The Black Butterfly

The Black Butterfly
Terjatuh



“Kenapa kau menurunkanku di sini, Brie?” tanya Elektra tak mengerti.


“Kau sudah tahu jalan menuju ke sekolah. Jadi, jangan merepotkanku! Aku tidak terbiasa membonceng siapa pun dengan sepedaku yang mahal!” cibir Brianna. Gadis itu kembali mengayuh sepedanya. Dia benar-benar meninggalkan Elektra di sana.


Terpaksa, Elektra harus berjalan kaki hingga tiba di sekolah. Gadis itu berjalan cukup cepat, hingga dia datang ke sana beberapa saat setelah Brianna sampai. Elektra langsung menuju kelas yang kemarin telah ditunjukkan oleh salah satu petugas di sekolah tersebut.


Kehadiran Elektra sebagai murid baru di kelas itu, tentu saja membuat suasana menjadi heboh. Beberapa murid yang mengetahui bahwa Elektra merupakan saudara tiri Brianna, lantas mengolok-olok putri James tersebut. Hal itu menyebabkan Brianna merasa malu dan tak terima karena diperlakukan demikian.


Saat jam istirahat tiba, Brianna dan teman-temannya yang berjumlah lima orang datang menghampiri Elektra. Gadis itu baru membuka bekal makan siang yang dia siapkan sendiri dari rumah, di bawah pohon rindang halaman samping sekolah.


“Hey!” sentak Brianna.


Elektra yang baru saja akan menyantap makanannya, mengurungkan niat tersebut. Dia menoleh kepada Brianna, lalu beralih pada kelima teman gadis itu.


“Kasihan sekali, Brie. Saudarimu ini baru akan makan,” ujar salah seorang gadis sepantaran Brianna dengan raut iba, tapi sebenarnya mengejek.


“Kita bantu saja dia agar lebih bisa lebih cepat menghabiskan makanannya. Brianna mengatakan bahwa dia mengunyah makanan lama sekali.” Sahut gadis lainnya.


“Ah! Itu bukan ide buruk, Eve,” balas Brianna. Dia semakin mendekat kepada Elektra, kemudian menurunkan tubuhnya. Sementara, kelima teman gadis itu langsung mengambil posisi di kiri, kanan,serta belakang Elektra. Mereka ada yang memegangi tangan, ada juga yang mengarahkan kepala Elektra agar tetap menghadap kepada Brianna.


“Kalian mau apa?”Elektra berusaha melepaskan diri. Namun, teman-teman Brianna memeganginya dengan semakin kencang.


Saat itulah, ulah iseng Brianna dimulai. Sambil tertawa puas, putri semata wayang pasangan James dan Olivia tersebut menyuapkan makanan dalam jumlah banyak ke mulut Elektra secara paksa. Brianna juga melakukannya dalam waktu yang terbilang cepat, sehingga membuat mulut Elektra dipenuhi makanan yang belum tertelan.


Namun, Brianna tak peduli. Dia mengangkat wajah Elektra agar sedikit mendongak. “Cepat telan makananmu, Cassie! Jam istirahat tidak terlalu panjang, dan tak akan menunggumu menghabiskan satu kotak makan siang ini!” ujar Brianna. Dia begitu puas saat melihat Elektra kesulitan dan merasa tersiksa karena makanan yang terlalu penuh di mulutnya. Setelah melihat Elektra terlihat kesulitan bernapas karena hampir tersedak, barulah Brianna menghentikan aksi gilanya. “Lepaskan dia!” suruhnya pada yang lain.


Teman-teman Brianna melepaskan pegangan mereka dengan kasar. Setelah itu, keenam gadis tadi meninggalkan Elektra yang tengah batuk-batuk, setelah memuntahkan sebagian makanan dari mulutnya.


“Ayah … ibu …,” rintih Elektra pelan. Dia tertunduk sambil meneteskan air mata. “Aku merindukan kalian. Aku merindukan kehidupanku yang dulu,” isaknya pilu.


“Hai, Cassandra,” sapa seorang siswi yang membuat Elektra segera menyeka air matanya. “Aku melihat semuanya. Aku menyaksikan apa yang Brianna dan teman-temannya lakukan padamu tadi,” ucap gadis itu, yang merupakan teman sekelas Elektra.


Elektra menoleh pada gadis berkacamata minus dengan poni yang menutupi kening. Secara penampilan, gadis itu terlihat sangat aneh.


“Namaku Felicia Atkinson,” ucap gadis itu lagi seraya mengulurkan tangan. Dia tersenyum manis kepada Elektra.


Cukup lama Elektra terdiam, hingga gadis asal Irlandia itu akhirnya membalas jabat tangan Felicia. “Kau sudah tahu namaku,” balas Elektra dingin.


Felicia mengangkat bahu, lalu duduk di samping Elektra. “Di sini, tak ada yang bisa mengalahkan Brianna. Semua gadis di sekolah menganggapnya sebagai ratu,” terang gadis berkacamata itu. “Sebenarnya, banyak yang tak menyukai Brianna. Akan tetapi, mereka tidak berani menentang,” lanjut Felicia. Dia terus berbicara, meskipun Elektra tak menanggapi. Gadis itu hanya tertunduk diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Apa kau juga tinggal serumah bersama Brianna? Bagaimana kesehariannya? Pasti dia adalah anak yang manja dan pemalas. Benar, kan?” cecar Felicia.


