The Black Butterfly

The Black Butterfly
Mencari Cassie



Elektra berhasil membuka pintu utama dan berlari menyusuri lorong. Akan tetapi, saat dirinya berusaha memencet tombol di samping lift, pintu itu sama sekali tak bisa terbuka. Elektra berniat untuk berbalik menuju tangga darurat. Namun, pria muda yang mengaku bernama Robby mencegatnya.


“Lift masih dalam perbaikan untuk sementara. Kau bisa menggunakan tangga, tapi ….” Robby menatap Elektra dengan raut yang tak dapat diartikan.


“Biarkan aku pergi, Robby. Tolong. Jangan sakiti aku.” Elektra memohon. Dia sampai menangkupkan kedua tangannya di dekat dada.


“Hei, tenanglah.” Robby hati-hati memegang kedua lengan Elektra. “Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu. Aku hanya ingin membantu. Sekarang masih dini hari. Akan sangat berbahaya jika kau keluar pada waktu seperti ini. Setidaknya, tunggulah sampai besok pagi,” sarannya.


Elektra tampak bimbang, antara percaya atau tidak terhadap pria muda di hadapannya. Jauh di dalam hati, gadis itu membenarkan alasan Robby. Dengan terpaksa, Elektra mengangguk. Dia menurut saat Robby mengajaknya masuk kembali.


“Beristirahatlah dulu. Kunci pintunya dari dalam,” ucap Robby. Dia mengarahkan Elektra untuk masuk kembali ke kamar. Pria itu sempat memperhatikan gadis yang sudah beranjak remaja tersebut. “Berapa usiamu?” tanya Robby tiba-tiba.


“Berapa umurmu?” Elektra malah balik bertanya.


“Usiaku dua puluh tiga tahun. Aku baru melanjutkan pendidikan S2 di Royal Holloway,” jawab Robby, yang membuat Elektra langsung  mundur perlahan.


“Aku masih di secondary school. Namaku Cassandra. Kau bisa memanggilku Cassie," balas Elektra ragu.


“Salam kenal, Cassie. Anggap saja ini kamarmu,” ucap Robby seraya tersenyum. Mata hazelnya tampak berbinar saat memandang Elektra.


Untuk pertama kali dalam hidup Elektra, dia terpana melihat wajah tampan lawan jenisnya. Selama ini, Elektra selalu bersikap tak peduli, meski di sekolah tak jarang ada siswa yang mendekatinya.


Demi menghalau perasaan yang tak biasa tadi, Elektra bergegas menutup pintu kamar. Dia bahkan menguncinya rapat-rapat. Elektra kembali berbaring di ranjang tanpa melepas sepatu. Tanpa terasa, gadis itu langsung terlelap saking lelahnya.


Sementara, waktu merangkak tanpa terasa. Pagi datang lalu berganti siang. Berbanding terbalik dengan Elektra yang masih tertidur pulas, James justru merasa kalut luar biasa saat Elektra tak pulang semalaman. Padahal, dia juga baru kembali dari luar kota. Namun, pria itu sudah dibuat gusar tak menentu.


Berdasarkan pengakuan Brianna, Elektra pulang lebih dulu. Namun, Brianna tak menemukan gadis itu di rumah, saat dia kembali dari sekolah.


Semalam suntuk, James mencari keberadaan Elektra. Dia menyusuri jalanan yang biasa dilewati Elektra, hingga ke seluruh area sekolah dan pemukiman rumahnya. Tak hanya itu, James bahkan mencari hingga ke distrik sebelah. Tepat tengah hari, James kembali ke rumah dengan lesu.


James tak menemukan siapa pun di ruang makan, sehingga pria itu melanjutkan langkah menuju kamar Brianna. Akan tetapi, putri gadis itu tak terlihat juga. Sepertinya, Brianna tengah membersihkan diri di kamar mandi, karena baru kembali dari sekolah.


James berniat menunggu Brianna sampai keluar dari kamar mandi. Dengan penuh wibawa, dia duduk di tepian ranjang. Sesuai dengan kebiasaannya, James berpikir sambil memainkan pemantik. Namun, tanpa sengaja benda itu terjatuh. Dia lalu membungkuk untuk mengambil kembali pemantiknya di lantai.


Seketika, James terkejut setengah mati saat menemukan tas sekolah Elektra tersembunyi di sana. “Brianna!” seru James nyaring sambil meraih tas itu. “Brianna!” ulang James sambil menggedor pintu kamar mandi.


Tak berselang lama, pintu terbuka. Brianna yang masih mengenakan bathrobes putih, langsung terbelalak ketakutan saat sang ayah menyodorkan tas sekolah Elektra tepat ke depan wajahnya. “Jelaskan padaku, kenapa tas Cassandra ada di kolong tempat tidurmu!” sentak James.


“A-aku tidak tahu, Ayah,” jawab Brianna. Wajah cantiknya tampak pucat.


“Aku tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pembohong, Brie!” sentak James penuh penekanan. “Sekarang, jawab dengan jujur. Kutanya sekali lagi, bagaimana bisa tas Cassandra ada padamu!” James tidak dapat menahan emosinya lagi. Dia melampiaskan amarahnya dengan meninju pintu yang menghubungkan ke kamar mandi. Saking kuatnya tenaga james, pintu itu sampai jebol.


Kegaduhan tadi sampai menarik perhatian Olivia yang baru datang dari toko. Wanita itu segera berlari menuju kamar Brianna. Di sana, dia melihat sang putri yang tengah menangis sesenggukan. “Apa yang kau lakukan padanya, James!” tegur Olivia tegas.


Dengan napas memburu, James menoleh ke arah Olivia. “Tanyakan baik-baik pada putrimu, di mana dia menyembunyikan Cassandra!” sahut James.


