
Asap pekat memenuhi ruangan, sehingga mengaburkan pandangan semua yang ada di sana. Begitu juga dengan Elektra dan Brianna yang masih dalam posisi saling berdekatan. Brianna saat itu sudah berniat untuk melarikan diri. Akan tetapi, dengan segera Elektra mencegahnya. “Tetap di tempatmu, Brie,” ucap gadis bermata hijau itu setengah berbisik. Dia tak berani bicara dengan volume terlalu tinggi, dalam situasi kacau seperti saat itu. Terlebih, karena suara teriak kesakitan yang terus terdengar saling bergantian.
Pria dengan buff masker dan pakaian serba hitam tadi, bergerak lincah. Dia tak terganggu sama sekali oleh pekatnya asap yang menghalangi pandangan. Pria itu mempergunakan kesempatan tersebut, untuk menghabisi satu per satu penjahat yang telah membantai James dan Olivia.
Tubuh para penjahat itu sudah bergelimpangan di lantai. Mereka dipastikan tak bernyawa lagi. Setelah itu, si pria dengan buff masker tadi meraih tangan Elektra dan Brianna secara bersamaan. Tanpa ada kesulitan yang terlalu berarti, dia membawa kedua gadis tersebut keluar dari rumah. Dia tak melepaskan mereka dan membawanya terus berlari, meski si pria sadar bahwa Elektra dan Brianna tak dapat mengimbangi kecepatannya yang bagai seorang ninja.
“Larinya cepat sekali,” seru Brianna yang diseret agar terus berlari.
“Ya. Kami kesulitan mengimbangi gerakanmu, Robby,” timpal Elektra.
“Kau mengenalnya?” Brianna membelalakan mata.
“Aku ….” Elektra tak melanjutkan kata-katanya, setelah menyadari bahwa mereka tak lama lagi akan memasuki hutan yang ada di dekat pinggiran kota. “Kau akan membawa kami ke mana?” tanya Elektra. Dia berusaha menahan gerak si pria yang diyakininya sebagai Robby, si dosen muda.
Pria itu tertegun. Dia menoleh kepada Elektra dan Brianna secara bergantian. “Makin menjauh dari tempat tinggal kalian, maka itu akan semakin bagus,” ucap si pria dengan suara yang tersamarkan, karena mulutnya tertutup buff masker.
“Iya, tapi ….” Brianna membungkukkan badan sambil memegangi kedua lutut. Napasnya terengah-engah, karena dia tidak pernah berlari dengan kecepatan seperti tadi.
“Kau tidak apa-apa, Brie?” tanya Elektra. Rasa iba muncul dalam hati gadis itu, saat teringat bahwa James dan Olivia harus tewas. Andai James tak membawa dirinya ke rumah itu, maka peristiwa pembantaian seperti tadi tidak akan terjadi. Brianna pasti masih memiliki kedua orang tua dan hidup tenang dengan segala kebanggaannya sebagai gadis populer.
“Jangan sok perhatian! Ini pasti ada kaitannya denganmu! Situasi di rumahku menjadi aneh setelah kau datang!” tuding Brianna teramat ketus, dengan telunjuk lurus terarah ke wajah Elektra.
Elektra tidak menanggapi apa yang Brianna katakan, karena itu memang benar adanya. Gadis cantik dengan rambut palsu berwarna hitam tersebut bergerak mundur. “Kau benar, Brie. Tak seharusnya aku berada di antara kalian,” ucap Elektra dengan tatapan aneh kepada Brianna. Dia lalu berbalik dengan cepat. Elektra bermaksud pergi dari hadapan Brianna dan pria yang telah menyelamatkan mereka.
Namun, baru saja Elektra hendak berlari, tangan si pria berpakaian serba hitam tadi segera menahannya. “Jangan bertindak bodoh,” sergahnya. Dia juga meraih tangan Brianna, lalu kembali membawa kedua gadis cantik tadi berlari ke dalam hutan.
Lagi-lagi, Elektra dan Brianna dibawa berlari seperti tadi. Mereka menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar, di antara lautan pepohonan rindang yang menyamarkan cahaya matahari. Cukup lama mereka bertiga menyusuri hutan, hingga akhirnya berhenti di tempat yang dirasa aman.
Elektra dan Brianna duduk bersandar pada sebatang pohon berukuran cukup besar. Mereka terlihat sangat kelelahan. Brianna bahkan langsung tertidur dalam posisi duduk bersandar. Sementara, Elektra mendekati pria yang baru membuka maskernya. Perkiraan Elektra ternyata tidak meleset. Pria di balik buff masker tadi memang Robby, si dosen muda.
“Kau? Siapa dirimu sebenarnya? Kau seperti seseorang yang memang sengaja menguntitku,” tuding Elektra seraya menarik lengan Robby agar berbalik padanya.
