The Games

The Games
Chapter 11



Happy Reading😘😘😘


Typo bertebaranπŸ™πŸ™


*Ku coba untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.........


Tapi tetap saja yang kudapat hanya hitam tanpa adanya cahaya yang bisa menuntunku mendapat jawaban*......


Aku menatap kesal pria di depanku. Netraku tidak pernah lepas sedikitpun darinya. Dan dia.


Dia hanya menatapku sesekali dengan tatapan penuh kemenangan.


"Jungkook-ah....." rengekku.


"Andwee(tidak) Soora-ya....aku tidak bisa mengizinkanmu untuk bekerja"


Jawaban itu lagi. Aku bahkan hapal dengan dialognya itu.


"Tapi aku bosan tinggal di rumah lagi pula aku sudah baik-baik saja. Aku mohon biarkan aku bekerja seperti biasa" kataku sambil menggosokan kedua tanganku.


"Kenapa kau sangat keras kepala eoh? Apa yang kau inginkan. Rumah? Aku sudah membelikannya untukmu. Fasilitas? Kau boleh memakai apapun yang ada di apartemen ini, aku tidak akan melarangmu"


Jungkook membuang napasnya berat. Dia kembali menatapku.


"Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatanmu hanya karna kau menangis dan merengek Han Soora. Selama aku dan Eunmi masih belum menemukan Taehyung kau tidak akan pernah keluar dari tempat ini" ucapnya penuh penekanan.


Jungkook menyambar jas dan juga kunci mobilnya lalu pergi dari sana tanpa menatapku lagi. Tapi sebelum mencapai pintu dia berhenti.


"Maafkan aku Soora. Aku tidak bisa jika harus kehilanganmu. Maaf jika aku egois" lirih Jungkook lalu menghilang di balik pintu.


Aku kembali mendudukkan diriku di sofa. Aku sangat paham dengan maksud Jungkook dan aku pun seperti itu. Tapi jujur saja aku sangat bosan hanya berdiam diri dirumah. Bahkan saat aku keluar jika tidak bersama Jungkook, aku akan di kawal oleh dua orang pria.


Rasanya aku benar-benar tidak bisa bebas jika seperti ini.


Tapi jika aku bertemu Taehyung tanpa siapapun di dekatku apa aku sanggup?


Aku menunduk sambil mengelus luka di pahaku. Lukanya sudah sembuh total hanya bekasnya saja yang belum hilang. Mungkin luka ini memang telah sembuh tapi traumaku.......entahlah aku tidak tau.


Aku merasa sudah baik-baik saja. Kuharap begitu.


Hari terasa begitu lamban. Aku mengahabiskan waktu dengan menonton tv, membaca, tidur dan makan.



Sesuai titah dari kekasihku itu aku jadi malas untuk pergi kemana\-mana. Sepertinya aku akan menjadi pemalas jika terus seperti ini.



Kulihat jam dinding berwarna hitam yang bergantung indah di dinding.



"Uuffftt ini baru jam 6 sore. Jungkook dan Eunmi masih lama pulangnya" gumamku.



"Kurasa aku bisa kembali tepat waktu" ucapku lagi. Aku memang tidak konsisten dengan keputusanku sendiri.



Aku tersenyum tipis lalu berlari kecil menunju kamar untuk berganti baju.



Mobil yang membawaku berhenti setelah memasuki area rumah orang tuaku.


"Kalian tunggu saja disini" titahku pada sopir dan kedua pengawal yang di sewa Jungkook untukku.


"Tapi Nona....."


Aku menggeleng sambil menaikkan tanganku. "Kalian berjaga saja disini aku butuh waktu untuk sendiri. Arasso(paham)"


"Baik Nona tapi jika terjadi sesuatu anda harus segera menghubungi kami"


"Ne arasso(ya aku mengerti)"


Aku melangkahkan kaki menuju rumah itu. Saat ku buka pintunya entah kenapa ada aroma yang kurang sedap menyeruak di indra penciumanku. Sontak aku mengibas-ngibaskan tanganku untuk sedikit menghilangkan bau itu.


Mungkin karna sudah lama tidak di tinggali hingga bau rumah itu jadi aneh. Atau mungkin ada hewan mati seperti tikus. Aku sedikit tergidik. semoga aku tidak melihatnya.


