The Black Butterfly

The Black Butterfly
Sendiri Di London



Pagi itu, Olivia sudah sibuk di meja makan. Berhubung James belum kembali dari luar kota, dia hanya menyiapkan sarapan untuk tiga orang.


Pemandangan berbeda terlihat pada diri Brianna. Sebelum turun ke ruang makan, gadis itu menyempatkan diri mampir ke kamar Elektra. “Hai, Cassie. Selamat pagi,” sapa putri semata wayang James dan Olivia tersebut. Dia masuk ke kamar Elektra, lalu berdiri di sebelah gadis yang tengah sibuk memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas.


“Bagaimana lukamu?” tanya Brianna lagi. Dia menggeser Elektra yang memiliki postur sama seperti dirinya. Brianna mengambil alih apa yang sedang Elektra lakukan. Dia memasukkan sisa buku yang masih ada di meja belajar.


Elektra tidak segera menjawab. Dia menatap aneh kepada Brianna yang bersikap tak biasa. Elektra mencoba menerka apa yang sedang gadis itu rencanakan, karena dia berubah dengan sangat drastis. Namun, Elektra tidak ingin berprasangka buruk.


“Maaf untuk semua yang sudah kulakukan padamu. Aku menyadari bahwa tindakanku kemarin-kemarin sangat keterlaluan. Aku bahkan membuatmu terluka hingga dua kali, tapi ternyata tidak sekali pun kau mengadu kepada ayahku.” Brianna memasang raut penuh penyesalan di hadapan Elektra. Gadis itu bahkan memegang kedua tangan putri sulung Keluarga Hagen tersebut.


“Apa kau baik-baik saja, Brie?” tanya Elektra ragu. Dia menaikkan sepasang alisnya. Sulit dipercaya bahwa Brianna bersikap baik kepada dirinya.


“Memangnya kenapa?” Brianna balik bertanya. Dia langsung menarik tangan Elektra keluar kamar. “Sudahlah. Ibuku telah selesai menyiapkan sarapan untuk kita,” ujarnya sambil terus menuntun Elektra menuruni undakan anak tangga. “Aku juga meminta ibu agar menyiapkan bekal makan siang untukmu. Dengan begitu, kau tidak perlu repot-repot menyiapkan sendiri.” Brianna terus berceloteh. Namun, Elektra tidak sempat menanggapi, karena mereka telah tiba di ruang makan.


“Selamat pagi, Gadis-gadis,” sapa Olivia. Dia menatap Brianna dan Elektra secara bergantian. “Ayo sarapan dulu,” suruhnya. Olivia mendahului duduk di salah satu kursi kayu yang ada di meja makan tadi.


“Kapan ayah pulang, Bu?” tanya Brianna seraya memundurkan satu kursi.


“Entahlah. Mungkin hari ini,” jawab Olivia sambil mengisi piringnya. “Kenapa?” tanya wanita itu seraya mengarahkan perhatian kepada Brianna.


“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya,” sahut Brianna. Dia sempat melirik Elektra yang hanya terdiam. “Makanlah yang banyak, Cassie,” ucap gadis itu kemudian.


Elektra sontak mengangkat wajah. Dia menatap Brianna dengan sorot penuh selidik. Namun, lagi-lagi Elektra tak bisa menerka apa yang tengah gadis itu rencanakan. Elektra hanya tersenyum simpul, lalu mengangguk pelan.


Hingga sarapan selesai, tak ada perbincangan apapun di antara mereka bertiga. Brianna berpamitan kepada sang ibu untuk berangkat. Sedangkan, Elektra terlihat ragu. Dia hanya mengangguk sopan saat menyadari bahwa Olivia tengah memperhatikannya. Wanita itu menatap lekat Elektra, seakan tengah meneliti setiap detail dari diri si gadis.


“Hati-hati,” ucap Olivia tiba-tiba. Satu hal yang tak pernah dilakukan wanita itu selama Elektra tinggal di sana. Ibunda Brianna tersebut tak pernah berbicara dengan nada seperti tadi kepada Elektra.


“Terima kasih, Bibi,” balas Elektra diiringi senyuman yang sedikit lebar dari biasanya. Walau masih diliputi rasa heran atas perubahan ibu dan anak tadi, tapi Elektra mencoba menepiskan perasaan curiga atau semacamnya terhadap mereka berdua. Elektra berangkat ke sekolah seperti biasanya.


