
Happy reading๐๐๐
*Jika aku dibiarkan untuk memilih.......
Aku memilih untuk tidak pernah mengenal manusia sepertimu
Aku sampai kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan siapa dirimu*.............
Aku membulatkan mataku kaget.
"Mwo(apa)??! Rumah ayahmu?" tanyaku lagi mencoba memastikan.
"Ne(ya). Memangnya kenapa?"
"Kenapa kau tidak bilang eoh? Seharusnya aku memakai pakaian yang lebih sopan" ucapku frustasi sambil menunduk memperhatikan penampilanku yang menurutku sangat terbuka.
Jungkook menangkup kedua pipiku, mensejajarkan tubuhnya denganku.
"Aku ingin kau bertemu ayahku dengan menampilkan dirimu apa adanya. Kau tidak perlu jadi orang lain untuk itu Soora" ucap Jungkook lembut.
"Tapi____"
"Aniyo(tidak)......jadilah dirimu sendiri karna aku mencintaimu karna siapa dirimu sekarang. Aku ingin kau jadi dirimu sendiri. Arasso(paham)"
Aku mencoba tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Baiklah"
Jungkook kembali menggenggam tanganku menuju rumah itu. Gugup? Tentu saja aku sangat gugup. Aku bahkan tidak pernah tau bagaimana wajah ayah Jungkook. Tapi yang pasti pria itu sangat tampan. Anaknya saja sudah seperti ini.
Kami disambut oleh beberapa pria berjas hitam dengan tubuh besar dan berotot. Aku jadi berfikir kenapa harus mempekerjakan orang seperti itu?
Menghentikan langkah saat kami melihat sosok pria yang mungkin berusia sekitar 50 tahun. Aku bisa menebak itu pasti ayah Jungkook.
Dia tersenyum lalu menghampiriku dan Jungkook.
"Kau sudah datang" ucapnya setelah sampai di depan kami.
"Ne appa(iya ayah)" jawab Jungkook tersenyum. Aku benar bukan namja itu ayah Jungkook. Aku tersenyum kearahnya tanpa melepaskan genggaman tanganku pada Jungkook.
"Sesuai yang kuharapkan. Kau tumbuh dengan sangat sempurna" kata Tuan Lee menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan dan itu malah membuatku sangat risih.
"Kalian pastiย belum sarapan bukan? Ayo kita sarapan bersama" Ajak Tuan Lee mendahului kami.
Aku dan Jungkook mengikuti langkah pria itu menuju meja makan. Aku sangat kagum dengan makanan yang tersedia di atas meja.
Luar biasa banyak, dengan menu yang bermacam-macam. Tapi bukankah kami sedang sarapan? Ini lebih mirip makan siang.
Jungkook mempersilahkan aku untuk duduk duluan.
"Silakan nikmati makanannya. Ini di sediakan memang untuk menyambut kedatanganmu" tutur Tuan Lee.
"Aku???!!!" tanyaku menunjuk diriku sendiri karna Tuan Lee menatapku saat mengatakan kalimat itu.
"Tentu saja" timpalnya cepat.
"Anda tidak perlu repot seperti ini Tuan. Aku jadi tidak enak" ucapku sungkan.
"Aniyo(tidak)......ini tidak merepotkan sama sekali. Malah menurutku ini masih kurang" katanya.
Kurang????
Ya ampun memangnya aku makan sebanyak apa? Aku tersenyum kikuk lalu melihat apa yang harus aku makan. Aku mengambil satu potongan sandwich.
Aku membelanya dan melihat isi dari sandwich itu. Wahhhh semuanya ada disana.
Suapan pertama. Ini sangat enak.
"Bagaimana?" tanya Jungkook.
"Ini sangat enak" jawabku.
"Syukurlah jika kau menyukainya" ucap seseorang.
Aku menoleh. "Eunmi...." gumamku.
Dia duduk di sampingku. Eunmi tersenyum tipis. Pandanganku terarah kepipinya yang agak membengkak walaupun dia sudah menutupinya dengan make up tapi aku masih bisa melihat pipinya membiru.
"kau ada disini?" tanyaku.
"Ne. Aku disini untuk menyambutmu" ucap Eunmi masih mempertahankan senyumnya.
Tapi justru senyum itu menyayat hatiku. Merasa bersalah sudah menampar Eunmi dan dia masih baik padaku.
Aku menghamburkan pelukan padanya. "Maafkan aku" lirihku.
"Gweachana(tidak apa-apa) Soora-ya.....jika aku diposisimu aku pasti akan berbuat seperti itu juga" kata Eunmi mengelus punggungku.
