The Black Butterfly

The Black Butterfly
Genangan Darah



Setelah memastikan Brianna dan Elektra bersembunyi di kamar masing-masing, James mengeluarkan sepucuk senjata api dari balik kemejanya, bersamaan dengan Olivia yang baru kembali dari ruang keluarga.


Wanita itu terperanjat melihat benda yang dibawa oleh suaminya. “A-apa yang kau lakukan, James?” tanya Olivia terbata.


“Apa kau sudah menghubungi polisi?” James malah balik bertanya.


Olivia mengangguk pelan tanpa bersuara. Ekor matanya terus mengikuti gerak-gerik James yang tampak begitu waspada. Suaminya itu melangkah hati-hati menuju ruang tamu. Dia yang masih berusaha mencerna atas apa yang terjadi, membuntuti James.


Namun, baru beberapa langkah, tubuh Olivia serasa membeku. Ada seorang mayat di sana, tergeletak di depan sofa. Darahnya mengalir, membasahi karpet wol kesayangannya. “James!” pekik Olivia. “Siapa dia?” telunjuknya mengarah lurus pada tubuh tak bernyawa itu.


“Naiklah ke kamar, Olive! Lindungilah anak-anak!” titah James.


“Siapa dia?” Olivia mengulangi pertanyaan. “Apa yang sudah kau lakukan sebenarnya, James? Sejak kapan kau memegang senjata!” cecarnya panik.


“Tenanglah, Sayang!” James terpaksa menyelipkan pistolnya ke pinggang. Dia mengusap-usap kedua lengan sang istri supaya tenang. “Laki-laki itu tadinya hendak memaksa masuk ke dalam rumah. Dia hendak berbuat jahat. Jadi, aku terpaksa menembaknya lebih dulu sebelum dia menembakku,” jelas James.


“Ba-bagaimana mungkin kau memiliki senjata api?” Olivia menggeleng kuat-kuat. Siang itu rasanya seperti mimpi baginya.


“Aku tidak sempat menjelaskannya sekarang, Sayang. Nanti saat semua ini sudah berakhir, aku akan menceritakan segalanya padamu. Akan kubuktikan padamu bahwa aku tak pernah berpaling. Sekarang, kuminta padamu. Naiklah ke atas bersama ….” James belum sempat menyelesaikan kalimat ketika seseorang mendobrak pintu rumahnya sampai jebol. Olivia memekik kencang tatkala lima orang pria merangsek masuk dengan paksa.


James tak mempunyai pilihan lain selain mempertahankan diri. Sigap dirinya meraih pistol dan menembaknya ke arah kawanan yang berusaha mendekat. Sayang, pada tembakan terakhir, satu orang pria muncul dari arah belakang. Pria itu menyelinap melalui dapur dan langsung melingkarkan tangan di leher James.


Dua dari lima orang yang tertembak oleh peluru James, ternyata terluka ringan. Mereka membantu rekannya untuk merebut senjata api dari tangan ayahanda Brianna itu. Akan tetapi, James tak ingin menyerah begitu saja. Dengan leher tercekik, dia berusaha mempertahankan pistolnya. Susah payah James mengarahkan moncong ke salah satu dari dua orang di hadapannya.


James berhasil melubangi perut orang asing tersebut. Sayangnya, tenaganya melemah seiring oksigen yang tersendat mengalir ke otak. Wajahnya yang memucat membuat pria yang mencekik lehernya semakin bersemangat menekan bagian depan leher James, sampai terdengar bunyi retakan tulang. James tewas. Tubuhnya melorot, lalu terjatuh di atas lantai ruang tamu.


Olivia yang shock, berdiri membeku di tempatnya. Dia bahkan tak bergerak sama sekali ketika pria besar yang telah membunuh suaminya itu merebut pistol dari tangan James, lalu menarik pelatuknya. Olivia pasrah ketika itu. Kehilangan sang suami di depan mata kepalanya sendiri, membuat otak Olivia tak dapat berpikir. Dia hanya dapat tersenyum pasrah ketika sebutir peluru melesat menembus jantung. “James ….” Adalah kata terakhir Olivia sebelum ambruk di samping jasad sang suami.


Di lantai atas, Brianna menjerit ketakutan mendengar letusan senjata api berkali-kali. Panik, dirinya turun dari ranjang, lalu bersembunyi di kolong. Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya terbuka. Brianna menutup mulut rapat-rapat sambil bergerak mundur, hingga kakinya menyentuh tembok. Namun, akhirnya dia dapat bersyukur saat menyadari bahwa Elektra lah yang masuk ke dalam kamar.


“Brie! Ikut aku!” ajak Elektra dengan suara pelan. Dia melongok ke bawah ranjang dan mengulurkan tangannya pada Brianna.


“Tidak! Tidak! Mereka akan menangkapku!” Brianna menggelengkan kepalanya dengan napas memburu.


