
Sejak kejadian tersesatnya Elektra. Olivia benar-benar bertindak tegas pada Brianna. Dia memberi peringatan keras terhadap putrinya tersebut, agar tidak lagi mengganggu Elektra lagi. Dengan terpaksa, Brianna mematuhi peraturan yang sudah diterapkan oleh James dan Olivia. Untuk beberapa waktu, Elektra hidup dalam ketenangan. Brianna menjaga jarak dan tak pernah lagi berbicara padanya, meskipun mereka tinggal seatap.
Tanpa terasa, tiga tahun telah berlalu. Elektra dan Brianna berhasil lulus dari Secondary School. Nilai-nilai yang didapat Elektra sangat bagus dan jauh di atas rata-rata kelas. Dia mendapatkan peringkat teratas untuk satu sekolah. Hal itu membuat dirinya mendapatkan kehormatan naik ke panggung dan menyampaikan pidato kelulusan.
Dalam hal pendidikan, Brianna jelas tak dapat menyaingi kecerdasan Elektra. Itu semua karena Elektra telah mendapat pendidikan dasar di salah satu sekolah paling bagus di Irlandia. Selain itu, Elektra mendapat bimbingan dari beberapa guru privat. Sesuatu yang tentu saja tidak Brianna dapatkan, meski gadis itu juga menimba ilmu di sekolah terbaik Salisbury. Satu-satunya yang dapat Brianna banggakan adalah statusnya sebagai siswi paling populer di sekolah. Namun, hal itu juga tak berlangsung lama. James memang sengaja memasukkan Elektra dan Brianna di fakultas dan jurusan yang sama.
Di kampus baru, lagi-lagi Brianna harus mengakui kehebatan Elektra yang dinobatkan sebagai perwakilan mahasiswa baru untuk menyampaikan sambutan. Di atas panggung, dia berhasil menyedot perhatian banyak orang. Satu hal yang menarik perhatian Elektra adalah, saat dirinya menuruni panggung. Ekor mata gadis itu menangkap sosok yang pernah dia lihat beberapa tahun lalu.
Elektra merasa sangat penasaran, akan sosok yang dilihat sekilas tadi. Ingin sekali Elektra menyapa dan menanyakan banyak hal, agar dapat memuaskan rasa ingin tahu. Namun, saat itu masih berlangsung upacara penerimaan mahasiswa baru. Elektra memilih terus berjalan menuju tempat duduknya. Dia harus bersabar menunggu upacara selesai hingga satu jam kemudian. Setelah itu, barulah Elektra berlari menghampiri seorang pria yang menuruni panggung dengan langkahnya yang terlihat sangat gagah.
“Robby!” seru Elektra. “Benarkah kau Robby?” tanyanya memastikan.
Pria tinggi tegap tadi berbalik menghadap kepada Elektra. Dia sama sekali tak menampakkan wajah terkejut. Pria yang memang bernama Robby tersebut malah tersenyum ramah. “Apa kabar, Nona Cassandra Wilson?” sapa Robby.
“Kau tahu nama lengkapku?” Elektra terbelalak tak percaya.
“Anggap saja begitu. Aku tahu sedikit banyak tentangmu, Nona.” Robby tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
“Apa kau dosen di sini?” tanya Elektra lagi.
“Ya. Aku baru diterima mengajar di sini kira-kira seminggu yang lalu,” jelas Robby.
“Kau mengajar di jurusan apa?” Elektra terus mencecar Robby. Tidak seperti biasanya, saat itu Elektra menjadi seseorang yang berbeda. Dia begitu terbuka dan banyak berbicara.
“Seni Liberal dan Ilmu Pengetahuan,” jawab Robby lugas, yang lagi-lagi membuat Elektra terkejut.
“Kebetulan sekali! Aku juga memilih jurusan itu,” balas Elektra antusias.
“Tidak ada kebetulan yang benar-benar merupakan kebetulan di dunia ini, Nona Wilson. Semua sudah berjalan sesuai kehendak takdir.” Robby mengembangkan senyuman penuh arti. Membuat Elektra sedikit bertanya-tanya, apakah yang ada dalam pikiran pria tampan itu?
Namun sebelum Elektra mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang.
“Hai, Cassie! Surprise!” seru seorang remaja yang berusia sama dengan Elektra.
“Aiken Caldwell?” Elektra mengernyitkan kening. Sikap ramah dan terbuka yang dia tunjukkan pada Robby, seketika berubah. Gadis remaja yang kini berusia enam belas tahun tersebut mendadak jadi datar dan dingin pada pemuda di hadapannya.
“Kau kuliah di sini juga?” Elektra menaikkan sebelah alisnya.
“Ya. Aku mengambil jurusan bisnis. Gedung kuliah kita tidak terlalu jauh. Kita masih bisa sering bertemu,” sahut Aiken.
“Oh.” Tanggapan singkat dari Elektra. Dia seakan ingin menunjukkan dengan jelas rasa tidak nyamannya saat berada di dekat Aiken. Elektra berbalik dan berniat melanjutkan perbincangan dengan Robby. Akan tetapi, pria itu sudah tidak ada di tempatnya. Robby menghilang entah ke mana.
