
Elektra yang belum pernah berciuman sama sekali seumur hidupnya, terkejut bukan main dengan apa yang Keith lakukan. Dia bermaksud untuk menghindar, tetapi Keith memegangi kedua lengannya dengan cukup kencang. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan Keith.
Angin berembus tenang di sekitar danau itu. Desirannya menggoyangkan tumbuhan ilalang serta dedaunan dari tumbuhan lain yang ada di sekitar tempat tersebut. Keith, baru menghentikan ciumannya setelah dia merasa puas. Bagaimanapun juga, Keith merupakan pria dewasa yang sudah berpengalaman.
“Aku ingin pulang,” ucap Elektra pelan, seraya bergerak mundur. Dia memberi jarak antara dirinya dengan Keith yang terlihat serba salah.
“Maaf. Aku lepas kendali,” ucap Keith penuh sesal. “Aku ….” Dia tak melanjutkan kata-katanya,karena melihat Elektra telah berlalu menuju mobil yang Keith kendarai terparkir.
“Elektra, tunggu!” Keith menyusul gadis itu. “Tolong maafkan aku.” Pria tampan tersebut meraih tangan Elektra, lalu membuatnya berbalik. “Jangan marah,” pinta Keith.
Elektra tidak segera menjawab. Gadis itu awalnya hanya diam, lalu menunduk. Sesaat kemudian, Elektra mengangkat wajah. “Bagaimana mungkin aku marah kepada seseorang yang sudah banyak membantuku. Keistimewaan ciuman pertama tak akan pernah sebanding dengan semua kebaikanmu, Keith.” Elektra tersenyum. Begitu juga dengan Keith. Gadis itu tak menolak, ketika putra Cornelius Robinson tersebut memeluk erat dirinya.
Menjelang tengah hari, Elektra dan Keith baru kembali ke Kastil Robinson. Saat turun dari kendaraan, mereka langsung saling pandang mendapati sebuah sedan mewah berwarna hitam mengilap, terparkir di halaman dekat kolam air mancur. Karena merasa takut, Elektra langsung berpindah posisi ke belakang tubuh tegap Keith.
“Jangan khawatir,” ucap Keith. Dia menarik pelan gadis itu agar kembali ke sebelahnya. Keith menggenggam erat tangan Elektra, saat membawanya masuk.
Setelah berada di dalam, Keith dan Elektra kembali saling pandang. Dari arah ruang tamu, mereka mendengar percakapan ringan antara beberapa orang. Suara Cornelius terdengar jelas dan paling dapat dikenali.
“Tuan muda, Anda sudah ditunggu di ruang tamu,” ucap seorang pelayan yang datang menghampiri mereka.
“Kau tahu siapa yang berbicara dengan ayahku?” tanya Keith dengan raut teramat serius.
“Tuan Cornelius mendapat kunjungan dari Tuan Collin Walsh dan Tuan Flynn Callaghan,” jawab pelayan yang sudah berusia sekitar empat puluh tahun tersebut.
Mendengar kedua nama itu, sepasang mata hazel Keith langsung berbinar. Dia menoleh kepada Elektra, lalu tersenyum. “Kau harus berkenalan dengan mereka, Ele,” ucapnya.
“Ta-tapi ….” Elektra terlihat ragu.
“Tak apa-apa. Mereka adalah anggota dari Lima Bangsawan. Tuan Walsh dan Tuan Callaghan akan memberikan perlindungan untukmu. Mari.” Keith sedikit menarik tangan Elektra, memaksa agar gadis cantik itu mengikutinya. Namun, setelah tiba di ruang tamu, pria tampan berambut cokelat itu seketika tertegun. Pasalnya, dia melihat ada seorang gadis cantik yang langsung menoleh serta tersenyum manis padanya. Keith yakin bahwa gadis berambut pirang itu pasti yang bernama Evangeline Walsh. Putra Cornelius tersebut berdiri mematung, sambil mengeratkan genggaman tangannya.
“Hai, Nak. Akhirnya kalian kembali,” sambut Cornelius. Dia beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Keith yang berdiri bersama Elektra. Cornelius memberikan isyarat agar Keith bersikap baik di hadapan Collin, Flynn, dan tentunya Evangeline.
“Elektra, berikan salam kepada Tuan Collin Walsh dan Tuan Flynn Callaghan. Mereka adalah anggota dari Perkumpulan Lima Bangsawan yang dulu diketuai oleh mendiang ayahmu.” Cornelius melepas genggaman tangan Keith dari Elektra. Dia menuntun gadis itu menuju sofa mewah, di mana para tamunya berada.
“Tuan-tuan, inilah Elektra Odelia Hagen. Gadis ini merupakan putri sulung Christopher Hagen yang telah lama disembunyikan oleh James Wilson demi keamanannya. Namun, setelah tragedi berdarah yang membuat James beserta istrinya tewas, putraku terpaksa harus membawa Elektra beserta putri tunggal James Wilson kemari.” Cornelius merengkuh pundak Elektra yang terlihat kikuk.