Aku melepaskan pelukan lalu menatapnya. Dua sudut bibirku terangkat. "Kau tidak ingin makan?" tanyaku.
"Tentu" jawabnya lalu memperbaiki cara duduknya dan mulai menyantap makanan yang dia ambil.
Aku tersenyum melihatnya lalu melanjutkan acara makanku yang sempat tertunda tadi walaupun masih dengan perasaan yang campur aduk.
"Jungkook\-ah aku ingin ketoilet" ucapku sedikit berbisik pada Jungkook.
"Dari sini kau lurus setelah itu belok kekiri. Pintu kedua" kata Jungkook mengintruksikan.
"Ne gumawo\(ya terima kasih\)..." kataku lalu beranjak.
"Mau ku antar?" tanya Jungkook.
"Aniyo\(tidak\)" tolakku lalu benar\-benar pergi.
Di toilet
Aku mencuci tanganku di wastafel. Memandang pantulan bayanganku di kaca besar di sana. Aku tidak tau apa karna aku masih canggung tapi perasaanku tidak enak sejak bertemu dengan ayah Jungkook.
Seperti sebuah de javu. Aku merasa pernah melihatnya tapi aku tidak tau dimana dan kapan. Aku memejamkan mataku untuk membuat perasaan ku lebih tenang. Mengukir senyuman lalu keluar dari sana.
Bohong jika perasaanku baik\-baik saja. Aku menggenggam kedua tanganku. Ayolah Soora kau bisa menghadapi ini.
Belum sampai kemeja makan, langkahku terhenti saat mendengar namaku di sebut oleh Tuan Lee. Aku berdiri membatu di sana. Kakiku tak ingin melangkah, entah kenapa aku ingin mendengar apa pendapat mereka tentangku.
"Dia sangat sesuai dengan ekspektasi appa. Kerja bagus Lee Jungkook" ucap Tuan Lee sambil tersenyum bangga pada Jungkook.
"Memang cukup sulit tapi aku bisa melandapatkannya" timpal Jungkook tersenyum miring.
Jujur saja aku tidak paham apa yang mereka bicarakan. Itu yang membuatku tetap diam aku ingin tau lebih banyak. Mungkin saja itu bisa menjawab rasa penasarannya dengan apa yang di katakan Tuan Lee tadi.
"Maafkan aku karna hampir menghancurkan semuanya". Sekarang Eunmi yang bersuara. Dia menunduk dengan raut wajah yang sangat menyesal.
"Gweanchana\(tak apa\)....aku yakin kau pasti sangat frustasi. Ini salahku juga". Aku sedikit menganga melihat adegan di depanku. Jungkook mengelus lembut rambut lalu pipi Eunmi. Pria itu juga memberi Eunmi tatapan....'penuh cinta'.
Anggap saja aku terlalu berlebihan tapi itu yang kulihat.
"Kalian ini.....kuharap itu tidak terulang lagi sampai kita mendapatkan apa yang kita inginkan" kata Tuan Lee agak kesal.
"Ne appa"
Kakiku makin terasa lemas. Bahkan Eunmi memanggil Tuan Lee dengan sebutan aboji.
Sebenarnya apa yang terjadi disini? Apa yang tidak aku ketahui tentang keluarga ini. Eunmi tidak mungkin keluarga Jungkook bukan. Marga mereka saja beda, lagipula mereka tidak pernah mengatakan jika punya hubungan keluarga.
Tapi apa yang kusaksikan sekarang membuat aku berfikir negatif tentang mereka.
Setelah meneguk minumannya Tuan Lee kembali melanjutkan ucapannya.
"Kita akan segera membawa Soora padanya" tutur Tuan Lee serius.
Aku mengerutkan keningku bingung. Apa maksudnya?
"Apa 'dia' sudah menginginkannya?" tanya Jungkook.
"Ne......dan sebagai gantinya kita akan mendapatkan apa yang kita mau"
"Sesuai dengan rencana kita selama ini bukan?" tutur Eunmi tersenyum.
Cukup sudah.
Aku tidak bodoh untuk mengerti semua ini. Ucapan Tuan Lee sudah membuktikan semuanya. Mereka memanfaatkanku dan ingin menukarku seperti sebuah barang.
Kakiku terasa tidak bertulang lagi. Aku kehilangan keseimbangan dan menyenggol sesuatu disana.
Prangg???!!!!!!
Benda itu jatuh dan pecah berkeping\-keping seakan mewakili perasaaku sekarang.
