The Black Butterfly

The Black Butterfly
Dinding Yang Runtuh



“Astaga! Apa yang kau lakukan, Robby Fletcher?” tanya Elektra tak percaya. Gadis itu terus memperhatikan pria yang tengah melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Elektra akhirnya dapat bernapas lega.


“Tentu saja menolongmu,” jawab Robby dengan enteng. Dia melemparkan tali ke lantai begitu saja.


“Tidak, bukan itu,” bantah Elektra. Gadis cantik dengan sepasang iris berwarna hijau tersebut masih menunjukkan raut aneh terhadap Robby. “Maksudku … kenapa kau melakukan ini? Kau membantuku. Padahal, ini bukanlah masalah yang terlalu penting. Aku hanya menerima keisengan dari teman-teman yang lain,” ujar Elektra seraya meringis kecil.


“Kenapa tidak?” sahut Robby. “Pertama, apa yang dilakukan gadis-gadis tadi sudah di luar batas keisengan yang wajar. Kedua, karena kau merupakan salah satu mahasiswa yang berkuliah di jurusan tempatku mengajar. Itu berarti kau adalah muridku. Bukan hal yang aneh jika aku merasa harus menjaga keselamatan anak didikku,” jelas Robby seraya menatap lekat Elektra.


“Ya, tapi sekarang sudah di luar jam kuliah. Um ….”


“Bukannya berterima kasih, tapi kau malah banyak protes. Aneh sekali,” pikir Robby tak mengerti. “Kenapa sulit sekali memberikan bantuan padamu,” ujarnya seraya menaikkan sebelah alis.


Elektra tidak segera menjawab. Gadis dengan rambut palsu berwarna hitam itu hanya terpaku memandang pria tampan nan gagah di hadapannya.


“Apa kau masih ingat malam itu? Saat kau tersesat di London. Kau berkali-kali menolak tawaranku,” ujar Robby lagi.


Elektra lagi-lagi tak langsung menanggapi. Gadis cantik tersebut hanya tersenyum kecil. Dia mengangguk-angguk pelan. “Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu. Aku juga belum sempat berterima kasih untuk pertolongan yang kau berikan saat diriku tersesat di London,” ucap Elektra kemudian. “Lalu, sekarang bagaimana?” tanyanya.


“Aku akan mengantarmu pulang,” jawab Robby. Tanpa sungkan, pria tampan berambut cokelat tersebut meraih tangan Elektra. Dia menuntun gadis itu keluar dari gedung kosong tadi. Mereka terus berjalan melintasi halaman yang ditumbuhi rumput liar.


Sesaat kemudian, keduanya tiba di tepi jalan raya, di mana Robby memarkirkan kendaraan roda dua miliknya. “Naiklah,” suruh Robby seraya memberi isyarat kepada Elektra. Sebelumnya, dia sudah menyodorkan helm bergambar kalajengking pada gadis itu.


“Apa kita akan langsung pulang ke rumahku?” tanya Elektra lagi.


“Memangnya kau ingin ke mana? Aku tidak ingin membuat ayahmu khawatir,” jawab Robby, meski sorot matanya menyiratkan hal yang terlihat berbeda.


“Rasanya, aku masih marah pada Brianna. Um, maksudku … saudariku yang tadi berbuat usil,” ujar Elektra polos.


“Aku tahu siapa dia. Aku juga tahu siapa nama ayah, dan di mana alamat rumahmu,” sahut Robby.


“Bagaimana kau bisa tahu?” Elektra yang awalnya hendak duduk di jok motor, segera mengurungkan niat tersebut.


“Aku membacanya di file data mahasiswa. Maaf, tiba-tiba aku merasa penasaran denganmu,” ucap Robby. Tatapan penuh arti, dia layangkan kepada gadis yang telah mengenakan helm itu.


“Kenapa kau penasaran padaku?” tanya Elektra mulai curiga.


“Itu … karena ….” Robby terbata. Dia berpikir keras sebelum melanjutkan kata berikutnya.


“Karena apa?” desak Elektra tak sabar.


“Kau mirip dengan adikku yang sudah tiada,” jawab Robby seraya mengalihkan pandangan ke depan.


“Tidak apa-apa. Hal itu sudah lama berlalu,” ujar Robby diiringi senyuman hangat.“Baiklah jika kau tak ingin pulang sekarang. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ujarnya seraya menarik tangan Elektra agar segera naik ke motor.


