
Happy readingπππ
*Hal yang aku mulai akan kuakhiri hari ini.....
Dan mungkin tidak akan ada lagi kata ampun*.....
Hari berjalan seperti biasanya. Aku melangkah menuju ruang tamu dengan segelas jus jeruk di tanganku.
Aku melihat ayahku dan Taehyung disana sedang berbincang. Kuputuskan untuk bergabung bersama mereka. Lagipula ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada mereka.
Aku duduk disamping ayahku.
"Yak Han Soora kenapa kau hanya membawa satu gelas jus eoh?" protes Taehyung setelah aku mendudukkan diriku.
"Mwoya?(kenapa kau ini)" tanyaku masa bodoh.
"Kami juga haus, cepat ambilkan minuman"
"Cckk Yak Choi Taehyung kau punya banyak maid di sini suruh mereka saja" tolakku sambil menyadarkan tubuhku di tempat duduk itu.
"Dasar pemalas" dengusnya namun aku sama sekali tidak menggubrisnya.
Pria itu kemudian menyuruh salah satu maid untuk membuatkan minuman. Itu lebih baik bukan dari pada dia selalu mengajakku untuk bertengkar.
Setelah menunggu beberapa saat maid itu kembali dengan dua gelas jus lalu di letakkan di depan Taehyung dan ayahku.
Hening untuk beberapa saat sebelum aku membuka suara.
"Apakah Jungkook sudah berhenti?" tanyaku.
Aku merasa ganjil beberapa bulan ini seakan tidak terjadi apa-apa. Semuanya begitu damai. Saat aku keluar rumah pun semuanya aman-aman saja. Membuatku berfikir apakah kami sekarang sudah aman?
"Justru keadaan ini membuat kita harus waspada" kata ayah.
"Waeyo?(kenapa)"
"Air tenang jangan sangka tidak ada buaya" timpal Taehyung menyeruput minumannya.
"Mereka tidak berbuat apa-apa karna belum saatnya" lanjut Taehyung.
Aku mengerutkan keningku. Aku memang sudah tau rencana mereka berdua namun belum tau kapan rencana itu akan di jalankan.
"Kita tidak pernah tau apa yang ada dalam fikiran Tuan Lee" kata ayahku.
"Menurut orang suruhanku, 10 hari lagi Tuan Lee akan mengadakan pesta" kata Taehyung.
"Pesta?"
"Ne......dan kurasa ini waktu yang tepat untuk kita menjalankan rencana" ucap Taehyung.
"Kau benar Jack......" ayahku berdiri berjalan menuju jendela.
"......jika mereka tidak menyerang kita. Maka kita yang akan menyerang mereka duluan" lanjutnya.
πππ
10 hari berlalu begitu cepat. Aku berjalan masuk kedalam rumah besar itu. Beberapa pasang mata pria di sana menyambutku dengan tatapan seakan ingin menerkam.
Aku mengenakan gaun berwarna biru tua dengan potongan terbuka di bagian paha sampai kaki. Bagian belakangnyapun terbuka menampilakan punggungku apalagi karna rambutku yang sengaja kusanggul membuat kesan sexy itu semakin menonjol.
"Itu dia...." tunjuk pria itu saat melihatku. Aku berjalan kearahnya dengan senyum yang terus merekah diwajahku.
"Annyeong haseo(hallo)" sapaku sopan kepada pria paruh baya di depanku. Pandangannya sama saja dengan pria yang aku lewati tadi. Seakan ingin menerkamku sekarang juga.
"Bagaimana Tuan Song?" tanya pria di sampingnya. Tuan Lee Jungsun.
"Dia benar-benar sempurna, saat aku melihatnya beberapa bulan yang lalu dia masih sangat polos namun sekarang luar biasa" kata pria bernama Tuan Song itu menatapku bergantian dengan Tuan Lee.
"Tentu saja" kata Tuan Lee menatapku.
"Han Soora" panggil seseorang membuatku menoleh.
Aku tersenyum kearahnya. "Lee Jungkook" gumamku.
"Boleh aku berdansa denganmu?" tanya Jungkook sambil mengulurkan tangannya.
"Tentu" jawabku menyambut tangannya.
Jungkook membawaku menuju lantai dansa. Satu tanganku kukalungkan di lehernya dan satu lagi menggenggam tangan kiri Jungkook.
Pria itu menarik pinggangku untuk lebih dekat dengannya. Aku sedikit kaget karna gerakan tiba-tibanya itu namun segera aku tersenyum.
Alunan musik mulai terdengar. Langkah kami mengikuti setiap alunan musik itu. Netraku tak pernah lepas dari Jungkook.
Ku akui dia masih Jungkook yang kenal selama ini. Tampan dan sangat mempesona.
"Kenapa kau kembali?" bisiknya.
