
Keith berdiri memperhatikan Elektra yang terkejut bukan main, saat melihat keberadaan dirinya di sana.
“Kau? Jangan melihat ke arahku!” sergah Elektra. Dia membenamkan tubuh, bahkan hingga dagu dan bibirnya ikut terendam.
“Astaga, kau terlalu berlebihan,” ujar Keith seraya tersenyum kalem. Dia sepertinya sengaja ingin menggoda Elektra. “Hidupmu terlalu serius, Nona. Seharusnya, kau sedikit bersenang-senang, agar tidak terlalu kaku. Bagaimana jika kutemani kau berenang?” tawar Keith diiringi tawa renyah.
“Awas saja jika kau sampai berani turun!” sergah Elektra.
Keith kembali tertawa. Dia terlihat puas, karena telah berhasil membuat Elektra bereaksi seperti tadi. Namun, sepertinya Keith masih ingin bermain-main dengan gadis itu. “Baiklah. Jika kau tak ingin kutemani berenang, maka aku akan mengawasimu di sini sampai kau selesai,” putusnya tanpa beban. Dia bersandar pada sebatang pohon sambil melipat kedua tangan di dada.
Elektra mendengkus kesal. Dia tak bisa naik ke darat selama Keith masih berada di sana. Kalaupun dirinya mengusir pria itu pergi, bisa saja Keith mengintip dari suatu tempat.
“Apa yang kau pikirkan, Nona?” tanya Keith masih dengan bahasa tubuhnya yang terlihat kalem. “Kau tidak takut berlama-lama dalam air? Jangan sampai ada hewan aneh yang tiba-tiba mendekat tanpa kau sadari.” Pria tampan itu mulai menakut-nakuti Elektra.
Tiba-tiba, Elektra jadi berpikir. Apa yang Keith katakan memang benar. Dia belum tahu hewan apa saja yang menghuni danau tersebut. Elektra menjadi gelisah. “Aku tidak peduli!” balasnya berpura-pura tenang. “Lagi pula, ibuku pernah mengatakan bahwa sesuatu yang paling buas dan berbahaya di dunia bukanlah harimau, singa, anaconda, atau buaya. Makhluk itu bernama pria. Para pria dengan pikiran kotor sepertimu,” cibir gadis cantik bermata hijau itu. Elektra bisa saja bersikap sok berani di hadapan Keith. Padahal, dalam hati dirinya teramat takut.
Rasa cemas Elektra kian menjadi, ketika dirinya memperhatikan sikap aneh Keith. Pria tampan tersebut melihat ke danau dengan tatapan yang sulit dimengerti, seakan ada sesuatu yang janggal. Keith memicingkan mata, lalu menegakkan sikap berdirinya. Dia membuka mulut, seakan hendak mengatakan sesuatu yang menyiratkan tanda bahaya.
Tanpa bertanya apa-apa, Elektra bergegas keluar dari air. Dia tak peduli dengan kondisinya yang masih telanjang bulat. Elektra baru sadar, setelah dia berada di darat. Gadis itu langsung menutupi beberapa bagian dari tubuhnya dengan tangan, meski tak hal itu tak membantunya sama sekali.
Keith yang menyaksikan pemandangan indah tersebut, hanya bisa terdiam dengan wajah melongo. Namun, sesaat kemudian pria tampan itu membalikkan badan. Tentu saja, dia tersenyum. Bagaimanapun juga, Keith merupakan pria normal yang mengagumi wanita cantik dan seksi. “Segeralah berpakaian,” ucapnya sambil terus membelakangi Elektra.
“Tidak kau suruh pun aku pasti akan berpakaian,” sahut Elektra kesal bercampur malu. Gadis itu merasa sangat bodoh atas apa yang dilakukannya tadi.
Beberapa saat kemudian, Elektra telah berpakaian lengkap. “Kau boleh berbalik,” ucapnya. Sementara, dia sendiri masih membelakangi Keith.
“Baiklah. Mari kembali ke pondok. Kasihan Brianna sendirian di sana,” ajak Keith. Dia menuntun Elektra meninggalkan danau tadi. Keduanya berjalan saling beriringan, menyusuri jalan setapak di antara pepohonan rindang. Namun, beberapa saat kemudian Elektra tertegun. Dia terpaku dengan sorot yang terlihat aneh. “Ada apa?” tanya Keith yang heran melihat sikap Elektra.
“Aku mendengar ada ….” Belum sempat Elektra menyelesaikan ucapannya, dari samping tiba-tiba melompat seekor serigala hutan. Dia menerkam Keith yang berada di depan Elektra. Seketika, gadis itu menjerit ketakutan.
“Kembali ke pondok!” seru Keith yang tengah bergumul di tanah dengan hewan buas tadi.
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!” tolak Elektra tegas, meski dia tak tahu harus melakukan apa.
“Kembali ke pondok! Tutup pintunya rapat-rapat! Serigala biasanya hidup bergerombol!” suruh Keith. Dia terus berusaha menghalau serangan serigala liar yang tampak sangat kelaparan itu. Keith berguling di tanah. Dia cukup kewalahan menghadapi hewan buas dengan gigi tajam tersebut.
Elektra melihat sekeliling. Namun, sayangnya dia tidak menemukan apapun. Tak ingin tinggal diam, gadis itu mendekat lalu mengambil ancang-ancang. Dia mengamati pergerakan Keith dan serigala yang masih bergumul di tanah. Keith saat itu tak sempat mengambil senjatanya, karena serangan yang terlalu cepat dan tiba-tiba.