Aku berlalu menuju kamarku. Membersihkannya. Hanya bagian tempat tidur karna aku rindu ingin berbaring disana.


Terasa sangat nyaman. Aku memang sangat menyukai suasana hening dan tenang seperti ini. Sedikit memejamkan mataku untuk menikmati suasana yang sudah lama tidak aku rasakan.


Aku tidak tau apa aku terlelap atau bagaimana tapi suara decit itu sangat menganggu. Aku keluar dari kamar untuk memeriksanya.


Pasti ke 3 orang itu pelakunya padahal aku sudah mengatakan pada mereka untuk tidak mengangguku.


Tapi langkahku terhenti saat melihat mereka dari jendela. Mereka ternyata masih berada di luar. Sedang berbincang. Lalu suara itu?


Aku menoleh saat suara itu makin keras. Itu berasal dari gudang. Aku memandang ketiga namja itu terlebih dahulu sebelum melangkah dengan hati-hati menuju gudang.


"Uhukkk....uhukkkk" aku sedikit terbatuk saat akan sampai disana. Bau tidak enak itu berasal dari gudang rupanya.


Aku merasa takut tapi juga penasaran. Jika itu memang hanya hewan mati kenapa baunya begitu menyengat. Tapi bisa saja hewan itu tidak hanya satu jadi baunya pun luar biasa.


Aku sudah memegang knop pintu tapi tak kunjung aku membukanya. Suara riuh dari dalam pun makin menjadi dan itu malah membuatku makin pesaran. Harus kah aku memanggil 3 namja diluar untuk membukanya.


Tidak.


Aku bisa menghadapinya. Lagi pula aku harus membersihkannya bukan. Jika di tinggalkan maka akan makin parah.


Membuang napasku berat, aku mulai memutar knop pintu dengan perlahan.


Aku menutup mulutku shok melihat isi dari gudang itu. Tanpa sadar aku melangkah kebelakang dengan tubuh yang bergetar hingga....


"AAARGGGGGHHHH........" teriakku sambil terduduk setelah punggungku menabrak tembok.


Kudengar suara langkah kaki berlari kearahku.


"Soora....."


Aku mengenal suara itu. Aku mendongak.


"Jungkook-ah" lirihku lalu berdiri dan memeluk Jungkook.


Sungguh aku tidak sanggup melihatnya hingga aku menangis histeris. Kenapa aku harus melihatnya? Tidak bisa aku merasa tenang sebentar saja.



Suasana tenang di rumah orang tuaku seketika riuh dengan suara sirine mobil polisi, ambulance dan suara riuh dari beberapa wartawan dan sudah datang.



Aku sedang berada di atas mobil dengan Jungkook yang menemaniku. Aku duduk di bagian belakang mobil dengan pintu yang terbuka. Rasanya agak sesak untuk berada di ruang kecil itulah sebabnya aku meminta untuk pintunya terbuka.



Sejak tadi banyak wartawan yang menhampiriku untuk sekedar memberi pertanyaan. Aku sudah seperti selebriti dalam sekejab.



Tapi mereka kembali dengan raut wajah kecewa karna aku tidak berkata apa\-apa pada mereka. Belum lagi pengawal Jungkook tidak membiarkan para parasit itu terlalu dekat denganku.



"Jungkook\-ah apa kau tau tentang hal ini?" tanyaku setelah hampir 30 menit aku tak bersuara.



Jungkook menggeleng. "Aku tidak tau apa\-apa Soora"



Aku membuang napas sambil memegang tangan erat.



"Siapa yang tega menghabisi Tuan Song dan keluarganya sesadis itu?" lirihku.



Tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan melihat hal semengerikan itu.



Tubuh manusia yang sudah hampir hancur karna di makan oleh hewan\-hewan kecil. Bukan hanya ada satu mayat tapi ada 4 mayat yang kulihat.



Ingin rasanya aku menghapus ingatan itu. Entah manusia seperti apa yang telah menghabisi mereka lalu meninggalkannya di rumah orang tauku.



"Soora\-ya....." Jungkook membawaku dalam pelukannya.



