The Black Butterfly

The Black Butterfly
Tak Bisa Memiliki



“Aku tidak mau pergi ke manapun dengan pakaian compang-camping seperti ini!” seru Brianna dari atas pohon.


“Tenang saja, Brianna Wilson. Aku sudah membawakan beberapa baju ganti untuk kalian berdua.” Keith mengeluarkan banyak barang dari ransel hitamnya. Mulai dari paspor, pakaian, hingga makanan kemasan tahan lama. “Sekarang, gantilah pakaian kalian.”


Brianna sempat ragu-ragu memandang Keith, sebelum akhirnya memutuskan untuk turun. Dia menerima tumpukan baju yang disodorkan kepadanya. Dari beberapa helai yang dibawa oleh Keith, semuanya adalah milik Elektra.


Brianna memilih secara asal, lalu berlari ke balik pohon besar tempatnya bersembunyi tadi.


Keith hanya mendengkus pelan, karena ulah Brianna yang membuat tumpukan baju di tangannya jadi berjatuhan ke tanah.


“Biar kubantu.” Elektra sigap memunguti baju-baju itu dan membersihkannya.


“Pilihlah pakaian mana yang kau suka.” Keith mengarahkan pandangan sepenuhnya pada Elektra.


“Apa kau mengambilnya dari kamarku?” tanya Elektra malu-malu.


“Ya. Maafkan aku yang sudah lancang. Awalnya aku tidak tahu itu kamar milik siapa. Aku hanya mengambilnya secara acak,” jawab Keith sambil tersenyum.


“Kau tidak perlu meminta maaf. Seharusnya, aku yang berterima kasih,” ucap Elektra seraya memilih dress terbaru yang sempat dibelikan oleh James, beberapa hari sebelum kejadian berdarah itu. “Sekarang, berbaliklah." Elektra mengibas-ngibaskan tangan sebagai isyarat agar Keith membalikkan badan.


Namun, putra dari Cornelius itu tetap pada posisinya. Dia malah menatap Elektra dengan sorot penuh arti. “Ada apa?” Elektra menautkan alisnya keheranan.


“Nanti … jika semua masalah beres dan kau sudah mendapatkan keadilanmu, apakah … kau bersedia berjalan-jalan ke Danau Lough Neagh bersamaku?” tanya Keith ragu.


“Kau mau mengajakku berjalan-jalan ke pondok hantu?” Elektra tertawa geli.


“Di tempat itu kita pertama kali bertemu,” sahut Keith pelan.


“Baiklah. Aku bersedia. Sekarang, berbaliklah." Elektra setengah memaksa, agar Keith membalikkan badan. Dia bahkan mendorong pria itu supaya menjauh.


Setelah merasa aman, barulah Elektra melepas celana jeans dan kemeja bermotif kotak yang sudah dipakai selama berhari-hari. Dengan cekatan, Elektra mengenakan dress yang sudah dia pilih tadi.


Tepat pada saat Elektra menarik resleting, Keith berbalik dan membantu menutup resleting itu. Dia sedikit merasa bersalah, karena sempat mencuri pandang punggung mulus Elektra. Namun, Keith teringat dengan kejadian di danau tempo hari, saat menyaksikan Elektra berenang. Pria tampan itu tersenyum kecil.


“Dua tahun lagi, kau genap berusia delapan belas tahun,” ucap Keith tiba-tiba.


“Iya. Dua tahun lagi, aku benar-benar menjadi wanita dewasa. Aku ingin menjadi seseorang yang pemberani sepertimu. Mampu menghadapi segala bahaya dan permasalahan dengan sangat mudah,” sahut Elektra.


“Aku bisa melatihmu secara khusus tentang dasar-dasar ilmu bela diri." Keith memutar perlahan tubuh Elektra, sehingga dirinya dapat menatap wajah cantik gadis itu dengan leluasa.


“Benarkah?” Dalam keremangan malam, iris mata hijau Elektra langsung berbinar. Sayangnya, Keith tak melihat itu secara jelas.


“Ya. Setibanya di Irlandia, aku akan mengajarimu,” ujar Keith lembut. “Sekarang, rapikan rambutmu. Kita harus segera berangkat ke bandara. Kau juga, Brianna.” Pria bermata hazel tersebut menoleh pada putri tunggal James, yang juga sudah selesai berpakaian.


Malam itu mereka habiskan dengan berjalan keluar hutan, hingga tiba di tepi jalan besar. Cukup lama mereka menunggu. Beberapa saat kemudian, sebuah taksi melintas. Keith segera menghentikannya dan meminta sopir agar membawa mereka ke bandara.


Keith membeli tiket secara langsung di bandara untuk tiga orang. Dia sempat gugup saat menyodorkan paspor Elektra yang memakai nama palsu pada saat check in. Beruntung, petugas bandara tak curiga.


Keith bernapas lega saat dirinya melihat Elektra dan Brianna duduk nyaman di kursi pesawat.


Perjalanan singkat selama satu jam menjadi tak terasa, karena dua gadis remaja itu tertidur selama perjalanan. Hingga akhirnya, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Belfast, Irlandia Utara. Keith tak menyangka bahwa sang ayah dan beberapa anak buahnya datang menjemput.


“Ya, Tuan." Brianna sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai sikap hormat.


“Syukurlah. Kalian semua baik-baik saja." Cornelius mengusap sudut matanya yang basah. “Ayo, kita pulang ke Kastil Robinson,” ajaknya antusias seraya mengarahkan Elektra dan Brianna mobil yang diparkir di area khusus.


