The Games

The Games
Chapter 23



Happy reading😘😘😘


*Kau selalu membuatku bimbang


Apa ini benar atau salah?


Aku pun tidak tau


Aku membencimu namun tak kupungkiri aku masih mencintaimu*........


Aku berdiri di dekat jendela sambil memandang keluar. Entah apa yang sangat menarik dari pemandangan malam yang gelap.


Tidak


Aku sedang tidak menikmati pemandangannya namun mungkin aku sedang marah pada takdir yang terus mempermainkanku.


Tanpa terasa air mataku kembali mengalir tanpa bisa aku bendung. Aku membiarkannya terus mengalir di pipiku. Mungkin dengan begitu sakit yang ada dalam hatiku bisa hilang bersama air mataku.


Hati ku sakit sangat sakit.


Kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku tidak bereaksi apa-apa. Dari aroma tubuhnya aku bisa tau dia siapa.


Choi Taehyung.


"Kau masih menangis?"


"Taehyung-ah uri appa(ayahku) hiks....." kataku terisak menundukkan pandanganku.


"Ara....mianhae(aku tau.....maafkan aku)" kata Taehyung menaruh dahinya di pundakku.


Pagi ini baru saja kami melakukan pemakaman dan juga penghormatan terakhir pada ayahku.


Setelahnya aku pulang kerumah Taehyung. Namun duka itu masih ikut dan kini rasanya lebih sakit lagi dari 3 tahun lalu.


Ayahku yang baru saja kuketahui masih hidup kini benar-benar pergi meninggalkanku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.


Dan bukan hanya aku yang berduka namun Taehyung juga. Aku tau dia pun sama terpukulnya denganku. Kami mengira semuanya akan berakhir kemarin tapi ternyata......


Memang berakhir tapi berakhir dengan aku kehilangan ayahku bukan seperti yang kami rencanakan.


Aku melonggarkan pelukannya, berbalik lalu menenggelamkan kembali kepalaku di dada bidangnya.


Taehyung memelukku sangat erat menyalurkan kehangatan yang entah kapan selalu sukses membuatku tenang. Tangisku pun sudah mulai reda.


Cukup lama kami dalam posisi itu.


"Gweachana?(kau baik-baik saja)" tanya Taehyung. Aku melonggarkan pelukanku.


"Ne(ya)......aku sudah lebih baik sekarang. Gumawo" timpalku sambil tersenyum tipis.


Pria itu mengusap pipiku lembut sambil menatapku hangat. "Aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun melukaimu Han Soora"


"Ara(aku tau)"


Aku menoleh kearah pintu mendapati Jungkook sedang melihatku dan Taehyung.


Arah pandang Taehyungpun mengikutiku. Pria itu beralih ke sampingku.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Jungkook.


"Iy___"


"Tidak.....ada apa?" kataku memotong perkataan Taehyung membuatnya mendengus.


Aku berjalan menghampirinya memperhatikan wajahnya yang penuh luka.


"Aku butuh kotak obat" kata Jungkook.


"Kajja(ayo)" ajakku. Aku menyuruh Jungkook untuk duduk di tepi tempat tidurku sementara aku mengambil kotak P3K di dalam laci meja.


Aku meletakkan kotak itu di sampingnya. "Kau bisa mengobati dirimu sendiri bukan?" kataku.


Namun belum sempat aku melanjutkan langkah, Jungkook memegang tanganku.


"Aku tidak bisa"


Aku menatap Taehyung. Raut wajahnya sungguh tidak bersahabat.


"Maafkan aku tapi aku tidak bisa mengobatimu. Aku akan memanggil salah satu maid disini untuk membantumu" kataku masih dengan nada bicara yang sangat dingin.


Perlahan Jungkook melepaskan tanganku. Aku meraih tangan Taehyung untuk keluar dari sana dan menyuruh salah satu maid untuk membantu mengobati luka Jungkook.


Aku menatap Taehyung yang sedang duduk di sampingku.



