The Black Butterfly

The Black Butterfly
Di Dekat Perapian



“Pondok hantu?” ulang Brianna keheranan. “Astaga, jangan katakan kalau kau menyembunyikan kami di tempat berhantu.”


“Bukan itu ….” sahut  Elektra. Dia terdiam, sementara angannya terbang kembali ke beberapa tahun silam, tatkala dirinya masih berusia tujuh tahun. Sang ayah mengajak Elektra, ibu beserta kedua adiknya yang masih balita, berjalan-jalan ke danau Lough Neagh yang merupakan danau terbesar di Irlandia Utara.


Lord Christopher Hagen memiliki sebuah villa pribadi yang terletak di pinggiran danau. Elektra yang waktu itu masih menjadi gadis kecil yang ceria dan enerjik, tak bisa diam terlalu lama. Dia mengajak sang pengasuh untuk bermain petak umpet.


Akan tetapi, Elektra tak ingin bersembunyi di dalam area villa, melainkan di balik pohon hias yang daun-daunnya dipangkas menjadi berbagai macam bentuk hewan, di antaranya adalah gajah dan angsa.


Elektra sudah bosan dengan berbagai macam bentuk hewan itu, sehingga dirinya melompati pagar belakang. Dia lebih tertarik pada pepohonan pinus yang menjulang. Gadis kecil berambut pirang itu berlari kencang sambil menyentuh permukaan pohon, hingga dirinya tak sadar bahwa Elektra sudah berada jauh di tengah hutan.


“Ayah!” Elektra mulai panik. Dia meneriakkan nama Christopher, tapi yang terdengar hanyalah suaranya sendiri yang menggema. “Ayah! Ibu!” seru Elektra berulang-ulang. Namun tetap tak ada jawaban dari siapapun.


Elektra akhirnya memutuskan untuk terus berjalan, sampai dirinya tiba di sebuah pondok kayu tua yang tak terawat. Pondok itu sepertinya tak berpenghuni, jika dilihat dari kondisi dindingnya yang sudah dimakan rayap dan berlubang di sana-sini.


Gadis kecil yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahunnya yang kedelapan itu memberanikan diri untuk membuka pintu depan yang ternyata tak terkunci. Namun, baru saja dia memutar pegangan pintu, ketika tiba-tiba sebuah tangan terjulur dari dalam rumah dan mencengkeram tangannya kuat-kuat.


Elektra memekik ketakutan. Apalagi ketika tangan itu seperti tak ingin melepaskan dirinya. “Ayah!” Elektra berteriak sekuat tenaga.


“Sst! Jangan berisik, atau kau akan membangunkan hantu di pondok ini!” tegur sebuah suara asing.


Elektra seketika terdiam. Energinya yang sedari tadi meluap-luap, hilang entah ke mana. Dia merasa begitu lemas dan tak bisa menolak saat tangan itu menariknya masuk ke dalam pondok.


“Nah, begitu. Dunia akan menjadi lebih damai jika kau tidak berisik,” ujar suara itu lagi.


“Si-siapa kau?” tanya Elektra terbata.


Si pemilik suara akhirnya menunjukkan sosoknya. Dia melepaskan cengkeraman dari pergelangan Elektra, lalu mundur beberapa langkah hingga berdiri di samping jendela. Cahaya matahari yang menerobos masuk dari kaca, memberikan cukup penerangan sehingga Elektra dapat melihat dengan jelas wajah seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang memandang heran ke arahnya.


“Kau … adalah sosok dari pondok hantu itu,” gumam Elektra seiring lamunannya yang memudar dan kembali ke masa kini.


“Kita berjumpa lagi, Lady Elektra Hagen,” Keith membungkukkan badan penuh hormat, lalu meraih tangan Elektra dan mengecupnya.


“Bagaimana bisa? Kau tadi mengatakan bahwa ayahmu melarang pulang ke Irlandia,” Elektra memicingkan mata. Dia menatap Keith curiga.


“Waktu itu, memang aku sengaja melarikan diri tanpa sepengetahuan Ayah. Aku merasa lelah dengan kegiatanku yang terlalu berat. Sepulangnya dari sana, Ayah menghukumku dengan latihan fisik selama tujuh hari berturut-turut,” jelas Keith seraya tertawa.


“Kalian berdua terlihat sangat mencurigakan. Aku tidak tahu siapa lagi yang bisa dipercaya,” celetuk Brianna tiba-tiba. Dia beringsut mundur dan hendak berbalik. Namun, Elektra lebih dulu menahan gerakannya.


“Kau tidak mempunyai pilihan lain, Brie. Aku juga tidak mungkin melukaimu. Kau tadi sempat mendengar sendiri cerita Keith tentang masa laluku,” tutur Elektra.


“Sifatmu yang selalu teliti dan waspada, tidak jauh berbeda dari Tuan Wilson,” Keith membalas kata-kata pedas Brianna dengan sebuah sanjungan. “Itu adalah hal yang positif dalam situasi yang seperti ini,” imbuhnya.