Tepat di jalan tempat biasa Brianna menurunkannya, Elektra sudah bersiap turun. Namun, ternyata Brianna terus mengayuh sepeda hingga tiba di sekolah. Hal itu menjadi satu keanehan lagi bagi Elektra. Akan tetapi, lagi-lagi gadis bermata hijau tersebut tak ingin berpikiran negatif. Dia patut bersyukur karena Brianna dan Olivia sudah mulai bersikap baik terhadap dirinya


Selama di dalam kelas, Brianna sibuk dengan teman-temannya. Mereka tak sekali pun mengganggu Elektra hari itu. Brianna hanya sesekali menoleh, ketika melihat Aiken yang mendatangi meja tempat duduk Elektra, lalu mengajak gadis itu berbicara. Namun, seperti biasa. Elektra tidak terlalu menanggapi sikap manis Aiken.


“Kami akan ke London dengan menaiki kereta. Kuharap kau bersedia ikut, Cassie,” ucap Brianna seraya merengkuh pundak Elektra dengan akrab.


“London?” ulang Elektra. Dia belum pernah ke kota itu sama sekali. Selama ini, Elektra tidak pernah diajak ke luar dari Irlandia oleh orang tuanya, meskipun mereka merupakan keluarga kaya. Namun, Christopher dan Margareth lebih sering membawa ketiga anaknya berlibur ke pelosok-pelosok Irlandia yang memiliki keindahan tak ternilai.


Christopher sering berpesan bahwa di luar Irlandia adalah wilayah yang tidak aman untuk Elektra. Namun siapa sangka, ayah, ibu dan kedua adiknya harus menjemput maut di Irlandia, lebih tepatnya di dalam rumah mereka sendiri.


“Ya, London. Eve ingin membeli sesuatu dari sana sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya. Bukan begitu, Eve?” Brianna menyenggol lengan salah seorang temannya.


“Ah, ya! Aku menguras uang tabungan selama dua bulan,” sahut Eve membenarkan.


Elektra terdiam beberapa saat, sebelum menyetujui ajakan Brianna dan teman-temannya. Setelah gadis itu menganggukkan kepala, Brianna dan kelima temannya bersorak riang. Mereka berangkat ke stasiun kereta bawah tanah dengan mengendarai sepeda masing-masing. Hanya Elektra yang duduk berboncengan dengan Brianna.


Setelah tiba di stasiun, mereka segera membeli tiket dengan tujuan ke London. Brianna juga berinisiatif menitipkan tas sekolah mereka di tempat penitipan barang yang ada di stasiun tersebut. Mereka pergi dengan membawa kunci loker masing-masing. Sedangkan, tas milik Elektra berada satu loker dengan Brianna.


Tak perlu menunggu terlalu lama, kereta yang akan mereka tumpangi telah tiba. Ketujuh gadis itu langsung masuk dan melewati perjalanan sekitar satu jam lebih beberapa menit, hingga mereka tiba di London. Inilah pertama kalinya Elektra menginjakkan kaki di ibukota Inggris tersebut. Dia begitu takjub dengan segala hal, yang selama ini hanya dilihat lewat layar kaca atau internet.


“Ayo, cepatlah!” ajak Brianna. Dia menuntun tangan Elektra mengikuti langkah teman-temannya, menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota London.


Elektra yang merasa takjub, tak sempat mengatakan apapun selain menurut. Beberapa saat mereka menikmati waktu berjalan-jalan di dalam bangunan megah, yang terdiri dari banyak toko dengan brand-brand kenamaan dunia. Ketujuh gadis remaja itu melihat-lihat segala macam barang. Mereka juga memasuki toko aksesoris, dengan berbagai pernak-pernik cantik khas para gadis modern nan modis.


Brianna mengajak Elektra memilih beberapa barang, hingga putri sulung Keluarga Hagen tersebut menjadi begitu asyik. Dia melihat beberapa pernak-pernik rambut, yang menjadi benda kesukaannya sejak dulu. Elektra begitu fokus pada hiasan-hiasan tadi, sehingga tak menyadari bahwa Brianna dan teman-temannya telah pergi meninggalkan dia sendiri di sana


“Ini bagus sekali, Brie. Coba kau li ….” Elektra menoleh ke tempat di mana Brianna tadi berdiri. Namun, tak menemukan sosok yang disangka masih berada di sampingnya.


“Brianna?” Elektra mengedarkan pandangan ke sekeliling toko. Dia bahkan berjalan mengelilingi tempat tadi. Namun, dirinya tak menemukan keberadaan Brianna beserta kelima temannya.


Elektra berlari keluar dari toko tadi. Di sana, dia melihat banyak sekali orang yang berlalu lalang. Tempat itu juga terlalu luas untuk dirinya jelajahi. Entah bagaimana agar dapat menemukan keberadaan Brianna dan teman-temannya. Namun, Elektra tidak ingin hanya berdiam diri. Dia terus berkeliling, sampai dirinya merasa lelah.


“Bagaimana ini?” Elektra patut merasa bingung, karena uang saku dan kartu identitasnya ada di dalam tas yang dititip dalam loker stasiun kereta di Salisbury.