
Happy readingπππ
*Aku tidak tau siapa dirimu. Apakah kau baik atau justru sebaliknya?
Katakan padaku siapa kau sebenarnya*.......
Jungkook menatapku seakan bertanya siapa yang memberiku surat itu.
"Aku tidak tau dia siapa" jawabku sambil menggidikkan bahu. Jungkook kembali menatap surat itu.
"Kau tidak bohong kan Soora?" tanya Jungkook kembali menatapku.
"Tidak......sungguh aku tidak mengenalnya" sanggahku.
"Lalu kenapa dia memberimu surat ini?"
"Entahlah aku juga tidak tau"
Jungkook memegang kedua lenganku lalu menatapku lekat. "Kau jangan dekat dengannya. Mungkin saja dia orang jahat dan ingin menjebakmu".
Itu terdengar seperti peringatan. Aku tersenyum. "Tenang saja aku bisa menjaga diriku sendiri"
"Aniyo........kau itu sangat polos Soora itulah makanya kau di jadikan sasaran mudah oleh para penjahat"
Aku mengerucutkan bibirku. Apakah aku sepolos itu?
Aku menggenggam tangan Jungkook. "Kurasa dia orang baik. Kau tenang saja. Tidak baik bukan berburuk sangka pada padanya"
Jungkook menatapku dengan tatapan tak suka. "Baik?!! Lalu apa maksudnya surat ini eoh?"
Ya ampun sepertinya aku membuat Jungkook marah.
"Mungkin dia hanya ingin menyampaikan sesuatu Jungkook-ah"
Kurasa kata-kataku salah, Jungkook makin menatapku tajam. "Yah terserah kau saja. Percaya saja pada orang yang baru kau kenal" ucap Jungkook beranjak dan masuk kedalam kamarnya.
Aku memejamkan mataku takut saat dia membanting pintu itu dengan keras. Kenapa dia sangat marah?
ππππ
Sepertinya Jungkook benar-benar marah padaku. Pagi ini dia sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia tetap mengantarku ke tempat kerja tapi masih dalam mode diamnya.
Aku pun tak berani mengajaknya bicara. Aku masih takut jika salah bicara lagi.
"Soora-ya...." panggil Jungkook. Aku menghentikan langkahku lalu menatapnya. Dia menurunkan kaca mobil menampilkan wajah tampannya dengan kaca mata hitam.
"Ingat yang aku katakan padamu semalam" ucapnya lalu pergi begitu saja tanpa menunggu aku menjawabnya.
Aku membuang napasku berat. Tapi Jungkook ada benarnya juga. Aku tidak boleh lengah. Aku tidak mengenal Taehyung. Bagaimana jika dia memang orang jahat?
Entahlah aku tidak ingin terlalu memikirkannya.
Lebih baik sekarang aku fokus bekerja. Tujuanku adalah mendapatkan kembali rumah kedua orang tuaku. Untuk itu aku harus bekerja lebih keras lagi.
"Ne....ayo Soora semangat" ucapku seakan sedang mengucapkan mantra penyemangat.
Aku berniat untuk mencari pekerjaan lagi. Jika aku hanya bekerja di sini saja sampai 10 tahun pun aku tidak bisa menebus rumah orang tuaku. Tapi apa aku sanggup jika harus bekerja lagi setelah pulang dari sini.
"Yak Han Soora ada yang mencarimu" .
Aku tersadar dari lamunanku. "Ne?"
"Cepat kesana dia sudah menunggumu di meja 10" kata Hara temanku.
Aku beranjak dan segera bergegas menuju meja 10. Saat sudah dekat aku menghentikan langkah. Itu Choi Taehyung.
Dia kembali lagi.
Aku berbalik. "Hara-ya kau saja yang layani dia" kataku pada Hara.
"Nde? Na? Dia tidak mau dilayani kalau bukan kau" kata Hara.