“Aku tak akan memaksamu untuk percaya padaku. Akan tetapi, hari sudah terlalu larut. Kau tentu tak ingin menjadi santapan hewan buas yang masih berkeliaran di hutan lindung Salisbury ini,” ujar Keith dengan santainya sambil membuka pintu pondok lebar-lebar. Mendengar kata hewan buas, Brianna terkesiap. Dia langsung menghambur masuk ke dalam pondok, sampai-sampai menabrak pundak Elektra tanpa sengaja.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Keith lembut saat Elektra sedikit terhuyung ke samping. Pria tinggi dan tegap itu memegangi lengan Elektra dengan hati-hati.


“Tidak,” Elektra menggeleng sembari tersenyum, lalu mengikuti langkah Brianna. Sesampainya di dalam, gadis cantik itu sama sekali tak mengira jika kondisi ruangan di pondok kayu itu, sangat jauh berbeda dengan tampilan luar. Suasananya begitu nyaman dengan dua ranjang kecil di depan perapian, lengkap dengan selimutnya.


“Ranjang milik siapa ini?” tanya Brianna penuh selidik.


“Itu adalah ranjang portabel, bisa dirakit di tempat. Aku membawanya dari kota,” jawab Keith. “Aku tinggal di Salisbury sejak Elektra kembali dari London. Aku terus mengikutinya sekaligus menjelajah wilayah sekitar, hingga kutemukan hutan dan pondok ini,” lanjutnya.


Brianna menanggapi penjelasan Keith dengan anggukan pelan. Diusapnya permukaan ranjang itu dengan senyuman puas. “Sepertinya nyaman,” celetuk Brianna. Tak lama kemudian, dia melepas sepatu dan berbaring di sana.


“Kau juga beristirahatlah. Aku akan berjaga di luar,” ucap Keith lembut pada Elektra. Gadis cantik itu sempat ragu. Sorot matanya terlihat tak nyaman sambil sesekali menggaruk tengkuk.


“Kenapa? Apa ada yang salah?” Keith mengangkat satu alisnya.


“Aku harus melepas wigku, rasanya sungguh tak nyaman,” jawab Elektra.


“Tidak apa-apa. Lepaskan saja. Toh, tak ada siapapun di sini selain kita bertiga,” saran Keith yang segera dilakukan oleh Elektra. Dia langsung melepas wignya yang berwarna hitam. Elektra juga melepas ikatan jaring berwarna hitam yang  menyembunyikan rambut pirang sedikit bergelombang miliknya. Rambut itu tampak begitu indah, membuat Keith begitu terpana.


“Kau cantik sekali,” sanjung Keith tanpa sadar. Segera dia mengulum bibir ketika Elektra memandangnya dengan tatapan heran. “Maafkan ketidaksopananku. Tidurlah,” Keith beranjak dari sana. Dia menuju ke perapian dan memantik korek api untuk menyalakan kayu bakar. Cukup lama sampai muncul percikan api yang semakin besar.


“Meskipun sekarang musim panas, tapi cukup dingin di malam hari. Perapian ini akan menghangatkanmu,” ujar Keith, kemudian menoleh ke arah Elektra yang ternyata telah tertidur sambil memegang wig.


Keith tersenyum samar. Dia mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang. Perlahan dan hati-hati, dilepaskannya wig itu dari tangan Elektra. Dia meletakkan wig tersebut di samping bantal. “Selamat tidur, My Lady,” ucap Keith lirih. Sorot matanya sendu memindai wajah damai Elektra yang terlelap. Keith menyelimuti dan mencium kening keturunan terakhir bangsawan Hagen tersebut, sebelum berjalan keluar pondok.


Tentu saja Elektra tak sadar dengan semua yang dilakukan oleh Keith. Dia tertidur seperti orang yang tak sadarkan diri. Dirinya baru terbangun ketika merasakan seluruh tubuhnya berkeringat. Badannya terasa begitu lengket dan tak nyaman. Elektra memaksakan untuk bangun dan menyibak selimut. “Ah, pantas saja aku merasa pengap,” gerutunya pelan ketika menyadari bahwa tempat tidurnya berada sangat dekat dengan perapian.


Lain halnya dengan ranjang Brianna yang berada agak jauh. Elektra mengamati putri tunggal James yang masih mendengkur pelan. Tak tahan dengan hawa panas yang menyergap tubuh, Elektra turun dari ranjang dan berjingkat ke arah pintu. Dia tak ingin membangunkan Brianna. Elektra membuka pintunya pelan-pelan dan menyelinap keluar.


Matahari baru saja terbit. Sinarnya yang hangat memantul ke permukaan danau kecil yang berada tepat di belakang pondok. Airnya yang jernih dan tenang membuat Elektra ingin sekali berenang. Dia bergegas melepas pakaian di balik semak-semak. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, dia melompat ke danau dan membasahi tubuhnya hingga ke pucuk kepala. Beruntung tempatnya berenang dikelilingi oleh tumbuhan air yang cukup rimbun. Ditambah semak-semak yang menjorok ke arah danau, dapat menyembunyikan sosoknya dari sekitar


Cukup lama Elektra bermain-main dalam air, sampai terdengar suara Keith yang berat memanggil namanya. “Apa kau juga merasa gerah, Elektra?” tanya pria rupawan yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.