
Elektra tidur lebih awal malam itu. Dia tidak mempedulikan panggilan makan malam oleh pelayan Cornelius dan terus meringkuk. Dia harus menenangkan diri dan mengartikan segala keresahan. Hatinya begitu sakit ketika melihat Keith bersikap manis pada Evangeline.
“Apakah ini cemburu?” gumam Elektra lirih. “Tidak, tidak,” dia menggelengkan kepalanya pelan. Elektra meyakinkan diri bahwa Keith sebentar lagi akan menikah dengan gadis lain. Terlebih ucapan Cornelius kemarin malam yang mengatakan bahwa Keith tak boleh bersama dengannya.
Elektra tak ingin memperpanjang angan-angan tak jelasnya. Mungkin tidur lebih baik daripada memikirkan hal-hal di luar jangkauan. Susah payah dia memejamkan mata, sampai akhirnya Elektra berhasil tertidur.
Di saat yang sama, Keith berdiri dengan wajah khawatir di luar kamar Elektra. Dia mendapat laporan bahwa gadis cantik bermata hijau itu melewatkan makan malam. Ragu-ragu Keith mengetuk pintu kamar Elektra. “Ele? Apa kau sakit? Kenapa kau tidak ikut makan malam bersama ayah?” tanyanya setengah berseru.
“Ele? Seandainya aku tahu bahwa kau tidak turun ke ruang makan, aku pasti akan datang dan menyeretmu," sesal Keith. “Kau tahu ‘kan, aku tadi keluar mengantarkan Evangeline pulang. Ayahnya yang menyuruhku,” suara pria rupawan itu terdengar semakin pelan. Kepalanya tertunduk memikirkan semua beban yang dia pikul.
“Aku harus melakukannya, Ele. Aku harus menikahi Evangeline supaya kau mendapat jaminan keamanan dari tiga anggota dewan bangsawan,” Keith seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. Namun jauh di dalam hati, dia berharap agar Elektra mendengar suara hatinya. Merasa apa yang dilakukannya sia-sia, Keith pun berbalik menuju kamar. Dia memutuskan untuk mengistirahatkan badan.
Malam berlalu begitu cepat. Tiba-tiba saja pagi sudah kembali hadir. Elektra terbangun ketika suasana masih tampak gelap. Dia menoleh ke arah jam lonceng besar yang terdapat di salah satu sudut ruangan. Jarum besarnya masih menunjukkan pukul lima pagi.
Akan tetapi, Elektra tak bisa melanjutkan tidur. Matanya sudah benar-benar terbuka. Dia kemudian turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Elektra mencuci muka serta menggosok giginya dengan peralatan yang sudah disediakan oleh Cornelius. Ayahanda Keith itu bahkan sudah mengisi penuh walk in closet di kamarnya dengan berbagai macam koleksi pakaian, aksesoris dan sepatu.
Elektra memilih sebuah T-shirt berukuran besar yang dipadu dengan celana legging berwarna abu-abu. Setelah menguncir rambut pirang bergelombangnya dengan gaya ekor kuda. Elektra keluar dari kamar secara diam-diam. Dia mengendap-endap menuruni tangga untuk berjalan-jalan ke sekitar kastil.
Udara pagi yang terlalu dingin, terasa menusuk tulang. Menyesal Elektra tak memakai hoodie yang berjajar rapi di salah satu rak lemari. Terpaksa dia menggosok-gosok lengan dengan kedua tangan demi menghalau dingin yang menggigit permukaan kulit.
Akhirnya dia berlari-lari kecil supaya berkeringat. Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti ketika melihat Keith di antara pepohonan pinus yang berada di belakang area kastil. Pria itu tengah serius berlatih beladiri dengan sebuah pohon berdiameter besar sebagai lawannya. Keith memukul pohon tersebut dengan tangan kosong, tanpa pelindung apapun.
“Apakah tidak sakit?” celetuk Elektra saat sudah berada di dekat Keith. Pria rupawan itu sedikit terkejut dan menoleh.
“Ele? Pagi sekali kau bangun,” sapanya sambil tersenyum lebar. “Apa kau baik-baik saja? Kau tidak sakit, ‘kan?” tanya Keith penuh perhatian.
“Aku baik-baik saja. Kenapa kau bisa mengira bahwa aku sakit?” Elektra balas bertanya.
“Salah satu pelayan mengatakan padaku bahwa kau masuk kamar lebih awal. Kau bahkan tidak ikut makan malam,” jawab Keith. Dia menghentikan latihan dan fokus sepenuhnya pada Elektra.
“Aku hanya mengantuk,” kilah Elektra.