Sepasang iris mata hijau Elektra sempat menyapukan pandangan ke sekeliling, sampai dia melihat Robby tengah asyik mengobrol dengan beberapa orang dosen. Seulas senyuman samar tersungging dari bibir manis itu. Masih ada waktu untuk bercakap-cakap dengannya, begitu pikir Elektra.
“Kau tinggal di asrama atau tetap tinggal di rumah ayahmu, Cassie?” tanya Aiken. Dia sepertinya tak ingin menyerah dengan penolakan Elektra.
“Aku tetap tinggal di rumah ayah,” jawab Elektra sambil berlalu dari sana.
“Dia awalnya ingin tinggal di asrama, tapi ayah melarang,” jawab Elektra singkat.
“Padahal, perjalanan yang kalian tempuh akan sedikit lebih jauh. Jaraknya dua kali lipat dari secondary school kita,” ujar Aiken sembari menyejajari langkah Elektra.
“Aku menuruti semua perintah ayahku, Aiken,” sahut Elektra dengan yakin. “Aku merasa jauh lebih aman tinggal di rumah ayah,” imbuhnya.
“Hm, jika kupikir-kupikir, kau memang berbeda. Sejak hari pertama bersekolah, kau memang terlihat tak ingin menjalin hubungan pertemanan dengan siapa pun. Seolah-olah ada sesuatu hal yang kau tutup-tutupi,” ujar Aiken membuat Elektra terkesiap.
Gadis cantik itu segera menghentikan langkah, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Aiken. “Apa maksudmu?” desisnya pelan sambil memicingkan mata.
“Ya, kau menutup-nutupi wajah cantikmu dari semua orang. Beruntung, sekarang kau menjadi sedikit lebih terbuka, Cassie. Kau menguncir rambutmu dengan gaya ekor kuda. Kalau begini, aku jadi dapat melihat wajahmu dengan leluasa,” Aiken tergelak. Dia merasa bangga dengan gurauan yang menurutnya lucu.
Namun, tidak demikian dengan Elektra. Gadis itu mendengkus kesal. Hampir saja dia mengira bahwa Aiken telah mengetahui sesuatu.
“Sudahlah, aku harus menyalin jadwal kuliah untuk satu semester ke depan. Sampai jumpa lagi, Aiken.” Elektra melambaikan tangan, sebagai isyarat bahwa dirinya tidak ingin diganggu lagi. Dia segera pergi dari hadapan pemuda tampan itu.
Akan tetapi, langkah Elektra harus kembali terhenti, ketika terdengar suara Brianna memanggil namanya. “Bagaimana bisa kalian berduaan di kampus ini?” tanya Brianna.
“Aku juga kuliah di sini, Brie. Gedung kuliahku ada di sebelah utara, tak jauh dari sini. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan bisnis,” terang Aiken tanpa diminta.
“Di sini? Bukankah kau berniat akan melanjutkan kuliah di London?” Brianna mengernyitkan kening.
“Aku mengurungkannya,” sahut Aiken seraya tersenyum. Dia lalu mengarahkan pandangan pada
Elektra yang berdiri tak jauh dari Brianna. “Itu semua karena Cassie. Aku merasa harus mengikuti jejaknya untuk berkuliah di sini.” Aiken berterus terang tanpa merasa sungkan. Dia tak sadar bahwa kata-katanya berhasil mematahkan hati Brianna.
Elektra sendiri tak menyangka bahwa Aiken akan menjawab demikian. Ragu-ragu dia melirik pada Brianna yang memandang Aiken dengan sorot kecewa. Putri kandung James tersebut, lalu mengalihkan pandangannya pada Elektra.
“Cassie memang selalu yang terbaik,” ucap Brianna sembari memaksakan senyum.
“Aku juga berpikir seperti itu,” sahut Aiken tanpa beban. “Ya, sudah. Aku pergi dulu. Aku juga harus mencatat jadwal,” pamitnya. Aiken sempat melayangkan senyuman manis untuk Elektra sebelum berlalu dari sana.
“Sudah puaskah kau, Cassie?” tanya Brianna penuh sindiran.
Namun, Elektra tak mau ambil pusing. “Bukan salahku jika Aiken berpikiran seperti itu,” ujarnya tak peduli.
“Ya, tentu saja.” Brianna tersenyum sinis. “Kau merebut semuanya. Kasih sayang ayahku, perhatian ibuku, dan cinta Aiken. Seluruh dunia berpaling dariku,” lanjutnya.
“Apa maksudmu?” Elektra menggeleng tak mengerti.
“Jangan berpura-pura bodoh, Cassie! Semuanya sudah jelas. Aiken benar-benar jatuh cinta dan berusaha untuk mendapatkanmu!” sentak Brianna. “Ah, aku membencimu. Aku hanya berharap, semoga suatu saat, kau benar-benar menghilang!” Selesai berkata demikian, Brianna bergegas meninggalkan Elektra yang masih terpaku di tempatnya.
Elektra sama sekali tak menyadari bahwa sejak tadi, ada sosok lain yang memperhatikan perseteruan itu dari jauh. Sepasang mata hazel dari sang dosen muda, yang terus mengawasi gerak-geriknya.