The Black Butterfly

The Black Butterfly
First Kiss



Elektra bergegas kembali ke kamarnya, sebelum Keith keluar dari ruang kerja Cornelius. Gadis cantik tersebut sebenarnya belum terlalu memahami, mengapa para penjahat itu ingin menghabisi seluruh keturunan dari Keluarga Hagen. Apa yang salah dari keluarganya? Elektra juga tidak menyukai, karena Keith harus ikut menanggung akibat dari masalah ini.


Beberapa saat kemudian, Keith keluar membawa wajahnya yang masam. Dia menaiki anak tangga dengan terburu-buru. Pria tampan tersebut berjalan gagah menyusuri koridor, hingga dirinya berhenti di depan kamar yang ditempati Elektra.


Keith berdiri mematung di sana beberapa saat. Dia melangkah pelan mendekati pintu. Pria tampan bermata hazel tersebut kembali terpaku di sana. Niat hati ingin membuka dan melihat keadaan si penghuni kamar, tetapi pikiran tersebut segera dia singkirkan.


“Ini bukan di pondok kayu,” gumamnya sambil menggeleng kencang. Akhirnya, Keith berlalu dari sana menuju kamarnya.


Tanpa terasa, malam telah berlalu. Suasana berbeda dirasakan Elektra saat membuka matanya. Gadis itu merasa bahwa dirinya tengah berada di kamar lama, yang berada di Kastil Hagen. Namun, tentu saja ada banyak perbedaan. Meskipun sama mewah, tapi di sana tidak ada kedua orang tua serta adik kembarnya.


“Ah,” keluh Elektra pelan sembari turun dari tempat tidur. Dia langsung beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi. Sekitar sepuluh menit kemudian, gadis itu keluar dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar.


Elektra kemudian menyibakkan tirai penutup jendela kaca besar kamar yang ditempatinya. Dia juga membuka pintu kaca menuju balkon. Dari atas sana, Elektra menyaksikan pemandangan sekitar kastil yang begitu asri. Namun, satu hal yang menjadi pusat perhatiannya adalah sosok tegap yang tengah melakukan olah fisik di halaman belakang kastil tersebut.


“Keith.” Elektra menyebutkan nama itu pelan dan dalam. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba mengusik relung hatinya, setelah mendengar percakapan antara Keith dengan Cornelius semalam. Keith sudah dijodohkan dengan seorang gadis bernama Evangeline.


Beberapa saat lamanya, Elektra memperhatikan Keith yang tengah berlatih bela diri setelah melakukan pemanasan. Pria itu memperlihatkan tubuh tegap dengan otot-otot kuat yang membuatnya tampak sangat maskulin. Elektra juga mulai menyadari dengan jelas, bahwa Keith memiliki kesempurnaan fisik di atas rata-rata. Namun, usia mereka terpaut jauh.


“Ah! Jangan berpikir macam-macam, Ele.” Gadis itu menepuk pelan keningnya. Akan tetapi, kenyataannya Elektra tidak dapat menahan diri untuk tak menghampiri pria di bawah sana.


Tanpa berganti pakaian, Elektra berlari keluar kamar. Dia bahkan tak menghiraukan Brianna yang baru muncul dengan banyak makanan di tangannya. Gadis itu sepertinya benar-benar merindukan makanan untuk manusia normal.


“Selamat pagi, Keith,” sapa Elektra, ketika sudah berada di halaman. Dia berjalan mendekat ke arah Keith yang tengah fokus berlatih.


“Selamat pagi, Nona Hagen,” balas Keith. Dia menoleh, lalu menghentikan kegiatannya. Keith bahkan berdiri menatap gadis cantik yang telah berada di hadapannya. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya sambil menyeka keringat di kening. Namun, Keith membiarkan bulir-bulir bening lain membasahi tubuhnya, yang saat itu dalam keadaan bertelanjang dada.


“Aku tidur nyenyak semalam,” jawab Elektra diiringi senyuman manis. “Apa kau jadi mengajakku ke Danau Lough Neagh?” tanya gadis itu penuh harap.


“Kau ingin sekali ke sana?” Keith balik bertanya.


Elektra tidak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk diiringi senyuman manis yang terlihat begitu polos.


Sementara, Keith juga tak langsung menanggapi. Pria itu tampak berpikir beberapa saat. “Baiklah. Namun, kau tahu sendiri seperti apa kondisi keamananmu saat ini. Itu artinya, kau harus pergi dalam penyamaran,” saran Keith.


“Tidak masalah. Aku sudah terbiasa dengan rambut palsu,” sahut Elektra dengan sepasang matanya yang berbinar indah.


“Baiklah. Aku akan mandi dulu, Kurasa, kau juga harus berganti kostum.” Keith tersenyum nakal. Matanya mengarah pada piyama yang Elektra kenakan.


“Ah, ya!” Elektra tertawa renyah. “Kalau begitu, kita bertemu lima belas menit lagi.” Setelah berkata demikian, Elektra berlari ke dalam. Kepolosan khas gadis seusianya terlihat jelas. Hal itu membuat Keith hanya tersenyum. Senyuman nanar yang makin lama semakin memudar, saat teringat akan percakapannya bersama sang ayah semalam.


Sesuai yang sudah dijanjikan, lima belas menit kemudian Elektra telah siap dengan penampilan khas ala Cassandra Wilson. Gadis itu terlihat sangat ceria, karena akan mengunjungi tempat penuh kenangan bersama kedua orang tua serta adik kembarnya. Sebelum keluar kastil, Elektra menyempatkan diri mampir ke kamar Brianna.


