The Black Butterfly

The Black Butterfly
Pelukan Hangat



“Ya, Tuhan!” James memeluk erat Elektra.


“Kupikir, aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi, Nona,” ujarnya penuh haru.


“Aku baik-baik saja, James. Beruntung, ada seorang pria baik yang bersedia menolongku,” tutur Elektra.


“Siapa?” James melepaskan pelukan, lalu menyapu pandangan ke segala arah.


“Namanya Robby Fletcher. Dia yang menawarkan bantuan untuk menginap di flat dan membantu membelikanku tiket kereta ke Salisbury,” terang Elektra antusias. Rasa bahagia karena bertemu kembali dengan James, membuat gadis itu seakan lupa dengan segala kejadian buruk yang menimpanya beberapa hari lalu, atas ulah iseng Brianna beserta teman-temannya.


“Oh, ya? Di mana dia sekarang? Apa kau memberitahukan kepada pria itu di mana tempat tinggal kita?” cecar James terlihat waspada.


“Tidak. Aku masih ingat dengan semua pesan yang kau katakan, karena itu pula aku tidak pergi ke kantor polisi saat tersesat. Pria itu hanya membantu membelikan tiket untukku,” jelas Elektra.


“Syukurlah, kalau begitu. Kita pulang sekarang, Nona. Tidak baik jika kita terus di sini." James meraih tangan Elektra. Dia tak ingin berlama-lama berada di tempat umum. Di sana, terlalu orang yang berlalu lalang. Dia tidak ingin mengambil risiko. Bisa saja, di antara sekian banyak pengunjung stasiun tersebut merupakan salah satu dari orang-orang yang ternyata mengenal Elektra, atau bahkan merupakan anggota pria-pria bertopeng yang membantai habis seluruh anggota Keluarga Hagen.


“Tunggu!” cegah Elektra. “Aku harus berterima kasih pada Robby terlebih dulu.” Elektra mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia mencari-cari sosok pria baik hati yang bersedia menolongnya, sehingga dapat bertemu kembali dengan James meski secara tidak sengaja. Namun, ternyata Robby tak terlihat di manapun.


“Aneh sekali. Tadi dia mengatakan hanya akan ke toilet sebentar,” gumam Elektra pelan.


“Sudahlah. Tidak apa-apa. Lain kali saja jika waktunya tepat. Aku akan mengajakmu mengunjunginya. Kau masih ingat alamat flat pria itu, kan?” tanya James.


"Tidak," jawab Elektra dengan ekspresi menyesal.


“Aku rasa dia akan mengerti.” James menepuk pelan pundak Elektra, lalu mengajaknya menuju area parkir. James begitu lega, karena berhasil menemukan keturunan yang tersisa dari Keluarga Hagen.


James berkendara dengan tidak terlalu kencang. Dua jam tepat, mereka berdua tiba di Salisbury. Tampak Olivia dan Brianna yang menyambut di halaman depan.


Jauh di dalam hati, Elektra begitu marah pada Brianna. Namun, di sisi lain dia teringat akan kebaikan James. Jika tidak ada pengawal setia Chrostopher tersebut, dapat dipastikan bahwa dirinya akan tewas bersama ayah, ibu, beserta kedua adiknya.


Tak ada yang bisa Elektra lakukan, selain memendam segala amarah terhadap Brianna. Dia bersikap biasa saja pada gadis itu. Elektra memperlihatkan raut datar, seperti yang biasa ditunjukkan pada setiap orang sejak tragedi mengerikan yang menimpanya.


“Apa kau baik-baik saja, Cassandra?” sambut Olivia dengan raut khawatir.


“Ya, Bibi. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya,” jawab Elektra diiringi anggukkan pelan. Sikap seorang bangsawan tergambar jelas dari bahasa tubuhnya. Tutur kata Elektra pun begitu tertata. Sesuatu yang selama ini terlepas dari pengamatan Olivia, dan baru sekarang menjadi perhatian wanita itu.


“Sekarang aku percaya padamu, James. Gadis itu bukan dari kalangan biasa. Dia seperti anggota kerajaan yang sering kulihat di televisi. Tingkah laku serta cara bicaranya sangat jauh berbeda dengan anak-anak kebanyakan,” ujar Olivia, ketika malam mulai menjelang dan James berbaring di sampingnya.


“Kuperingatkan padamu, agar jangan sekali pun mencoba mengungkit latar belakang Cassandra. Hal itu akan sangat berbahaya untuk kita semua. Terutama Cassandra,” tegas James.


“Ah, satu lagi, James. Beberapa waktu yang lalu, aku pernah memergoki Cassandra yang tengah melakukan sesuatu di dapur pada tengah malam. Ketika itu ….” Olivia seakan ragu melanjutkan kalimatnya.


