The Games

The Games
Chapter 25



Happy reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


**Aku bukan orang jahat tapi kenapa Tuhan menghukumku begitu berat..........


Entah dosa apa yang telah kuperbuat di kehidupan sebelumnya hingga kehidupanku sekarang begitu kelam........


Aku membiarkan air mata itu terus keluar.


Menyesal.


Pria itu benar-benar membuatku menyesal. Mungkin seumur hidup. Aku menatapnya dalam diam. Pria itu meneguk soju beberapa gelas setelah menjamah tubuhku dengan brutal.


Tidak bisakan nasibku lebih buruk lagi? Aku muak, benci, putus asa, rasanya ingin mati saja.


"Pakai ini" tutur pria itu melempar sepasang baju padaku.


Sebuah t-shirt polos warna putih dengan potongan crop dan celana jeans pendek berwarna hitam.


Aku bangun dan mengambil pakaian itu. Ya dia sudah tidak mengikatku lagi. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku.


Air shower yang hangat ini terasa seperti ribuan belati yang menghantam tubuhku. Jika ini mimpi buruk aku ingin bangun sekarang juga. Namun aku tau jika ini bukan mimpi. Ini kenyataan.


Tubuhku tersungkur diatas lantai yang basah itu. Sementara air shower yang terus menghujangiku.


"Aaarrrghhhhhh" teriakku. Aku menangis sejadi-jadinya.


Entah dosa apa yang pernah aku perbuat di masa lalu hingga Tuhan menghukumku seperti ini.


"**Soora-ya jika kau sudah dewasa nanti kau ingin jadi apa?" tanya Eomma sambil mengelus rambutku.


"Aku ingin menjadi penulis yang terkenal" jawabku dengan mata yang berbinar.


"Cerita apa yang akan kau tulis?" tanya Eomma lagi.


"Cerita Cinta"


"Benarkah? Apakah kau akan membuat cerita indah atau sebaliknya?"


"Tidak eomma. Aku akan membuat cerita dengan happy ending. Aku ingin semua orang bahagia"


Aku bahkan berniat membuat cerita indah dalam sebuah tulisan. Namun kisahku sendiri kenapa begitu menyedihkan seperti ini?


Aku tidak tau sudah berapa lama aku dalam posisi ini. Memakai handuk, aku keluar dari sana.


Berdiri di depan cermin, melihat pantulan bayanganku yang menyedihkan.


Aku sendiri bahkan jijik melihat diriku sendiri. Aku menarik napas dalam lalu mulai memakai pakaian yang berikan pria brengsek itu.


Langkahku terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar di telingaku.


Tidak


Aku tidak mungkin salah dengar. Aku mendekat kearah pintu, membukanya dengan sangat hati-hati.


Dari sini aku bisa melihat mereka. Mataku membulat sempurna saat melihat pemandangan yang membuat kesabaranku benar-benar habis.


"Terima kasih halmoni. Ini imbalan untukmu sesuai dengan perjanjian kita" kata Eunmi memberikan amplop berwarna coklat pada wanita tua yang tak lain tak bukan adalah Han Halmoni. Nenekku.


"Ne senang bekerja sama dengan kalian. Lagi pula aku memang tidak pernah peduli dengan anak itu" kata Halmoni tersenyum lebar pada dua lawan bicaranya.


Mereka tertawa bersama.


Aku mengepalkan tanganku kuat. Jadi halmoni juga terlibat dengan semua ini. Dia jugalah yang membawaku pada pria brengsek yang telah merenggut segalanya dariku.


Aku menutup kembali pintu itu. Berjalan menuju cermin besar tadi. Aku mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk memecahkan kaca itu.


Untunglah aku menemukan sebuah botol minuman. Dengan sekali lempar cermin itu pecah berkeping-keping.


Aku mengambil serpihan besar dengan ujung yang sangat runcing. Entah kenapa aku tersenyum melihat pecahan itu. Seakan benda itu adalah benda yang sangat menarik dan berharga untukku.