“Jangan suka terlambat makan. Itu tidak baik untuk kesehatan,” tutur Keith.
“Aku tidak lapar,” Elektra menunduk tersipu ketika Keith memandang intens wajahnya. Gadis remaja itu memain-mainkan kakinya yang terbalut sepatu kets di atas tanah. Tak berselang lama, dia mendongak dan menatap Keith yang ternyata terus memperhatikannya. “Ajari aku sedikit saja,” pintanya sedikit manja.
“Kau memintaku mengajari apa?” Keith menautkan alis seraya mengulum senyum.
“Caranya membela dan mempertahankan diri, jika sewaktu-waktu orang-orang jahat itu datang lagi dan mengancam nyawaku,” sahut Elektra.
“Sebentar lagi kau akan menikah. Kau akan mempunyai seorang istri yang membutuhkan perhatian dan juga kasih sayangmu. Kau tidak akan bisa menjagaku selama dua puluh empat jam,” desak Elektra dengan mata berkaca-kaca. Sekuat apapun dia menahan air mata, akhirnya buliran bening itu lolos juga.
“Kenapa menangis?” lembut Keith mengusap pipi mulus Elektra.
“Tolong, ajari aku,” pinta Elektra lagi.
“Baiklah, dengan syarat ….” Keith terdiam tak melanjutkan kalimatnya.
“Apa?” Elektra memandang Keith dengan sorot penuh harap.
“Bolehkah aku menciummu untuk yang terakhir kali?” tanya Keith sambil mendekatkan wajahnya pada Elektra.
Gadis cantik itu mengangguk pelan dan membiarkan Keith menyentuh dan bermain-main dengan bibirnya hingga puas. Sebuah ciuman manis dan hangat, sanggup menghilangkan rasa dingin yang menyelimuti tubuh Elektra.
Beberapa saat berlalu, Keith mengakhiri ciumannya. Dia tertawa kecil sembari mengusap bibir Elektra yang basah dengan ibu jari. “Mari berlatih denganku,” ajak Keith.
Sebagai permulaan, putra Cornelius Robinson itu mengajari Elektra teknik pukulan dasar. Kemudian berlanjut pada teknik kuda-kuda dan tendangan. Elektra tampak begitu antusias berlatih. Terlebih Keith mengajarinya dengan sabar.
Elektra seakan ketagihan berlatih ilmu bela diri. Dia adalah gadis yang cerdas dan tergolong cepat dalam mempelajari sesuatu. Keith juga menikmati waktu-waktu berdua bersama Elektra. Dua bulan lamanya, setiap pukul lima pagi, dua anak manusia itu berlatih bersama secara diam-diam, di tengah hutan pinus.
Sampai pada hari di mana Keith tak lagi mengajari Elektra, karena dia harus mempersiapkan pernikahan esok hari. Elektra hanya bisa pasrah, melihat Keith yang sibuk berbincang dengan penyelenggara pesta pernikahan.
Kastil Robinson disulap menjadi tempat pesta yang mewah dan elegan. Dekorasinya tampak begitu indah, bagaikan di negeri dongeng. Di tengah kesibukan itu, Keith masih menyempatkan diri mencari keberadaan Elektra. Dia baru dapat bernapas lega ketika melihat secara langsung Elektra yang sibuk membantu para pelayan menyiapkan segala sesuatunya bersama Brianna.
Keith harus menyingkirkan egonya. Pernikahan tanpa cinta itu harus tetap terjadi demi melindungi Elektra. Sedikit demi sedikit, dia dapat menerima keadaan tersebut. Keith tak lagi terganggu dengan keadaan kastil yang semakin ramai dan berisik.
Berbeda dengan sebuah rumah tua di pinggiran kota Belfast, ibukota Irlandia Utara. Dari luar, rumah tua dengan tembok menghitam di sana sini itu tampak sunyi. Begitu pula keadaan di dalamnya. Hanya ada seorang pria paruh baya dan pria muda, tengah bercakap-cakap di sana. Mimik muka mereka tampak begitu serius.
“Pencarianku selama beberapa bulan terakhir ini telah membuahkan hasil, Tuan,” ujar si pria muda.
“Katakan, informasi apa yang kau dapatkan?” sahut si pria paruh baya.
“Aku sudah berhasil menemukan pemilik shuriken yang tertinggal di tubuh anak buah kita, waktu terjadi penyerangan di rumah James Wilson,” jelas si pria muda.
“Oh, ya? Siapakah pemilik shuriken itu?” tanya si pria paruh baya antusias.
“Keith Robinson, Tuan,” jawab si pria muda dengan mimik yakin.