The Games

The Games
Chapter 7



Happy reading😘😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak vote dan komentπŸ˜‚πŸ˜‚


Maafkan aku........


Aku tidak bermaksud......


Sungguh......


Jangan pergi.........


Ku mohon...........


Kepalaku sedikit berdenyut saat mencoba membuka mata. Merasakan tubuhku hangat mungkin karna selimut yang menutup tubuhku hingga batas dada. Atau mungkin aku tengah demam.


Kenapa aku bisa di tempat tidur? Seingatku semalam aku berada di depan pintu menangis semalaman. Tapi setelah aku tidak ingat apa-apa lagi.


Aku bangun dari tempat tidur. Memijit sedikit kepalaku yang berdenyut. Sepertinya aku terlalu banyak menangis semalam.


Terkekeh pelan lalu mulai melangkah keluar kamar. Aku menuju dapur dan melihat seseorang di sana sedang sibuk memasak.


"Jungkook-ah...." panggilku sambil berpegangan di kursi meja makan menahan tubuhku yang terasa sangat berat dari biasanya.


Jungkook berbalik, mematikan kompor lalu menghampiriku.


"Yak Soora-ya kenapa kau kemari eoh?" ucap Jungkook dengan nada khawatir atau justru masih marah. Aku tidak bisa membedakannya.


Jungkook membantuku untuk duduk di kursi itu sementara dia duduk di depanku sambil memegang kedua tanganku.


"Kau butuh sesuatu?". Sekarang aku yakin Jungkook tengah khawatir padaku.


Aku menggeleng. "Maafkan aku sudah membuatmu marah" lirihku dan kurasa aku akan menangis lagi.


Jungkook mengeratkan genggaman tangannya. "Ani(tidak)......ini bukan salahmu"


Aku menatapnya yang tersenyum kearahku membuat hatiku makin berdenyut.


"Aku menyuruhmu pergi bukan karna aku marah atau tidak menginginkanmu......" ucap Jungkook mengelus pipiku lembut.


"Lalu?" kataku meminta penjelasan.


Kulihat dia membuang napas lalu membasahi bibir bawahnya dan mulai membuka suara.


"Aku tidak mau kau melihatku kacau Soora. Aku tidak mau kau takut padaku saat aku sedang berada di suasana seperti semalam" jelas Jungkook.


Padahal aku lebih takut saat dia menyuruhku untuk pergi darinya.


"Aku akan selalu bersamamu Jungkook bagaimanapun keadaanmu"


"Arasso(aku tau).......tapi tidak jika aku sedang marah. Aku tidak mau jika kau sampai terluka karna ku. Kau tau itu kan?"


Aku mengangguk mengerti. Jungkook sangat benci saat aku terluka atau ada yang melukaiku.


"Oleh karna itu saat aku marah pergi jauh dariku, karna jika aku sampai hilang kendali dan melukaimu......entah apa yang akan aku lakukan pada diriku sendiri"


Ya Tuhan.........


Manusia seperti apa Jungkook ini? Aku sungguh beruntung bisa bersamanya.


Aku menghamburkan pelukanku pada Jungkook. Ku rasakan diapun memelukku sama eratnya. Aku sudah kehabisan kata-kata. Yang pasti aku sangat bahagia Jungkook bersamaku sekarang dan kuharap selamanya.


"Soora-ya bisa lepaskan pelukanmu?" tanya Jungkook.


Aku sontak melepaskan pelukanku. "Waeyo?(kenapa) Kau marah lagi?" spontan aku bertanya seperti itu. Mungkin sekarang perbuatanku yang membuatnya marah.


Jungkook terkekeh. "Aniyo(tidak).......tapi tubuhmu sangat panas. Sepertinya demammu masih tinggi".


Namja itu meletakkan tangannya di dahiku. "Ya ampun Soora demammu tinggi sekali"


"Jinjjayo?(benarkah)" tanyaku seperti tak percaya. Aku memegang dahiku sendiri dan benar saja aku pun bisa merasakan panas suhu tubuhku.


"Kajja(ayo)....."


Setelah berkata seperti itu aku sudah berada di gendongan Jungkook. Aku mengalungkan tanganku di lehernya sambil tersenyum.


"Dasar gadis bodoh....." celoteh Jungkook tapi diiringi dengan senyuman yang luar biasa manis.


Jungkook membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.


"Tunggu sebentar aku akan ambilkan bubur dan juga obat" kata Jungkook lalu beranjak meninggalkanku.


Tak lama, namja itu sudah datang dengan nampan yang berisi semangkok bubur, segelas susu dan segelas air putih. Ada beberapa butir obat juga di sana.


