
“Apa-apaan ini, Aiken?” intonasi Wayne sedikit meninggi. “Aku tidak suka diperintah oleh siapapun. Jangan mentang-mentang kau putra dari Desmond Caldwell, lantas kau bisa berbuat semaumu,” sambungnya.
“Tapi dia sudah memacari salah seorang mahasiswanya, Tuan,” balas Aiken tak mau kalah.
“Astaga,” Wayne berdecak pelan. “Tak ada larangan bagi seorang dosen untuk memacari mahasiswanya. Apalagi mereka berhubungan di luar jam perkuliahan.”
“Itu tidak mungkin!” tolak Aiken. Dia menggeleng kuat-kuat, berusaha untuk mematahkan kalimat Wayne. Akan tetapi Aiken tak memiliki argumen yang tepat.
“Sudahlah, Nak. Aku sangat menghormati ayahmu. Pulanglah dan tenangkan dirimu. Patah hati itu memang pahit. Namun, aku yakin kau dapat melaluinya dengan baik,” seloroh Wayne seraya mengulum senyum.
“Darimana anda tahu bahwa aku sedang patah hati?” tanya Aiken dengan nada penuh selidik.
“Memangnya ada alasan lain selain patah hati? Laki-laki sepertimu tak akan mungkin mengurusi hubungan percintaan seseorang, seandainya orang tersebut bukanlah gadis yang kau taksir,” seloroh Wayne, lalu tertawa.
“Ya, ampun,” Aiken mendengkus kesal. Dirinya sama sekali tak menyangka bahwa motifnya dapat diketahui semudah itu. Dia merasa sia-sia telah datang di kediaman dekan yang merupakan sahabat dari ayahnya tersebut. “Baiklah kalau begitu, Tuan. Maafkan aku karena telah mengganggu waktu istirahat anda,” Aiken sedikit membungkukkan badan sebelum berbalik meninggalkan ruang kerja berukuran luas itu.
Akan tetapi, baru saja dirinya tiba di ambang pintu, tiba-tiba saja Aiken kembali membalikkan badan ke arah Wayne. “Apakah anda tidak mencurigai dosen muda itu? Bisa saja dia memiliki motif di balik tindakannya yang mendekati mahasiswinya sendiri,” Aiken ternyata masih belum putus asa.
“Maaf, Nak. Robby Fletcher berada di luar kuasaku,” timpal Wayne.
“Apa?” Aiken menggeleng tak mengerti. “Apa maksudnya itu?”
“Sudahlah, kau tak perlu mengetahui hal-hal yang bukan urusanmu,” Wayne berdiri dari duduk, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Dagunya sedikit mendongak, seolah isyarat bagi Aiken agar segera keluar dari ruangannya.
“Anda adalah seorang dekan, dan Robby hanyalah seorang dosen. Kedudukan anda jauh lebih tinggi,” sanggah Aiken.
“Itulah kesalahan anak-anak muda seperti dirimu. Kalian hanya bisa menilai semuanya dari apa yang kalian lihat dari kulit luarnya,” Wayne terkekeh pelan.
“Apakah anda takut pada pria itu?” pertanyaan Aiken membuat wajah Wayne mendadak pias.
“Jaga bicaramu, Aiken Caldwell,” tangan yang sedari tersembunyi di balik saku celana, langsung dia ulurkan lurus ke arah pemuda berusia delapan belas tahun tersebut. “Kau sudah melewati batas. Pulanglah, atau kuadukan pada ayahmu!” tegur Wayne tegas.
“Kalau begitu, tolong beritahu padaku, siapakah Robby Fletcher sebenarnya?” desak Aiken. Dia seakan tak takut sama sekali dengan ancaman Wayne.
“Dia hanyalah seorang dosen yang berada di dalam tanggung jawabku. Identitas pribadinya bukanlah konsumsi publik, kecuali jika dirinya sendiri yang menghendaki. Saranku, kalau kau benar-benar ingin tahu, bertanyalah langsung padanya,” gertak Wayne seraya tersenyum samar.
Aiken mengempaskan napas pelan. Kini sudah pasti bahwa dirinya tak akan mendapatkan apapun di tempat itu. Dia berpamitan sekali lagi, lalu meninggalkan kediaman sang dekan tanpa menoleh lagi. Buru-buru pemuda itu masuk ke dalam kendaraan dan berniat menyalakan mesinnya.
Saat bunyi mesin sudah menderu pelan, tubuh Aiken seakan membeku. Sorot matanya kosong menatap ke depan. Tanpa sadar, dirinya mencengkeram kemudi kuat-kuat, lalu melepaskannya. Dia lalu memukul-mukul kemudi itu sampai puas. Barulah Aiken merasa lega.