"Tapi aku___"
"Sudahlah Soora kau layani saja. Jika managernim tau kau bisa di ceramahi atau bahkan di pecat" ucapnya.
Benar juga. Yah mau bagaimana lagi sepertinya aku harus bertemu dengan Taehyung kembali.
Aku membuang napas dan menelan salivaku berat. Berbalik menuju meja namja itu.
Tapi saat sampai di sana, dia sudah tidak ada. Apa dia sudah pulang? Atau jangan-jangan di bertemu dengan manager dan melaporkan ku karna tidak melayaninya.
"Aigoo..." aku berbalik dan.......
Brughh.......
Aku memejamkan mataku. Aku tidak merasakan sakit sama sekali. Bukankah tadi aku menabrak seseorang dan jatuh.
"Gwenchana..."
Aku membuka mataku perlahan saat mendengar suara itu. Aku terdiam saat netraku bertemu dengan mata coklat milik Choi Taehyung.
Mengerjab beberapa kali akhirnya aku sadar sedang berada dalam pelukan namja itu. Dia baru saja menolongku.
"Gumasimnida sudah menolongku" kata setelah lepas dari pelukannya. Aku menunduk beberapa kali.
" Ne. Lain kali hati-hati" katanya menampilkan senyum manis.
Dia kembali duduk di meja tadi. Aku segera menyodorkan buku menu dan bersikap setenang mungkin di hadapannya.
"Aku pesan dua ttaebokki dan dua soda" ucap Taehyung. Aku mencatat pesanannya dan berlalu untuk mengambil pesanan.
"Selamat menikmati" ucapku meletakkan makanan itu di depannya.
"Chankamman...."
Aku melihat tanganku yang di genggam oleh Taehyung.
"Ada apa?" tanyaku berbalik. Dia melepaskan genggaman tangannya.
"Aku ingin makan bersamamu" ucapnya.
"Nde?" Aku membulatkan mataku.
"Kau tenang saja aku sudah minta izin pada managermu. Dan dia mengizinkannya" ucap Taehyung tersenyum.
Aku berfikir sejenak lalu mengangguk. Netraku meliriknya sesekali. Dia menikmati makanannya seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara aku disini berperang dengan pikiranku.
Sebenarnya siapa dia? Dan kenapa harus aku? Tidak ada jalan lain kecuali aku bertanya padanya. Sungguh aku ingin terlepas dari namja ini.
Jika dia memang orang jahat sungguh wajah sangat menipu karna Taehyung sungguh sempurna.
"Tuan Choi...." panggilku.
"Bukankah sudah ku bilang jangan panggil aku dengan sebutan Tuan"
"Mianhae......tapi bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanyaku hati-hati.
Dia menyeruput soda itu lalu mengangguk setuju.
Aku menggenggam tanganku sendiri memantapkan hati lalu menatapnya.
"Apa maksud dari suratmu itu?"
Raut wajahnya berubah seketika. Taehyung menyandarkan tubuhnya dengan masih menatapku. Tapi aku tidak bisa mengartikan tatapannya itu.
"Kau sudah membacanya yah?"
"Ne....dan aku sangat bingung apa maksudmu" jawabku.
Taehyung berseringai dan itu justru makin membuatku takut. "Sesuai dengan isi surat itu. Aku akan datang di waktu yang tepat. Jadi jaga dirimu baik-baik Han Soora"
Belum sempat aku bertanya kembali Taehyung sudah pergi dari hadapanku.
"Yak Tuan Choi....." panggilku membuat dia berhenti lalu berbalik tersenyum padaku. Baru saja aku ingin menghampirinya dia sudah melanjutkan langkah.
"Ckkkkk"
Ini tidak membantu sama sekali. Dia justru membuatku makin takut untuk bertemu dengannya.
"Sebenarnya siapa kah Choi Taehyung? Dan apa yang dia inginkan dariku?" gumamku.
