
“Apa tak ada informasi lain selain yang terpampang di layar ini, Mark?” tanya Aiken seraya berdecak kesal.
“Maafkan aku, Aiken. Hanya informasi ini yang kutahu. Lebih dari itu ….” Mark menggeleng kuat-kuat. “Tidak ada,” imbuhnya dengan nada tegas.
“Ah, sudahlah,” Aiken mengempaskan napas panjang. “Sepertinya aku harus mencari cara lain untuk membongkar siapa Robby Fletcher sebenarnya,” gumam pemuda itu.
“Maaf, tapi … kenapa kau begitu penasaran terhadap dosen baru itu, Aiken?” tanya Mark hati-hati.
“Itu karena dia sudah mengganggu hidupku,” jawab Aiken seraya menyeringai. Dia lalu berbalik begitu saja, meninggalkan Mark yang kebingungan.
Aiken terus berjalan menuju mobilnya. Dia kembali memutar kemudi, bukan untuk pulang, melainkan ke area perkantoran di pusat kota. Petang sudah berganti malam. Namun jalanan malah semakin padat. Aiken harus sedikit bersabar ketika terjebak macet sebelum tiba di tempat tujuan.
Beruntung, kemacetan itu hanya berlangsung kurang dari setengah jam, sehingga Aiken bisa melanjutkan perjalanannya ke sebuah gedung belasan tingkat. Dia seperti sudah terbiasa mendatangi tempat tersebut. Aiken tidak canggung sama sekali ketika memasuki lift, dan tiba di lantai yang dipilih. Dia juga mengetuk pintu sebuah ruangan dengan santai, lalu langsung membukanya.
“Aku ingin bertemu dengan Tuan Harry Winston,” ujar Aiken saat seorang wanita bersetelan formal menyambutnya.
“Apakah kau sudah membuat janji, young man (anak muda)?” tanyanya.
“Tidak, tapi dia adalah teman baikku. Aku dapat memastikan bahwa dia tak akan menolak. Katakan saja padanya bahwa Aiken Caldwell ingin bertemu,” jawab Aiken sedikit pongah.
“Baiklah, tunggu sebentar,” wanita itu segera menuju ke salah satu ruangan dan masuk ke dalam. Tak berselang lama, dia keluar dan mengarahkan Aiken agar mengikutinya dengan menggunakan isyarat tangan.
“Halo, Paman Harry. Sudah lama kita tidak bertemu,” sapa Aiken sesaat setelah dirinya masuk.
“Astaga, Aiken. Kau sudah sebesar ini,” sambut pria bernama Harry itu. Dia berdiri dari duduk sambil merentangkan tangan. Melihat sikap ramah Harry, Aiken langsung maju dan memeluk pria yang tampak seumuran dengan ayahnya.
“Ada keperluan apa kau sehingga bisa sampai kemari?” tanya Harry setelah beberapa saat berbasa-basi.
“Aku membutuhkan bantuanmu, Paman,” jawab Aiken.
“Bantuan apa?” tanya Harry lagi.
Aiken langsung menyodorkan selembar foto beserta keterangan yang menyertai. Atas bantuan Mark tadi, dirinya sempat menyalin dan mencetak dokumen rahasia milik Robby Fletcher. “Aku ingin kau mencari tahu latar belakang pria ini, Paman,” pinta Aiken.
“Apa saja yang ingin kau cari tahu?” Harry menerima kertas tersebut dan mulai membacanya.
“Semua tentang asal-usulnya, siapa orang tuanya dan di mana alamat aslinya selain dari yang tertera itu,” tutur Aiken.
“Baiklah, akan kucoba,” Harry menyanggupi. Dia menjabat tangan Aiken lagi. Kali ini lebih erat.
Sementara itu, di kediaman Keluarga Wilson. James mulai cemas saat Elektra tak juga pulang. Dia sudah bersiap untuk menyusul Elektra ke kampus, ketika sebuah motor sport berhenti di depan halaman rumah.
Elektra dengan santainya turun dari motor sambil menyerahkan helm pada pemboncengnya yang tidak lain adalah Robby, sang dosen.
“Darimana kau, Cassandra?” hardik James dengan raut marah.
“Robby mengantarku pulang, Ayah,” Elektra menjawab sembari menoleh pada Robby yang baru saja melepas helmnya.
“Putri anda tidak bersalah, Tuan,” sela Robby.
“Anda siapa?” tunjuk James.
“Saya dosen baru di jurusan putri anda. Kebetulan saja, kami bertemu di perpustakaan kota. Saya memutuskan untuk mengantarnya pulang, berhubung hari sudah menjelang malam,” terang Robby.