“Apa kau akan pergi, Cassie?” tanya Brianna yang tengah bersantai di tempat tidur besar nan mewah dengan tumpukan bantal empuk. “Ah, ini rasanya sangat nyaman. Aku menyukainya.” Gadis berambut pirang itu memang terlihat lebih ceria saat ini.


“Keith mengajakku keluar. Apa kau akan ikut bersama kami?” tawar Elektra.


“Memangnya kenapa?” tanya Elektra sambil mengernyitkan kening.


“Astaga. Kau ini terlalu polos atau memang bodoh, Cassie?” Brianna menggerutu pelan. “Sudah sana. Pergilah. Selamat bersenang-senang.” Brianna mengibaskan tangannya, sebagai isyarat agar Elektra keluar dari kamar.


“Baiklah, Brie. Selamat menikmati harimu,” balas Elektra. Gadis dengan rambut palsu berwarna hitam itu bergegas keluar kamar. Dia langsung ke halaman belakang, di mana dirinya membuat janji bertemu dengan Keith.


Ternyata, Keith sudah berada di sana. Dia berdiri gagah dalam balutan celana jeans dengan jaket kulit berwarna hitam. Pria tampan tersebut menyunggingkan senyuman kalem saat melihat Elektra yang berjalan mendekat padanya. “Kau sudah siap, Nona Hagen?” tanyanya.


“Aku sudah siap, Tuan Robinson,” balas Elektra diiringi tawa menggemaskan.


“Astaga.” Keith berdecak pelan. Tanpa sungkan, dia meraih tangan Elektra, lalu menuntunnya menuju garasi. Keith memilih satu mobil yang akan dia kendarai.


“Ini mobilmu?” tanya Elektra sambil mengamati kendaraan antik di hadapannya. Elektra menyentuh permukaan mobil dengan pabrikan Inggris Austin Healey 3000 berwarna biru metalik.


“Aku meminjamnya dari ayahku,” jawab Keith seraya membukakan pintu untuk gadis itu. “Kau tahu sendiri bahwa aku lebih menyukai motor sport.” Keith tersenyum kalem seraya menutup pintu, setelah Elektra masuk dan duduk manis di dalam.


“Wah. Aku tidak tahu bahwa Paman Cornelius memiliki mobil klasik seperti ini,” ujar Elektra lagi.


“Dia hanya meminjamkannya selama tiga jam,” balas Keith. “Kau tahu kenapa mobil ini yang ayahku pinjamkan?” Keith yang sudah menyalakan mesin mobil, menoleh sekilas kepada Elektra.


“Kenapa?” Elektra balik bertanya.


“Karena tak ada yang tahu bahwa Tuan Cornelius Robinson memiliki mobil seperti ini. Dengan begitu, siapa pun yang melihatnya tak akan berpikir bahwa ….” Keith tak melanjutkan kata-katanya. Dia langsung menjalankan mobil itu keluar dari halaman kastil. terlebih saat melihat raut wajah Elektra yang berubah muram.


Elektra memang kembali merasa aneh dengan semua yang terjadi. Kehidupannya yang dulu terasa begitu sempurna, berubah drastis dalam satu malam. Dia kehilangan segalanya pada waktu yang bersamaan.


Gadis itu tak banyak bicara. Satu jam perjalanan menuju Danau Lough Neagh dilalui tanpa ada percakapan yang berarti. Elektra menatap ke luar, pada suasana Irlandia Utara yang telah sekian lama dirinya tinggalkan.


“Kita sudah tiba. Mari.” Keith melepas sabuk pengaman. Dia bergegas keluar untuk membukakan pintu bagi Elektra.


“Terima kasih, Keith.” Elektra kembali tersenyum, saat melihat bentangan alam yang menghadirkan kembali kenangan indah bersama kedua orang tua dan adik kembarnya. Helaan napas berat gadis itu terdengar beberapa kali, saat dirinya menghirup aroma kerinduan terhadap seluruh anggota keluarga yang telah lama meninggalkannya. Setitik air mata terjatuh membasahi sudut bibir gadis itu.


“Hey, kenapa kau menangis?” Keith membalikkan tubuh semampai Elektra sehingga jadi menghadap padanya. Dia mengusap lembut pipi gadis itu, lalu menatap lekat penuh makna.


“Aku ingin kau mengajariku ilmu beladiri, hingga diriku benar-benar mahir. Dengan begitu, aku tidak perlu merepotkanmu lagi,” ucap Elektra pelan.


“Kenapa kau berkata seperti itu?” Keith merasa ada yang aneh dengan ucapan gadis di hadapannya. “Aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun. Sampai kau benar-benar mendapatkan kembali rasa aman serta keadilan yang selama ini terampas dari hidupmu.”


Elektra menggeleng pelan. Dia bergerak mundur, lalu membalikkan badan. “Tidak bisa seperti itu. Aku mendengar percakapan antara kau dengan Paman Cornelius semalam. Kau akan segera menikah. Itu artinya, kau tidak boleh lagi ….”


“Tak ada yang bisa mencegahku, untuk melakukan apapun yang diriku inginkan,” bantah Keith. Dia kembali membalikkan tubuh Elektra, sehingga menghadap padanya. Tanpa diduga, Keith mendekatkan wajah, lalu mencium gadis itu.