The Black Butterfly

The Black Butterfly
Young Man



“Keith?” ulang si pria paruh baya penuh tanda tanya.


“Ya. Keith Robinson adalah putra dari Lord Cornelius Robinson, salah satu dari lima anggota dewan bangsawan,” terang si pria yang lebih muda.


“Bukankah Cornelius hanya memiliki tiga anak perempuan?” Pria paruh baya tadi menggeleng tak mengerti.


“Tidak, Mr. Moonwell,” bantah si pria muda. “Lord Cornelius memiliki anak laki-laki. Dia sengaja menyembunyikan keberadaannya. Entah untuk tujuan apa. Satu yang pasti, anak laki-laki dari Lord Cornelius memiliki kemampuan bertarung di atas rata-rata. Seperti yang kita ketahui, sahabat dekat Lord Christopher Hagen tersebut memiliki tempat perguruan ilmu beladiri.”


“Ya, aku tahu itu. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa dia mengirim putranya untuk misi ini. Lord Cornelius terkenal cerdas dan banyak akal. Kita harus selalu waspada. Apakah kau yakin bahwa shuriken itu adalah milik Keith Robinson?” .Pria berjuluk Mr. Moonwell tadi kembali meyakinkan penjelasan si pria muda.


“Ya, Tuan. Setelah ditelusuri, simpul celtic berbentuk pohon kehidupan di tengah-tengah shuriken merupakan lambang khusus yang diberikan oleh kerajaan kepada keluarga-keluarga ksatria. Garis keturunan Robinson adalah salah satu dari keluarga ksatria, yang menerima penghormatan dari sang ratu. Mereka mendapatkan simpul celtic itu secara turun temurun dari nenek moyang Robinson,” tutur pria muda tadi.


Pria berjuluk Mr. Moonwell tadi manggut-manggut sambil mengamati shuriken yang sedang dipegangnya. Jika diamati baik-baik, ada ukiran kecil berupa nama perguruan ilmu beladiri milik Cornelius. Namun, ukiran nama itu teramat kecil. “Baiklah. Kalau begitu, pusatkan perhatian pada Keluarga Robinson,” putus pria bernama Mr. Moonwell tadi.


“Sesuai kabar yang kudengar, Keluarga Robinson akan mengadakan pesta. Lord Cornelius sudah menjodohkan putranya tadi dengan putri dari Lord Collin Walsh yang bernama Evangelin. Akan tetapi, mereka menerapkan aturan yang sangat ketat untuk tamu yang akan hadir.”


“Itu bukan hal yang sulit.” Mr. Moonwell menyeringai. Asap tipis keluar dari mulutnya, setelah dia mengisap cerutu.


“Kau cukup bersiap-siap di tempatmu. Nanti aku akan menghubungimu lagi,” pungkas Mr. Moonwell. Dia bangkit dari duduknya lalu meninggalkan si pria muda begitu saja.


***


Dua hari telah berlalu. Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Robinson dan Walsh telah tiba. Upacara pemberkatan pernikahan sekaligus pesta resepsi akan diadakan di taman belakang kastil Robinson. Kakak-kakak Keith yang kesemuanya sudah berkeluarga, turut hadir dan menjadi saksi sumpah setia antara Keith dan Evangeline.


Semua terlihat begitu berbahagia ketika dua mempelai sudah disahkan oleh pendeta dalam ikatan suci pernikahan. Para tamu undangan dan keluarga besar tampak bersuka cita, kecuali Elektra. Ada sesuatu yang hilang dari sudut hatinya ketika Keith memasangkan cincin pernikahan, lalu mencium Evangeline.


Dada Elektra semakin sesak ketika Keith membopong gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu melintasi altar menuju tempat resepsi yang berada tak jauh dari sana. Namun, Keith sempat mencuri pandang ke arah Elektra saat dirinya melewati para tamu.


Tatap matanya terhadap satu-satunya anggota keluarga Hagen yang tersisa tersebut terlihat begitu dalam dan penuh arti. “Ele,” gumam Keith. Beruntung Evangeline tak mendengar karena gadis itu terlalu sibuk melambaikan tangannya pada tamu-tamu undangan.