Aku tau dia masih kesal karna aku membawa Jungkook kerumahnya. Bahkan tadi dialah yang memukuli Jungkook hingga babak belur di acara pemakaman. Masih teringat jelas olehku bagaimana marahnya dia saat melihatku membawa Jungkook kemarin.



Namun yang membuatku heran, Jungkook sama sekali tidak melawan Taehyung. Dia diam saja membiarkan Taehyung memukulinya dengan brutal. Mungkin jika aku tidak berteriak, Jungkook akan habis di tangan Taehyung.



Itu Membuatku berpikir ada hal yang belum aku ketahui dari Jungkook dan tentu aku akan mencari tau. Tapi di sisi lain aku masih belum bisa berbicara dengan Jungkook. Entah sampai kapan.



Tapi kurasa amarah Taehyung sekarang sudah sedikit reda. Entahlah aku tidak tau mungkin saja dia hanya menutupinya karna paham akan keadaanku sekarang.



"Taehyung\-ah" panggilku.


"Kenapa kau membawa musuh kita kemari? Seharusnya kemarin kau membiarkan polisi membawanya tapi kenapa kau malah menyelamatkannya?" tanya Taehyung beruntun dengan nada kesalnya. Benarkan ternyata dia masih marah.



"Mianhae\(maaf\)" hanya itu yang bisa aku katakan.



Karna aku sendiripun tidak mengerti kenapa aku membawa Jungkook kemari.



"Apa yang kau rencanakan Soora? Ini sudah tidak termasuk dalam rencana kita" kata Taehyung.


"Apa kematian ayahku masuk dalam rencana kita?"



Taehyung terdiam. Mungkin menyesali apa yang telah dia katakan tadi.



"Soora\-ya..."



Aku mengalihkan pandanganku darinya. Menatap ujung kakiku yang telanjang sambil menggenggam kuat tanganku sendiri.



"Maafkan aku" lirih Taehyung lalu menyandarkan kepalanya dibahuku.



Hening menyelimuti ruangan besar itu. Baik aku dan Taehyung masing masing larut dalam fikiran yang melalang buana.



πŸ’œπŸ’œπŸ’œ



Pandanganku dan Taehyung mengarah ke Jungkook yang sedang berjalan kearah kami.




Masih terlihat jelas luka lebam di wajahnya. Tak bisa kupungkiri aku kasihan melihatnya seperti ini.



"Cckkk kau benar\-benar tak tau malu Lee Jungkook" sindir Taehyung.


"Untuk apa?" acuh Jungkook.


"Kau tau dimana sekarang kau berada?"


"Tentu saja"



Taehyung sudah tampak emosi terlihat dari tangannya yang mengepal sementara Jungkook masih bersikap acuh sambil menikmati roti bakar yang dia olesi dengan selai stroberry.



"Yak Lee Jungkook?!!" pekik Taehyung.


"Wae?\(kenapa\)". Aku heran kenapa Jungkook bisa bersikap setenang ini? Biasanya emosinya cepat terpancing tapi kali ini dia sangat tenang menghadapi Taehyung.



Jungkook membuang napasnya lalu menatap Taehyung. "Aku tau dimana aku berada....." lalu dia mengalihkan pandangannya padaku.



"......aku berada di tempat dimana aku bisa melihat orang yang aku cintai setiap saat".



Tatapan itu.



Aku kaget saat tiba\-tiba sebuah gelas melayang kearah Jungkook dan dengan tangkasnya dia bisa menangkap gelas itu padahal pandangannya masih kearahku.



"Jangan menggangguku Choi Taehyung" kata Jungkook menaruh gelas itu kembali diatas meja. Dan untuk pertama kalinya Jungkook memanggil Taehyung bukan dengan nama Jack lagi.



Taehyung yang sudah sangat emosi menarikku dari sana.



Kini aku mengerti jika Jungkook melawan Taehyung, aku yakin Taehyung tidak akan selamat.



Bagaimanapun juga kemampuan Jungkook lebih diatas Taehyung.



"Dasar tidak tau malu" gerutu Taehyung.



Aku menghempaskan tangan Taehyung membuat dia menoleh.



