The Games

The Games
Chapter 1



Happy reading😘😘😘


Aku ingin pergi namun tak bisa.....


Aku ingin bebas namun tak mampu......


Tapi aku akan tetap melangkah agar suatu saat aku bisa pergi dan bebas............


Semuanya terjadi begitu saja. Satu persatu orang yang kusayangi pergi dan digantikan dengan orang yang asing bagiku.


Setelah kelulusan seperti yang telah di rencanakan, Jungkook dan Eunmi melanjutkan pendidikannya. Sementara aku.......


Ufftttt.


Aku langsung melamar pekerjaan. Kalian harus tau halmoni tidak pernah memberiku uang tapi aku masih bersyukur karna dia masih memberiku tempat tinggal dan juga makanan.


Tidak apa jika dia tidak memberiku uang, aku bisa mencarinya sendiri mulai sekarang.


Jungkook dan Eunmi tidak pernah tau tentang kehidupanku karna aku tidak pernah memberitahu mereka.


Bertanya? Tentu saja namun aku selalu menjawab jika aku baik-baik saja. Dan untungnya mereka percaya.


Yang mereka tau hanya aku tidak bisa melanjutkan studyku. Awalnya mereka marah dan ingin menemui halmoni namun aku melarang mereka mungkin nasibku memang harus seperti.


Awalnya sangat sulit aku beradaptasi karna jujur aku ingin sekali melanjutkan study. Bahkan aku sudah sempat putus asa dan ingin mengakhiri hidupku saja.


Namun aku masih bisa berfikir jernih. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah.


Kuharap.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Aku memang tidak kembali menjadi sosok Soora yang dulu. Periang dan mudah bersahabat dengan siapa saja. Namun Aku tidak terlalu menutup diri juga. Aku hanya mencoba untuk menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Itu yang kebentuk dari kepribadianku sekarang.


Walaupun tidak jarang aku akan sangat dingin jika dalam keadaan lelah dan kesal.


Seperti sekarang.........


Aku menarik napas berat. Selalu saja seperti ini. Tidak bisa kah gadis itu sedikit menghargaiku. Jika saja aku bisa pergi dari sini aku pasti sudah pergi. Tapi sayangnya aku tak tau harus kemana.


Untuk gadis usia 21 tahun yang punya penghasilan pas-pas an sepertiku bisa apa. Akh bisa saja pergi kerumah orang tuaku tapi aku takut. Aku takut sendirian. Aku benci sendirian.


"Yak Han Soora......" ayolah aku baru saja akan keluar dari rumah itu. Tapi dia kembali mengusikku dengan suara cemprengnya. Aku berbalik laluΒ  menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Ada apa?" tanyaku malas.


"Tolong belikan aku baju seperti ini saat kau pulang nanti" kata gadis itu dengan entengnya sambil menunjukkan gambar di dalam ponselnya.


Sontak aku menyodorkan tangan. Tentu saja aku meminta uang darinya.


"Mana uangnya?"


"Pakai uangmu dulu nanti saat kau sampai akan aku ganti" jawab Yunaa sepupuku.


Selalu saja seperti itu. Aku bukannya tidak ingin membelikannya tapi jika uang itu sudah berada padanya. Mungkin sampai aku sekaratpun tidak akan dia kembalikan.


Terakhir kali aku meminta uangku pada Yunaa, halmoni langsung memarahiku. Berakhir aku yang menangis di kamar. Itu seperti aku yang meminjam uang padanya.


"Aku sedang tidak ada uang" kataku. Dan ku harap itu bisa jadi alasan agar uangku tetap aman.


"Jangan bohong" bentak Yunaa. Omong-omong dia lebih muda dariku tapi kata-katanya tidak pernah sopan.


"Aku tidak bohong. Aku belum gajian. Jadi jika kau mau, berikan aku uang dan akan aku belikan"


Kurang baik apalagi aku. Iya kan?


"Yak Han Soora belikan saja apa yang diinginkan adikmu" kata Halmoni yang berdiri di depan pintu. Lihat dia selalu membela cucu kesayangannya itu.


Kulihat Yunaa tersenyum sambil mengangguk kearahku. Kemenangan selalu berpihak padanya.


Aku sedang tidak mood untuk berdebat jadilah aku hanya membuang napas lalu pergi dari sana menuju halte bus.


Menyandarkan kepalaku di jendela bus sambil memperhatikan kota Seoul yang mulai padat.


Pikiranku melayang kemana-mana. Berandai-andai jika saja orang tuaku masih ada mungkin hidupku tidak akan sesulit ini.


