
Pria itu berjalan mendekat. Dengan sorot mata yang terlihat sangat tegas dan tak biasa, dia berdiri di hadapan Elektra seakan menjadi tameng untuk gadis itu. Posturnya yang tinggi tegap, membuat tubuh Elektra tertutupi sepenuhnya. Si pria berdiri gagah seperti hendak menantang para pengganggu tadi. “Pergilah atau kalian akan menyesal karena telah bertemu denganku malam ini,” gertak si pria dingin, tapi terdengar sangat tegas.
Namun, gertakannya tadi hanya dianggap angin lalu oleh para pengganggu itu. Salah satu dari mereka bahkan maju dan bermaksud menyerang si pria. Dia bergerak hendak menerjang dengan tangan terkepal yang melayang ke arah si pria misterius.
Pria tadi bergerak lincah. Tanpa terlihat, tangannya sudah menahan kepalan pria yang menyerang dan hendak memukulnya.
“Aaah! Ampun!” pekik si pengganggu itu. Dia tampak sangat kesakitan, ketika terdengar bunyi gemeretak tulang-tulang tangannya yang mungkin remuk. Padahal, si pria misterius masih berdiri tanpa mengubah posisi. Dia hanya menahan pukulan yang diarahkan padanya.
Tersungging senyuman sinis dari bibir si pria misterius. “Tangan inikah yang biasa kau gunakan untuk memalak orang tak berdaya?” Si pria misterius semakin mengeratkan cengkramannya, seiring dengan pekikan si pengganggu yang semakin kencang.
“Hey!” Teman si pengganggu bermaksud hendak membantu temannya. Dia maju dan bermaksud menyerang si pria berambut cokelat yang masih berdiri di depan Elektra. Namun, geraknya langsung tertahan. Dia justru terpental jauh ke belakang, akibat tendangan keras pria itu.
Elektra yang menyaksikan adegan luar biasa di hadapannya, hanya dapat ternganga. Dia belum pernah menyaksikan perkelahian seperti itu secara langsung, selain dari film-film ala Hollywood.
“Pergi sekarang juga, atau kuremukkan seluruh tulang di tubuh kalian!” ancam pria tampan bermata hazel itu. Raut wajahnya terlihat sangat serius dan datar. Gayanya sangat mirip dengan aktor ternama di film action. Setelah berkata demikian, dia mengempaskan kasar tangan si pengganggu tadi, hingga terhuyung dan jatuh tersungkur. Tanpa pikir panjang lagi, para pengganggu itu segera lari tunggang langgang. Mereka tak menoleh lagi ke belakang saking takutnya.
Si pria misterius mengembuskan napas pelan. Dia menepuk-nepuk telapak tangannya, lalu berbalik kepada Elektra. Tiba-tiba, raut wajah yang tadi terlihat bak pembunuh berdarah dingin itu berubah drastis. Paras tampan si pria tampak memesona, dengan senyumannya yang begitu menawan. “Kau tidak apa-apa, Nona?” tanyanya ramah.
“A-i-iya. Aku tidak apa-apa,” jawab Elektra terbata. Dia sedikit gugup berhadapan langsung dengan pria berpostur tinggi tegap itu.
“Sudah kukatakan bahwa tempat ini tidak aman. Terlebih di malam hari,” ucap si pria. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu melihat arloji di pergelangan kirinya. Saat itu, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. “Demi keamananmu, sebaiknya kau ikut saja denganku. Siang hari akan jauh lebih aman bagimu. Aku akan mengantarkanmu ke stasiun besok dengan jadwal pertama. Itu juga jika kau mau.”
Elektra tidak segera menjawab. Gadis itu mundur beberapa langkah. Pesan dari James kembali terngiang di telinganya. “Aku tidak mengenalmu, Tuan,” tolak Elektra seraya menggeleng pelan.
“Memangnya, siapa yang kau kenal di sini? Kalau begitu, aku akan mengantarkanmu padanya.”
Elektra kembali terdiam. Gadis itu berpikir untuk beberapa saat. Jangankan kenalan, dia bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota London. Ragu mulai menyelimuti perasaan gadis cantik bermata hijau tersebut. “A-aku ….” Elektra kembali terdiam. Sementara, si pria masih menunggu keputusannya.
“A-aku … aku tidak mengenal siapa pun di sini,” ungkap Elektra pada akhirnya, “tapi aku juga tak mungkin ikut denganmu. Kau adalah orang asing, Tuan. Bisa saja bahwa kau merupakan orang jahat yang sengaja dikirim untuk mencari dan meng ….” Elektra segera menutup mulut menggunakan telapak tangannya. Dia hampir saja keceplosan bicara.
Sementara, si pria hanya tersenyum simpul. “Namaku Robby Fletcher. Tempat tinggalku hanya sekitar satu kilometer dari sini. Jika kau bersedia ikut denganku, maka jangan membuang waktu lagi. Aku sangat lelah dan ingin segera mandi, lalu tidur nyenyak.”
“Ta-tapi ….” Elektra sepertinya tak memiliki pilihan lain. Gadis itu mengangguk setuju. Dia tak ingin mengambil risiko dengan tetap berada di jalanan. Elektra mengikuti pria itu menuju motornya terparkir.
