The Black Butterfly

The Black Butterfly
Makan Siang Bersama



Elektra berdiri terpaku, sebelum memilih mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin berada terlalu dekat dengan pria asing, yang tiba-tiba mengarahkan pandangan ke arahnya.


Bulu kuduk Elektra tiba-tiba meremang, saat memperhatikan percakapan antara Aiken dan pria yang berkali-kali mencuri pandang ke arahnya tadi. Elektra mempertajam pendengaran, sehingga semakin jelas suara yang masuk ke telinganya. Tak salah lagi, suara itu adalah milik pria bertopeng yang berada di ruang kerja sang ayah, dalam peristiwa pembantaian berdarah beberapa tahun silam.


“Kau tak perlu terlalu khawatir. Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diri,” ujar Aiken pada pria paruh baya itu. Dengan santai, dia mengibaskan tangan. Aiken kemudian menghampiri Elektra dan merengkuh pundaknya tanpa permisi.


Elektra hanya terpaku. Tubuhnya sedikit gemetaran, sehingga dia tak kuasa untuk menolak. Elektra hanya bisa pasrah saat Aiken menuntunnya ke area parkir, lalu mempersilakannya masuk ke mobil.


“Aku akan mengantarmu pulang. Karena kau sudah berada di sini, maka kau tak bisa lagi menolak,” ujar Aiken seraya tersenyum lebar. Raut bahagia terlihat jelas dari wajahnya yang tampan.


“Siapa pria tadi?” tanya Elektra. Dia tak memedulikan ucapan Aiken. Elektra lebih tertarik, terhadap pria yang berbicara dengan pemuda tampan itu.


“Pria tadi?” ulang Aiken gugup. “Ah, bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang kenalan. Pria itu adalah ayah dari temanku, yang merupakan donatur terbesar di kampus kita,” jawabnya kemudian. “Kenapa? Apakah ada masalah? Sikapmu terlihat aneh, Cassie,” tanya Aiken heran bercampur penasaran.


“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya. Sebaiknya kita segera pulang. Kepalaku sedikit pusing." Elektra memijat keningnya. Dia memalingkan wajah ke jendela. Tak ada yang dia inginkan, selain cepat pulang ke rumah.


Beruntung, Aiken melajukan kendaraan sedikit lebih kencang. Sesampainya di depan rumah James, Elektra bergegas keluar dari kendaraan. Dia bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih kepada Aiken yang sudah mengantar pulang. Gadis yang sudah genap berusia delapan belas tahun tersebut, meninggalkan Aiken yang kembali terlihat keheranan atas sikap gadis cantik tadi.


Aiken tak sempat mengatakan apapun, karena Elektra lebih dulu masuk ke pekarangan rumah. Dia membuka pintu depan, kemudian berlari menyusuri ruangan demi ruangan. Gadis itu mencari James. Namun, yang dia temukan hanyalah Olivia. Wanita paruh baya tersebut, sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga.


“Di mana ayah?” tanya Elektra dengan napas terengah.


Olivia menoleh. Dia juga tampak heran melihat sikap Elektra yang terlihat panik. “Dia belum pulang. Ada apa memangnya?” Olivia balik bertanya.


“A-aku ....” Elektra kebingungan. Dia menyelipkan beberapa helai rambut palsunya ke belakang telinga. “Izinkan aku meminjam telepon genggammu. Aku harus berbicara sesuatu dengan ayah. Ini sangat mendesak, Bibi. Kumohon,” pinta Elektra setengah memaksa.


“Tenang dulu, Cassie.” Olivia bangkit dari duduk, lalu memegang lengan Elektra. “Minumlah dulu, lalu duduk di sini,” suruhnya.


“Kau harus menurut, atau aku tak akan meminjamkan teleponku padamu,” ujar Olivia lagi.


Tanpa diperintah dua kali, Elektra langsung berlari menuju dapur. Dia mengambil segelas air, lalu meneguknya cepat. Tak berselang lama, gadis itu kembali pada Olivia yang melanjutkan aktivitas menonton televisi. “Sudah, Bibi. Pinjamkan aku teleponmu,” lapor Elektra tak sabar.


“Hm.” Olivia mengembuskan napas panjang. “Baiklah." Dia merogoh saku rok, lalu mengambil ponsel dari sana. Olivia menyodorkan telepon genggamnya pada Elektra.


“Terima kasih banyak, Bibi,” ucap Elektra. Dia sudah hendak memeluk Olivia meski tampak ragu. Akhirnya, Elektra mengurungkan niat tadi, ketika ibunda Brianna tersebut memandangnya dengan sorot aneh.


“Pakailah.” Tanpa diduga, Olivia tersenyum lembut padanya seraya berdiri.


Elektra tak menduga, saat Olivia berjalan semakin dekat lalu merengkuh tubuh rampingnya.


“Maafkan sikapku selama ini,” ucap Olivia lirih. Dia memeluk erat Elektra. “Aku akan mengganti masa-masa burukmu dengan kenangan indah antara kita bersama,” imbuhnya.