Tidak mungkin kan dia ingin memerasku. Aku kan tidak punya apa-apa. Tapi mungkin karna aku tinggal bersama Eunmi makanya dia mengira aku orang kaya.
Oh Ya Tuhan. Aku harus memberitahunya dan setelah itu aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Kuharap aku bisa begitu.
ππππ
"Kau bertengkar dengan Jungkook?" tanya Eunmi.
"Kami bertengkar kecil semalam dan aku tidak menyangka dia akan semarah itu padaku" jawabku lesu.
Begitulah Eunmi yang menjemputku dan itu pun setelah aku menelponnya karna aku menunggu Jungkook selama hampir 3 jam. Jadi aku ketinggalakan bus menuju apartemen. Jujur saja aku tidak enak dengan Eunmi tapi mau bagaimana lagi. Naik taksi sangat mahal dan aku kan sedang berhemat.
"Kau harus minta maaf padanya segera" ucap Eunmi.
"Apa dia sangat marah?" tanyaku menatap Eunmi.
"Kurasa begitu. Bahkan tadi di kampus dan tempat kerja kami semua jadi sasaran kemarahannya"
Aku membulatkan mataku tak percaya. Apakah Jungkook sekesal itu? Padahal aku yang membuatnya marah dan malah orang lain yang jadi sasaran.
"Aku akan minta maaf saat sampai" kataku merasa bersalah.
"Nde?"
Eunmi membawaku kesebuah tempat yang entah aku pun tidak tau tempat apa itu. Terlihat seperti bangunan tua yang sangat menyeramkan.
"Kajja" ucap Eunmi saat melihatku hanya terdiam di samping mobil.
"Kenapa kita kesini?" tanyaku menghampirinya tanpa mengalihkan tatapan dari gedung itu.
"Kau akan di hukum disini"
Dihukum? Apa maksudnya?
Eunmi menarik tanganku. "Eunmi\-ya apa maksudmu?" kataku sedikit memberontak.
"Sudah ikut saja". Nada bicara Eunmi sangat menyeramkan. Ya Tuhan tidak mungkin kan dia akan mencelakaiku akukan sahabatnya.
"Yak Eunmi\-ya lepaskan aku" pekikku tapi genggaman tangan Eunmi makin kencang hingga tanganku terasa sakit.
Eunmi menghentikan langkahnya lalu menatapku tajam.
"Kau bisa diam tidak? Jika tidak maka aku akan membunuhmu disini"
Suaraku tersekat di tenggorokan. Apa dia serius? Tapi kurasa Eunmi tidak sedang bercanda. Apa aku akan mati malam ini? Aku belum siap.
Aku tidak berkata apa\-apa lagi dan mengikuti langkah Eunmi dengan tanganku masih di genggamnya.
Bahkan sahabatmu sendiri tidak bisa kau percaya. Air mataku mengalir menatap punggung Eunmi.
Aku berjalan menunduk sambil berdoa dalam hati. Semoga Eunmi tidak sekejam itu.
Hingga aku dan Eunmi sampai di belakang gedung itu, mataku membulat.
"Happy birthday Soora......." suara nyanyian Jungkook sambil membawa kue di tangannya menghampiriku.
Aku masih tertegun. Hingga tanpa sadar Jungkook sudah berada di hadapanku.
"Happy birthday Soora\-ya" ucap Jungkook sambil menyodorkan kue itu.
"Ayo tiup lilinnya" titah Eunmi. Aku mengangguk lalu memejamkan mataku berdoa. Setelahnya meniup semua api yang berada di lilin itu.
Riuh tepuk tangan bergema. Ternyata bukan hanya kami bertiga disini. Beberapa teman saat SMA dan juga teman kerja ku pun ada disini.
"Aku sendiri bahkan lupa jika hari ini aku berulang tahun" kataku sendu.
"Tapi aku selalu ingat" ucap Jungkook. Aku tersenyum padanya.
