
Brianna terus bersandar pada sebatang pohon. Dia masih dalam posisi duduk meringkuk sambil memeluk lutut. Pipi mulusnya pun basah oleh air mata. "Kenapa kau harus hadir dalam keluargaku dan menghancurkan semuanya, Cassie? Kau merenggut segala hal dariku," racau Brianna lirih.
"Maafkan aku," ucap Elektra penuh sesal. "Aku sama sekali tak menyangka akan begini jadinya." Gadis cantik itu ikut menangis. Terbayang wajah James yang selalu memandangnya dengan tatapan teduh penuh kasih, seperti seorang ayah pada putri kandungnya.
"Menjauhlah dariku, Cassie!" Brianna tiba-tiba mendongak dan memandang Elektra penuh kebencian. Dengan gerakan cepat, dia berdiri lalu mendorong tubuh Elektra hingga hampir terjengkang.
"Hei! Hentikan!" sentak Robby yang berusaha melindungi Elektra. Namun, Brianna seperti kesetanan. Dia tak peduli meskipun Robby jauh lebih tinggi dan besar darinya. Brianna memukuli perut Robby, supaya pria itu tak menghalangi geraknya.
"Minggir kau! Kalian berdua sama saja! Kau dan Cassie harus membayar kematian ayah dan ibuku!" Brianna terus berteriak histeris.
"Teruskan sampai kau puas!" Robby tak menghindar. Dia merelakan perut kokohnya dijadikan sansak, sampai Brianna lelah sendiri.
Gadis itu baru menghentikan aksinya. Brianna terdiam sesaat, lalu merosot dan bersimpuh di hadapan Robby. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi," isaknya lirih sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Bukan hanya kau yang bernasib seperti itu. Dia juga," tunjuk Robby seraya menoleh kepada Elektra.
Tak hanya Brianna, Elektra pun terbelalak tak percaya. "Kau ...." desisnya. "Dari mana kau tahu?" tanya Elektra yang tak dapat menyembunyikan rasa takut.
"Sudah kukatakan bahwa aku mengetahui segalanya tentangmu, Cassandra ... ah, maksudku Elektra Hagen," ujar Robby kalem.
"Apa?" Brianna menggeleng tak mengerti. "Siapa Elektra?"
"Karena kau sudah terlibat hingga sejauh ini, kurasa aku harus menceritakan tentang segalanya padamu. Kau juga berhak tahu," ujar Robby lagi.
"Tahu tentang apa?" Nada bicara Brianna semakin meninggi. Nyalang tatapannya dia tujukan kepada pria tampan itu.
"Nama asli gadis di belakangku ini bukanlah Cassandra. Dia bahkan tak memiliki hubungan darah dengan James Wilson," ungkap Robby.
Elektra semakin memucat ketika mendengarkan penjelasan itu. "Katakan ... siapa kau sebenarnya, Robby Fletcher?" desis Elektra. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk melawan, atau mungkin melarikan diri andai dirinya tak bisa menghadapi pria di hadapannya.
"Lanjukan dulu penjelasanmu!" titah Brianna dengan kedua tangan terkepal.
Robby kembali mengalihkan perhatian pada Brianna. Dia sempat berpikir dan menimbang-nimbang, hingga akhirnya memutuskan untuk bercerita. "Nama Cassandra sebenarnya adalah Elektra Odelia Hagen," tutur Robby hati-hati. "Dia adalah putri sulung dari tiga bersaudara yang merupakan keturunan langsung Lord Christopher Hagen dan Lady Margareth," lanjut Robby sambil sesekali melirik kepada Elektra yang berdiri terpaku.
"Lord Christopher adalah seorang Count, yaitu bangsawan yang gelarnya sudah didapat lalu diwariskan secara turun temurun dari garis keturunan Hagen sejak tahun 1500. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak bangsawan terakhir yang masih hidup dan bertahan di zaman modern seperti sekarang," terang Robby. Semetara, Brianna hanya diam melongo.
"Pada tahun 1660, para keluarga bangsawan memutuskan untuk mendirikan perkumpulan rahasia. Tujuannya adalah demi mempertahankan tanah Irlandia dari rongrongan para penakluk yang berasal dari Eropa Timur. Perkumpulan itu dicetuskan oleh raja Irlandia sendiri dan dipelopori oleh lima keluarga bangsawan." Robby menghentikan sejenak penjelasannya. Pria rupawan itu kembali menoleh pada Elektra yang turut menyimak.
