The Games

The Games
Chapter 24



Happy reading😘😘😘


*Jika memang cinta kenapa harus sesakit ini????


Yang ku tau cinta itu membawa kebahagiaan. Tapi yang kurasa justru sebaliknya.


Kenapa mencintaimu harus sesakit ini*?????


Aku menoleh menatapnya.


Jungkook berjalan kearahku. Mata kami bertemu beberapa saat.


"Aku dan Eunmi tidak pernah menikah Soora-ya karna aku hanya mencintaimu" kata Jungkook.


Ruangan itu begitu hening. Hanya ada suara deru napas antara aku dan Jungkook. Sudah lebih dari 10 menit kami hanya diam duduk di lantai latihan sambil menatap keluar jendela.



Ku dengar Jungkook membuang napasnya berat dan mulai bersuara.



"Ini dimulai saat aku masih berumur 13 tahun saat orang tuaku juga terjebak dalam scenario Tuan Lee.....atau Tuan Kim Do Yeong"



Luar biasa orang tua itu tidak hanya punya satu nama rupanya.



"Ayahku bermain judi dengannya. Tapi dia tidak tau siapa yang dia hadapi. Tuan Lee membuat ayahku menang beberapa kali hingga ayahku mempertaruhkan segalanya......" Jungkook membuang napasnya berat sebelum melanjutkan ucapannya.



".....termasuk nyawaku dan ibuku"



Aku kaget bukan main namun aku masih terdiam, membiarkan dia meneruskan ceritanya.



"Saat itu aku begitu marah pada ayahku di tambah dengan Tuan Lee yang terus menghasutku. Dia menjadikanku anak angkatnya. Mengajarkan semua tentang dunia hitamnya. Membentuk seorang Jungkook yang kejam dan tak berperasaan"



Jungkook kembali mengangkat pandangannya Kedepan.



"Termasuk mengajarkanmu untuk menjadi pembohong, penghianat, dan penipu begitu?" aku mulai bersuara.



Jungkook terkekeh. "Ne kau benar"



"Awalnya aku sangat menyukai permainan ini, aku bisa meluangkan semua kemarahanku pada mereka yang kalah taruhan. Memukuli sampai melenyapkan, aku tidak punya rasa kasihan sama sekali pada mereka. Bagiku mereka semua hanya sampah yang harus di lenyapkan"



Aku mengepalkan tanganku. Wajah malaikat seperti Jungkook ternyata punya hati iblis. Dia seorang piskopat rupanya.



Jungkook menatapku. "Namun semua berubah saat aku mengenalmu Han Soora"



"Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu di SMA?"



Bagaimana aku bisa lupa itu termasuk kenangan yang sangat indah bagiku atau justru kenangan buruk.



"Kau menabrakku dengan sepedamu" katanya terkekeh.



Ya begitulah. Aku sangat ceroboh saat itu. Tapi bukan sepenuhnya salahku karna saat itu aku masih dalam tahap belajar mengendarai sepeda.



"Aku ingin marah padamu saat itu namun kau memberiku permen yang ada dalam mulutmu sebagai permintaan maaf......kau juga mengobati lukaku dengan plaster hello kitty"



Aku tersenyum tipis mengingat hal itu. Heran kenapa aku bisa berbuat seperti itu pada orang yang baru saja kutemui.



"Namun bukan karna itu aku tidak jadi marah padamu"


"Lalu apa?". Aku refleks bertanya.


"Tapi karna kau orang pertama yang memberiku senyuman dan permintaan maaf. Dan entah kenapa saat itu aku ingin lebih dekat denganmu. Aku begitu bahagia saat kau mau berteman denganku. Kau adalah teman pertama yang kumiliki" tutur Jungkook lalu tersenyum di akhir katanya.



"Apakah saat itu kau sudah tau jika Tuan Lee\_\_\_"


"Tentu saja aku tau"


"Jadi kau mendekatiku karna hal itu?"



Jungkook menggeleng. "Aniyo\(tidak\).....itu tugas Eunmi. Dia lebih dulu berteman denganmu bukan?"



"Aku berteman denganmu memang karna aku ingin. Bukan karna Tuan Lee mengincarmu dan ingin menjadikanmu taruhan"



"Jika memang seperti itu lalu yang kemarin itu apa Lee Jungkook?"



Pria itu kembali menundukkan pandangannya.



"Mianhae\(maaf\)....itu memang bagian dalam scenario. Aku tidak bisa melawan untuk menjalankan misi itu. Beralasan karna aku dan Eunmi berteman dekat denganmu"



Aku berdecak. Bukankah itu sama saja. Semuanya pasti karna permainan itu. Jungkook tidak bisa lepas dari permainan itu.



"Tapi saat kita berkencan itu bukan bagian dari scenario. Itu murni keinginanku. Itu juga yang membuat Eunmi dan Tuan Lee marah padaku karna berkencan denganmu"



Jungkook menjeda sebentar. "Tapi aku menyakinkan mereka jika dengan begitu aku bisa mendapat kepercayaanmu lebih cepat. Namun alasan sebenarnya karna aku memang sangat mencintaimu dan ingin terus bersamamu. Sekaligus aku memikirkan bagaimana caranya agar bisa terlepas dari mereka"



Jungkook kembali menjeda namun kali ini lebih lama. Dia membasahi bibirnya lalu melanjutkan ucapannya.