“Aku melihat sosok Cassandra yang berbeda. Dia … tidak berambut hitam seperti yang selama ini kuihat. Rambutnya pirang bergelombang,” terang Olivia ragu.


“Itu warna rambut aslinya. Selama ini, aku memakaikan Cassandra wig,” ungkap James, setelah beberapa saat terdiam.


“Astaga!” Olivia seketika terbelalak. Wanita paruh baya tersebut menatap tajam pada sang suami. “Apakah kau membawa bahaya ke rumah ini, James?” tukasnya.


James mengembuskan napas pelan. “Kau harus tetap percaya padaku, Olive. Aku tidak akan pernah membahayakanmu ataupun Brianna. Aku akan selalu melindungi kalian, walaupun aku harus bertaruh nyawa. Namun, satu yang pasti Cassandra juga harus selalu berada di bawah pengawasan dan tanggung jawabku. Kau harus mengerti,” pintanya.


“Entahlah, James. Semua ini terlalu membingungkan,” sahut Olivia. Dia tak berbicara lagi, lalu memilih berbaring membelakangi sang suami.


Ketika pagi telah datang, Olivia sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Brianna serta Elektra. Sedangkan, James sudah meninggalkan rumah lebih awal. Brianna melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk mengintimidasi Elektra.


Tiba-tiba, Brianna menarik kursi yang hendak diduduki oleh Elektra. Beruntung gadis itu memiliki gerak refleks yang bagus. Dia langsung berpegangan pada tepian meja sehingga tak terjatuh.


“Kali ini kau benar-benar keterlaluan, Brie!” sentak Olivia nyaring. Membuat Brianna tertegun.


“Kau membentakku, Bu?” tanya Brianna seolah tak percaya.


“Seharusnya sudah sejak dulu aku bersikap keras padamu, Brie! Aku menyesal karena terlalu memanjakanmu!” sentak Olivia semakin nyaring. Sedangkan, Elektra hanya menunduk, memilih berpura-pura tak mendengar perseteruan tadi.


“Ah, luar biasa! Ayah dan ibu sekarang membenciku. Semua karena kehadiran gadis sialan ini!” gerutu Brianna.


“Mungkin gadis sialan itu adalah penopang kehidupan mewahmu selama ini! Jika kau tak suka dan keberatan, aku sama sekali tak masalah memindahkanmu ke sekolah umum di pinggiran kota!” ujar Olivia yang mulai kehilangan kendali, atas sikap brianna yang sudah keterlaluan. Dia akhirnya memberikan ultimatum keras.


“Kau tahu bahwa aku tak pernah main-main dengan segala ucapanku, Brianna Wilson!” tegas Olivia dengan telunjuk lurus terarah pada putri semata wayangnya tersebut.


“Ibu!” Raut kecewa terlihat jelas di wajah Brianna. Akan tetapi, gadis itu tak berani membalas kata-kata Olivia. Brianna menghentakkan kaki, lalu berlalu meninggalkan meja makan begitu saja. Dia juga tak membawa bekal untuk istirahat siang nanti.


Elektra yang masih menunduk, sempat menangkap helaan napas panjang Olivia. Gadis itu berani mendongak dan menatap wajah ibunda Brianna tersebut. “Maafkan aku, Bibi,” ucapnya lirih.


“Maaf untuk apa?” Olivia mengernyitkan kening tanda tak mengerti.


“Keberadaanku sudah mengusik kedamaian di keluarga ini,” jawab Elektra penuh sesal.


“Sudahlah, jangan membahas hal itu. Habiskan makananmu, lalu bawalah dua kotak bekal ini ke sekolah. Berikan salah satunya pada Brianna,” suruh Olivia. “Aku percaya pada James. Apapun yang dia lakukan, itu pasti adalah yang terbaik untuk kami,” lanjutnya.


Elektra menanggapi dengan anggukan. Dia bergegas menghabiskan sarapannya sebelum berangkat ke sekolah. Tak lupa, Elektra memasukkan dua kotak bekal makan siang ke dalam ransel. Setelah berpamitan, Elektra segera brangkat ke sekolah. Dia harus secepatnya tiba di sana, atau dirinya akan terlambat.


Elektra tak peduli, walaupun dia harus sedikit berkeringat. Elektra terus berlari menuju sekolah yang berjarak cukup jauh dari rumah. Tanpa dirinya sadari, pria yang mengaku bernama Robby Fletcher mengemudikan mobil Fiat keluaran lama, dengan kecepatan yang teramat pelan. Diam-diam, pria muda tersebut mengikuti Elektra dari jarak yang cukup jauh.