
Elektra memberanikan diri menyusuri trotoar. Entah ke mana kakinya melangkah. Baru pertama kali ini dia menginjakkan kaki di London. “Aku harus berani,” ujarnya pada diri sendiri, walaupun dia ketakutan setengah mati.
Rasanya takdir telah mempermainkan Elektra. Baru saja dia kehilangan seluruh anggota keluarga, dirundung oleh Brianna dan semua teman-temannya, sekarang dirinya harus tersesat. Seolah belum cukup atas semua kehilangan yang sudah dia terima.
“Ayah, ibu ….” Elektra mulai terisak. Sambil berjalan, dia mengusap air matanya agar tak menghalangi pandangan.
Berjam-jam Elektra berjalan tak tentu arah, hingga dirinya tiba di sebuah pusat pertokoan. Ramai orang lalu lalang membuatnya semakin ketakutan. Elektra berniat untuk berbalik ke toko yang dia kunjungi bersama Brianna tadi.
Akan tetapi, Elektra tak pandai menghafal rute yang telah dia lewati. Antara kalut dan panik, dirinya memutuskan untuk bertanya pada satpam penjaga mall. Dia menyebut nama toko yang tadi dia datangi.
Satpam itu mengangguk, lalu mulai menggambar peta sederhana. Dia juga memberi penjelasan yang mudah dimengerti oleh Elektra.
Setelah mengucapkan terima kasih, Elektra mengikuti petunjuk yang diberikan oleh satpam tersebut. Dia sampai di depan toko itu ketika hari sudah menjelang malam. Toko pun sudah tutup. Elektra sudah tidak dapat berpikir lagi.
Yang dia lakukan saat itu hanyalah duduk meringkuk di teras toko sembari memeluk lutut. Kekuatan Elektra seolah habis tak tersisa. Kesedihannya sudah tak bisa lagi dia tahan. Elektra menangis sesenggukan. Dia tak bisa membayangkan apa jadinya masa depan.
“Kenapa kau tidak mencabut nyawaku juga, Tuhan? Dengan begitu, aku bisa bersama lagi dengan ayah, ibu, Finnes dan Finn,” rintihnya pelan.
“Apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba terdengar seseorang bertanya padanya.
Elektra segera mendongak dan menatap seseorang yang berdiri di hadapannya itu dengan was-was. Seorang pria muda memandang penuh arti pada Elektra. Rambutnya coklap gelap dengan warna mata hazel. Dia tampak begitu tinggi dan tegap, membuat Elektra tertegun untuk beberapa saat.
“Aku tersesat,” jawab Elektra ragu.
“Di mana rumahmu?” tanya pria itu lagi.
“Salisbury,” Elektra bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk pinggulnya.
“Lumayan jauh dari sini. Bagaimana bisa kau sampai tersesat?” cecar pria itu.
“Temanku meninggalkanku,” Elektra menunduk dalam-dalam. Dia kemudian menggeleng lemah. Seandainya dirinya tidak terlalu percaya pada Brianna, mungkin Elektra tidak akan tersesat seperti ini.
“Aku bisa mengantarmu ke kantor polisi. Di sana, mereka akan membantu menemukan alamatmu. Kau tinggal menyebutkan nama dan alamat,” tutur si pria.
“Tidak ….” Elektra menggeleng kuat-kuat. James sudah memperingatkannya berkali-kali agar menjauh dari keramaian dan pihak berwajib. Tak ada siapapun yang boleh mengetahui identitas aslinya. Jika pergi ke kantor polisi, maka mereka akan memotret dan memasukkan fotonya ke dalam pusat data. Hal itu akan sangat berbahaya bagi Elektra yang memang tengah bersembunyi.
Kekuatan yang berhasil melumpuhkan keluarga Hagen, bisa dipastikan adalah kekuatan besar. Para pembunuh itu berhasil masuk ke dalam mansion yang memiliki penjagaan ketat dan membantai keluarganya tanpa sisa.
“Ya, Tuhan,” Elektra kembali menangis sesenggukan. “Aku tidak mau pergi ke kantor polisi. Antarkan saja aku pada ayahku,” ujarnya lirih.
“Kau mau aku mengantarmu ke Salisbury? Di mana alamatmu. Besok pagi-pagi, aku akan mengantarmu,” tawar pria muda itu.
Elektra terkesiap. Dia memandang lekat-lekat pada pemuda bermata hazel itu. “Alamatku ….” Elektra menggigit bibirnya. Lagi-lagi dia teringat akan petuah James. Siapapun tak boleh mengetahui alamat rumahnya. Apalagi memberitahukan pada orang asing.