Dan saat mengingat mereka pasti aku akan menangis. Kadang aku begitu menyalakan takdir atas apa yang terjadi padaku.


Masa depan yang sudah kurancang dengan matang hancur seketika bersama pesawat yang ditumpangi orang tuaku menghantam laut lepas.


Yang lebih menyakitkan adalah saat terakhir kali aku bersama mereka, aku malah bertengkar karna permintaanku untuk ikut bersama mereka tidak di kabulkan.


Aku tersenyum miring.


"Andai saja saat itu aku ikut pasti aku sudah bahagia bersama orang tuaku. Aku tidak perlu bersama orang-orang itu" gumamku sambil menghapus air mataku kasar.


Hanya butuh waktu sekitar 20 menit agar aku sampai di tempat kerja. Aku bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah cafe. Lagi pula apalagi yang bisa di kerjakan lulusan SMA sepertiku.


Waktu makan siang sebentar lagi. Pelangganpun makin ramai dan saat seperti inilah aku akan sangat sibuk.


Aku mendekati sebuah meja yang diduduki seorang wanita. Dari tampilan belakang aku yakin dia wanita yang sangat cantik dan juga pasti kaya. Terlihat dari tampilan rambut dan pakaian yang dia kenakan.


"Selamat datang ini buku menunya" sapaku sopan. Dia mendongak dan seketika mataku membulat.


"Kim Eunmi" gumamku. Dia pun tak jauh beda ekspresinya denganku. Gadis itu berdiri dan menghamburkan pelukan padaku.


"Han Soora...." ucapnya dalam pelukan kami.


Dia melonggarkan pelukan lalu menyuruhku untuk duduk bersamanya tapi dengan segera ku tolak. Aku bisa di pecat jika ketahuan malas-malasan di saat jam sibuk seperti ini.


"Aku akan minta izin pada bosmu ok" kata Eunmi. Benar saja dia menemui manager dan aku hanya menatap dari kejauhan. Eunmi kembali dengan senyum merekah di wajahnya.


"Dia mengizinkanmu untuk makan siang bersamaku" katanya lalu duduk di depanku.


Sungguh aku sampai pangling melihat teman sekelasku ini saat SMA. Memang kami sudah tidak pernah bertemu saat acara kelulusan selesai.


"Ayo kita pesan makanan dan minuman" kata Eunmi hangat.


"Kau ingin apa?" kataku sigap akan menulis pesanannya.


"Kau saja yang pilih"


"Aku??" tanyaku menunjuk diri sendiri.


Dia menopang dagunya dengan tangan lalu menatapku lekat.


"Ne.....karna aku yakin kau pasti tau makanan yang enak disini"


Aku tersenyum. "Aku pelayan bukan penyicip makanan" celotehku membuat dia terkekeh.


"Baiklah"


Aku menunjuk beberapa makanan padanya yang paling banyak di pesan. Tak kusangka Eunmi menyuruhku untuk memesan setiap satu makanan yang aku rekomendasikan padanya.


"Aigo....kau tidak berubah sama sekali jika menyangkut makanan yah" heranku karna kebiasaannya tak berubah sama sekali.


"Ahh makanan itu seperti candu bagiku sangat sulit untuk menolak pesona mereka" kata Eunmi dengan matanya yang berbinar.


Aku terkekeh. "Baiklah tunggu sebentar aku akan menyerahkan pesananmu dulu" ucapku beranjak.


Tidak berapa lama aku dan satu lagi temanku datang membawa nampan berisi makanan. Kulihat mata Eunmi makin berbinar saat kami menata makanan di atas meja.


"Selamat makan" katanya lalu mulai menyantap makanan itu. Dan aku pun sama. Ini pertama kalinya aku mencicipi makanan disini setelah hampir 2 tahun bekerja.


"Han Soora.." panggil Eunmi setelah menyeruput sisa jus didalam gelasnya.


"Hmmmm"


"Kau sudah lama bekerja disini?"


"kurang lebih 2 tahun" jawabku seadaanya.


"Jadi kau benar langsung bekerja setelah lulus?" tanyanya dengan tatapan iba. Aku tidak suka dia menatapku seperti itu karna sangat menjelaskan jika hidupku ini menyedihkan.


"Ne.....ini sudah tempat ke 3 aku bekerja selama kita lulus" kataku tersenyum tipis.


Dia terdiam beberapa saat tanpa mengalihkan pandangannya padaku.