"Berhenti menyeretku seperti itu" kataku dingin lalu berjalan menjauhinya. Aku yakin dia akan mengikutiku, namun aku mengangkat tanganku tanda aku ingin sendiri.



Tujuanku hanya satu.



Tempat latihan.



Aku membenci diriku. Kenapa sasaranku selalu meleset saat perasaanku sedang kacau seperti ini?


Sial. Aku menaruh pistol itu dengan kasar di atas meja. Beralih ke bantalan hitam yang menggantung di depan sana.


Aku meluangkan segala emosiku dengan meninju dan menedang benda itu dengan sekuat tenagaku.


Kenapa perasaanku bisa sekacau ini? Seharusnya malam itu dendamku sudah tuntas. Tapi sepertinya Tuhan memang selalu punya cara untuk membuatku bingung dan kacau.


"Aaarrggghhhhh" teriakku.


Aku terduduk lemas. Ayolah kenapa aku harus menangis? Tidak bisa kah aku lebih kuat?


Sepertinya tidak.


Tubuhku bisa saja kuat namun hatiku masih sangat rapuh.


"Untuk apa kau berlatih bela diri seperti itu?"


Aku menoleh ke sumber suara. Berdiri lalu menyerang orang itu. Aku hampir memukul wajahnya namun dia bisa menangkisnya. "Yak Han Soora"


Aku tidak menghiraukannya dan terus menyerangnya walau aku tau aku pasti akan kalah. Namun pria ini tidak menyerangku, dia hanya menghindari setiap seranganku padanya membuatku makin kesal dan melancarkan serangan bertubi-tubi padanya.


Tapi tanpa bisa kuhindari Dia membekukku dari belakang. "Apa kau semarah itu?"


Aku memberotak dan berhasil melepaskan diri. Kesempatan itu pun datang aku melumpuhkannya dengan tendangan di paha membuat dia berlutut.


Napasku tersengal-sengal saat tinjuku hampir sampai di wajahnya.


"Kenapa kau berhenti?" tanyanya sambil tersenyum.


Aku tidak menjawab lalu berjalan menjauhinya. Meneguk setengah botol air yang memang sudah kusediakan disana, aku duduk diatas lantai. Pria itu mengambil tempat di sampingku.


"Aku tidak tau kau bisa sekuat itu?" tutur Jungkook.


Aku masih terdiam.


"Tapi hatimu masih sangat rapuh Soora-ya" lanjutnya.


Kau benar Lee Jungkook. Kau memang yang paling mengenalku lebih dari siapapun


"Karna masih ada cinta di dalam hatimu hingga kau tidak bisa menyakiti siapapun.........termasuk aku walau kau sangat membenciku"


Apakah benar seperti itu? Terkutuklah diriku ini. Semua yang kulakukan selama ini sia-sia. Sialan.


Kurasakan tangan Jungkook menggenggam tanganku. Aku masih diam dan membiarkan dia menyentuh tanganku.


"Berikan aku kesempatan kedua Soora. Untuk bisa melindungimu dan mendapat cintamu kembali" tutur Jungkook menyayat hatiku.


Aku berdiri dan menatapnya tajam. Apa dia sudah gila berkata seperti itu padaku?


"Kenapa kau melakukan ini padaku Lee Jungkook? Aku mohon hentikan!!!" pekikku.


"Itu karna aku mencintaimu Han Soora"


"Cukup!!!!????"


"Kau sudah mempunyai seorang istri Lee Jungkook. Jadi berhentilah berbual. Seharusnya kau berterima kasih karna aku tidak memasukkanmu dalam penjara kemarin. Ingat bukti itu sekarang ada di tangan polisi dan kau bisa saja di seret kesana.........dan kali ini aku tidak akan membantumu lagi" kataku meninggalkannya namun belum sampai aku memegang knop pintu langkahku terhenti.


"Aku dan Eunmi bukan suami istri dan aku bukan anak kandung Tuan Lee"


Astaga??!!!!


Tbc.......


Apa ini???? EntahlahπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


See u next chap


By RaraπŸ’œ