“Aku tidak bisa memercayai siapa pun lagi saat ini. Tidak juga kau yang selalu menjadi pahlawan untukku.” Elektra menggeleng kencang. “Tidak! Bisa saja kau merupakan salah satu dari kawanan para penjahat bertopeng itu!” tunjuk Elektra tegas.
“Tidak. Aku bukan bagian dari mereka,” bantah Robby. Dia berusaha menjelaskan pelan-pelan kepada Elektra.
Akan tetapi, Elektra memang sudah kehilangan rasa percaya terhadap semua orang. Terlebih, setelah kematian James dan Olivia. “James dan istrinya tewas. Mereka mengalami nasib nahas setelah kau datang ke kota ini!” Elektra mendorong Robby sekencang mungkin. Dia berbalik, bermaksud hendak membangunkan Brianna.
Akan tetapi, gerakan Robby jauh lebih cepat dari gadis itu. Pria tampan tersebut meraih tubuh Elektra, lalu menariknya kencang hingga gadis bermata hijau tersebut masuk ke pelukannya. Saat itulah, Robby mengunci tubuh ramping putri sulung Keluarga Hagen tersebut. Elektra tak dapat berbuat banyak dalam dekapan Robby. “Diamlah jika kau tak ingin aku melakukan sesuatu yang lebih dari ini,” ucap pria bermata hazel tersebut, dengan wajah yang teramat dekat kepada Elektra. Hangat napasnya bahkan menyapu paras cantik si gadis yang terkesima.
Baru kali ini, Elektra berada sedekat itu dengan seorang pria. Aneh dan tak karuan, seluruh tubuhnya merasa tergelitik bagaikan ada jutaan kupu-kupu yang terbang di dalam sana. Elektra hanya berharap dirinya pingsan, agar tak harus melawan tatapan Robby yang melenakan.
“Kalian sedang apa?” tanya Brianna tiba-tiba. Dia terbangun tanpa disadari oleh Elektra ataupun Robby. “Kalian bermesraan saat aku tidur?” Brianna menaikkan sebelah alisnya sambil melipat kedua tangan di dada.
Dengan segera, Robby dan Elektra saling menjauh. Namun, mereka tak memberikan jawaban apa-apa kepada Brianna yang hanya mendelik tak suka. “Aku lapar. Kau membawa kami ke tempat seperti ini. Kuharap dirimu tak memberikanku dan Cassie daun-daunan untuk dimakan, karena aku bukan vegetarian.” Brianna yang merasa kesal, kembali duduk. Gadis itu termenung beberapa saat, lalu menutupi wajah menggunakan telapak tangan. Brianna menangis tertahan, mengingat kejadian tragis yang telah menimpa kedua orang tuanya.
Sementara itu, di dalam rumah Keluarga Wilson. Asap pekat yang tadi menyelimuti sebagian besar ruangan tempat terjadinya pembantaian telah sirna sepenuhnya. Tampaklah mayat-mayat bergelimpangan di lantai. Namun, di antara jasad-jasad yang sudah dikira mati tersebut, terlihat pergerakan meski pelan.
Beberapa saat kemudian, si pemilik tubuh yang telah terluka parah itu bangkit dengan hati-hati. Dia meringis kesakitan, karena banyaknya luka yang diderita. Darah segar pun terus mengucur dari leher yang tersayat, serta mata dan hidung.
Orang itu berjalan sempoyongan. Meski sulit, tapi dia tetap berusaha keluar dari rumah. Pria tadi berjalan ke tempat yang tadi dia dan teman-temannya lewati, sehingga bisa masuk ke kediaman James tanpa diketahui orang lain.
Di sana, ada sebuah mobil van hitam yang sudah menunggu. Pria tadi mempercepat langkah, meski sangat sulit baginya. Dia lemas karena telah kehilangan banyak darah. Setibanya di dekat kendaraan yang dituju, si pria langsung mengetuk pintu dengan tangannya yang berlumuran darah.
Sesaat kemudian, pintu mobil terbuka. Tampaklah seorang pria berkacamata hitam di dalamnya. Dia duduk penuh wibawa, bahkan terkesan angkuh dan arogan. “Bagaimana?” tanya pria itu.
“Kami berhasil menghabisi James Wilson dan istrinya. Di sana ada dua gadis, tapi keduanya berhasil dilarikan orang asing yang tiba-tiba muncul,” tutur si pria yang terluka. “Ini, Tuan.” Pria itu menyerahkan shuriken milik Robby yang tertinggal di kediaman James.
Pria di dalam mobil van menerima senjata tajam yang diberikan padanya. Dia mengamati benda itu beberapa saat, lalu memicingkan mata saat melihat tanda khusus yang ada di senjata tersebut. Terdapat ukiran simpul celtic berbentuk pohon kehidupan di tengah-tengah Shuriken. Simbol yang dipercaya sudah berusia ratusan tahun itu hanya diketahui oleh kalangan tertentu. “Irlandia. Kita harus kembali ke sana,” ucapnya.