Elektra tak sanggup lagi melihat keceriaan itu. Dia sama sekali tak menyangka bahwa pertemuan singkat dengan Keith, begitu mempengaruhi hati dan hidupnya. Elektra pun memutuskan untuk menjauh dari area resepsi. Tak dipedulikannya Brianna yang berseru memanggil nama Elektra. Gadis itu terus berlari menuju hutan pinus yang menjadi bagian wilayah kastil.


Rambut Elektra tertutup oleh wig berwarna hitam. Dia juga memakai softlense berwarna coklat hazel, warna yang sama dengan iris mata Keith. Gaun pesta berwarna kuning gading, tersingkap oleh angin saat dirinya berlari menembus pepohonan pinus.


“Kukira tempat pesta berada di taman pribadi Keluarga Robinson, bukannya di tengah hutan begini,” celetuk seseorang yang membuat Elektra segera berbalik dan mengambil sikap waspada. Gadis cantik itu mengepalkan tangan dan bersiap menyerang ketika si pemilik suara tadi berjalan santai menghampiri Elektra.


“Siapa namamu?” tanya sesosok pria yang postur dan tingginya sangat mirip dengan Keith. Bedanya pria itu bermata biru dengan rambut coklat terang yang tampak bercahaya tertimpa sinar matahari sore.


“Apa pedulimu? Untuk apa kau mengikutiku?” tanya Elektra. Sorot matanya memindai pria yang berada beberapa meter dari hadapannya.


“Aku tertarik melihat kau berlari dengan rambut panjangmu. Kau terlihat begitu segar dan indah,” sanjung pria asing itu dengan sorot mata terpana. Dia sama sekali tak memedulikan Elektra yang memandangnya dengan raut tak suka.


“Maaf, tapi rayuanmu begitu mengganggu dan terasa tak pantas. Aku masih berusia enam belas tahun,” Elektra mengarahkan kedua tangannya yang masih terkepal ke depan wajahnya. Dia seperti seorang petinju yang sudah siap untuk bertarung.


“Aku juga masih berusia dua puluh lima tahun. Perkenalkan, namaku Sean Malachy,” pria itu mengulurkan tangan, berharap agar Elektra bersedia menyambutnya.


Namun, yang Sean bayangkan ternyata sangat jauh dari kenyataan. Elektra memang menyambut uluran tangan itu. Akan tetapi, dirinya langsung menarik tangan Sean hingga tubuh pria muda itu berdekatan dengan Elektra. Saat itulah, Elektra menyarangkan sebuah pukulan siku, tepat ke dada Sean.


Pria muda yang terlihat sangat tampan itu terhuyung mundur sambil terbatuk-batuk. Dia membungkuk dan memegangi dada seraya meringis menatap Elektra. “Astaga, kau galak sekali,” ujarnya.


Sean terkekeh, lalu berdiri tegak. Dia tak menyerah dan terus berusaha mendekati Elektra. “hal ini membuatku terlihat semakin menarik,” rayunya.


Elektra kembali hendak memukul Sean di rahang. Akan tetapi, pria itu sanggup menahan serangan Elektra. Dia mencengkeram tangan Elektra yang terkepal, lalu memutar tubuh gadis remaja itu hingga berbalik membelakangi Sean.


“Tenanglah, Nona,” ujar Sean lembut sembari melingkarkan tangan dan merengkuh tubuh Elektra kuat-kuat.


Elektra yang risi, segera membungkuk. Tubuh rampingnya bertumpu pada kedua kaki. Dengan sekuat tenaga, Elektra mengangkat Sean menggunakan punggungnya, lalu membanting pria muda itu hingga jatuh telentang ke depan.


“Jangan pernah berani menyentuhku!” sentak Elektra. Dia mengarahkan telunjuknya lurus ke wajah tampan Sean.


Tak disangka, pria bermata biru itu tertawa lebar. Dia kemudian bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor oleh dedaunan kering. “Ah, aku senang sekali. Akhirnya aku menemukan lawan yang seimbang,” ujar Sean. Dia kembali mengulurkan tangannya pada Elektra.


“Ayolah, sebutkan namamu,” desak pria muda itu.


“Aku ….” Belum sempat Elektra menyebutkan nama, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara khas Keith yang berteriak memanggil namanya. Putri Christopher Hagen itu menoleh dan mendapati Keith yang masih memakai tuksedo pengantin, berlari ke arahnya dengan raut was-was.