Deru mesin motor 250 cc itu terdengar begitu keras di telinga Elektra, yang memiliki pendengaran sangat sensitif. Angin pun berembus sangat kencang, membuat rambut panjang si gadis meriap-riap tak karuan. Ini adalah pertama kalinya Elektra berkendara menggunakan motor sport seperti itu. Ternyata, tidak semenakutkan yang dirinya pikir selama ini.
Hanya beberapa menit yang harus dilalui, hingga mereka tiba di gedung dua lantai. Robby langsung memarkirkan motor sport miliknya di tempat parkir khusus. Setelah itu, dia mengajak Elektra menaiki anak tangga yang terbuat dari besi hollow.
“Pelankan suara langkahmu. Kebanyakan penghuni flat di sini adalah pasangan suami istri yang sudah berumur. Mereka tidak suka suara berisik,” tegur Robby setengah berbisik.
“Ah, maaf,” ucap Elektra seraya meringis kecil.
Robby hanya menanggapinya dengan senyum kalem. Pria bermata hazel tersebut kembali melangkah, hingga mereka tiba di depan pintu yang merupakan tempat tinggalnya. “Masuklah.” Dia mengarahkan Elektra ke dalam dengan isyarat mata.
Elektra kembali terlihat ragu. Namun, dia sudah terlanjur mengikuti pria tampan itu. Mau tak mau, dirinya kembali menurut. Elektra masuk ke ruangan yang tidak terlalu luas itu. Keadaan di sana pun terbilang berantakan. Ada beberapa pakaian di sofa, serta kaleng minuman yang belum dibereskan di atas meja.
“Ah, maaf.” Robby tersenyum kikuk demi menghalau rasa malu, karena kondisi flatnya. “Aku belum sempat membereskan semua ini,” ujarnya mencari alasan.
“Iya. Tidak apa-apa. Lagi pula, aku bukan ibu mertuamu, Tuan,” celetuk Elektra yang kemudian segera mengulum bibirnya.
Namun, ternyata Robby tertawa renyah mendengar ucapan gadis itu. “Duduklah.” Pria tampan berambut cokelat itu mengarahkan Elektra ke sofa, setelah dia mengambil beberapa pakaian tang tadi ada di sana. “Apa kau ingin sesuatu? Aku hanya punya soft drink dan sereal,” ujanya sambil membuka rak. “Ah, tunggu. Aku masih memiliki beberapa lembar roti. Kau bisa membuat sandwich. Sepertinya, aku punya bahan pelengkap lain di kulkas,” ucap Robby lagi sambil membuka lemari es berukuran kecil, yang ada di dapur berukuran sempit ruangan flatnya.
Robby menghela napas panjang sambil menutup kembali pintu lemari es tadi. Dia menoleh pada Elektra yang tengah memperhatikannya. “Sepertinya … roti saja cukup untuk pengganjal perut malam ini.” Dia menggaruk kepala yang tak gatal.
“Iya. Tidak apa-apa, Tuan,” balas Elektra pelan. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu. Elektra menandai kira-kira barang apa saja yang dapat diambil dengan cepat, dan dapat digunakannya sebagai pelindung diri andai Robby berbuat macam-macam.
“Berhubung di sini hanya ada satu kamar, maka kau boleh tidur di kamarku. Aku bisa tidur di sofa,” ucap Robby lagi. Kesan menakutkan yang tadi sempat Elektra lihat saat pria itu menghadapi para pengganggu, tak terlihat sama sekali. Robby justru merupakan sosok yang sangat ramah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika Elektra masuk ke kamar. Di sana, kondisinya tidak terlalu berantakan. Namun, ruangan itu dipenuhi dengan barang-barang yang merupakan ciri khas seorang bujangan. Elektra tak mempermasalahkan hal itu. Dia sangat lelah dan ingin segera berbaring. Dia langsung naik ke tempat tidur. Tak membutuhkan waktu lama bagi gadis cantik tersebut untuk terbang ke alam mimpi.
Beberapa jam berlalu. Elektra terbangun, karena dia mendengar suara percakapan seseorang. Gadis itu segera bangkit, lalu turun dari kasur. Elektra membuka pintu sedikit, lalu mengintip. Dari celah kecil itu, dia melihat Robby tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Robby berjalan mondar-mandir dan terlihat gusar. “Maaf. Hingga saat ini, aku belum menemukan gadis itu, ayah,” ucap Robby.
Satu kalimat yang membuat Elektra terkesiap. Gadis itu langsung berpikir bahwa dirinya sedang berada di tempat yang tidak seharusnya. Elektra kembali menutup pintu rapat-rapat. Dia mencari sesuatu di dalam kamar itu, yang bisa dirinya gunakan sebagai senjata. Namun, Elektra tidak menemukan apapun. Akhirnya, Elektra nekat keluar dari kamar itu. Dia berlari sekencang mungkin ke dekat pintu utama. Elektra tidak memedulikan Robby yang memanggil serta berusaha mengejarnya.