The Black Butterfly

The Black Butterfly
Pertengkaran Pertama



James menatap tajam Olivia. Namun, dia tak mengatakan apapun. James meraih tangan Elektra, lalu menuntunnya masuk. Pria itu membawa gadis dengan rambut palsu tersebut ke kamar Brianna, berhubung kamar yang disediakan untuk Elektra masih dalam tahap perbaikan karena terlalu lama dibiarkan kosong.


James mendudukkan Elektra di tepian tempat tidur Brianna. Dia menurunkan tubuhnya, lalu memeriksa luka di kaki gadis itu. James mengamatinya beberapa saat, sebelum kembali berdiri tegak lalu duduk di sebelah putri majikannya tersebut. “Maaf untuk semua yang harus kau alami di sini, Nona. Aku tidak memiliki pilihan lain,” ucap James penuh sesal.


“Jangan berkata seperti itu, James. Kau sudah sangat berjasa dalam hidupku. Luka sekecil ini tidak sebanding dengan nyawaku yang telah kau selamatkan,” ujar Elektra menanggapi ucapan James. “Aku justru sangat berterima kasih padamu. Ayah dan ibuku juga pasti akan sangat bahagia, karena mereka memiliki pengawal setia seperti dirimu.” Elektra tersenyum tipis. Keceriaan gadis cantik tiga belas tahun itu sirna sepenuhnya, setelah dia mengalami serentetan tragedi mengerikan dalam hidupnya.


“Ini sudah menjadi kewajibanku, Nona,” balas James sopan. “Aku sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Tuan Christopher Hagen. Setelah bekerja padanya, aku bisa membangun rumah ini. Aku juga menyekolahkan Brianna dengan tanpa ada hambatan dengan segala kebutuhannya. Ada beberapa usaha yang juga sudah berjalan, dan dipegang oleh orang-orang yang kupercaya di sini. Semuanya, atas kemurahan hati mendiang ayahmu,” tutur James diiringi senyum kelu.


Elektra tak menanggapi. Gadis itu meringis pelan, merasakan luka di kakinya yang terasa sakit.


“Sebaiknya ganti pakaianmu. Setelah itu, beristirahatlah,” saran James. Dia berjalan ke dekat lemari, lalu mengambilkan Elektra midi dress sebagai baju ganti untuk gadis itu.


“Terima kasih, James,” ucap Elektra, sebelum James berlalu keluar kamar.


Kini, di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu hanya ada Elektra seorang diri. Gadis cantik yang ahli dalam olahraga memanah tersebut segera berganti pakaian. Setelah selesai, Elektra rasanya ingin segera membaringkan tubuh. Dia sempat memperhatikan kasur empuk yang menjadi tempat tidur Brianna. Namun, dirinya tak memiliki keberanian untuk sekadar melepas lelah di sana.


Tanpa diduga, James kembali masuk saat Elektra masih berdiri terpaku di dekat tempat tidur. “Aku membawakanmu makan siang,” ucap James sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas meja dekat tempat tidur.


“Kau tidak perlu repot-repot, James,” ujar Elektra merasa tak enak.


“Kakimu pasti sakit sekali jika harus naik-turun tangga. Tidak apa-apa. Di sini tidak ada pelayan,” balas James. “Ayo, makanlah dulu,” suruhnya lembut.


“Aku akan memakannya nanti,” sahut Elektra.


“Aku ingin melihatmu menghabiskannya sekarang,” paksa James.


Elektra menoleh. Gadis itu tersenyum simpul. “Brianna sangat beruntung memiliki ayah sepertimu,” ucapnya. Dia mengambil makanan dari nampan tadi, lalu duduk di tepian tempat tidur. Elektra mulai menyantapnya. Dia terlihat sangat lahap, karena dirinya tak sempat makan siang dengan benar akibat ulah iseng Brianna dan teman-temannya tadi, yang membuat bekal makanan Elektra justru terbuang percuma.


Sesaat kemudian, Elektra terdiam. Sepasang mata hijau gadis itu bergerak terlihat tak biasa. Elektra menejamkan pendengarannya. Dia langsung berdiri.


“Kenapa?” tanya James heran.


“Brianna sudah pulang. Dia tidak akan ….” Belum sempat Elektra menyelesaikan kata-katanya, suara langkah Brianna sudah terdengar semakin jelas di  lantai kayu rumah itu. Sepertinya, dia telah berada di depan pintu kamar.


Tiba-tiba, James bergerak cepat ke balik pintu. Pria empat puluh lima tahun tersebut berdiri di sana. Dia memberi isyarat agar Elektra tak mengatakan apapun.


Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka. Brianna si gadis berambut pirang masuk dengan langkah penuh keangkuhan. “Hey! Siapa yang memberimu izin makan di dalam kamarku? Ulahmu ini hanya akan mengundang semut dan kecoa datang kemari. Dasar bodoh!” hardik Brianna, yang tak mengetahui bahwa James menyaksikan sikap buruknya terhadap Elektra.


“Maaf, Brie. Aku hanya ….”


