
James membawa Olivia ke kamar mereka. Dia baru melepaskan wanita itu di sana. James mendudukkan sang istri di tepian tempat tidur. Mantan pengawal Christopher Hagen tersebut, terus berusaha menenangkan Olivia yang masih histeris. Berbagai cara sudah James lakukan. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Terpaksa, pria itu harus menampar Olivia meski tidak terlalu keras.
Seketika, Olivia terpaku sambil memegangi pipinya. Dia menatap tak percaya kepada James. “Kau …,” ucap wanita itu tertahan.
“Maaf karena aku harus melakukan itu padamu.” James memelankan suara. Dia menurunkan tubuh di hadapan istrinya yang kali ini hanya terisak. James menggenggam jemari Olivia, menggenggamnya erat dan hangat. Dia seakan tengah menyalurkan energi positif agar ibunda Brianna tersebut bisa jauh lebih tenang.
“Dengarkan aku, Olive,” pinta James lembut. “Aku tak akan memintamu untuk percaya. Aku juga tak akan memberikan penjelasan apapun. Namun, apakah kau yakin bahwa aku sudah mengkhianati pernikahan kita?”
Olivia tidak menjawab. Dia memandang kosong terhadap James.
“Maaf, karena aku sudah membawa gadis itu kemari. Aku tidak memiliki pilihan lain, karena hanya inilah jalan satu-satunya. Kuharap kau dapat memahami posisiku saat ini. Aku sangat mengenalmu. Kau adalah wanita yang baik. Kau merupakan ibu yang luar biasa,” ucap James lagi. Dia mencium kedua tangan Olivia yang masih digenggamnya.
“Siapa gadis itu?” tanya Olivia dengan bibir bergetar.
James terdiam sejenak. Ditatapnya paras sang istri, yang meski tidak terlalu cantik tapi telah berhasil membuatnya begitu tergila-gila. “Aku tidak bisa mengatakan apapun padamu tentang identitas gadis itu. Satu yang pasti, aku hanya ingin agar kau tak lagi berpikir buruk tentang diriku. Kau tahu seberapa besar perasaan yang terjalin antara kita berdua.”
James kembali mencium lembut jemari sang istri. “Suatu saat nanti, kau akan mengetahuinya. Maaf, karena untuk saat ini aku hanya bisa mengatakan hal itu. Kumohon agar kau mengerti,” pinta James lagi.
Keesokan harinya. Seperti biasa, Elektra dan Brianna berangkat bersama ke sekolah. Dari halaman rumah hingga beberapa meter, Brianna bersedia membonceng Elektra. Namun, setelah di tengah jalan gadis itu menurunkan Elektra dan meninggalkannya begitu saja. Alhasil, Elektra harus berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan hingga tiba di sekolah.
Elektra melangkah dengan wajah tertunduk. Sebagian rambut bahkan dibiarkan menutupi paras cantiknya. Elektra tak menggubris ejekan teman-temannya, yang memanggil dia dengan sebutan ‘si hantu’. Bagi gadis itu, hal tersebut tidaklah sebanding dengan cerita kelam yang pernah dirinya alami.
Setibanya di dalam kelas, Elektra langsung menuju ke tempat duduknya. Lagi-lagi, dia harus bersikap tak peduli.
“Hai, Cassie. Selamat pagi,” sapa Felicia. Dia menghampiri Elektra yang tengah mengeluarkan buku catatan pelajaran pertama.
“Hai,” balas Elektra singkat, tanpa memperlihatkan wajahnya kepada Felicia.
“Bolehkah aku duduk bersamamu nanti saat istirahat makan siang?” tanya Felicia sedikit berharap.
“Terserah kau,” jawab Elektra dingin. Dia langsung duduk tegak dengan tangan terlipat di atas meja. Elektra tak berminat untuk berbasa-basi lagi. Terlebih, saat itu seorang guru telah memasuki kelas.
“Selamat pagi semua,” sapa guru yang merupakan wanita muda. Usianya masih di bawah Miss Peyton. “Keluarkan tugas yang kuberikan minggu lalu. Kumpulkan di depan,” suruhnya dengan gaya bicara yang terdengar sangat tegas dan kaku.
Semua murid mengumpulkan tugas yang dimaksud. Hanya Elektra yang tetap duduk di meja-nya, karena dia baru masuk beberapa hari yang lalu.
“Kau yang duduk di meja paling belakang!” tunjuknya pada Elektra yang masih tetap diam menunduk. “Apa kau tidak membuat tugas yang kuberikan?” tegur sang guru.
Elektra tidak menjawab. Gadis itu hanya menggeleng.
Sikap Elektra yang demikian, membuat sang guru merasa kesal. Sayangnya, tak ada siapa pun dari murid di dalam kelas itu yang memberitahu guru tadi bahwa Elektra merupakan murid baru. Guru itu juga sepertinya tidak sempat mengecek jumlah murid dan mungkin tak tahu bahwa ada murid baru di kelas tersebut.
“Siapa namamu?” tanya guru itu. Dia berdiri di dekat meja Elektra.
“Cassandra Wilson,” jawab Elektra pelan tanpa memperlihatkan wajahnya.
“Cassandra Wilson,” ulang sang guru. “Berdiri!” suruhnya tegas. “Kenapa kau tak membuat tugas yang kuberikan?” tanyanya.
Elektra menurut. Dia bangkit dari tempat duduknya, meski masih dalam posisi menunduk. “Aku murid baru di sini,” jawab Elektra.
“Maaf, Miss. Aku tidak bisa,” tolak Elektra pelan.
“Astaga.” Guru tadi berdecak pelan. “Nona Wilson, kau sedang berada di jam pelajaranku saat ini. Jika dirimu masih ingin berada di dalam kelas, maka lakukan apa yang kukatakan tadi. Kecuali jika kau lebih suka berdiri di luar pintu kelas,” ancam sang guru.