“Dosen?” ulang James.
“Ya, Tuan. Ini tanda pengenal sekaligus kartu nama saya,” Robby mengeluarkan dua lembar kartu dari saku jaket, kemudian menyerahkannya pada James.
“Ah, jadi anda benar-benar staf pengajar di kampus Cassie,” James mengempaskan napas lega. “Baiklah, terima kasih.” Pria paruh baya itu mengulurkan tangan pada Robby.
“Tidak masalah, Tuan,” Robby membalas jabat tangan James, lalu menoleh pada Elektra. “Sampai jumpa besok pagi, Nona Wilson,” pamitnya seraya menganggukkan kepala. Dia tetap diam di atas jok motornya sampai James dan Elektra masuk ke dalam rumah.
Robby berniat untuk menyalakan mesin, ketika ekor matanya menangkap sesosok bayangan dari jendela lantai dua. Dia menoleh sambil memicingkan mata. Tampak Brianna mengintip dari balik tirai. Robby pun tak ambil pusing, dia segera melajukan motornya meninggalkan kawasan perumahan tempat tinggal James.
Sementara Elektra tak banyak bicara. Sikap cerianya memudar, berganti menjadi sikap datar. Apalagi saat dirinya berpapasan dengan Brianna saat hendak memasuki kamar. Putri kandung James itu bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dia bahkan menganggap Elektra ada dan berdiri di depannya.
Entah kekuatan darimana, Elektra tiba-tiba mencengkeram kuat-kuat lengan Brianna hingga gadis itu meringis kesakitan. “Dengar, aku tak mengatakan pada siapapun tentang kejadian tadi. Selama ini, aku memang selalu mengalah padamu. Namun, satu hal yang harus kau ingat. Aku tidak pernah takut padamu,” ujar Elektra penuh penekanan.
“Lepaskan tanganmu!” sentak Brianna sambil berusaha melepaskan cengkeraman Elektra. Akan tetapi sia-sia, gadis cantik di hadapannya itu ternyata jauh lebih kuat darinya.
“Aku bisa saja mengatakan semuanya pada Paman James, tapi tidak kulakukan, sebab aku merasa berutang budi pada ayahmu. Dia telah menyelamatkan nyawaku,” papar Elektra, yang membuat Brianna mengernyit kebingungan.
“Namun, mulai saat ini, aku tidak akan tinggal diam. Jika kau berani melukaiku lagi, maka aku tidak segan-segan membalasmu dengan hal yang sama, atau bahkan jauh lebih menyakitkan,” Elektra menyeringai. Ekspresi wajahnya terlihat begitu menakutkan bagi Brianna.
Sejak Elektra datang dan tinggal di rumahnya, Brianna tak pernah melihat mimik muka Elektra yang seperti itu. Brianna pun terkesiap. Dia sama sekali tak membalas ancaman tersebut. Gadis itu malah berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Sampai jumpa esok pagi, Brie,” ucap Elektra setengah berseru sebelum masuk ke kamarnya dan beristirahat.
Keesokan pagi, dua gadis muda itu menjalani aktivitas seperti biasa. Tak seperti hari lainnya, James mengantarkan Brianna dan Elektra sampai ke depan gerbang kampus. “Jaga diri kalian baik-baik,” ujar James. “Terutama kau, Cassie. Jangan sampai terlambat lagi,” imbuhnya.
Sikap Brianna juga berbeda pagi itu. Dia tak banyak bicara. Brianna bahkan menghindari kontak mata dengan Elektra. Hal itu terus berlangsung sampai jam kuliah usai. Brianna pulang lebih dulu bersama teman-temannya, sedangkan Elektra berjalan kaki sendirian menuju halte bus terdekat.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika seseorang memanggil namanya. Elektra menoleh dan melihat Aiken setengah berlari menyusul dirinya. “Ada apa?” tanyanya datar.
“Bolehkah aku mengantarmu pulang?” tawar Aiken. “Tolonglah, sekali ini saja, Cassie. Aku ingin mengantarmu pulang,” pemuda itu sedikit memaksa.
“Aku tidak ingin merepotkan siapapun, Aiken. Aku ….” Belum selesai Elektra berbicara, terdengar suara lain berseru dari seberang jalan. Si pemilik suara itu menyeberang jalan dan menghampiri Aiken.
“Kenapa kau sulit sekali dihubungi?” tanya pria yang baru datang tersebut.
Seketika Elektra terkesiap. Pasalnya suara berat itu mengingatkannya pada sosok pria di balik topeng yang telah membantai keluarga Elektra hingga habis tak tersisa.