“Mereka tidak akan menangkap kita, jika kita melarikan diri lebih dulu,” bujuk Elektra lirih. Dia kemudian bangkit dan mengunci kamar Brianna. Elektra juga menghalangi pintu dengan meja belajar dan rak buku berukuran sedang.


Ragu-ragu, Brianna mengangguk dan menuruti perkataan Elektra. Dia beringsut keluar dari kolong ranjang dan buru-buru membuka lemari baju.


“Tidak usah! Kita tidak memiliki banyak waktu!” sergah Elektra. Dia sudah bersiap membuka jendela. Dirinya sedikit lega saat mendengar suara sirene polisi dari kejauhan. “Hei, polisi sudah datang, Brie! Kita akan selamat!” tepat setelah Elektra memekik demikian, pintu kamar Brianna digedor kencang, sampai-sampai meja dan rak penghalangnya bergetar. Tak berselang lama, rak itu roboh.


“Ayo, Brie!” Elektra yang tak sabar, langsung menarik tangan Brianna agar mendekat ke arah jendela. Namun, semangat Elektra seketika pupus. Di luar sana, terdapat tiga orang pria bertopeng yang sudah berjaga di bawah jendela. Mereka seolah sudah bisa menebak, bahwa Elektra mencoba melarikan diri dari sana.


“Kita akan mati, Cassie! Kita akan mati!” Brianna mulai meracau tak karuan. Dia mengacak-acak rambutnya sambil menangis.


“Tidak!” Elektra menggeleng kuat-kuat. Otaknya bergerak cepat untuk mengajak Brianna bersembunyi di dalam lemari pakaian. Namun, sebelum keinginannya itu terlaksana, pintu kamar Brianna berhasil didobrak. Bahkan meja penghalang itu sudah bergeser dari tempatnya.


Dengan kasar, dua orang pria bertopeng merangsek masuk, lalu menyeret tubuh Elektra dan juga Brianna. Mereka membawa kedua gadis yang mulai beranjak dewasa itu turun ke lantai bawah. Orang-orang misterius itu mendorong tubuh Elektra dan Brianna begitu kasar, hingga mereka berdua jatuh terjerembab.


Suasana semakin mencekam ketika ekor mata Brianna menangkap dua sosok mayat yang tergeletak tak jauh darinya. “Tidak, tidak,” Brianna seolah kehabisan napas. Dadanya terasa sesak dan panas. “Ayah, ibu!” pekiknya nyaring. Matanya nyalang menatap jasad yang penuh oleh darah. Cairan merah itu meresap ke pori-pori karpet. Karpet wol berwarna abu-abu, berubah menjadi merah kehitaman.


“Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin,” gumam Brianna berulang-ulang. Akal sehatnya seolah menghilang. Gadis itu mendadak linglung dalam sekejap.


Kondisi Brianna tak jauh berbeda dengan Elektra. Seperti menonton film yang diputar ulang, Elektra kembali menyaksikan peristiwa berdarah. Kali ini, James dan Olivia lah korbannya. Tak terkira rasa bersalah Elektra saat itu.


“Siapa di antara kalian yang bernama Elektra Hagen?” tanya salah satu dari pria bertopeng itu nyaring.


“Putri sulung Christopher berambut pirang,” sahut rekan lainnya menimpali.


Pria yang bertanya tadi merogoh sesuatu dari dalam rompi. “Seharusnya kami dilarang untuk menembak, supaya tidak menarik perhatian penduduk sekitar, tapi James Wilson sudah lebih dulu melakukannya. Semua perhatian sudah terpusat di tempat ini,” gumamnya.


“Kalau tidak ada yang berambut pirang, maka Elektra Hagen tidak ada di sini,” pria itu melanjutkan kalimatnya seraya membidik Brianna. “Kau yang akan kubunuh lebih dulu.”


“Tidak! Jangan!” tiba-tiba Elektra berdiri dan menerjang pria bersenjata itu sampai terhuyung. Hal itu menimbulkan kemarahan pada rekan-rekannya lainnya. Mereka memaksa Elektra bersimpuh di samping Brianna, sementara pria tadi sudah siap menarik pelatuk.


Sedikit lagi, pistol itu akan memuntahkan peluru. Namun, beberapa benda berkilat tiba-tiba saja melayang dari arah dalam cerobong asap. Benda tajam berjenis shuriken, menancap tepat di pergelangan tangan si pria bersenjata.


Tak hanya itu, bom asap juga dilemparkan. Ruangan tersebut mendadak diselimuti kabut. Orang-orang bertopeng itu mulai panik. Mereka berteriak-teriak tak jelas. Di tengah kekacauan itu, pria lain muncul. Brianna mengenali sosok pria yang baru saja muncul dari cerobong asap itu. Pria tersebut menggunakan buff masker yang sama dengan pria yang menolong Elektra di pabrik kosong kemarin malam.