“Bibi." Elektra memasang raut tak percaya. Perubahan luar biasa dari wanita paruh baya itu, diterima baik olehnya.


“Terima kasih.” Suara Elektra terdengar lirih. Namun dia yakin jika Olivia dapat mendengarnya.


“Sudahlah.” Olivia tertawa pelan sebelum kembali mengarahkan pandangan ke televisi, untuk menonton acara berita.


Sementara, Elektra sempat tertegun untuk beberapa saat. Setelah dapat menguasai diri, barulah dia mengangguk. Gadis itu berlalu menuju kamarnya.


Elektra mengunci pintu dan menutup jendela dengan tirai. Setelah itu, dia segera mencari nomor kontak James.


Elektra merasa gelisah saat menunggu panggilannya tersambung, sampai akhirnya mantan pengawal sang ayah menerima panggilan itu. “James!” seru Elektra sedikit nyaring. “Kau harus segera membawaku pergi dari sini!” ujarnya gelisah


“Aku melihatnya, James!” ucap Elektra gusar.


“Melihat siapa?” tanya James. Dia menjadi orang ketiga yang dibuat bingung oleh sikap Elektra.


“Salah satu dari pria bertopeng yang menghabisi keluargaku,” jawab Elektra pelan.


“Apa maksudmu, Nona? Aku sungguh tidak mengerti,” tanya James.


“Dengarkan aku. Tadi ....” Elektra menjeda kalimatnya untuk menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.


“Sepulang dari kampus, tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang pria. Saat pria itu berbicara, aku dapat memastikan bahwa suaranya sama persis dengan pria bertopeng yang telah menembak ayah,” terang Elektra. Seluruh tubuhnya gemetar, saat mengingat kejadian bertahun-tahun silam yang sama sekali tak bisa hilang dari benaknya.


“Apakah kau yakin, Nona?” tanya James meyakinkan.


“Aku sangat yakin, James. Apa yang harus kulakukan?” Elektra berjalan mondar-mandir di depan jendela. Sesekali, dia berhenti untuk sedikit membuka tirai jendela. Dari tempatnya berdiri, Elektra mengawasi suasana di sekitar tempat tinggalnya dengan awas.


“Kemasi barang-barangmu, Nona. Bawalah baju dan perlengkapan lain secukupnya. Sebentar lagi, aku akan pulang. Kita akan secepatnya pergi dari sini,” putus James, sebelum mematikan sambungan telepon.


Elektra tidak ingin membuang waktu. Dia segera melaksanakan perintah James tadi. Gadis cantik itu mulai berkemas. Semuanya selesai, ketika terdengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


Elektra mengira bahwa James lah yang ada di balik pintu itu. Dia membukanya lebar-lebar, lalu tertegun. Ternyata Brianna yang berdiri di depannya. “Ibu mengajakmu makan siang bersama,” ujar Brianna datar dan dingin.


“Terima kasih, Brie. Sebentar lagi aku akan turun,” balas Elektra seraya mengangguk diiringi senyuman. Dia berdiri sambil terus memperhatikan punggung Brianna yang tengah menuruni tangga. Elektra akhirnya memutuskan mengikuti langkah gadis itu.


Elektra duduk di salah satu kursi meja makan, bersamaan dengan James yang datang sambil menjinjing tas kerja. Pria itu masuk melalui pintu belakang.


Melihat Elektra yang akan melakukan santap siang, James mengurungkan niat untuk membawa gadis itu melarikan diri.


James ikut duduk di meja makan. Dia turut bersantap siang bersama. Suasana di ruangan itu menjadi berbeda. Olivia bersikap sangat ramah. Sesekali, dia melempar candaan. Hanya Brianna yang tak terlihat bahagia. Gadis berambut pirang itu lebih banyak menunduk dan memainkan makanan.


“Aku akan mengajak Cassie pergi selama beberapa hari,” ucap James setelah menghabiskan makanannya.


“Untuk apa, Ayah? Kau tidak hendak mengajaknya berlibur, kan? Liburan semester bahkan belum tiba,” ujar Brianna tak suka.


“Aku tidak berlibur, Brie. Ada hal penting dan mendadak yang harus kuselesaikan bersama Cassie,” dalih James.


Olivia berniat menanggapi. Akan tetapi, suara bel pintu dari arah ruang depan, memotong niat istri James tersebut.


“Biar aku yang membuka pintunya." James langsung berdiri dan berjalan gagah melintasi ruang tamu.


Beberapa menit berlalu. Sayup-sayup, Elektra mendengar James yang sepertinya sedang berdebat dengan seseorang.


Tak berselang lama, percekcokan tadi berganti dengan suara gaduh. Tak hanya itu, Elektra juga mendengar pukulan disertai teriakan.


Perasaan Elektra mulai tak enak. Dia segera mengarahkan Olivia dan Brianna ke lantai atas. Namun, baru beberapa langkah meniti anak tangga, gerakan mereka terhenti.


“Kalian bersembunyilah!" suruh James. "Olivia, cepat hubungi polisi!"


Tanpa berpikir panjang, Elektra dan Brianna masuk ke kamar masing-masing, lalu bersembunyi di sana.