The Black Butterfly

The Black Butterfly
Pria Misterius



Setelah sarapan, Elektra bersiap pergi ke kampus. Begitu juga dengan Brianna. Mereka biasanya berangkat menggunakan bus. Namun, meski memiliki jurusan yang sama, Brianna tidak pernah mau berdekatan dengan Elektra. Gadis itu selalu menjaga jarak, terlebih setelah segala hal yang dialaminya akibat kehadiran putri sulung Keluarga Hagen tersebut. Brianna semakin merasa tersisihkan, apalagi setelah mengetahui bahwa Aiken juga memberikan perhatian lebih kepada Elektra.


Setelah jam kuliah berakhir, seperti biasa Elektra selalu langsung pulang. Dia berjalan keluar dari gedung universitas seorang diri, karena Elektra tetap menjadi penyendiri hingga saat ini.


Lain halnya dengan Brianna. Gadis itu sudah memiliki banyak teman baru, dari pertama dirinya masuk. Itulah kelebihan yang dimiliki putri semata wayang James tersebut. Dia sangat supel dan memang memiliki aura bintang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.


Kebencian Brianna terhadap Elektra, terus gadis itu pupuk dari waktu ke waktu. Dia juga mulai menghasut teman-teman barunya agar ikut membenci Elektra. Namun, kali ini Brianna bertindak lebih hati-hati. Akan tetapi, karena terlalu sering melihat Aiken yang terus mengejar-ngejar cinta Elektra, rasa iri, cemburu, dan marah tak dapat dirinya kendalikan lagi.


Siang itu, Brianna dan teman-temannya yang berjumlah sekitar lima orang menghadang langkah Elektra. “Kenapa terburu-buru, Cassie?” tanya gadis itu sambil melipat kedua tangan di dada. Brianna tampak sangat sombong di dekat teman-temannya yang lain.


“Aku harus pulang. Minggirlah,” sahut Elektra. Si pemilik iris mata hijau tersebut menatap lekat kepada Brianna dan kelima temannya yang tersenyum sinis dengan sorot penuh intimidasi. Elektra sudah dapat mencium aroma ketidak-benaran dengan sikap gadis-gadis di hadapannya itu. Namun, dia berusaha menepiskan perasaan tersebut, karena dirinya yakin bahwa Brianna tidak akan berani bertindak macam-macam lagi.


“Kita pulang ke rumah yang sama, Cassie. Apa kau lupa itu? Rumah di mana semua cinta dan perhatian yang tadinya hanya tertuju kepadaku, kini beralih padamu.” Brianna mendorong pundak Elektra menggunakan ujung jari. “Namun, tidak apa-apa selama ayah dan ibu masih memenuhi apa yang kubutuhkan. Tidak apa-apa itu kembali menjadi masalah yang sangat berarti, ketika Aiken mengejar-ngejarmu! Dia seperti seorang pengemis yang mengharapkan belas kasih atas cintamu! Terlihat sangat menyebalkan dan menjijikkan, Cassie!”


Elektra mundur beberapa langkah, saat mendengar nada bicara Brianna yang mulai meninggi. Namun, gadis itu tak dapat semakin menjauh dalam menghindari Brianna, karena tiga dari lima teman Brianna langsung mengurungnya. Mereka berdiri di sisi kiri, kanan, serta belakang Elektra, menahan gadis itu agar tetap di tempat dia berdiri.


“Kalian mau apa?” Elektra berusaha melepaskan tangannya yang dipegangi oleh dua teman Brianna. “Lepaskan!” Elektra terus berontak. Akan tetapi, dia kalah telak dalam jumlah. Elektra tak bisa melawan, saat teman-teman Brianna menyeretnya ke tempat yang lebih sepi.


Gadis-gadis itu membawa Elektra secara paksa melewati halaman yang dipenuhi rumput liar yang lumayan tinggi, sehingga cukup menyamarkan keberadaan mereka.


“Jangan buat dirimu dalam masalah lagi, Brie!” Elektra tidak menyerah. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman teman-teman Brianna, yang terus menyeretnya masuk ke sebuah pabrik terbengkalai. “Kalian! Apa-apaan ini?” Elektra semakin cemas. Dia tak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Brianna dan kelima temannya di dalam sana.


“Tutup mulutmu, Cassie!” sergah Brianna. Dia mengisyaratkan agar teman-temannya mengikat Elektra pada salah satu tiang yang terlihat sangat kotor, berdebu dan terdapat jaring laba-laba. “Kau harus diberi sedikit pelajaran. Jika kubiarkan terus seperti ini, maka aku khawatir dengan kondisi otakku yang pasti akan menjadi gila.” Brianna juga mengikat kaki Elektra, sehingga gadis itu benar-benar tak dapat bergerak.


“Hentikan kegilaan ini, Brie!” sergah Elektra. Dia menatap tajam Brianna dan teman-temannya yang hanya tertawa puas saat melihat Elektra terikat di tiang ruangan.


“Bisa kubayangkan jika di sini pasti sangat gelap saat malam hari,” ujar Brianna seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan pabrik terbengkalai tadi.


“Oh, itu sudah pasti. Belum lagi dengan cerita-cerita mistis yang berkembang seputar pabrik ini. Kau tidak tahu seberapa menyeramkannya, Brie,” timpal salah seorang teman Brianna.