"Apakah Brianna ada kaitannya dengan Cassandra yang menghilang?” tanya Olivia pelan.


“Dengarkan aku,” geram James dengan raut wajah yang sangat menakutkan. Sepanjang pernikahan Olivia dengan pria berusia empat puluh lima tahun tersebut, baru kali ini dia melihat sosok suaminya yang seperti itu.


“Tenanglah, James,” bujuk Olivia.


“Aku tidak akan bisa tenang sebelum Cassandra ditemukan." James menatap tajam pada sang istri. “Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Hanya satu petunjuk kecil untukmu dan Brianna, jika bukan karena Cassandra, maka kalian tidak akan pernah bisa menikmati hidup berkecukupan seperti sekarang!” James mengarahkan telunjuknya pada Olivia dan Brianna secara bergantian. Ibu dan anak itu tertunduk dan sama-sama diam. Mereka tak berani memandang ke arah James.


“Tidak! Jangan!” cegah Brianna panik. “Aku mengajak Cassie ke London, Ayah. Aku meninggalkannya di sana,” terang Brianna.


“Apa kau bilang!” Olivia terkejut bukan main. “Apa yang kau pikirkan, Brie!” bentaknya. Olivia juga sempat memukul lengan Brianna meskipun tidak terlalu kencang.


“Di mana kau meninggalkannya?” desis James lagi.


“Di salah satu mall dekat stasiun metro,” jawab Brianna sambil menunduk dalam-dalam.


“Ingatkan aku untuk menghukum Brianna sepulang dari London, Olive!” pesan James penuh penekanan, sebelum bergegas keluar dari kamar putrinya.


“Kau mau ke mana?” tanya Olivia.


“Mencari Cassandra sampai ditemukan!” James menjawab tanpa menoleh lagi. Dia bergegas masuk ke mobil, lalu melajukannya kencang menuju London.


Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam, hanya dilalui dengan satu jam.


James tiba di stasiun metro. Dia lalu memarkirkan mobilnya di area parkir publik. James memulai pencariannya dari sana. James menyusuri trotoar, sambil mencari mall yang telah disebutkan oleh Brianna.


James berhasil menemukannya. Dia segera memasuki bangunan itu, lalu mencari toko pernak-pernik tempat terakhir kali Brianna meninggalkan Elektra. James bertanya sambil menunjukkan foto terbaru gadis itu.


"Maaf, Tuan. Setiap hari ada banyak sekali pengunjung yang datang kemari. Kami hanya melayani transaksi dan tidak sempat memperhatikan orang yang datang secara detail satu per satu," jelas wanita yang merupakan pelayang toko tersebut.


James sempat berpikir. Masuk akal juga apa yang dikatakan wanita itu, mengingat tempat itu merupakan mall besar.


“Apakah toko ini dilengkapi CCTV? Bolehkah aku melihat rekamannya? Kumohon,” pinta James.


Wanita sang penjaga toko tadi sempat berpikir sesaat, lalu mengangguk. “Baiklah. Ikut aku ke dalam,” ajaknya. Dia mengarahkan James ke sebuah ruangan khusus yang berukuran kecil. “Ini rekaman kamera luar di hari kemarin, dari pagi sampai pukul dua belas malam,” tunjuknya.


James segera mendekatkan wajah ke layar monitor. Dia memperhatikan dengan saksama, para pengunjung yang berlalu lalang di depan toko. “Itu dia!” seru James saat menangkap jelas sosok Elektra yang berlari menjauh.


“Bolehkah aku mempercepat rekaman ini?” James langsung menekan tombol pada keyboard, sebelum si penjaga toko sempat menjawab. Dia memastikan sosok Elektra yang tadi sempat terlihat walau hanya sesaat.


Namun, sayang sekali karena James tidak menemukan apa-apa lagi. Dia berjalan keluar dari mall itu dengan lesu.


London adalah kota besar. Entah ke mana dirinya harus mencari Elektra. Pria itu sempat termenung beberapa saat, sampai akhirnya memutuskan kembali ke stasiun. Karena merasa penasaran, James masuk ke sana.


Di dalam stasiun ramai orang berlalu lalang. Sama seperti di mall tadi, harapan untuk menemukan Elektra rasanya sangat kecil. Mantan pengawal pribadi Christopher Hagen tersebut duduk beberapa di peron, menyaksikan beberapa kereta dengan berbagai tujuan yang datang dan pergi.


Sementara, Elektra dan Robby baru tiba di stasiun yang sama. Pria itu langsung mengajak Elektra masuk untuk membeli tiket menuju Salisbury. Elektra patut berterima kasih, karena Robby bersikap baik selama dirinya berada di flat pria itu.


"Tunggu sebentar. Aku harus ke toilet," pesan Robby. "Jangan ke manapun sampai aku kembali."


Elektra mengangguk. Dia duduk di peron sambil menunggu Robby kembali. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tanpa sengaja, tatapannya terkunci pada sosok pria paruh baya yang sedang duduk termenung beberapa meter dari tempat dirinya berada.


Seketika, Elektra tersenyum lebar. Rasa bahagia tak terkira, saat melihat James ada di sana. Elektra yakin bahwa pria itu pasti sedang mencarinya. Tanpa berpikir dua kali, gadis cantik tersebut segera berlari ke dekat si pria yang terlihat putus asa. "James," panggil Elektra setelah mendekat.


Bagaikan mendapat undian lotre ribuan euro, James tersentak mendengar suara Elektra memanggilnya. Dia menoleh, lalu bangkit dan segera memeluk Elektra. "Nona." James tak dapat berkata apa-apa karena terlampau bahagia.


Sementara, dari jarak beberapa meter Robby berdiri sambil memperhatikan adegan mengharukan tadi.