"Soora-ya apa yang kau lakukan didalam sana??!!!!". Suara pria itu.


Aku berdiri menuju pintu dan membukanya. Aku tersenyum tipis padanya.


"Apa yang kau lakukan eoh?" pekiknya sekali lagi dengan pandangan tertuju pada pecahan cermin di tanganku.


"Bersenang-senang......memangnya apa lagi?" kataku tersenyum smirk.


Sayang sekali dua wanita itu sudah tidak ada disini. Baiklah aku akan bersenang-senang dengan pria ini saja.


"Jatuhkan pecahan kaca itu Soora" titahnya.


"Kau takut?"


"Yak Han Soora"


"Sepertinya kau sangat takut? Ayolah kita bersenang-senang. Namun caraku bersenang-senang tidak sepertimu" kataku terus mempertahankan senyumku.


Pria itu berniat berlari namun aku menghadangnya dengan kakiku membuatnya jatuh.


Aku duduk diatas tubuh pria itu.


"Diam??!!!" titahku mengarahkan pecahan itu tepat di wajahnya.


Aku begitu suka melihatnya ketakutan dengan keringat yang bercucuran di pelipisnya. Menatapnya tajam seperti tadi saat dia mengobrak-abrikku.


Aku bukanlah orang jahat namun keadaan membuatku seakan seperti binatang buas.


"T-tolong Soora jangan lakukan itu padaku" mohonnya.


"Tadi saat aku memohon padamu untuk tidak melakukannya padaku. Apa kau menurutinya eoh?" pekikku.


"Ma- maafkan aku"


Aku terkekeh. "Maaf?? Sayangnya aku tidak menerima permintaan maaf dari bajingan sepertimu" kataku lalu menghantamkan pecahan itu tepat di jantungnya.


Darah pria itu mengenai tanganku. Aku melepaskan genggamanku pada kaca itu dan menjauh dari tubuh yang sedang sekarat itu.


Aku gemetar melihat tanganku penuh dengan darah. Apa yang sudah aku lakukan? Aku seorang pembunuh.


Tidak. Aku bukan pembunuh.


Cklek.....


Pintu apartemen itu terbuka. Aku menoleh kearah pintu itu.


"Soora-ya...." ucapnya melangkah perlahan kearahku.


Aku berdiri dan langsung memeluknya. "Taehyung-ah......" lirihku memeluk tubuh tegapnya.


"Gweanchana(tidak apa-apa) aku ada disini" katanya mengusap lembut punggungku.


Kami berlari menuju rooftop bangunan itu. Tapi kenapa ke rooftop?


Aku tidak bertanya karna Taehyung terus menarik tanganku berlari menaiki tangga.


Saat sampai di sana aku mulai mengerti kenapa kami kesini.


"Gunakan ini" kata Taehyung memberiku pistol.


"Kita harus menolong Jungkook" kata Taehyung lagi.


Pria itu sudah mulai mengarahkan pistolnya pada para musuhnya. Sesuai intruksi Taehyung, akupun melakukan hal yang sama dengannya.


Cukup lama hingga kami bisa melumpuhkan mereka. Bahkan Taehyung tertembak di bagian lengan kanannya. Aku merobek sedikit bajuku untuk kuikatkan di lengannya. Setidaknya itu bisa membantu agar pendarahan di tangannya berhenti.


Kami keluar dari persembunyian. Tubuhku seakan tidak bertulang melihat apa yang sedang terjadi didepanku.


"Kuakui kalian sungguh hebat bisa menghabisi semua anak buahku" tutur Tuan Lee.


Mataku masih tertuju pada pria yang sedang berada di samping Tuan Lee. Pria yang sedang berlutut kearah kami.


Tangan kiri tuan Lee menggenggam rambutnya. Wajahnya sudah penuh dengan darah dan luka.


