membungkam mulutku dengan tangan besarnya. Aku memberoktak tapi ternyata aku tak cukup kuat untuk melawannya.
"Diam" bisiknya penuh penekanan.
Aku terdiam saat mendengar suara Tuan Lee di belakang kami. Napasku seakan terhenti saat itu. Jantungku berdegub sangat kencang.
Tapi kenapa Jungkook malah menyuruhku diam? Bukankah seharusnya dia memberikanku pada Tuan Lee? Apakah dia sedang menyelamatkanku?
Aku menatapnya tajam.
"Kau ingin menembakku?" tanya Jungkook.
Aku tidak menggubrisnya. Jungkook meletakkan pistol dan juga senternya. Menarik pistolku mengarah tepat kejantungnya.
Dia menatapku. "Sekarang tembaklah jika itu bisa membuat dendammu padaku tuntas"
Apa-apaan ini? Bukan ini yang kuinginkan?
"Kenapa kau belum juga menarik pelatukmu?" tanya Jungkook lagi.
"AYO CEPAT TEMBAK AKU HAN SOORA" pekik Jungkook membuatku terperanjak.
"Apa kau sudah gila eoh?!!" teriakku.
"Ne.....aku gila karna begitu mencintaimu"
"Berhenti berbual Lee Jungkook?!!"
"Kau berfikir aku berbual Han Soora? Kalau begitu ayo tembak dan bebaskan aku. Setidaknya jika aku mati dengan tembakanmu di jantungku itu bisa membunuh cintaku juga"
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin mati Soora, aku ingin bebas dari belenggu Tuan Lee"
Aku mengerutkan keningku bingung.
"Sandiwara apa yang sedang kau mainkan Lee Jungkook?" kataku tanpa sedikitpun menarik pistolku di dadanya.
"Tidak ada sandiwara Han Soora....." kata Jungkook.
Dia menunurunkan senjataku tanpa mengalihkan pandangannya.
Satu langkah.....
Dua langkah.....
Dan pada langkah ketiga, Jungkook telah membawaku dalam dekapan hangatnya.
"Maafkan aku Han Soora" lirihnya. Aku tak bereaksi apa-apa ataupun menolak perlakuannya.
Aku tidak tau kenapa? Aku selalu lemah jika berhadapan dengan Jungkook. Air mataku mulai mengalir sebisa mungkin aku menyembunyikan isakanku namun ternyata aku gagal.
"Soora-ya uljima jebal(jangan menangis aku mohon)" lirih Jungkook lagi. Aku kembali membeku saat mendengar isakan Jungkook. Dia menangis? Tapi kenapa?
Apa yang sedang terjadi? Dan apa yang belum aku ketahui?
Pria itu mengusap lembut rambutku.
Tidak.
Ini tidak benar.
Aku mendorong tubuhnya dan....
Plak...!!!
Satu tamparan mendarat sempurna dipipi kiri Jungkook.
"Hentikan Lee Jungkook!!!?? Kau sedang mencoba menipuku lagi eoh??!!" pekikku dengan bahu yang naik turun karna emosi yang meluap.
"Tatap mataku Soora??!! Apakah disana kau menemukan kebohongan?"
Aku terkekeh.
"Kau pandai bersandiwara Jungkook-ah"
"Jika memang kau anggap sekarang aku sedang bersandiwara......"
Jungkook mengenggam tanganku dan mengarahkan pistol itu kembali kedadanya.
"......sekarang bunuh aku seperti apa yang selama ini kau inginkan" ucap Jungkook.
Tanganku terasa sangat berat untuk menarik pelatuk itu. Seharusnya aku melenyapkan sekarang juga. Apalagi pria ini sudah sangat pasrah dan tidak melawan sama sekali.
Mataku kabur karna linangan air mataku. Sekali aku berkedip semua air itu tumpah diatas pipiku.
"Aniyo(tidak).....bukan seperti ini yang aku inginkan" kataku.
"......aku ingin kau memohon padaku untuk tidak kulenyapkan tapi kenapa malah sebaliknya"
"Kau berniat menyiksaku?"
"Tentu saja.....setidaknya kita impas bukan?"
"Ckkk......kau tidak perlu melakukannya karna selama ini aku sudah sangat tersiksa Soora" kata Jungkook menatapku sendu.
"Pallika(cepatlah).....bunuh aku Han Soora. Jebal(tolong)" lanjutnya berlutut di depanku.
Terkutuklah aku jika apa yang kulakukan ini salah. Tapi aku sedang mengikuti kata hatiku.
Aku menggenggam tangan Jungkook lalu membawanya pergi dari sana.
Jika ini salah.....
Maka maafkan aku yang terlalu lemah.
Tbc........
Yak Han soora. Apa2an itu? Hadehhh
See u next chap
By Rara💜