The Black Butterfly

The Black Butterfly
Pulang



Elektra dan Brianna terdiam membeku. Wajah mereka pucat pasi melihat harimau tutul bergerak mendekat. Auman nyaring terdengar ketika harimau itu sudah berada beberapa meter jauhnya dari dua gadis remaja itu.


“Bagaimana ini?” Brianna semakin panik. Kedua tangannya mencengkeram erat tali tampar yang melingkar di perut.


“Diamlah, Brie!” seru Elektra tertahan. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Harimau itu seolah dapat mencium aroma ketakutan yang menguar dari tubuh Brianna. Terbukti, hewan buas tersebut mengaum nyaring. Mulutnya terbuka begitu lebar, menampakkan taring-taring yang lancip dan mengerikan.


Brianna memekik kencang, membuat harimau itu semakin beringas dan melompat ke arah kedua gadis itu. Refleks, tangan kanan Elektra yang menggenggam pisau, terangkat ke atas tepat mengenai leher harimau.


Macan tutul itu terpelanting ke samping dan terlihat kesakitan. Pisau berukuran besar yang Elektra lesakkan tadi masih menancap dan mengoyak kulit harimau itu. Darah segar menetes semakin banyak. Terdengar auman pelan dari si harimau, hingga hewan buas itu memilih untuk berlari menjauh.


Brianna berdiri kaku. Separuh jiwanya seolah melayang melihat apa yang baru saja terjadi di depan kedua mata. Seluruh tubuhnya gemetar, sampai-sampai Brianna tak sanggup berkata-kata.


“Keith benar. Kita harus memanjat ke atas, atau teman harimau tadi akan datang dan menuntut balas padaku,” tukas Elektra seraya memanjat ke atas pohon dengan sangat hati-hati. Sesekali dirinya terpeselet, tapi tali yang sudah terikat erat ke tubuh Elektra itu menjadi penyelamat. Putri sulung Keluarga Hagen tersebut akhirnya tiba di dahan terbesar. “Ayo, Brie!” Elektra melambaikan tangannya.


Brianna mengempaskan napas pelan. Dalam hatinya, apa yang Elektra sampaikan adalah benar adanya. Diapun berusaha memanjat dengan hati-hati, lalu bersandar di dahan lain yang tak jauh dari Elektra. “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Brianna.


“Menunggu Keith datang,” jawab Elektra dengan yakin.


Sementara pria yang baru saja disebut namanya oleh Elektra itu tengah bersembunyi di semak-semak di seberang rumah James. Dia menunggu malam datang untuk menyelinap masuk ke rumah berlantai dua itu tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk beberapa orang polisi yang berjaga di sana.


Jam tangan Keith menunjukkan pukul sepuluh malam ketika dia mengendap-endap melintasi halaman belakang. Waspada dirinya mencari pijakan, kemudian memanjat pipa pembuangan menuju ke lantai dua. Keith mengawali pencariannya di kamar Brianna. Dia tak menemukan apa-apa selain surat-surat penting, termasuk paspor.


Setelah itu, Keith menyisir ruangan demi ruangan, hingga tiba di kamar Elektra. Di kamar yang terlihat cukup nyaman itu, lagi-lagi Keith tak menemukan apapun selain dokumen-dokumen pribadi atas nama Cassandra Wilson.


Keith mengamati sejenak paspor milik Elektra yang memakai nama Cassandra. Dalam foto berukuran kecil itu, Elektra memakai wig berwarna hitam yang saat ini ditinggalkan begitu saja di pondok kayu di tengah hutan.


Pria tinggi dan tegap itu lalu memasukkan benda-benda penting tadi ke dalam ranselnya. Dia keluar dari kamar Elektra dan bergegas ke lantai bawah. Dia melanjutkan pencarian di sana. Akan tetapi, sampai di ruangan terakhir, Keith tetap tak bisa menemukan shurikennya yang tertinggal.


“Hanya ada dua kemungkinan,” gumam Keith yang berbicara pada dirinya sendiri, “antara polisi yang membawanya, atau para penjahat itu.”


Merasa pencariannya gagal, Keith akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Elektra dan Brianna. Namun, baru saja kakinya menapak di padang rumput yang menjadi perbatasan antara hutan dan pemukiman, telepon genggam satelitnya berdering nyaring.