Setengah jam kemudian, mobil milik Cornelius tiba di kediaman pribadinya. Beberapa pelayan wanita datang menyambut sang majikan. “Antarkan tamu-tamuku ke kamar yang sudah disediakan,” titah Cornelius pada dua orang pelayan.


“Baik, Tuan." Kedua pelayan yang masih berusia muda tadi, mengarahkan Elektra dan Brianna ke ruangan kamar di lantai dua. Dua gadis itu mendapat kamar yang bersebelahan.


“Anda bisa menekan tombol alarm di dekat ranjang, jika sewaktu-waktu membutuhkan kami, Nona,” jelas salah satu pelayan.


“Baiklah. Terima kasih." Elektra tersenyum ramah. Dia terus memperhatikan pelayan-pelayan itu sampai tak terlihat.


“Rumah ini seperti istana." Brianna berdecak kagum sebelum membuka pintu kamar dan memasukinya. “Astaga, lihat ini, Cassie! Ukuran kamar ini seluas halaman belakang rumahku!” seru Brianna antusias.


“Selamat beristirahat, Brie." Elektra menanggapinya dengan tawa pelan, lalu memasuki kamar yang telah disediakan untuknya. Di atas ranjang, sudah terdapat beberapa potong pakaian, lengkap dengan pakaian dalam.


Elektra lalu mengambil satu setel piyama, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama dia membersihkan diri sambil berendam di dalam bathub. Kepalanya bersandar pada tepian bathub. Elektra merasa begitu rileks dan nyaman sampai-sampai tak sadar jika dirinya tertidur.


Elektra terbangun, ketika merasakan dingin di ujung kakinya. Elektra segera membilas tubuh indahnya dengan air hangat. Setelah berpakaian, dia berniat untuk tidur. Namun, entah mengapa matanya tak bisa terpejam, padahal dirinya sudah merasa sangat lelah.


Elektra memutuskan keluar kamar. Dia bermaksud mengambil segelas air di dapur. Akan tetapi, saat melihat koridor yang gelap gulita, Elektra jadi mengurungkan niat tadi. Dia teringat pada kejadian beberapa tahun lalu yang masih membekas dalam benaknya. Para penjahat bertopeng, merangsek masuk ke mansion dan menghabisi seluruh keluarganya.


Elektra hendak kembali ke kamar, saat terdengar suara Keith meski hanya sayup-sayup. Gadis itu menajamkan pendengaran. Suara itu berasal dari lantai bawah. Gadis cantik tersebut akhirnya memberanikan diri untuk melintasi koridor, hingga tiba di puncak tangga.


Sambil merunduk, Elektra berjalan mengendap-endap menuruni anak tangga. Sebisa mungkin dirinya tak menimbulkan suara apapun. Semakin lama, suara Keith terdengar semakin jelas. Pria tampan yang selalu berusaha untuk melindunginya itu sepertinya tengah beradu pendapat dengan seseorang.


Elektra dapat meyakini bahwa lawan bicara Keith adalah Cornelius.


Gadis itu mengambil tempat strategis di tengah-tengah tangga yang berbentuk melingkar. Dia duduk sambil memeluk lutut, bersembunyi di balik pilar pembatas. Mata hijaunya menyesuaikan dengan cahaya remang yang menyelimuti seluruh ruangan.


Terlihat jelas oleh Elektra, pintu ruang kerja Cornelius yang terbuka. Tampak pula tubuh tegap Keith yang berdiri membelakangi.


“Bagaimana bisa ayah memutuskan untuk menikahkanku dengan Evangeline?” protes Keith dengan nada bicara tinggi.


“Ini adalah satu-satunya jalan untuk mendapat dukungan dari Keluarga Walsh. Kau tahu sendiri bahwa mereka adalah keluarga yang terkuat dan kaya raya setelah Keluarga Hagen,” jawab Cornelius yang sama sekali tak terpancing dengan amarah putranya.


“Kenapa harus dengan pernikahan? Apa tidak ada cara lain untuk mendapatkan dukungan mereka, Ayah?” protes Keith lagi. "Aku sudah mengikuti kemauanmu sejak kecil. Apakah aku juga harus menuruti kegilaan ini?" Keith terdengar begitu marah. Sikap tenang yang selama ini selalu ditunjukkan kepada Elektra, tidak terlihat sama sekali.


“Hanya ini satu-satunya cara yang masuk akal, Nak. Kita sudah membawa Elektra pulang ke Irlandia. Sementara, ancaman terbesar berada di sini. Namun, Frederich Walsh yang merupakan ayah dari Evangeline, sudah menjanjikan keamanan bagi gadis itu. Aku yakin tak akan ada pihak yang berani melawan kekuatan Keluarga Walsh,” jelas Cornelius.


“Bukan hanya itu, Frederich juga berjanji untuk mengusut tuntas dalang di balik pembantaian yang menimpa Keluarga Hagen,” lanjutnya.


“Dengan syarat aku harus menikahi Evangeline! Begitukah?” sahut Keith tanpa menurunkan nada bicaranya.


“Ya, Nak,” jawab Cornelius yakin.


“Aku ….” Suara Keith tiba-tiba terdengar pelan. “Padahal aku sudah berjanji pada Elektra.”


“Jangan berjanji apapun padanya, Keith. Sampai kapanpun, kau tak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih dari gadis itu,” tegas Cornelius, yang membuat Keith dan Elektra sama-sama tercekat.