"Sekarang kau makan yah" kata Jungkook lembut. Aku hanya mengangguk. Dia mulai menyuapiku dan seketika aku terdiam.


"Waeyo?(kenapa) Apa buburnya tidak enak?"


"Rasanya pahit" jawabku.


Jungkook menyuap bubur itu kedalam mulutnya. "Ini pasti karna kau sedang sakit. Rasanya sangat enak" ucap Jungkook.


"Aku benar-benar sakit rupanya" kataku lesu setelah dengan susah payah menelan bubur itu.


"Bagaimana kau tidak sakit, semalaman menangis. Bahkan Aku dan Eunmi menemukanmu pingsan di depan pintu" omel Jungkook menatapku tajam.


Aku menunduk merasa sangat bersalah. "Mianhae(maaf)"


"Soora-ya jebal kau jangan seperti itu. Arasso(mengerti)"


"Ne......arasso(ya aku mengerti)"


"Sekarang kau makan lagi setelah itu minum obat dan tidur"


Dia jadi sangat memerintah sekarang.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Setelah seharian penuh aku tertidur, badanku sudah terasa lebih enak. Kepalaku juga sudah tidak terlalu sakit.


Jungkook sepertinya tidak pulang ke apartemennya. Terakhir saat aku akan tertidur dia duduk di sofa dan saat aku bangun dia masih disana.


Aku tersenyum melihatnya tengah tertidur. Pulas sekali. Tapi aku sedikit kasihan karna posisi tidurnya terlihat tidak nyaman.


Aku bangun dan membawa selimut untuk Jungkook. Saat aku menyelimutinya, dia membuka matanya membuatku kaget.


"Bukankah sudah kubilang kau istirahat saja". Suara serak Jungkook membuatku terdiam sesaat.


"Aku melihatmu tidak nyaman tidur di sini. Aku berniat untuk memperbaiki posisi tidurmu tapi aku malah membangunkanmu" tuturku sedikit kikuk.


"Jadi kau ingin aku tidur bersamamu di tempat tidur?" kata Jungkook menatapku dengan tatapan nakalnya.


"A-a-aniyo(tidak).....yak Jungkook-ah" protesku.


"Mwo???(apa) Jika aku disana aku tidak akan membiarkanmu tidur Soora-ya".


Aku sedikit menganga mendengar penuturan Jungkook. Penuturan yang terdengar sangat vulgar di telingaku. Aku mengira namja seperti Jungkook tidak terlalu memikirkan hal seperti itu. Tapi Jungkook tetaplah seorang pria normal yang pasti tau tentang hal semacam itu.


"Sudahlah aku akan kembali ke tempat tidur. Kepalaku masih sedikit pening" ujarku lalu mulai beranjak membiarkan Jungkook dengan segala tatapan nakalnya.


Tapi belum dua langkah kutapaki tangan Jungkook menarik tanganku hingga aku terjatuh dengan tidak elit di atas tubuhnya.


Yang pertama kulihat adalah wajah Jungkook yang terlihat sangat sempurna dengan pahatan luar biasa.


Aku heran apakah Jungkook benar-benar manusia atau justru manekin. Tangannya dia letakkan di dahiku.


"Syukurlah panasmu sudah turun" kata Jungkook menatapku dengan senyuman manis.


Dari jarak sedekat ini bahkan bisa mencium aroma mint setiap Jungkook bersuara.


"Tadi aku sangat kedinginan tapi setelah kau berada di atasku aku merasa sangat hangat"


Aku akhirnya tersadar jika aku sedang berada di atas Jungkook. Ya Tuhan sebegitu terpesonanya aku pada Jungkook hingga aku lupa dengan keadaan kami.


"Jungkook-ah lepaskan aku" ucapku sedikit mendorong dadanya.


Bukannya melepasakan Jungkook malah memiringkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukan.


"Kau berat juga ternyata" katanya terkekeh.


Aku baru akan protes tapi Jungkook sudah mengecup keningku membuatku bungkam seketika.


Dia kembali mengeratkan pelukannya hingga kepalaku dengan sempurna menempel pada dada bidangnya.


"Begini lebih baik......" lirih Jungkook.


Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa. Tapi yang pasti aku bahagia, gugup, dan sangat canggung dengan posisi kami.


"Soora-ya......." panggil Jungkook.


"Ne?(iya)"


"Apa kau tidak suka aku peluk?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?". Kenapa dia bisa berfikir jika aku tidak suka. Aku bahkan sangat suka. Sungguh.


"Karna kau tidak membalas pelukanku". Oh ayolah cara bicara Jungkook sungguh membuatku gemas.


"Baiklah baiklah........" kataku lalu memeluknya.