“Aku tidak suka ini. Tidak ada yang boleh menghalangi keinginanku. Apapun yang kumau, harus kudapatkan,” geramnya lirih. Aiken memukul kemudi sekali lagi, sebelum memutarnya pelan. Dia meninggalkan halaman luas rumah Wayne Carlsberg untuk menuju kampus tempat Elektra berkuliah.
“Ah, Aiken Caldwell. Bagaimana hari-hari pertamamu sebagai mahasiswa? Apa kau menyukainya?” pria bernama Mark tersebut membalas sapaan Aiken sambil menjabat erat tangannya.
“Sejujurnya, aku tidak menyukainya sama sekali. Aku merasa marah dengan keadaan,” ungkap Aiken sembari memasang raut sedih.
“Hei, apa yang terjadi?” Mark menepuk-nepuk pundak Aiken untuk menghiburnya. “Apa mata kuliahnya terlalu berat bagimu?”
“Oh, tidak. Bukan itu,” Aiken tertawa pelan. “Aku tak pernah kesulitan dalam hal belajar. Kau tahu sendiri bahwa aku selalu unggul dalam segalanya. Aku akan kecewa jika ada seseorang yang mengalahkanku dengan curang,” lanjutnya.
“Oh, ya? Apakah ada seseorang yang telah mencurangimu?” kejar Mark penasaran. Pria yang berusia jauh lebih tua dari Aiken tersebut berjalan semakin mendekat.
“Ya, namanya Robby Fletcher. Kudengar, dia adalah salah satu dosen di sini. Apakah kau pernah mendengar namanya?” tanya Aiken.
“Tentu saja. Dia adalah salah satu staf pengajar di jurusan ini,” Mark mengiyakan dengan yakin.
“Ah, kebetulan. Kalau begitu tak salah jika aku meminta tolong padamu,” ujar Aiken.
“Meminta tolong apa?” Mark menautkan kedua alisnya yang tebal.
“Beri aku akses untuk memeriksa latar belakang Robby Fletcher,” jawab Aiken setengah berbisik.
“Wah, sayang sekali. Aku tidak bisa melakukannya. Hal itu termasuk ke dalam pelanggaran berat. Mencari tahu identitas seseorang tanpa keperluan, sama saja dengan mencuri,” tegas Mark.
“Tolonglah, Mark,” pinta Aiken. Dia kemudian merogoh dompet yang disimpan di saku celana bagian belakang. Aiken mengeluarkan puluhan lembar uang dalam pecahan seratus poundsterling, lalu meletakkan segepok uang tersebut di atas telapak tangan Mark.
“Astaga, apa kau gila?” Mark terbelalak tak percaya. Dia berusaha mengembalikan uang tersebut pada Aiken. Namun, Aiken menolaknya diiringi tatapan tajam.
“Aku tahu kau sangat membutuhkan uang ini, Mark. Ayahku mengatakan bahwa anak sulungmu akan masuk ke sekolah privat bulan ini,” bujuk Aiken. Dia tersenyum saat menangkap bahwa pria di hadapannya itu mulai goyah.
“Hei, tenang saja. Kita akan merahasiakan hal ini,” ucap Aiken tepat di telinga Mark. Dia juga menyelipkan uang berjumlah lumayan besar tadi ke dalam saku kemeja pegawai tata usaha itu.
“Ya, ampun,” Mark berdecak pelan sambil sesekali menggaruk kepalanya yang sedikit botak. “Baiklah, ikuti aku,” putus Mark pada akhirnya. Buru-buru pria itu menyeret Aiken dan membawanya masuk ke dalam ruangan arsip. Beruntung saat itu sudah tak terlihat siapapun di sekitar mereka.
“Duduklah di sini,” Mark mengarahkan Aiken ke depan salah satu perangkat komputer. Mark menyalakan komputer itu dan menunggu selama beberapa menit sampai layar monitornya menyala. Mark lalu mengetik sebuah nama dan menunjukkannya pada Aiken.
“Silakan, bacalah. Dokumen ini berisi data-data pribadi Robby Fletcher,” ujar Mark.
“Terima kasih, Mark. Kau yang terbaik,” sanjung Aiken sebelum antusias membaca deretan tulisan yang memenuhi layar monitor. Aiken yang awalnya antusias, kini mulai merasa lelah. Kursornya sudah tiba di bagian akhir dokumen. Namun dia masih belum mendapatkan informasi penting dari Robby Fletcher, selain nama dan tanggal lahir serta alamat. Dokumen itu juga menyebutkan bahwa Robby terlahir di Irlandia Utara.