Setelah merasa mendapat kesempatan yang pas, Elektra melayangkan tendangan keras ke perut serigala yang berusaha menggigit dan mengoyak leher Keith. Tendangan yang dilancarkan Elektra teramat kencang, hingga serigala tadi terpental beberapa meter. Elektra sendiri tak percaya bahwa dirinya bisa melakukan hal seperti itu.
“Wow!” Keith memperlihatkan raut yang sama seperti Elektra. Dia tersenyum bangga. Akan tetapi, senyuman itu tak berlangsung lama, karena serigala tadi kembali menyerang dan berusaha menerkam Elektra.
Elektra yang terkejut sekaligus takut, kembali menjerit nyaring. Dia menggunakan kedua tangan untuk menghalau serangan hewan buas, yang ternyata lebih dulu mati bersimbah darah dengan perut terkoyak oleh pisau tajam milik Keith.
“Kita harus segera kembali ke pondok. Aku mengkhawatirkan Brianna yang sendirian di sana,” ucap Keith.
Elektra tidak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk setuju. Namun, dia kembali terbelalak tak percaya, saat melihat Keith mengangkat tubuh serigala yang sudah tak bernyawa tadi. Pria itu memanggulnya di pundak, tanpa memedulikan darah yang terus mengucur dan mengotori pakaian yang dia kenakan.
“Kau … untuk apa kau membawa bangkai hewan itu?” tanya Elektra tak mengerti. Dia mengikuti langkah tegap Keith dengan raut keheranan.
“Ini hutan, Nona. Kita tidak sedang berada di kota,” sahut Keith tanpa menoleh.
“Ya, aku tahu itu. Aku masih bisa membedakannya,” sahut Elektra ketus.
“Kalau begitu, seharusnya kau paham kenapa aku membawa serigala ini pulang bersama kita,” ujar Keith dengan gaya bicaranya yang sangat tenang.
Seketika, Elektra tertegun. Dia menatap tajam pria di depannya. “Ah, tidak! Jangan katakan jika kita akan memakan hewan itu!” serunya dengan mata terbelalak.
Keith hanya menoleh sambil tersenyum. Tak sepatah katapun yang dia ucapkan. "Lihatlah ini, Elektra," Keith berjalan memutari pondok dan meletakkan bangkai serigala tadi di halaman belakang yang tepat berbatasan dengan danau.
Dengan santainya, Keith menguliti serigala tadi dan mencucinya sampai bersih menggunakan air danau. Setelah itu, dia meletakkan kulit serigala itu di atas batu besar di sisi danau. Sedangkan dagingnya yang utuh dia ikat menggunakan tali yang dia bentuk dari akar. Keith juga menancapkan empat pasak kayu yang akan dia gunakan untuk memanggang daging serigala nanti.
“Ya, ampun,” Elektra menutup bibirnya rapat-rapat. Perutnya terasa mual saat melihat kulit serigala yang mengeluarkan asap samar akibat terbakar sinar matahari.
“Hei, apa yang kalian lakukan?” tanya Brianna yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu belakang.
“Menjemur daging untuk makan malam nanti,” jawab Keith sambil berlalu ke dalam pepohonan rimbun tak jauh dari danau. Tak berselang lama, dia kembali sambil membawa beberapa potong kayu.
“Sebenarnya aku sudah menyiapkan beberapa makanan kaleng. Akan tetapi, sebelum aku sempat mengambilnya, Tuan Wilson sudah lebih dulu menyalakan alarm tanda bahaya,” jelas Keith.
“Kapan ayahku menyalakan alarm? Aku sama sekali tak mendengar apapun,” Brianna menggelengkan kepala pelan seraya mengingat-ingat.
“Tuan Wilson sebenarnya sudah mengenaliku sejak pertama kami bertemu, ketika aku mengantarkan Elektra pulang. Tanpa sepengetahuan kalian, dia menemuiku dan memberikan ini,” Keith mengeluarkan sebuah benda kecil mirip pin yang memiliki cahaya merah berkedip di bagian tengahnya.
“Tuan Wilson mengatakan padaku bahwa jika benda ini berbunyi, itu artinya Elektra berada dalam bahaya di rumahnya,” lanjut Keith.
“Jadi, itukah sebabnya kau bisa mengetahui apa yang terjadi di rumahku dan membantu kami kabur?” tanya Brianna ragu. Kecurigaan besar yang dia simpan untuk Keith, luntur secara perlahan.
“Begitulah,” jawab Keith. Dia mengarahkan pandangannya pada Elektra yang terdiam memperhatikan. Selama beberapa saat, dua anak manusia itu saling tatap tanpa bersuara. Sorot mata Keith begitu tenang dan dalam, seperti permukaan danau yang terbentang di belakang mereka. Sedangkan Elektra hanya mampu menelan ludah berkali-kali demi menahan debaran aneh di dalam dadanya.
"Ah, sudahlah. Tak ada gunanya aku di sini. Aku kembali ke dalam saja," gerutu Brianna. Dia segera membalikkan badan, meninggalkan Keith dan Elektra berdua yang masih hanyut dalam keheningan.
"Maafkan jika aku lancang. Namun, aku sangat menyukaimu, Lady Elektra," ungkap Keith memecah kebisuan.