"Nah begitu. Kitakan jadi sama-sama hangat"


"Tapi aku tidak akan tertular jika kita seperti itu?"


Aku jadi sekidit khawatir terlalu dekat dengannya. Bagaimanapun aku masih demam.


"Biarkan saja" Acuh Jungkook.


"Yak(hei)....."


"Kau tenang saja. Lagi pula aku sangat suka memelukmu Soora. Jadi biarkan saja. Araci(mengerti)"


Apakah dia serius dengan ucapannya yang sangat suka memelukku?


Kadang aku bertanya pada diriku sendiri kenapa orang seperti Jungkook bisa mencintaiku seperti ini? Dilihat dari sisi manapun aku merasa tidak pantas untuknya.


Bukankah dia bisa mendapatkan wanita mana saja yang di mau. Kenapa harus aku?


Terlihat tidak bersyukur memang, tapi ada satu titik keraguan dalam hatiku pada Jungkook. Walaupun aku sudah berusaha untuk menghilangkannya tetap saja aku merasa ganjil.


Tidak ada salahnya kan jika aku bertanya. Aku pun merasa ini moment yang sangat tepat untuk aku bertanya. Mengingat suasana hati Jungkook sedang bagus.


"Jungkook-ah?"


"Hmmm". Dia hanya bergumam menanggapiku.


Aku menelan salivaku berat. "Boleh aku tau kenapa kau mencintaiku?" tanyaku begitu hati-hati.


"Kenapa bertanya?"


Ayolah bukannya menjawab dia malah balik bertanya padaku.


"Aku hanya ingin tau". Aku tidak berbohong bukan.


Jungkook melonggarkan pelukannya lalu menatapku. Aku pun mendongak sedikit untuk menatapnya.


"Kau sendiri kenapa bisa mencintaku?"


"Aku??!" Ujarku sambil menunjuk diriku sendiri.


Jungkook mengangguk. Aku sedikit berfikir memilih kata-kata yang tepat.


"Tentu saja karna kau tampan, pintar, perhatian, kurasa tidak ada wanita yang akan menolak pesonamu" jawabku jujur.


Sungguh hanya itu yang berada dalam fikiranku sekarang.


Jungkook tersenyum remeh. "Sudah kuduga kau mencintaiku karna tampilanku. Bagaimana jika aku gendut, pendek, jerawatan dan bodoh?"


"Nde?(apa)". Apa aku salah bicara lagi. Ayolah Soora.


"Bukankah aku pernah mengatakan padamu aku mencintaimu karna kau adalah Han Soora. Aku hanya punya satu alasan kenapa aku mencintaimu......" ucap Jungkook menjeda ucapannya hanya untuk sekedar mengusap pipiku lalu bibirku.


"Aku bahagia bersamamu Soora walaupun itu dalam keadaan terburukku"


Aku tertegun mendengar pernyataan Jungkook. Aku tidak tahu jika dia punya alasan sedalam itu.


"Jangan mencintaku karna fisikku Soora. Cintai aku karna kau bahagia dan nyaman bersamaku walaupun nanti wajahku akan berubah jelek dan tua"


"Aku akan belajar untuk mencintaimu seperti itu Jungkook. Maafkan aku" kataku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Aku begitu malu karna sempat meragukan ketulusannya.


"Jangan pernah berfikir jika aku tidak tulus mencintaimu Soora hanya karna perbedaan strata sosial. Kau harus tau berapa tahun aku mempertimbangkan perasaanku padamu hingga aku benar-benar yakin jika yang kurasakan ini adalah cinta"


Jungkook kembali mengangkat wajahku untuk menatapnya. Bahkan dia tau apa yang aku pikirkan. Jungkook kau kembali membuatku sangat kagum padamu.


Jungkook sedikit menundukkan kepalanya mencium bibirku beberapa detik. Hanya menempel saja.


Ciuman pertamaku. Aku masih diam membeku bahkan sampai Jungkook sudah menjauhkan dirinya.


"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Jungkook membuatku mengerjab beberapa kali.


Aku mengangguk tanpa sadar.


"Apa?" tanya Jungkook.


Haruskah aku menanyakannya. Bagaimana jika dia marah lagi? Tapi jika aku diam itu malah makin membuatku penasaran.


Tidak apa-apa Soora satu pertanyaan untuk mengakhiri segala rasa penasaranmu.


Aku membuang napas panjang lalu menatapnya.


"Bisakah kau menciumku lebih lama?"


TBC..........


**Wah Soora-ssi kau berani sekali yah gimana kalo Jungkook tiba-tiba nyerang kamu? Aku gak tanggung jawab yah. Suruh Jungkook ajaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Ok see you next chapπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


By RaraπŸ’œπŸ’œπŸ’œ**