Ketiga orang itu menatapku. Tapi mereka tidak menampakkan wajah kaget sedikitpun.
Atau mereka memang sengaja agar aku mendengar semuanya?
Brengsek.
Aku menyapu air mataku yang mengucur deras lalu berlari keluar dari rumah sialan itu.
Aku tidak tau sudah berapa jauh kakiku berlari hingga aku merasa lelah dan akhirnya berhenti di sebuah bangunan tua.
Aku terduduk lemas di sana. Menangis sejadi-jadinya.
Dihianati, dibohongi, bahkan sampai dimanfaatkan oleh orang yang begitu aku percaya.
Kenapa rasanya sesakit ini. Aku melihat lututku yang berdarah. Entah berapa kali tadi aku terjatuh hingga membuat lututku terluka dan berdarah.
Tapi sakit di hatiku menutupi sakit pada fisikku.
Aku menenggelamkan wajahku di balik kedua lututku.
Lee Jungkook membawaku terbang tinggi lalu saat aku lengah dia melepaskanku tanpa rasa kasihan. Menghancurkan semuanya.
Seperti menaiki roller koster yang sengaja dilepas agar semua yang ada di dalamnya terlempar dan hancur. Sementara sang pelaku tersenyum dengan bangganya.
"Aarrrghhhhhhh......" teriakku.
Kenapa air mata ini tidak mau berhenti? Kenapa sakit ini begitu menyiksa? Sekarang pada siapa aku akan mengadu?
Aku sendirian. Didunia yang luas ini.
"Disini kau rupanya"
Suara itu. Aku mendongak. Kenapa dia bisa menemukanku?
Aku berdiri menatapnya dengan tatapan tajam. Aku mengepal kuat tanganku.
"ikut denganku" ucapnya menggenggam tanganku.
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu Lee Jungkook" pekikku setelah melepaskan pegangan tangannya.
Dia berbalik menatapku dengan tatapan datar. Pria ini tidak merasa bersalah sama sekali. Ya Tuhan kenapa aku bisa terjebak dengannya?
"Jika kau kemari untuk menjelaskan semuanya, percuma aku sudah tau siapa dirimu" sarkahku penuh penekanan.
"Aku tidak akan menjelaskan apapun padamu karna apa yang kau dengar itu lah yang sebenarnya" kata Jungkook sambil meletakkan kedua tangannya di saku celananya.
Aku menutup mulutku. Kembali mataku panas dengan air mata.
"Jadi selama ini kau mendekatiku hanya untuk____"
"Ya kau benar......maafkan aku Soora tapi aku tidak sebaik yang kau kira" kata Jungkook memotong omonganku.
"Dasar brengsek" aku mengangkat tanganku untuk menampar Jungkook tapi dia menghalangiku.
Dia malah menggenggam kedua tanganku lalu menatapku tajam. Genggaman tangannya sangat kuat hingga aku merasakan sakit.
"Bukankah sangat sakit orang yang kau cintai ternyata menghianati dan hanya ingin memanfaatkanmu?" tutur Jungkook tersenyum miring.
"Kau benar-benar polos dengan mudah aku mendapat cinta dan kepercayaanmu hanya dengan kata-kata dan perlakuan manis......."
Pria itu menggeleng. ".......Ckkk bahkan kau rela memberikan hidupmu padaku. Dan sekarang aku meminta janjimu itu"
Jadi ini maksud dari pertanyaan Jungkook tadi malam.
Bodoh.
Aku benar-benar bodoh.
Aku tidak pernah menyangka orang yang begitu aku cintai. Sosok yang memberiku kebahagian selama ini ternyata hanya berpura-pura.
"Ckkk jika kau jadi seorang artis kau pasti akan mendapat penghargaan Lee Jungkook. Aktingmu sungguh luar biasa" timpal ku.
Air mataku tumpah seiring dengan perasaanku yang sudah pada titik paling rendahnya.
Bahkan udara di sekitarku terasa mengandung racun yang siap membunuhku saat aku menghirupnya.
Aku menggeliat melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.
Menatap pria itu sejenak lalu pergi dari sana tapi belum sampai 3 langkah, aku menghentikan langkahku karna perkataan Jungkook yang semakin membuat perasaan berkecamuk.
"Pergilah jika kau ingin satu-satunya keluarga yang kau miliki menyusul orang tuamu"
Tbc...........
**Tolong jangan hujat diriku yeorubun๐๐๐. Jalan ceritanya emang harus seperti ini. Maaf jika kalian jadi patah hati juga karna Jungkook๐๐๐
Ok deh See u next chap๐๐๐
By Rara๐**