Buru-buru Keith berlari kencang, masuk ke dalam hutan. Barulah dirinya menerima panggilan yang ternyata berasal dari sang ayah. “Pulanglah, Nak. Bawa Elektra bersamamu,” ujar Cornelius.


“Tapi … bagaimana mungkin, Ayah? Orang-orang jahat itu pasti sudah menunggunya di sana. Mereka akan menghabisi Elektra tanpa ampun. Apakah Ayah lupa? Orang-orang misterius itu tak akan berhenti sampai keturunan Hagen habis tak tersisa,” timpal Keith mengingatkan.


“Oh, ya? Bagaimana bisa? Bukankah keluarga Callaghan dan Walsh, tak akur dengan keluarga Gallagher? Bagaimana mungkin mereka mengucapkan kata sepakat?” cecar Keith tak percaya.


“Sudahlah, nanti saja kujelaskan kalau kalian sudah tiba di sini. Pulanglah ke Irlandia. Itu lebih baik daripada kau berniat untuk membawa Elektra lari ke luar negeri. Terus terang saja. Aku mulai kehabisan dana. Semua aset sudah kupergunakan untuk menyelidiki dan membongkar siapa dalang di balik pembantaian keluarga Hagen,” Cornelius terdengar mengembuskan napas panjang. “Kau tahu sendiri bahwa biaya hidup di luar negeri, tidaklah murah,” imbuhnya.


Keith terdiam. Dia menelaah penjelasan sang ayah sambil memijit pelipis. Jauh di dalam hati, dirinya merasa ragu untuk pulang ke Irlandia Utara. Namun dia juga tidak bisa membantah perintah sang Ayah. “Baiklah, aku akan pulang secepatnya. Nanti kita bicarakan semuanya bersama Elektra,” putus Keith sebelum mengakhiri pembicaraannya bersama Cornelius.


Dia melanjutkan kembali langkahnya ke dalam hutan. Sambil mengingat-ingat pohon tempat dirinya mengikat Elektra dan Brianna tadi, Keith menyiapkan senjata api untuk berjaga-jaga. Pria rupawan bermata hazel itu baru bernapas lega setelah menemukan apa yang dia cari.


Keith mendongak. Dilihatnya Elektra dan Brianna yang tengah duduk di dahan dan bersandar di batang pohon. “Apa kalian baik-baik saja? Adakah sesuatu yang terjadi selama kutinggalkan?” tanyanya sedikit nyaring.


“Keith!” Elektra yang terkejut melihat kehadiran pria itu, bergegas turun. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Keith. Elektra menumpahkan segala keluh kesah dan ketakutannya di bahu bidang dosen muda tersebut.


“Aku berhasil melukai harimau, Keith! Harimau itu hendak menyerang kami! Aku berhasil menusuknya dengan pisau pemberianmu!” tutur Elektra antusias.


“Benarkah itu?” Keith mengurai pelukan Elektra. Dia juga menjauhkan tubuh ramping gadis remaja itu agar dapat mengamati wajah cantiknya dengan leluasa.


“Ya, Keith. Aku takut sekaligus lega. Sebenarnya lebih banyak perasaan takut itu. Ah, perutku rasanya tak karuan. Aku ingin menangis sekencang-kencangnya,” ungkap Elektra tanpa jeda.


“Hei, tak ada yang melarangmu untuk menangis. Menangislah,” Keith tersenyum lembut, kemudian merengkuh tubuh ramping itu lagi dan memeluknya erat.


Perasaan nyaman mulai menjalar, menghangatkan seluruh tubuh Keith. Begitu pula Elektra yang merasakan sesuatu yang lain saat berdekatan dengan pria jangkung itu. Sesaat kemudian, barulah Keith teringat pada Brianna yang masih berada di atas pohon.


Keith kembali mendongak dan memperhatikan Brianna. “Hei, apa kau tidak ingin turun?” tawarnya pada gadis yang tengah duduk meringkuk di dahan besar.


“Dia sedang syok dan tidak ingin diganggu. Tidak apa-apa. Biarkan saja dulu,” tutur Elektra.


“Kurasa aku tetap harus menganggunya, karena kita akan menuju ke bandara sekarang,” sahut Keith. Dia sudah melepaskan pelukannya. Keith kini menatap wajah cantik Elektra lekat-lekat.


“Bandara?” ulang Elektra. “Kita mau ke mana?”


“Pulang ke Irlandia. Brianna juga harus turut serta,” jawab Keith penuh penekanan.