The Black Butterfly

The Black Butterfly
Another Danger



Brianna terlihat putus asa. Dia membalikkan badan. Gadis itu berjalan menjauh dari pinggir jalan. “Aku tidak peduli apapun lagi,” ujarnya antara kesal bercampur sedih juga kecewa.


“Brie!” panggil Elektra. Dia bergegas menyusul gadis itu. Begitu juga dengan Keith yang segera mengikuti. “Kau mau ke mana?” tanya Elektra.


Brianna tertegun lalu menoleh. “Kita kembali saja ke dalam hutan. Aku tak peduli meski harus menyantap daging hewan liar setiap hari,” sahutnya sambil menahan tangis. “Itu rumahku, Cassie. Di sana ayah dan ibuku mati terbunuh dengan cara mengenaskan. Sekarang, tempat itu dijaga ketat oleh polisi.” Brianna menyeka air mata yang menetes di pipi, saat kembali teringat pada malam pembantaian beberapa waktu yang lalu.


“Aku bisa mengerti perasaanmu saat ini, karena aku juga mengalaminya beberapa tahun silam. Saat pertama kali James membawaku ke rumahmu, itu adalah hari terakhir diriku meninggalkan tempat di mana ayah, ibu, serta kedua adikku tewas dibunuh secara keji,” tutur Elektra yang juga tampak menahan kepedihan. “Aku juga sangat merindukan Irlandia, tanah kelahiranku.”


Brianna terdiam. Begitu juga dengan Keith yang tak tahu harus berkata apa. Alhasil, keheningan menyelimuti mereka bertiga hingga beberapa saat. Karena merasa hanya membuang waktu, Keith akhirnya mengajak kedua gadis tadi kembali ke dalam hutan. Setidaknya, mereka tak akan terlihat orang lain di sana.


Pria tampan berambut cokelat itu memiliki ide yang di luar nalar. Dia naik ke pohon berdahan kokoh yang cukup tinggi, lalu mengikatkan dua buah tali di sana secara terpisah. Setelah itu, dia turun lagi, kemudian mengikat ujung tali yang menjuntai ke bawah di pinggang Elektra dan Brianna.


“Untuk apa kau melakukan ini?” tanya Elektra.


“Terlalu jauh jaraknya jika harus kembali ke pondok. Aku hanya akan membuang-buang waktu berjalan bolak-balik ke sana. Karena itu, kalian tunggulah di sini,” jelasnya setelah selesai mengikatkan tali tampar di pinggang Elektra dan Brianna.


“Lalu, kenapa kau mengikat kami ke dahan pohon seperti ini?” tanya Brianna heran.


Keith menoleh kepada gadis berambut pirang itu. Dia mengembuskan napas pelan. “Aku bukan mengikat kalian ke dahan. Aku menyuruh kalian agar naik ke pohon itu,” ujarnya enteng.


“Apa?” Elektra dan Brianna terbelalak tak percaya. Kedua gadis itu saling pandang, lalu melayangkan tatapan protes kepada Keith.


“Aku tidak pernah naik pohon seumur hidupku!” tolak Brianna keberatan.


“Aku juga tidak tahu bagaimana caranya ….”


“Karena itulah kupakaikan kalian tali. Pikirkan sendiri bagaimana caranya agar kalian bisa naik dan aman di atas sana selagi aku pergi.” Keith melepaskan ransel dari punggungnya. Dia menyembunyikan benda itu di semak-semak, sehingga tak terlihat siapa pun. Pria tampan tersebut lalu memeriksa beberapa senjata miliknya. Saat itu, Keith baru tersadar bahwa dia kehilangan satu buah shuriken miliknya. “Astaga. Ini tidak bagus,” gumam Keith dengan raut tegang.


“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Elektra ikut tegang.


Elektra dan Brianna yang mendengar hal itu langsung saling pandang. Kedua gadis itu tak tahu harus berkata apa. Mereka terlalu bingung dengan kejadian mengerikan yang telah menimpa, ditambah harus hidup di dalam hutan dengan kondisi seadanya.


“Kalaupun polisi menemukan benda itu, mereka tak akan mengetahui bahwa senjata tersebut adalah milikmu,” ujar Brianna enteng.