“Maaf. Aku harus pergi." Elektra kembali menutupi wajah cantiknya, dengan sebagian rambut palsu yang dibiarkan tergerai ke depan. Dia lalu berdiri. Elektra berlari menuju kelas. Tanpa peduli sedikit pun, dia meninggalkan Felicia yang duduk keheranan seorang diri di bawah pohon, sambil terus memperhatikan Elektra yang menjauh.


Elektra kembali ke kelas, meskipun pelajaran belum dimulai. Dia memasukkan kotak bekal ke dalam tas. Nahas, di ruangan yang masih sepi itu hanya ada Brianna dan teman-temannya.


Putri sulung Keluarga Hagen itu cukup terkejut, karena tak mengira Brianna ada di sana. Elektra mencoba tidak peduli. Dia memilih duduk, dan mengabaikan keberadaan Brianna serta teman-temannya.


Setelah memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas, Elektra lalu merapikan barang-barang yang lain di atas meja. Selang beberapa menit, tiba-tiba pundaknya dicengkeram dari belakang.


“Jika kau saja tidak menyukainya, apalagi kami,” sahut salah seorang teman Brianna sambil tertawa.


“Tidak ada yang menarik sama sekali dari Cassandra. Akan tetapi, entah kenapa ayahku selalu membelanya.” Brianna terus memperhatikan Elektra dengan sorot penuh kebencian.


“Ayahmu pasti telah dimanfaatkan oleh anak ini.” Teman Brianna yang lain turut menimpali.


“Menjijikkan sekali,” cibir Brianna. Hati gadis itu semakin panas, karena Elektra bersikap seolah tak menganggap kehadiran mereka


“Apa kau tuli, Cassie!” sentak Brianna seraya mendorong tubuh Elektra hingga jatuh tersungkur. Merasa tak puas, Brianna menendang kursi yang tadi diduduki Elektra, hingga terguling dan jatuh tepat mengenai tulang kering gadis itu.


Alhasil, kulit putih bersih yang membalut betis kecil Elektra terluka. Darah menetes dari permukaan kulit yang terkoyak. Gadis malang itu meringis kesakitan. Dia menahan rasa ngilu yang teramat sangat. Bukannya iba, Brianna malah semakin menjadi. Dia menambahi luka pada tulang kering itu dengan tendangan sekuat tenaga.


“Aduh!” Elektra memekik kencang, bersamaan dengan seorang guru yang masuk ke ruang kelas.


Guru perempuan itu tertegun melihat posisi Elektra yang terbaring meringkuk di atas lantai. “Ada apa ini?” tanya sang guru dengan suara yang cukup nyaring. Dia menghampiri Elektra, kemudian membantunya berdiri.


“Dia terjatuh, Miss Peyton,” jawab Brianna. Gadis itu berpura-pura khawatir. Dia bahkan membantu Elektra berdiri dan mendudukkannya hati-hati ke kursi. Begitu pula dengan teman-teman Brianna yang turut bersandiwara.


“Astaga!” Guru yang dipanggil Miss Peyton tadi meringis saat melihat darah menetes di luka Elektra. “Apa kau bisa menggerakkan kakimu? Kau harus ikut bersamaku ke ruang perawatan, Nak,” ujar Miss Peyton lembut.


Awalnya, Elektra menolak dan lebih banyak menunduk. Akan tetapi, akhirnya dia mendongak ke arah Miss Peyton, lalu mengangguk.


Sementara, Brianna langsung merapikan buku-buku Elektra ke dalam tas, lalu memberikannya pada Elektra.


Elektra menerima tas tadi tanpa banyak bicara. Dia lalu berjalan tertatih mengikuti sang guru, hingga masuk ke ruang perawatan. Di sana,


Elektra disambut oleh seorang perawat kesehatan. Dengan telaten, perawat itu mengobati luka-lukanya.


Sementara, Miss Peyton tampak sabar menunggu hingga pengobatan selesai. “Apakah ada yang ingin kau sampaikan terkait insiden tadi?” tanya sang guru lembut. Sepertinya, dia mencium sesuatu yang janggal.


“Aku hanya ingin bertemu dengan ayah dan ibu,” jawab Elektra lirih.


“Jangan khawatir, Nak. Aku akan memberikan izin untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini. Kau boleh pulang, Cassandra. Kau bisa berjalan sendiri, kan?” tanya sang guru ragu.


Elektra sepertinya tak tertarik untuk berbasa-basi lebih lama. Dia hanya menanggapi dengan anggukan samar.


“Akan kuhubungi ayahmu. Tunggulah di ruang kerja khusus milikku,” ucap Miss Peyton seraya menuntun Elektra menuju ruangannya.


Selang beberapa saat kemudian, James datang dengan tergopoh-gopoh. “Astaga, Cassie." Pria itu mengelus-elus puncak kepala Elektra berkali-kali, sebelum berterima kasih pada sang guru karena telah membantu Elektra.


“Apakah Brianna yang melakukan ini padamu?” tanya James, sesaat setelah mereka berdua tiba di rumah.


“Tidak, James ... maksudku ... ayah. Aku jatuh sendiri. Kakiku tak sengaja menabrak meja,” bantah Elektra.


James memicingkan mata. Dia mengamati ekspresi wajah Elektra yang lebih banyak menunduk. “Aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu,” geram James. Dia sudah bisa menebak bahwa Brianna lah yang telah menyebabkan Elektra terluka.


“Tak ada yang bisa membuat perhitungan dengan Brianna! Tidak juga kau, James! Jika kau masih memaksakan diri, maka hadapi dulu diriku sebelum memarahinya!” sentak Olivia, yang tiba-tiba keluar dari bagian dalam rumah.