"Gumawo" kataku.
"Sama\-sama gadis kecilku" katanya sambil mengusap lembut rambutku.
Suara gelak tawa di meja itu membuatku malu. Bagaimana tidak Eunmi menceritakan betapa aku sangat takut tadi saat di menyeretku kemari.
"Anak ini sampai menangis dan memberotak. Hehehe". Eunmi masih saja melanjutkan ceritanya.
"Ckkkk bagaimana aku tidak takut dia mengancam akan membunuhku eoh" protesku.
"Jinjjayo??!! Wahh Eunmi kau kertelaluan sekali" timpal Jungkook.
Aku tersenyum penuh kemenangan pada Eunmi karna mendapat pembelaan dari Jungkook.
"Yak Jungkook-ah kau seharusnya melihat raut wajahnya. Itu sangat lucu" kata Eunmi di iringi kekehan setelahnya.
"Aissshhh" decakku.
Jungkook pun ikut tertawa bersama mereka membuatku makin kesal. Aku benar-benar terjebak.
Jika di pikir memang sangat memalukan aku sampai berdoa dalam hati. Ya Ampun aku bodoh sekali.
"Jangan cemberut seperti itu" kata Jungkook mencubit pipiku gemas.
"Eunmi-ya hentikan" lanjut Jungkook tentu dengan nada yang begitu lembut tapi penuh penekanan.
"Ahhh ne....mianhae" kata Eunmi tersenyum menggoda.
"......dan sepertinya kami mengganggu disini" lanjut Eunmi berdiri.
"guys kita biarkan mereka menyelesaikan apa yang belum selesai"
Mereka semua meninggalkanku dengan Jungkook di meja itu. Aku menatap Jungkook dan dia hanya tersenyum tipis.
Aku hampir lupa, aku harus meminta maaf pada Jungkook.
"Jungkook-ah..."
"Hmmm"
"Aku minta maaf sudah membuatmu marah tadi malam" ucapku begitu menyesal.
"Gwenchana. Sebenarnya aku memberimu kejutan juga karna aku ingin minta maaf"
"Kau tidak salah apa-apa. Aku yang salah"
Jungkook menyandarkan tubuhnya lalu menatapku. "Maaf sudah membentak dan mengatur hidupmu"
Detak jantungku kembali bekerja dua kali lipat. Tatapan Jungkook sungguh membuatku lemah seketika.
Kenapa dia begitu mempesona? Apa karna balutan kemeja hitam dengan lengan tangannya di lipat keatas? Menampilkan Jungkook yang begitu dewasa.
"Aku seharusnya tidak seperti itu. Aku kan hanya seorang teman" ucapnya lagi.
"Lee Jungkook....."
"Aku tidak akan melarangmu lagi Soora. Jadi kau jangan merasa tertekan ne?". Haruskah di tersenyum seperti itu membuatku makin mabuk akan pesonanya.
"Aku suka perhatianmu Jungkook. Sungguh" kata itu terlontar begitu saja tanpa kusadari.
Jungkook menggengam tanganku erat. "Aku hanya takut ada yang menyakiti atau mencelakaimu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika kau terluka. Kau tau itu kan?"
Aku mengangguk sambil membalas genggaman tangannya. "Arasso. Aku akan mendengarkan apa yang kau katakan"
"Gadis pintar" ucap Jungkook membawaku kedalam pelukannya.
Aku selalu suka bau parfum Jungkook sangat manly. Sangat mencerminkan karakter seorang Lee Jungkook.
"Soora-ya"
"Ne?"
"Bolehkah kau ku jadikan milikku?"
Tbc.........
**sudah kuduga jika Jungkook punya perasaan sama Sooraπππ. Jadi gimana nih? Kalian tim mana? Soora Jungkook atau Soora Taehyungπππ
Jangan lupa vomet yah yeorubunππ
See u next chap
By Raraπππ**