The Black Butterfly

The Black Butterfly
Pondok Hantu



Elektra bergerak mundur dengan tatapan yang masih tertuju kepada Robby. “Jika Robby Fletcher bukanlah nama aslimu, lalu siapa ….”


“Keith,” sela pria tampan berambut cokelat yang juga terus memperhatikan Elektra. “Namaku Keith Robinson.”


“Kau seorang penipu!” tunjuk Brianna. “Bagaimana mungkin kami akan memercayakan nyawa kepadamu, jika kau mengawali ini semua dengan kebohongan!”


“Sudah kujelaskan semua pada kalian. Aku tak harus mengulangi apa yang telah kukatakan tadi,” balas Robby yang ternyata bernama asli Keith. Pria tampan bermata hazel itu kembali mengalihkan perhatian kepada Elektra yang masih meragukannya. “Aku tak akan memaksamu untuk percaya. Namun, berilah izin untuk mengawal serta membawamu agar dapat kembali ke Irlandia,” pintanya dengan intonasi rendah.


“Kau gila!” sergah Brianna.


“Aku tidak bicara padamu,” balas Robby alias Keith. Dia menoleh sekilas kepada gadis berambut pirang itu, lalu kembali pada Elektra. “Sebentar lagi, malam akan tiba. Sebaiknya kita segera mencari tempat untuk beristirahat. Kurasa, di sini kurang cocok ….”


“Tuan sok pintar,” potong Brianna lagi ketus. Dia segera memalingkan wajah, saat Keith menoleh padanya dengan sorot tegas. “Kalian memang harus mengikuti apa yang kukatakan. Aku dosennya di sini,” ujar Keith seraya membalikkan badan. Dia bermaksud hendak melanjutkan perjalanan.


“Kau akan membawa kami ke mana?” tanya Elektra setengah berseru, karena jarak Keith sudah cukup jauh darinya.


Keith menoleh. Dia menatap Elektra dan Brianna secara bergantian. Setelah itu, pria tampan tersebut menyunggingkan senyuman kalem. Namun.Keith tidak mengatakan apapun. Dia kembali membalikkan badan.


Berhubung hari semakin sore, tak ada alasan bagi Elektra serta Brianna untuk tetap di sana. Kedua gadis itu berpikir bahwa akan jauh lebih aman jika mereka mengikuti Keith, dari pada hanya berdua di dalam hutan. Terlebih, karena mereka belum pernah berada di tempat seperti itu sebelumnya.


Tak berselang lama, malam turun menyelimuti hutan hingga pekat tak dapat dielakkan. Tidak ada yang Elektra dan Brianna lakukan, selain duduk di atas tanah, sambil memperhatikan Keith yang baru selesai membuat api unggun.


“Makan ini untuk pengganjal lapar.” Keith memberikan dua bungkus wafer chocolate kepada dua gadis yang sejak tadi hanya saling diam. “Tenang saja, ini aman. Aku juga memakannya,” ujar Keith seraya duduk. Dengan tenang, dia membuka bungkus makanan seperti yang diberikannya kepada Elektra dan Brianna. Keith bahkan menyantap wafer chocolate itu dengan lahap.


Elektra dan Brianna saling pandang sebelum akhirnya mengikuti apa yang Keith lakukan. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka berdua benar-benar kelaparan. Kurang dari lima menit, dua gadis itu sudah menghabiskan wafer chocolate pemberian Keith. Dosen muda itu lalu menyodorkan dua botol air mineral pada Elektra dan Brianna.


Elektra menerimanya dengan tatapan curiga. “Kau seperti sudah menyiapkan semuanya,” ujarnya seraya memicingkan mata.


“Aku tahu, cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi. Sejak kau menghilang dari mansion Hagen, mereka terus melakukan pencarian. Apalagi mereka sudah berhasil melacak keberadaan James Wilson,” jelas Keith.


Mendengar nama ayahnya disebut, Brianna langsung mendongak dan menatap tajam ke arah Keith. “Sebenarnya apa pekerjaan ayahku di luar sana?” tanyanya.


“Tuan Wilson adalah kepala pengawal bangsawan Hagen. Dia yang bertanggung jawab atas keamanan seluruh anggota keluarga,” jawab Keith.


“Jadi … dia mengorbankan nyawanya dan ibu untuk melindungi putri mahkota ini?” tunjuk Brianna. Dia memandang penuh kebencian pada Elektra. Gadis itu menggeleng kuat-kuat, seolah berusaha untuk menepiskan semua kenyataan pahit yang menimpa dirinya.


“Itulah tugas ayahmu. Sudah puluhan tahun dia mengabdi pada keluarga bangsawan Hagen. Kau tidak bisa menyalahkan Elektra,” Keith yang bisa menangkap gelagat tak suka dari Brianna, segera berdiri dan menempatkan dirinya sebagai tameng demi Elektra.