"Lima tahun lalu, ada kelompok yang ingin menjatuhkan posisi Hagen dari jabatan ketua. Mereka membantai habis-habisan Keluarga Hagen. Hanya Elektra yang tersisa." Robby mengangkat tangan Elektra tinggi-tinggi ke udara."Sementara, James Wilson adalah ketua pengawal bangsawan Hagen. Dia bertugas menjaga keamanan seluruh anggota keluarga," jelas Robby. "Itulah alasan kenapa James mati-matian melindungi Elektra, karena gadis ini adalah keturunan terakhir. Jika Elektra tewas, maka tak ada lagi yang tersisa dari silsilah Count Hagen," imbuhnya.
"Lantas, apa hubungannya dirimu dengan semua ini?" selidik Brianna.
"Ayahku adalah salah satu dari empat anggota dewan. Dia adalah Lord Cornelius Robinson. Sahabat dekat dari Lord Christopher Hagen," jawab Robby.
"Itu tidak mungkin!" sela Elektra dengan nada tinggi. "Paman Cornelius hanya mempunyai tiga anak perempuan! Maria, Sylvia dan Shannon! Dia tidak memiliki anak laki-laki!" tegasnya.
Robby langsung berbalik pada Elektra seraya melayangkan senyuman. "Ayah ‘membuangku’ ke Inggris. Dia sengaja menyembunyikan keberadaanku sejak lahir," sahut Robby enteng.
"Kenapa?" tanya Elektra.
"Ayah ingin menjadikanku sebagai mata-mata sekaligus senjata tersembunyi. Oleh karena itu, dia merahasiakan kelahiranku. Lalu, saat aku masih berusia beberapa bulan, ayah membawaku dan ibu ke London. Dia memberikan kami tempat tinggal dan fasilitas yang mewah. Dengan syarat, kami dilarang pulang ke Irlandia selamanya," jelas Robby.
"Jadi ... ternyata ... istri paman Cornelius masih hidup? Ta-tapi, paman pernah bercerita padaku jika istrinya meninggal saat hendak melahirkan anak terakhir. Si anak itu akhirnya juga ikut tewas sesaat setelah lahir ke dunia," ujar Elektra tak percaya.
"Ibuku baru meninggal enam tahun yang lalu. Beberapa tahun sebelum pembantaian terjadi. Walaupun begitu, ayah tetap memaksaku tinggal di Inggris. Aku harus melanjutkan sekolah. Lalu, pada suatu hari, ayah menelepon dan memberitahukan kejadian nahas itu. Dia memerintahkanku untuk mencari keberadaanmu. Aku akan berada dalam masalah besar andai tidak bisa membawa kau dengan selamat ke hadapan ayah," ungkap Robby seraya menggaruk keningnya.
"Hanya dengan berbekal selembar foto, aku dipaksa mencari keberadaanmu. Beruntung sekali, Tuhan menyayangiku. Dia mempertemukan kita secara tidak sengaja di depan sebuah toko aksesoris," lanjut Robby, "meskipun awalnya aku ragu, karena warna rambutmu berbeda dengan foto. Namun, semua menjadi jelas saat aku melihat James Wilson memeluk dan membawamu pulang ke rumahnya."
"Kau mengenal ayahku?" sela Brianna yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Tuan James Wilson sempat membantu mengawalku selama beberapa bulan di London, atas perintah Lord Cristopher," sahut Robby. "James Wilson adalah pria yang sangat tangguh. Aku sedikit heran jika dirinya bisa kalah dalam pertarungan kali ini," sesal Robby. "Hal itu semakin memperkuat dugaanku bahwa pelakunya bukanlah orang sembarangan. Ada kekuatan besar di balik penyerangan ini," pikir Robby.
"Kau bohong!" sanggah Elektra tiba-tiba. "Kau bukanlah putra Paman Cornelius! Nama belakang kalian berbeda!"
"Ayah sengaja memberikanku nama samaran, agar tak ada yang tahu bahwa aku adalah putranya," papar Robby dengan sikap yang teramat tenang.
"Kau bohong!" tunjuk Elektra. "Kau pasti sedang berpura-pura. Kau pasti bagian dari orang-orang jahat itu."
"Mungkin saja, saat aku lengah nanti, kau langsung menghabisiku," ujar Elektra sinis, “atau kau sengaja diperintahkan untuk membawaku ke hadapan para penjahat itu, bukan ke hadapan Paman Cornelius,” cibir gadis itu.
Robby terkesiap. “Terserah kau percaya atau tidak. Namun, tak harus menunggu hingga kau lengah untuk menghabisimu. Jika mau, aku bisa melakukannya sejak tadi,” ujarnya penuh penekanan.