“Aku tidak tahu,” ucap Elektra.
“Kau tidak tahu alamat rumahmu sendiri?” pria muda itu memicingkan mata curiga. Akan tetapi, Elektra tak peduli lagi. Dia memutuskan untuk mencari cara lain agar bisa pulang ke Salisbury. Dirinya masih mengingat stasiun kereta tempatnya berangkat tadi.
Elektra langsung mendongak dengan mata sedikit terbelalak. “Antarkan aku pulang ke stasiun kereta Salisbury. Dari sana, aku akan berjalan pulang. Jarak rumahku cukup dekat dari stasiun,” dalihnya antusias.
“Kalau begitu, aku akan menunggu di sini sampai besok pagi,” cetus Elektra.
“Apa kau memiliki uang untuk membeli tiket kereta?” pria itu tak juga berhenti bertanya yang ditanggapi dengan gelengan pelan oleh Elektra.
“Menginap saja semalam di apartemenku. Besok pagi-pagi akan kuantar kau ke stasiun,” saran pria tinggi dan tegap itu.
Elektra mundur selangkah mendengar tawaran itu. Rasa curiga mulai memenuhi hatinya. Sangat tidak masuk akal jika ada orang tak dikenal tiba-tiba mengajaknya menginap. Elektra tak percaya dengan orang yang tiba-tiba bersikap baik padanya, membuat dia teringat pada Brianna.
“Tidak, aku di sini saja,” tolak Elektra dengan segera.
“Kau mau berdiam di sini sampai besok pagi?” ulang pria muda itu tak percaya.
“Ya!” jawab Elektra tegas.
“Baiklah, terserah kau saja. Area ini termasuk wilayah yang tak aman di malam hari. Terlebih untuk gadis muda sepertimu,” ujar si pria mengingatkan.
“Tidak apa-apa,” sahut Elektra. Dia memantapkan hati, walaupun terbersit rasa takut dalam diri.
Pria muda itu mengangguk, lalu merogoh saku celananya. Dia menyerahkan beberapa lembar poundsterling pada Elektra. “Ini untuk membeli tiket kereta besok,” ucapnya.
Ragu-ragu tangan Elektra terulur. Dia menerima uang itu dan memandanginya sejenak. “Terima kasih,” Elektra berbicara lirih. Namun pemuda itu dapat mendengarnya.
“Hati-hati,” timpal si pemuda sembari berlalu.
Elektra memperhatikan sosok tegap itu sampai tak terlihat dari pandangan, lalu mengembuskan napas perlahan. Tampaknya dia akan tidur di emperan toko malam ini.
Baru saja Elektra berniat merebahkan tubuh di teras toko tanpa beralaskan apapun, tiba-tiba datang beberapa orang laki-laki seusia pria muda yang memberinya sedikit uang tadi.
“Wah, wah, lihat siapa yang berkeliaran malam-malam begini,” celetuk salah seorang pemuda.
“Siapa namamu, adik manis?” tanya pemuda lainnya.
Elektra tak menjawab. Dia beringsut mundur dan hendak melarikan diri. Namun, para pemuda itu segera menghadangnya.
“Hei, mau ke mana? Tidak sopan sekali!” ujar si pemuda seraya mencekal lengan Elektra.
Hal itu menimbulkan trauma yang memang belum sembuh, muncul kembali ke permukaan. Elektra mengeluarkan keringat dingin. Bayangan-bayangan mengerikan yang pernah dia alami, tergambar jelas dalam benaknya.
“Tidak, jangan,” seluruh tubuh gadis remaja itu gemetaran. Dia menggeleng kuat-kuat seraya berusaha menepiskan tangan-tangan nakal yang berusaha mencengkeram pergelangannya.
“Tenanglah, kami tidak akan berbuat macam-macam. Cukup dengan berikan kami uang sakumu, maka kami akan pergi dengan damai,” salah satu pemuda menyeringai sambil berjalan mendekat.
Elektra semakin ketakutan. Dia melangkah mundur sampai punggungnya menabrak tembok toko. Elektra tak bisa ke mana-mana lagi, sebab para pemuda itu sudah berdiri mengelilinginya.
“Hentikan!” seru sebuah suara yang berasal dari belakang para pemuda tersebut. Mereka semua menoleh, mengarahkan pandangan ke arah suara, termasuk Elektra. Tampaklah pria muda bermata hazel yang telah memberikan uangnya pada Elektra tadi, sudah berdiri gagah dan dalam posisi siap menyerang.