“Ayahku tak pernah bercerita tentang pekerjaannya,” desis Brianna yang tak dapat menyembunyikan kekecewaan.


“Aku merasa seperti nyawa ayahku telah ditukar dengan uang,” Brianna tertawa getir. Sesaat kemudian dia menangis. “Kenapa ayah memilih pekerjaan seperti itu? Seandainya aku tahu, aku pasti melarangnya. Lebih baik aku hidup miskin daripada harus kehilangan kedua orang tuaku secara bersamaan,” sesalnya sambil terisak.


“Brie,” Elektra dapat merasakan kesedihan itu. Dirinya juga mengalami penderitaan yang sama. Kehilangan ayah, ibu serta dua adiknya pada hari dan detik yang sama. “Maafkan aku,” Elektra tak peduli walaupun nanti Brianna menolak, dia bergegas memeluk tubuh gadis yang tak pernah berhenti merundungnya itu.


Tanpa diduga, Brianna ternyata membalas pelukan Elektra. Mereka berdua saling menyalurkan kesedihan untuk beberapa saat lamanya. “Kita sama-sama sebatang kara sekarang,” bisik Brianna. “Lalu, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus kulakukan? Tinggal di mana kita nanti?” cecarnya tak berhenti.


“Untuk sementara kita menjauhi keramaian, sambil mencari cara untuk pulang ke Irlandia Utara,” sela Keith yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua gadis yang mulai beranjak dewasa itu. Selesai berbicara demikian, tiba-tiba terdengar dering aneh yang berasal dari telepon genggam satelit yang terpasang di ikat pinggang khusus milik Keith. Sontak Elektra dan Brianna langsung memandang ke arahnya.


Keith sempat terkesiap, lalu meraih telepon satelit itu. Alisnya bertaut saat membaca deretan nomor  yang tertera di layar. “Halo, Ayah,” sapa pria rupawan itu.


“Belfast sedang dalam keadaan siaga. Pria-pria bertopeng itu beraksi lagi. Mereka memburu setiap anggota bangsawan yang memiliki pin rahasia bersimbol pohon kehidupan. Mereka juga mencari keberadaan Elektra di sini,” tutur ayahanda Keith yang tak lain adalah Cornelius.


“Mereka mencari keberadaan Elektra di sana?” ulang Keith. “Apakah itu artinya aku tidak bisa membawa Elektra pulang sekarang?”


“Seluruh wilayah perbatasan dijaga ketat oleh pasukan bayangan. Akan jauh lebih aman jika kita mengganti strategi. Bawa Elektra ke tempat lain sampai Irlandia benar-benar aman,” titah Cornelius yang langsung ditanggapi dengan anggukan pelan oleh Keith.


“Baik, Ayah. Aku akan memikirkan langkah selanjutnya,” sahut Keith. Dia lalu mengalihkan perhatian ke arah Elektra dan Brianna yang menunggu penjelasan dari pria berbadan tinggi dan tegap itu.


“Untuk malam ini, kita menginap di sini. Aku mengetahui sebuah tempat,” tukas Keith. Dia buru-buru mematikan api unggun dan mengemasi barang-barangnya ke dalam tas ransel berwarna hitam.


“Jangan suruh aku berjalan lagi. Aku sungguh tidak kuat,” Brianna mendesah pelan.


“Tidak ada pilihan lain. Bisa saja orang-orang itu terus mengejar kita sampai kemari,” ujar Keith dengan raut wajah datar.


“Astaga,” Brianna meringis menahan tangis. Dia tak pernah menyangka di usianya yang keenam belas, dia akan mengalami hal yang teramat mengerikan seperti sekarang. Terbayang lagi olehnya, sosok sang ayah dan ibu yang bersimbah darah dalam keadaan tak bernyawa.


“Kuatkan dirimu untuk sekarang, Brie. Aku akan membantumu. Kalau perlu, aku bersedia menggendongmu,” bujuk Elektra. “Ingat, kita memiliki nasib yang sama,” imbuhnya.


Brianna terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah,” putusnya dengan terpaksa.


“Kalau begitu, jangan membuang-buang waktu lagi,” Keith mengajak dua gadis itu berjalan menembus pekatnya malam dan rimbunnya pepohonan.


Entah berapa jam telah mereka lalui, sampai akhirnya Keith memerintahkan Elektra dan Brianna untuk berhenti dengan menggunakan isyarat tangan. “Kita sudah sampai,” ucap Keith seraya mengarahkan telunjuk ke arah pondok kayu yang tersembunyi di balik semak-semak.


Elektra terhenyak melihat penampakan pondok tersebut. Ingatan-ingatan masa silam mulai muncul ke permukaan, tatkala dirinya masih kanak-kanak. “Itu ….” Elektra bergumam ragu. “Apakah itu pondok hantu?”