Elektra yang telah memasang helm, segera naik. Dia duduk nyaman di belakang Robby. Dia sempat memperhatikan punggung lebar dosen muda itu, sebelum memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya di pinggang Robby. Elektra tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Baru kali ini dirinya membuka dinding penghalang yang membentenginya dari dunia luar, meskipun Elektra tidak terkurung secara fisik.


Beberapa menit berlalu, Robby menurunkan Elektra di depan kedai es krim. “Kau suka rasa apa?” tanyanya setelah berada di depan meja pemesanan.


“Tiramisu,” jawab Elektra singkat.


“Baiklah.” Robby mengangguk, lalu memesan es krim yang diinginkan oleh Elektra. Sedangkan, dirinya memilih rasa coklat. Tak berselang lama, pesanan mereka telah selesai. Robby memberikan es krim Elektra, lalu mengajaknya duduk di teras toko. Di sana sudah disediakan beberapa meja dan kursi rotan yang dilengkapi payung lebar.


“Kurasa kau tidak boleh tinggal diam atas perlakuan saudarimu itu. Sekali-sekali kau harus melawan,” saran Robby.


“Ya, ingin sekali aku melawannya, tapi ….” Elektra menggigit pelan bibirnya. Tak mungkin dia mengatakan pada Robby, bahwa dirinya merasa berutang budi pada ayah kandung Brianna. Alasan itulah yang membuat Elektra tak mungkin membalas perlakuan gadis itu.


“Kau seperti tengah menanggung beban berat,” ujar Robby dengan raut menerka-nerka.


“Apakah kau ahli dalam membaca gestur atau ekspresi wajah seseorang?” tanya Elektra polos sambil menikmati es krimnya.


“Aku ahli dalam segala hal,” sahut Robby. “Aku juga bisa meramal. Coba berikan tangan kananmu.”


Elektra memindahkan corong es krim yang dipegangnya ke tangan kiri. Dia menyodorkan tangan kanan kepada pria itu.


Tanpa disadari oleh mereka berdua, ada seseorang yang menyaksikan adegan itu dari dalam mobil. Aiken memperhatikan apa yang sedang dilakukan Elektra dan Robby. Selama dirinya mengenal Elektra yang diketahui bernama Cassandra, gadis itu tidak pernah tertawa dan terlihat sangat ceria seperti saat ini. Entah apa yang Robby katakan kepada Elektra, sehingga membuat gadis itu terlihat sangat lepas.


Namun, keceriaan Elektra berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Aiken. Pemuda tampan tersebut merasa cemburu dan tentu saja tidak menyukai apa yang disaksikannya. Tanpa banyak berpikir, Aiken melajukan kendaraan meninggalkan tempat itu. Tujuannya adalah kediaman dekan di kampus. Aiken mengenal dekat petinggi tempat dirinya menimba ilmu saat ini.


Setelah menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan, Aiken bergegas keluar. Dengan langkah terburu-buru, dua memasuki menuju bangunan tempat tinggal sang dekan. Pemuda itu mengetuk pintu beberapa kali, hingga ada seseorang yang membukanya dari dalam. “Selamat sore. Aku Aiken Caldwell. Aku ingin bertemu dengan Tuan Wayne Carlsberg.”


“Sebentar.” Wanita yang membukakan pintu, meminta Aiken agar menunggu beberapa saat, hingga dirinya kembali untuk mempersilakan Aiken masuk. Dia lalu mengarahkan pemuda yang tergila-gila kepada Elektra tersebut ke ruang santai majikannya.


Di ruangan itu, Aiken mendapati Wayne tengah asyik membaca buku sambil mengisap cerutu. “Selamat sore, Tuan Carlsberg,” sapa Aiken seraya berjalan mendekat.


“Selamat sore, Aiken,” balas Wayne seraya berdiri. Dia mempersilakan Aiken agar duduk di kursi. “Ada angin apa yang membawamu kemari?” tanyanya seraya menutup buku, lalu melepas kacamata baca yang dikenakan.


“Apa Anda tahu siapa dosen muda berpostur tinggi tegap dengan rambut cokelat?” tanya Aiken tanpa basa-basi.


“Robby Fletcher? Dia mengajar Ilmu Seni Budaya. Memangnya kenapa?” Wayne balik bertanya.


“Aku rasa dia sudah melanggar etika sebagai dosen. Aku ingin agar Anda memecatnya,” pinta Aiken, kembali tanpa basa-basi. Dia bahkan terdengar sangat yakin.