Semua murid terdiam dengan perhatian tertuju kepada Elektra yang masih berdiri terpaku dengan wajah menunduk. Menggunakan kedua tangan, gadis itu menyibakkan rambut yang menutupi parasnya.
Seketika, semua murid pria memandang takjub terhadap Elektra. Mereka yang selama ini tak memedulikan gadis itu, langsung menaruh perhatian luar biasa. Bagaimana tidak? Elektra kenyataannya memiliki wajah yang sangat cantik, dengan sepasang mata hijau bersinar. Satu dari sekian siswa yang terpesona akan kecantikan Elektra adalah Aiken Caldwell.
Sang guru tersenyum melihat Elektra menuruti ucapannya. Dia bahkan melepas jepit rambut yang dirinya kenakan, lalu memasangkan di rambut Elektra. “Ini jauh lebih baik,” ucap guru itu seraya kembali ke depan kelas. “Kita lanjutkan pelajaran hari ini,” ucap sang guru lagi.
Beberapa saat telah berlalu. Jam istirahat sudah tiba. Seperti biasa, Elektra duduk di bawah pohon untuk menikmati makan siang. Namun, kali ini dia tidak sendirian. Felicia menemaninya di sana. Selain itu, ada juga sesuatu yang berbeda untuk hari ini.
“Hai, Cassie?” sapa seorang siswa yang tak lain adalah Aiken. Dia menghampiri Elektra bersama dua temannya yang lain.
Elektra menoleh. Gadis itu menatap Aiken beberapa saat, sebelum kembali pada bekal makan siangnya.
“Bagaimana jika sepulang sekolah nanti kuantar ….”
“Tidak usah,” tolak Elektra sebelum Aiken menyelesaikan kalimatnya.
“Tidak apa-apa. Aku bisa ….”
“Terima kasih. Aku masih ingat jalan menuju rumah.” Elektra tetap menolak. Dia menyudahi santap siangnya. Elektra berdiri, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Aiken dan kedua temannya.
“Dia menolakmu,” ledek salah seorang teman Aiken sambil tertawa. Sementara, Aiken tidak menanggapi. Dia sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
Saat jam pelajaran telah usai dan para murid membubarkan diri, Aiken kembali mendekati Elektra yang berjalan seorang diri. Lagi-lagi, dia menawarkan untuk mengantar pulang. Namun, Elektra tetap menolak. Adegan tersebut didengar oleh salah seorang teman dekat Brianna.
Gadis tadi langsung memberikan laporan kepada Brianna. Namun, dia tidak mengatakan yang sebenarnya. “Cassie memamerkan kecantikannya kepada Aiken. Dia memanfaatkan hal itu agar Aiken bersedia mengantarnya pulang. Kau harus memberinya pelajaran, Brie.”
Brianna yang mendengar laporan seperti itu, langsung naik pitam. Pasalnya, selama ini dia menaruh perhatian lebih kepada Aiken. Gadis itu tak akan rela jika Elektra mengambil kesempatan mendekati siswa yang terkenal paling tampan di sekolah itu.
Dengan membawa kemarahannya, Brianna mengayuh sepeda mengejar Elektra yang pulang terlebih dulu dengan berjalan kaki. Beruntung dia masih bisa menyusul Elektra. “Cassie!” panggil Brianna tidak terlalu nyaring, berhubung jaraknya tidak terlalu jauh dari Elektra
Elektra tertegun lalu menoleh. Bersamaan dengan itu, sebuah batu melayang dan langsung mengenai keningnya. Elektra mundur beberapa langkah sambil memegangi bagian kepala yang terkena lemparan tadi. Darah segar mengucur akibat terdapat luka sobek.
“Rasakan itu! Dasar penggoda!” cibir Brianna puas. Dia kembali mengayuh sepedanya, melanjutkan perjalanan pulang.
Demi menyembunyikan luka di kening, Elektra kembali menutupi wajah dengan rambut. Saat tiba di rumah, dia bergegas menuju kamarnya. Sejak tadi malam, Elektra tak lagi tidur di kamar Brianna. Putri sulung Keluarga Hagen tersebut segera membersihkan darah yang menetes ke pelipis. Namun, Elektra belum mengobati lukanya, karena kotak obat berada di dekat dapur. Elektra akan menunggu malam, barulah dirinya mengobati luka sobek tadi.
Untungnya, James sedang tidak di rumah hari itu. Setidaknya, dia tak akan bertanya macam-macam, atau sampai menginterogasi Brianna seperti kemarin. Elektra tidak ingin mendengar lagi pertengkaran gara-gara dirinya.
Sekitar pukul sembilan malam, suasana rumah sudah sepi. James sedang pergi ke luar kota dan baru kembali besok. Elektra mengendap-endap ke lantai bawah, Dia lupa bahwa saat itu dirinya tak mengenakan rambut palsu. Karena merasa semua orang sudah tertidur di kamar masing-masing, Elektra melenggang leluasa ke dekat dapur. Dia mencari krim oles untuk luka. Dengan tenang, Elektra mengobati keningnya di sana hingga selesai.
Sementara, Olivia merasa kehausan. Dia lupa membawa air minum ke kamar. Wanita itu bangkit, lalu turun dari tempat tidur. Olivia melangkah ke dapur. Namun, sebelum tiba di sana, wanita berambut pendek tersebut sempat tertegun. Dia lalu tersenyum lembut. “Tidak biasanya Brianna belum tidur pada jam seperti ini,” pikir Olivia. Wanita itu sudah akan menyapa gadis tadi, tapi segera diurungkan setelah mengetahui bahwa yang dilihatnya bukanlah Brianna.