“Aku …”


“Kau sudah tahu bahwa tempatmu adalah di kolong ranjangku. Bukan di sini, Gadis bodoh!” sela Brianna lagi. Dia memaki Elektra dengan sesuka hati. “Dasar tak tahu diri!” umpatnya kasar.


“Begitukah sikapmu, Brie? Siapa yang mengajarimu menjadi kasar seperti ini,” tegur James, yang seketika membuat Brianna terbelalak. Gadis itu langsung menoleh dengan sorot tak percaya.


“Ayah? Kau ada di sini?” tanya Brianna gelagapan.


“Katakan, Brie. Apa kau yang telah membuat Cassandra terluka seperti itu?” tunjuk James pada kaki Elektra yang berdiri tak jauh darinya.


“Apa maksudmu, Ayah? Kau menuduhku?” Nada bicara Brianna penuh dengan bantahan. Gadis itu mengalihkan perhatiannya kepada Elektra. “Katakan sesuatu, Cassie! Kenapa kau diam saja seperti orang bodoh! Aku memang tidak menyukaimu, tapi aku tak akan pernah tega sampai melukai fisik seperti itu!” tegas Brianna meyakinkan. Dia menatap tajam penuh isyarat kepada Elektra yang tak berkomentar.


“Jangan berbohong, Brie.” James bicara sambil berjalan semakin mendekat. “Aku tak akan membiarkanmu berbuat semena-mena terhadap Cassandra. Ingat, Nak. Dia adalah putriku juga. Itu artinya, Cassandra merupakan saudarimu.”


“Aku tidak akan pernah sudi mengakuinya sebagai saudariku, Ayah!” tolak Brianna tegas.


“Itu bukan berarti kau bisa berbuat sesuka hatimu!” sentak James tiba-tiba. “Sekali lagi kutekankan padamu. Kau adalah putriku. Dia juga sama. Aku ingin kalian bisa hidup rukun,” tegas James. “Jangan pernah berpikir untuk menyakiti Cassandra, karena aku tak akan membiarkan hal itu!” ucap James lagi penuh penekanan, yang segera bersambut suara tepuk tangan dari arah pintu.


“Bagus, James. Bagus sekali.” Suara Olivia terdengar di sana. “Kau tak pulang selama enam bulan, dan kembali dengan membawa banyak kejutan,” sindir wanita berambut pendek itu. “Aku tidak mengenalmu lagi, James Wilson!” sentaknya tiba-tiba.


“Sejak kau datang dengan membawa gadis sialan itu kemari, entah berapa bentakan yang telah kau berikan kepada putriku!” Nada bicara Olivia meninggi. Dia tak terima karena James kembali memberikan teguran keras kepada Brianna.


“Brianna adalah putriku juga!” balas James tak kalah keras. Sisi tegas seorang James seorang pengawal pribadi terlihat jelas saat itu. Dia hampir lepas kontrol, andai dirinya tak segera menyadari bahwa yang dia hadapi adalah wanita yang sangat dicintainya.


“Kau sudah melupakan kami semenjak membawa anak hasil perselingkuhanmu kemari, James. Apa kau tidak menyadari bahwa dirimu sudah sangat menyakiti perasaanku? Kau seorang pengkhianat, James Wilson! Kau pengkhianat! Aku sangat membencimu!” Olivia mulai hilang kendali. Dia memukuli James secara membabi buta, seakan ingin melampiaskan segala unek-unek serta kekesalannya.


James tentu saja tak tinggal diam. Pria itu sigap merengkuh tubuh Olivia. Pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi seorang pengawal pribadi, dia perlihatkan saat itu. Dengan cekatan, James menahan tubuh Olivia hingga wanita berambut pendek tersebut tak dapat berkutik. Namun, Olivia terus meracau. Dia memaki, mengumpat, James dan Elektra.


Tanpa banyak bicara, James memaksa istrinya keluar kamar. Dia tak melepaskan rengkuhan dari tubuh wanita itu. James bahkan setengah menyeret Olivia yang histeris dan terus memberontak. Wanita dengan dress vintage tersebut terus meronta, bermaksud untuk melampiaskan kemarahannya pada apa saja yang dapat digapainya.


“Kau suka melihat itu, Cassie?” sindir Brianna yang terpaku menyaksikan ibunya bersikap seperti tadi. “Hingga usiaku sebesar ini, aku belum pernah melihat ibuku histeris seperti itu,” ucapnya lagi terdengar kecewa. Gadis cantik berambut pirang tersebut menundukkan wajah beberapa saat, hingga suara teriakan sang ibu terdengar semakin menjauh.


“Maafkan aku, Brie. Aku ….”


“Ini semua gara-gara dirimu, Gadis sialan!” Volume suara Brianna tiba-tiba meninggi, sehingga membuat Elektra tersentak kaget. Brianna lalu mendekat. “Kau! Kau adalah pengacau di rumahku!” sentaknya. “Aku membencimu, Cassie! Aku sangat membencimu!” Brianna melepas tas dari gendongannya, lalu melemparkan tepat ke tubuh Elektra.