"Permisi Tuan dan Nona....." seorang polisi menghampiri kami.



"Ne\(iya\)" jawab Jungkook. Kami melerai pelukan. Aku menyapu air mataku kasar lalu menatap namja itu.




"Mungkin sekitar 2 bulan setelah aku membelinya dari Tuan Song" jawab Jungkook. Ya walaupun ini rumahku tapi Jungkook yang lebih tau karna dia yang membelinya lagi dari Tuan Song.



"Apa transaksi anda dengan Tuan Song berjalan lancar?"



"Tidak juga karna dia sempat menolak. Tapi aku menawarkan harga 2x lipat hingga dia setuju untuk menjual rumah ini padaku"



Tuan Park menulis semua yang di katakan Jungkook.



"Apa anda bertemu dengan Tuan Song lagi setelah itu?"



"Aniyo\(tidak\).....kami menyelesaikan semua dalam satu hari. Dan dia mengatakan akan segera mengosongkan rumah itu secepatnya"



Kulihat namja itu mengangguk paham lalu menatapku.



"Apa kau sering kemari?"


"Neo?\(aku\)"


"Ne\(ya\)"


"Aku\_\_\_\_"



"Dia baru saja sembuh dari kecelakaan ini kali pertama dia kemari setelah hampir 2 bulan" Jungkook memotong ucapanku.



Tuan Park menatapku seakan meminta jawaban apakah yang dikatakan Jungkook itu benar atau bohong.



Aku menggangguk. "Ne\(ya\).....itu benar"



"Dari data yang kami peroleh Tuan Song dan keluarganya diperkirakan memang tewas sekitar dua bulan lalu. Dan di pastikan ini adalah kasus pembunuhan" jelas Tuan Park.



Sontak aku memegang lengan Jungkook dengan erat.



"Oh begitu" jawab Jungkook singkat.



"Ne\(iya\)...... Dan kami akan menghubungi kalian lagi jika kami membutuhkan informasi" timpal Tuan Park mengulurkan tangannya sambil tersenyum tipis.



"Baiklah"



Jungkook menjabat tangan namja itu. Sedikit membungku sebelum berlalu meninggalkan ku dengan Jungkook.



"Gwaenchana?\(kau baik\-baik " tanya Jungkook memegang tanganku yang berada di lengannya.



"Aku ingin pulang" jawabku.


"Baiklah ayo kita pulang"



πŸ’œπŸ’œπŸ’œ



Suara riuh dari luar membuatku sedikit terganggu. Aku membuka mataku perlahan mengumpulkan kesadaran setelah larut beberapa jam dalam tidurku.



Setelah sadar sepenuhnya aku bisa mendengar jelas. Itu suara Jungkook dan Eunmi. Mereka terdengar sedang bertengkar. Tapi karna apa?



Aku jadi penasaran. Dengan langkah hati\-hati aku menuju pintu. Awalnya aku berniat untuk membukanya sedikit tapi ku urungkan.



Aku mendekatkan telingaku kearah pintu. Ternyata bisa terdengar dari sini.



"Kenapa kau sangat ceroboh eoh?" itu suara Jungkook.


"Ceroboh? Bukankah itu seharusnya pekerjaanmu lalu kenapa kau malah menyuruhku?". Eunmi membalas ucapan Jungkook tak kalah kerasnya.



Apa yang mereka ributkan?



"Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Kau tau sendiri akibatnya". Aku sedikit terperanjak. Suara ancaman Jungkook terdengar sangat menyeramkan.



"Kau berani mengancamku?"



"Kau pikir aku takut padamu?"



Aku tidak bisa membiarkan ini. Mereka bisa saja saling menyakiti satu sama lain. Aku tidak bisa membiarkannya.



Aku memutar knop pintu.



"Kalian hentikan....." pekikku.



Tapi justru kakiku terasa lemas dengan apa yang baru saja kulihat.



Apa lagi ini?


Apa masih belum cukup?


Kurasa aku akan gila?



Jungkook mencium Eunmi.



Tbc......



**What the f......? Ya ampun gak tau lagi deh😐😐. Jangan lupa tinggalkan jejak yah😘😘😘



See u next chapπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


By RaraπŸ’œπŸ’œπŸ’œ**