Hatiku teriris melihat keadaannya. Lee Jungkook.


"Lepaskan Jungkook??!!" teriak Taehyung.


"Kenapa kau jadi peduli padanya? Bukankah kalian bermusuhan?" kekeh Tuan Lee.


"Jungkook-ah" lirihku namun kuyakin dia tidak bisa mendengarku.


Jungkook tersenyum kearahku dan itu malah membuatku semakin terluka. Aku menunduk meratapi hatiku yang begitu lemah.


Haruskah ada korban lagi dalam masalah ini? Dan kenapa harus orang yang begitu aku cintai?


"Kami akan melepaskannya tapi berikan flashdisk dan berlian itu pada kami" kata Eunmi yang berdiri di samping Jungkook.


"Baiklah jika itu yang kalian inginkan" kata Taehyung lalu merogoh kantong celananya mengeluarkan berlian itu.


"Inikan yang kalian inginkan?" kata Taehyung mengangkat berlian itu.


Mata tuan Lee dan Eunmi berbinar.


"Lalu dimana flashdisk itu?"


"Pihak kepolisian sudah mengambilnya" jawab Taehyung.


"Brengsek" umpat Tuan Lee.


"Lempar saja berlian itu" titah Eunmi.


"Biarakan Jungkook berjalan kearah kami dulu" kata Taehyung.


Tuan Lee mendorong tubuh Jungkook hingga dia tersungkur. Aku refleks ingin membantunya namun Taehyung menahanku sambil menggeleng.


Ya Tuhan bagaimana dia bisa berjalan kearah kami dengan keadaan seperti itu.


Aku melihat Jungkook bangun dan mulai berjalan guntai kearah kami. Dia tetap mempertahankan senyumnya membuatku makin tidak bisa menahan air mataku.


Waktu seakan melambat. Netraku tidak pernah lepas dari Jungkook begitupun dengannya.


Aku tidak tahan lagi.


Aku berlari dan memeluk tubuhnya.


"Han soora"


"Jungkook-ah.....hiks"


"Kau baik-baik saja?"


"Apa kau sudah tidak waras Eoh?" kataku meraup kedua pipinya yang penuh luka.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu hiks....hiks....." kataku tak bisa menghentikan tangisku.


"Ssttthhh....uljima jebal(jangan menangis aku mohon)" kata Jungkook meraup pipiku untuk menghapus air mataku. Aku menatapnya sendu.


"Aku baik-baik saja. Karna setelah ini kau akan mengobatikukan?" Kata Jungkook lemah sambil tersenyum.


Aku terkekeh pelan lalu mengangguk antusias.


"Ne(iya)...aku pasti aku mengobati lukamu. Aku janji" kataku membawanya kembali dalam pelukanku.


"Sekarang berikan berlian itu" teriak Eunmi.


Taehyung melempar berlian itu. "Kita impas"


Taehyung menghampiriku dan Jungkook.


"Ckkk kau sangat kacau" decak Taehyung memukul sedikit bahu Jungkook.


"Kau juga" timpal Jungkook terkekeh.


"Kajja(ayo) kita pergi dari sini" ajak Taehyung.


Aku dan Taehyung memapah Jungkook untuk pergi dari sana.


Ku kira semuanya telah berakhir sekarang. Namun ternyata aku salah. Saat kami berdiri membelakangi mereka.


"Kita belum impas" teriak Tuan Lee.


Satu tembakan mengarah pada kami. Aku kaget bukan main.


"YAKKKK" teriak Taehyung berbalik dan mengarahkan pistolnya pada Tuan Lee dan Eunmi.


Taehyung melayangkan dua tembakan pada mereka membuat mereka tewas seketika.


Sementara aku.......


Aku tersungkur dengan Jungkook yang mengalungkan tangannya di leherku.


Semuanya lenyap sekarang.


Tbc.........


See you next chap๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


By Rara๐Ÿ’œ