"Aku kembali untukmu" jawabku singkat.
"Ckkk. Ku akui kau sangat cantik dan sexy malam ini" puji Jungkook.
"Tapi istri mu pasti lebih cantik bukan?" godaku.
Dia tertawa renyah. "harus kah aku membandingkanmu dengannya?"
Seketika senyumku luntur terganti dengan tatapan kebencian.
"Aku tidak tau kau masih gadis bodoh yang dengan gampangnya datang kemari" kata Jungkook dengan ekspresi kesalnya. Kenapa dia terlihat marah.
Aku menggeleng samar. "Ne(iya).....kau benar aku memang gadis yang sangat bodoh Lee Jungkook" kataku tersenyum fake.
"......aku punya kejutan untukmu" bisikku.
Lalu lampu disana padam membuatku dengan laluasa melarikan diri dari Jungkook.
Saat lampu menyala mereka akan sadar kehilangan sesuatu.
Berlian.
Aku mengambil berlian yang sejatinya akan di tukarkan dengan diriku. Aku berjalan menyusuri lorong rumah itu lalu menuju pintu keluar.
Aku berlari kecil menuju mobil Taehyung yang terparkir di depan sana.
"Kau berhasil?" tanya Taehyung saat aku masuk kedalam mobil.
"Tentu saja" kataku menunjukkan berlian itu padanya.
"Kerja bagus" kata Taehyung tersenyum puas.
"Sekarang kita akan ke rencana kedua" lanjut Taehyung.
"Baiklah.....tapi bisakah aku mengganti bajuku dulu?" tanyaku.
"Ne aku sudah mempersiapkannya di belakang"
Aku kemudian berpindah menuju jok belakang untuk menganti pakaianku.
"Ok cahh aku sudah selesai" kataku kembali duduk di jok depan dengan baju kaos putih dan celana jeans pendek yang kupadukan dengan sneakes warna putih.
Taehyung melajukan mobil menjauh dari rumah itu.
Aku menoleh kebelakang.
"Mereka menemukan kita" ucapku saat melihat beberapa mobil di belakang kami.
"Duduk dengan baik" titah Taehyung.
Aku berpegangan erat pada pegangan mobil dan Taehyung mulai menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi.
Ya Tuhan aku akan selamat kan.
Sesekali aku melirik kaca spion dan mobil itu terus mengikuti kami.
Dorrr??!!!!!
Ohh sial. Mereka mulai menembak kami. Mungkin karna jalanan kota Seoul yang mulai lengah mereka berani menembak kami.
"Merunduk" kata Taehyung.
Aku malah berfikir mereka tidak menembak kami dan malah menembaki ban mobil Taehyung.
Namun ku akui Taehyung sangat lihai dalam menghindar dan akhirnya kami bisa membawa mereka ketempat itu.
Taehyung menghentikan mobilnya dan kami pun segera turun dan berlari masuk kedalam hutan.
Hutan yang sama dengan tempat Taehyung pertama kali menyelamatkanku.
Taehyung menggenggam kuat tanganku saat berlari menuju rumah pohon.
Dibelakang sana bisa kudengar teriakan beberapa orang menyuruh kami berhenti.
Sedikit lagi kami akan sampai. Aku sudah bisa melihat ayahku berdiri disana menatap kami dengan senyuman.
"Kalian berhasil" kata ayah saat aku dan Taehyung sampai disana.
"Kurasa begitu" jawabku dengan napas yang tersengal-sengal.
Kami menatap mereka sudah sampai di depan kami. Ada Jungkook, tuan Lee dan bahkan Eunmi. Aku tersenyun melihat mereka.
"Annyeong(hallo) Tuan Lee Jungsun lama tidak bertemu" sapa ayahku terdengar sangat ramah.
"Detektif Han..." Tuan Lee melipat tangannya di depan dada.
".....kau masih hidup rupanya" lanjutnya.
"Tentu saja" kata ayahku.
"Ohh dan lihat disana, kau bersama Penghianat.....Jack" sinis Tuan Lee menatap Taehyung.
"Kalian sangat luar biasa. Berani melawanku" kata Tuan Lee penuh amarah.
"Kenapa kami harus takut padamu Tuan Lee?" tanyaku mengangkat suara.
"Yak Han Soora" pekik Eunmi.
"Waeyo?(kenapa) Kalian pikir hanya kalian yang bisa memainkan scenario?" tanyaku remeh.
" .......kami pun bisa" lanjutku.
Aku menatap sinis mereka. Akhirnya hari yang kutunggu tiba juga. Aku akan membalaskan dendam kematian Eommaku. Aku tidak akan mengampuni mereka.
Welcome to my scenario.
Tbc.......
**Widihπππ gue suka gaya lo Soora
See u next chap
By Raraπ**