“Astaga. Kau sudah setinggi ini, Nak. Dulu, aku pernah bertemu denganmu. Saat itu, kau berulang tahun yang ke-12. Apa kau masih mengingatnya?” Flynn langsung berdiri. Dia menghampiri Elektra, lalu berdiri di hadapan gadis cantik tersebut.
Elektra tersenyum manis. Jika harus jujur, dia tidak terlalu memperhatikan para tamu yang diundang sang ayah, karena dirinya lebih fokus menikmati pesta bersama teman-teman seusianya. “Iya, Tuan.” Elektra sedikit menurunkan tubuhnya, sebagai tanda penghormatan.
Collin menuntun Elektra mendekat kepada Evangelin yang duduk manis di sofa. Gadis cantik berambut pirang itu tersenyum lembut kepada Elektra. Akan tetapi, dia tidak bergerak sama sekali. Hal itu membuat Elektra menautkan alisnya.
“Evangeline mengalami kecelakaan fatal, saat dia berusia lima belas tahun. Sejak saat itu, dia divonis tidak bisa berjalan lagi,” jelas Collin, yang seketika membuat Elektra dan Keith terkesiap.
“Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu, Nona Walsh,” ucap Elektra lembut. Dia mencondongkan tubuh, lalu memeluk hangat Evangelin.
“Terima kasih, Elektra,” balas Evangelin diiringi senyuman hangat. “Kurasa, lebih baik kau memanggilku dengan nama Eva, agar terdengar lebih akrab.”
“Oh, tentu. Senang berkenalan denganmu, Eva.” Elektra kembali menegakkan tubuhnya. Dia lalu menoleh kepada Keith yang masih berdiri mematung. “Akan kupanggilkan Keith kemari,” ucap Elektra. Dia lalu berjalan menghampiri pria tampan bermata hazel tersebut. “Temui dia, Keith,” bisik Elektra dengan sedikit gerakan di bibirnya.
Keith tersadar. Pria itu menoleh kepada Elektra, lalu mengalihkan pandangan kepada Evangeline yang kembali menatap ke arahnya penuh kekaguman. Namun, Keith masih tetap diam terpaku. Dia baru bergerak, ketika Elektra menarik tangannya lalu menuntun ke dekat Evangeline berada.
“Kau terlihat jauh lebih tampan dari fotomu,” sanjung Evangeline dengan mata berbinar.
“Awalnya dia sama sekali tak mempercayai perjodohan ini,” sahut Collin. “Eva tidak percaya bahwa kau memiliki anak laki-laki. Dia mengira bahwa aku hanya bercanda.”
“Aku sengaja menyembunyikan Keith sampai waktu yang tepat, dan kurasa inilah waktu yang tepat,” Cornelius tersenyum sambil mengarahkan pandangannya pada sang putra bungsu.
“Aku jadi tidak sabar mengadakan pesta pernikahan untuk mereka,” sahut Collins.
“Dengan begini, hubungan tiga bangsawan akan menjadi semakin kuat dan solid,” sambung Flynn. “Kita bisa saling bahu membahu melindungi keturunan Hagen yang terakhir, sekaligus mengungkap pelaku di balik pembunuhan keji itu.”
“Bagaimana dengan keluarga Gallagher? Kenapa kalian tidak mengajak bangsawan keempat? Dari yang kudengar, Tuan Alphonsus Gallagher juga merupakan sahabat dekat keluarga Callaghan,” sela Keith.
Bukannya menjawab, Collin dan Flynn malah saling pandang. Sesaat kemudian, Flynn mengempaskan napas pelan. “Aku sedang tidak akur dengan Alphonsus,” ungkapnya.
“Kenapa?” Keith yang terlanjur penasaran, tak dapat berhenti bertanya.
“Dia mencurigaiku sebagai dalang di balik pembunuhan keluarga Hagen,” jawab Flynn penuh sesal.
Sontak, Keith mundur beberapa langkah sambil menatap Flynn curiga. Dia lalu menoleh pada sang ayah dengan sorot yang seakan menuntut sebuah jawaban.
“Tentu saja itu hanya didasarkan pada sikap Alphonsus yang terlalu berburuk sangka pada semuanya,” timpal Cornelius. “Sudahlah, berhentilah bercakap-cakap dengan kami. Mengobrollah bersama Eva. Kalian harus saling mengenal lebih jauh sebelum pendeta mengesahkan pernikahan kalian.”
Cornelius menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Collin dan Flynn berpindah ke ruangan sebelah. Sementara Elektra hanya terdiam, tak tahu harus melakukan apa. Dia baru mengikuti langkah Cornelius ketika ayahanda Keith itu meraih tangan Elektra dan mengajaknya berlalu dari sana.