Namun, Keith segera menggeleng tanda tak setuju dengan pendapat gadis cantik tersebut. “Tidak sesederhana, Nona Wilson,” bantahnya. “Di senjata milikku terdapat ukiran yang menandakan tempat di mana diriku membuatnya. Shuriken itu dibuat secara khusus oleh seorang pengrajin di Irlandia Utara. Di sana juga ada lambang perkumpulan bela diri yang dipimpin oleh ayahku,” jelas pria tampan tersebut.


“Astaga. Bagaimana ini?” Elektra terlihat was-was. “Paman Cornelius bisa saja dianggap terlibat dalam insiden kemarin,” pikirnya.


“Aku tidak boleh membiarkannya.” Keith mendengkus kesal, karena sudah bertindak ceroboh. Dia lalu menoleh pada kedua gadis tadi secara bergantian. “Jaga diri kalian selama aku pergi. Ingat yang kukatakan, berada di atas pohon akan jauh lebih aman. Jangan membuat banyak gerakan atau suara. Kemungkinan aku akan kembali saat malam,” pesan Keith. Dia memeriksa kembali peralatan yang dirinya letakkan di beberapa bagian tubuh tersembunyi.


“Kau mau ke mana?” tanya Elektra lagi. Rona kekhawatiran masih tergambar jelas di paras cantik gadis enam belas tahun tersebut.


“Aku akan menyelinap masuk ke kediaman James. Aku tak mungkin membawa kalian berdua karena ….” Keith mengembuskan napas pelan. Dia menjeda kata-katanya, karena tak enak jika harus mengatakan bahwa Elektra dan Brianna hanya akan menghambat pergerakannya. “Tolong mengertilah. Akan kuusahakan kembali secepatnya,” ujar si pemilik mata hazel tersebut. Dia mendongak, melihat dahan pohon yang sudah dipasangi tali terhubung ke tubuh kedua gadis itu. “Saatnya kalian belajar menjaga diri hingga aku kembali.”


Sebelum pergi, Keith memberikan sebilah pisau kepada Elektra dan Brianna. “Gunakan ini jika kalian dalam kondisi terdesak. Hati-hati dalam menggunakannya, karena ini sangat tajam.” Setelah berpesan demikian, Keith membalikkan badan. Dia berjalan semakin menjauh, hingga akhirnya tak terlihat lagi di pandangan kedua gadis berambut pirang itu.


“Aku ingin melepaskan tali ini,” ujar Brianna. Dia berusaha membuka simpul tali tampar yang ternyata terikat kencang di perutnya. “Lama-kelamaan, pria itu merasa dirinya sebagai bos. Aku tidak suka saat dia memerintah dan memutuskan segala sesuatu ….”


“Kau terbiasa memerintah, Brie. Karena itulah dirimu tak nyaman dengan kondisi seperti ini. Namun, harus diakui bahwa Keith jauh lebih tahu dengan apa yang harus dilakukan dalam situasi yang tak pernah terlintas dalam pikiran kita.” Elektra duduk di bawah pohon yang sudah terpasang tali ke perutnya. Gadis itu kembali memperlihatkan raut murung.


“Mendiang ayah dan ibu memang tidak pernah memanjakanku secara berlebihan. Namun, aku sudah terbiasa hidup dalam kondisi yang serba ada, bahkan bisa dikatakan mewah. Ini merupakan hal yang baru juga bagiku,” terang Elektra dengan tatapan kosong menerawang.


“Ayah kerap mengajakku naik gunung dan berkemah. Akan tetapi, kami tidak memakan daging serigala atau minum air sungai secara langsung. Semuanya sudah dipersiapkan dengan lengkap oleh para pelayan,” tutur Elektra. Dia mengingat kembali kenangan indah yang pernah dilalui bersama sang ayah dan kedua adiknya.


“Ayahku jarang sekali pulang. Aku tidak pernah tahu apa pekerjaannya di Irlandia. Ibu tak pernah mengatakan apapun. Dia ….” Brianna tak melanjutkan kata-katanya, karena Elektra segera berdiri dan mengisyaratkan agar diam. Seketika, paras cantik putri semata wayang James tersebut menjadi tegang bercampur was-was. “Ada apa?” tanyanya setengah berbisik. Akan tetapi, belum sempat Elektra mengatakan apa-apa, suara auman seekor harimau lebih dulu menjawab pertanyaan gadis itu.