".....awalnya aku mencoba mengabaikan perasaanku padamu. Melupakanmu yang telah membenciku. Menjadi Jungkook yang kejam dan tak berperasaan seperti dulu. Namun aku salah. Aku tidak bisa Melupakanmu, aku tetap mencintaimu"



Jungkook menatapku dengan mata yang berkaca\-kaca. "Aku takut kehilanganmu, aku benci melihatmu memandangku dengan tatapan kebencian bukan tatapan hangat penuh cinta yang selalu kau berikan selama ini. Aku benci karna tidak bisa melawan scenario yang di buat Tuan Lee. Jinjja mianhae Soora\-ya"



"Cerita yang sangat bagus Lee Jungkook"



Aku dan Jungkook menoleh mendapati Taehyung berjalan kearah kami membuat kami berdiri.



"Dan kau pikir kami akan percaya dengan kebohonganmu itu eoh?" sinis Taehyung.



Jungkook tersenyum miring. "aku tidak peduli kalian mau percaya atau tidak tapi yang pasti aku berdiri disini dengan satu tujuan menyelamatkan Soora dari Tuan Lee Hanya itu. Ingatlah Tuan Lee akan terus mengincar Soora sampai dia mendapatkannya. Aku mengenalnya lebih dari siapapun"



Jungkook menatapku. "Dan jika nanti aku tiada aku tidak akan pernah menyesal karna Soora telah mengetahui semuanya" kata Jungkook berlalu dari sana.



Aku tidak tau harus percaya atau tidak. Hatiku masih bimbang untuk percaya lagi pada Jungkook.


Memulihkan hati yang hancur karna dikhianati itu sangat sulit. Aku hanya takut jika percaya dia akan kembali menghianatiku.


Aku benci keadaan seperti ini.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Aku mengerjabkan mataku beberapa kali saat kurasakan sinar matahari menusuk dari celah-celah jendela yang tidak tertutup dengan tirai.


Mencoba mengusap mataku namun entah kenapa aku tidak bisa menggerakkan tanganku.


Segera kukumpulkan nyawaku untuk mengetahui apa yang terjadi.


Kembali aku menggerakkan tangan dan kakiku namun tetap tidak bisa.


"Sialan" aku mengumpat saat menyadari diriku yang terikat di sebuah tempat tidur.


Entah siapa yang melakukannya dan kapan? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.


"YAAKKKK LEPASKAN AKU.....SIAPAPUN LEPASKAN AKU" teriakku sambil mencoba melepaskan ikatan di tanganku namun gagal.


Aku memperhatikan sekeliking, ini bukan di rumah Taehyung. Ini seperti di sebuah apartemen tapi milik siapa? Dan kenapa aku bisa disini?


Aku terdiam saat mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Jantungku berdegub kencang memikirkan siapa kah yang ada di balik pintu itu.


Cklek.....


Knop pintu itu berputar menampilkan sosok pria dengan jas berwarna hitam menatapku dengan tatapan seperti seorang pemangsa yang baru saja mendapatkan mangsanya.


Menyinggung senyuman miring, pria itu masuk dan mengunci kembali pintu itu.


Aku sangat mengenalnya.


"Jangan mendekat bajingan!!!???" pekikku.


"Waeyo?(kenapa)" tanyanya.


Dia terkekeh melepas jas dan juga dasi yang mencengkram lehernya. Membuangnya kesembarang tempat lalu mulai medekatiku.


"Kau itu milikku jadi aku bebas melakukan apa saja padamu sayang" katanya mengelus pipiku.


Cuuhhhh....


Aku meludahi wajah menjijikkannya itu.


Plak....


Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi kananku. Rasanya sangat sakit. Aku bisa merasakan bibirku robek akibat perbuatan lelaki bejat ini.


Dia mencengram pipiku mengarahkan wajahku untuk menatapanya.


"Dasar wanita kurang ajar. Kau akan kubuat menyesal" ancamnya.


Aku terkekeh. "Kau pikir aku takut?" tantangku.


"Wahhh kau berani sekali rupanya. Aku menyukai wanita berani sepertimu" katanya melepaskan wajahku kasar.


Dia berdiri di depanku. Menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Terkutuklah baju yang aku kenakan kenapa bisa sangat sexy seperti ini? Dres berwarna hitam tanpa lengan dan potongannya pun hanya sampai diatas lututku. Tidak. Jauh di atas lututku. Membuat pahaku terekspos dengan jelas di depannya.


Aku melihat pria itu menelan salivanya.


Oh tidak semoga dia tidak berpikir untuk melakukan itu padaku.


Dia kembali mendekat. Meraba pahaku yang terekspos.


"Yak hentikan??!!!" pekikku.


Namun bukannya berhenti, pria itu malah makin brutal mengelus kedua pahaku. Aku menggeliat.


Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya tumpah.


"Tolong jangan lakukan itu" lirihku.


"Kenapa? Kau sekarang takut sayang?Ini akan menyenangkan aku janji" timpalnya tersenyum miring.


"Dasar bajingan sialan" pekikku sambil terus menggeliat.


Andai saja tangan dan kakiku tidak terikat, aku pasti sudah melenyapkannya sejak tadi.


Pria itu kini sudah berada diatasku. Menatapku dengan tatapan penuh nafsu.


Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku dengan brutal.


Oh tidak.


Aku menggeleng untuk melepaskan tautan itu tapi dia malah memegang tengkukku membuatku mau tidak mau terdiam.


Aku menutup mulutku rapat namun dia menggigit bibirku yang terluka mambuatku membuka mulut hingga dia bisa dengan bebas menjelajahiku.


Hancur.


Aku benar-benar hancur sekarang. Air mataku terus menetes diiringin dengan pakaianku yang tertanggal satu persatu oleh bajingan yang sedang bergerak diatasku menikmati tubuhku tanpa belas kasihan.


Berakhir.


Hidupku sudah berakhir sekarang.


Tbc........


Soora😭😭😭😭


See u next chap


By RaraπŸ’œ