"Gwenchana.....aku bahagia" kataku tersenyum lebar. Senyuman terlebar yang kutampilkan sejak kejadian itu. Aku tidak mau Eunmi tau bagaimana kehidupanku. Tidak akan aku biarkan. Jadi tetaplah terlihat bahagia Soora.


Dia tidak menampilkan ekspresi berarti. Apakah aktingku sangat buruk hingga Eunmi tidak mau percaya.


"Kau sangat buruk dalam berbohong Soora-ya. Aku fikir aku tidak tau"


Ternyata benar aku tidak mahir dalam berakting jika sudah bertemu langsung. Aku menunduk sambil tersenyum tipis. Dasar payah, selama ini aku menyembunyikannya dan malah ketahuan sekarang.


Eunmi meraih tanganku untuk di genggam.


"Setelah pulang kerja ikut denganku?"


"Kemana?"


"Menemui seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu" Kata Eunmi tersenyum tulus. Aku mengangguk setuju sebagai jawaban.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Tidak ku sangka Eunmi akan menungguku sampai jam kerja selesai. Aku masuk kedalam mobilnya. Wah hebat bahkan dia sudah punya mobil sendiri.


"Kau hebat sekali sekarang" pujiku padanya.


Kulihat dia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku kuliah sambil bekerja"


"Benarkah?". Aku kembali kagum pada sahabatku ini.


"Iya.....ada seseorang yang menawariku untuk bekerja jadi aku ambil. Pendapatannya juga lumayan" jawabnya.


"Apakah aku bisa bekerja bersamamu juga?" tanyaku antusias.


Senyumku luntur saat melihat Eunmi terdiam. Mungkin pekerjaannya memerlukan pendidikan tinggi seperti Eunmi bukan sepertiku.


"Itu___"


"Ahhh tidak apa-apa lagi pula aku masih betah dengan pekerjaanku sekarang" kataku memotong ucapan Eunmi.


Dari raut wajahnya aku bisa tau jika dia ingin menjawab tapi takut malah menyakiti perasaanku nantinya. Jadi lebih baik aku yang menyerah.


"Mianhae Soora-ya...." kata Eunmi terlihat menyesal.


Aku jadi merasa tidak enak. "Tidak Eunmi-ya. Untuk apa kau minta maaf. Sudahlah lupakan saja"


Dia tersenyum tipis sambil menatapku sesaat.


"Kita sudah sampai" kata Eunmi sesaat dia sudah memarkirkan mobilnya. Aku keluar dari mobil itu, tercengang dengan bangunan tinggi didepanku. Aku yakin ini yang di sebut apartemen.


"Wahhhh.....apa kau tinggal disini?"tanyaku.


"Belum....tapi nanti aku akan membeli salah satu tempat tinggal disini" Jawab Eunmi.


"Kajja" lanjutnya lalu berjalan mendahuluiku. Aku ikut di belakangnnya sambil terus memperhatikan sekeliling.


Ku lihat Eunmi memainkan ponselnya. Mungkin sedang mengirim pesan. Entahlah.


Kami sampai di lantai 14 menuju apartemen dengan nomor 144. Eunmi menekan tombol bel beberapa kali.


Dan akhirnya pintu itu pun terbuka menampilkan sosok yang menyambut kami dengan senyuman manis.


Senyuman yang sangat aku rindukan. Aku mematung di tempatku menatap sosok itu. Hingga tak terasa air mataku menetes. Entah karna rindu atau perasaan tak percaya aku bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama.


Aku menatap Eunmi yang tersenyum kearahku.


"Han Soora. Apa kabar?" tanya sosok itu dengan suaranya yang sangat lembut.


Aku tak langsung menjawabnya dan malah langsung memeluk tubuh tegapnya. Kurasakan dia membalas pelukanku sama eratnya.


Kami masuk kedalam apartemen itu tanpa melepaskan pelukan.


Aku memejamkan mataku lekat. Menikmati tiap moment serta aroma tubuhnya yang juga sangat memabukkan.


Aku merasakan Eunmi juga ikut memelukku. Nostalgia masa lalu. Kami sering melakukan ini saat masih di SMA dulu.


"Aku merindukanmu Soora-ya" ucapnya membuat hatiku begitu hangat.


"Akhirnya kita bisa berpelukan seperti ini lagi" ucap Eunmi.


Kami melonggarkan pelukan. Kutatap pria di depanku.


"Aku juga merindukanmu. Lee Jungkook"


Tbc........


**Jangan lupa vomentnya yeorubun sebagai bentuk penghargaan bagi penulis yah😘😘😘


Ok see you next chapπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


By RaraπŸ’œπŸ’œπŸ’œ**