“Ya. Sesuai yang kudengar, di sini pernah terjadi tindakan pemerkosaan yang disertai pembunuhan terhadap beberapa wanita,” ujar gadis itu lagi seraya mendelik kepada Elektra yang terlihat gusar.


“Ah, itu pasti menyenangkan. Aku tidak harus melakukan apapun kepadanya.” Brianna tertawa renyah. Sesaat kemudian, gadis berambut pirang itu terdiam, lalu menatap aneh kepada Elektra. Dia mendekat sambil mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku celana jeans-nya.


“Kalian pikir aku akan merasa puas hanya dengan mengikat dia di tiang seperti ini?” protes Brianna. “Tentu saja, tidak. Bukan seperti itu cara bermainnya, Emma.” Brianna kembali mengarahkan perhatian kepada Elektra yang menatap was-was padanya. Putri semata wayang James tersebut tersenyum sinis, sambil mendekatkan ujung pisau tadi ke wajah cantik Elektra.


“Kenapa, Cassie? Kenapa semua orang menyukaimu? Kenapa segala sanjungan tertuju padamu? Kenapa semua orang mengagumi kecantikanmu, sehingga Aiken pun harus jatuh cinta dan … ah! Aku benar-benar membencimu, Cassie!” Nada bicara Brianna mulai meninggi. Dia bersiap menggoreskan ujung runcing pisau tadi ke wajah Elektra.


Elektra memejamkan mata dengan posisi wajah sedikit menunduk. Dia tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada dirinya.


“Jangan, Brie!” cegah salah seorang teman Brianna.


Akan tetapi, Brianna tak menggubris. Dia tetap mengarahkan pisau tadi, sehingga berhasil melukai sedikit pipi Elektra sampai mengeluarkan darah. Ketika, Brianna akan kembali menggoreskan pisau tadi lebih kuat, tiba-tiba seseorang dengan buff masker dan pakaian serba hitam merangsak masuk ke sana. Orang tadi melempar shuriken yang tepat mengenai pisau, sehingga benda tajam itu terlepas dari genggaman Brianna.


Para gadis memekik nyaring, ketika sosok misterius tersebut berlari ke arah putri tunggal James itu. Mereka berlari tunggang langgang meninggalkan Brianna yang terjatuh saking paniknya. Gadis-gadis itu seolah tak mempedulikan keadaan sahabatnya.


Sementara Brianna tak sempat bangkit. Dia beringsut ketakutan dengan menggeser tubuh langsingnya menjauhi sosok yang berjalan semakin dekat. Brianna tak bisa ke mana-mana ketika sosok itu berhasil meraih kedua tangan dan mencengkeramnya erat.


“Nona Brianna Wilson, aku sudah merekam perbuatanmu sejak tadi. Menurutmu, apa yang terjadi seandainya pihak kampus mengetahui kejahatanmu ini? Kau sudah berniat untuk mencelakai dan menganiaya seseorang. Jika kasus ini bocor, kau dan teman-temanmu akan dikeluarkan dari kampus. Kalian juga tak akan bisa mendaftar ke kampus manapun, mengingat catatan kriminal yang sudah berhasil kau torehkan. Sayang sekali,” sosok misterius tersebut terkekeh pelan. Suaranya tersamarkan oleh buff masker yang dia pakai.


Brianna tak dapat menjawab. Dia hanya memejamkan mata rapat-rapat dengan napas terengah, tatkala hembusan napas pria asing itu menerpa wajahnya. “To-tolong, lepaskan aku,” pintanya memelas.


“Untuk apa aku harus menurutimu? Kau bukan majikanku,” sosok itu tertawa lagi. Dia seakan ingin bermain-main dengan Brianna lebih dulu.


“Aku minta maaf. Aku menyesal. Kumohon!” Brianna mulai menangis. Dia tak dapat membayangkan jika pria di depannya itu akan bertindak lebih jauh.


Si pria bermasker tersebut terdiam sejenak. Dia seperti sedang memikirkan perkataan Brianna. Sesaat kemudian, dia melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Brianna berdiri. “Aku akan terus mengawasimu, Nona Wilson. Jangan sampai kau mengulangi perbuatanmu, atau semua yang kukatakan tadi akan benar-benar terjadi padamu,” ancamnya.


Suara berat, lirih dan serak tersebut benar-benar menakutkan bagi Brianna. Suara itu seolah menancap dalam kepalanya, membuat tubuh rampingnya gemetaran. Gadis itu tak ingin berlama-lama di sana. Dia segera berbalik meninggalkan Elektra yang masih berada dalam keadaan terikat dengan begitu saja.


“Apa kau baik-baik saja?” sosok yang memakai buff masker itu langsung berbalik menghadap Elektra yang memasang raut datar.


Putri sulung Keluarga Hagen itu tak menjawab. Dia hanya mengarahkan matanya kepada pria yang saat itu tengah melepas masker yang menutupi wajah. Seketika Elektra terbelalak. Mulutnya terbuka lebar ketika menyadari bahwa sang dosen muda lah yang ternyata berdiri di depannya. “Robby Fletcher? Ka-kau?” desis Elektra tak percaya.