
Elektra berjalan lesu mengikuti langkah Cornelius ke ruangan lain. Namun, lama-kelamaan dia merasa bosan dengan topik pembicaraan yang sama sekali tak menarik baginya. Terlebih, perasaan aneh yang sedari tadi mengganggu hati Elektra, sangat membuatnya tidak nyaman.
Ada satu hal tentang Keith yang terasa mengganjal. Elektra sangat menyukai sikap pria rupawan itu terhadap dirinya. Segala sesuatu yang ada pada diri Keith, begitu menarik perhatian gadis cantik tersebut. Akan tetapi, kenyataan bahwa Keith akan menikah dengan gadis lain, membuat Elektra merasa sedih. Seperti ada sesuatu yang menyayat hatinya.
“Ah,” Elektra mengempaskan napas pelan. Dia tak tahan lagi berada di tempat itu, sehingga dirinya memberanikan diri untuk berpamitan pada Cornelius. “Aku ke kamar dulu, Paman. Tiba-tiba saja aku merasa lelah,” ujar Elektra. Dia juga membungkuk penuh hormat kepada Collin dan Flynn.
Elektra tak menoleh lagi meskipun dia dapat merasakan pandangan mata semua orang tertuju padanya. Yang dia inginkan saat itu hanyalah berbaring di tempat tidur dan memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya.
Namun, ketika dia melintas di depan kamar Brianna, tiba-tiba pintu kamar putri tunggal James itu terbuka. Brianna keluar dari sana sambil membawa sebotol air. “Kau sudah pulang? Cepat sekali?” tanya Brianna. “Aku baru saja mau mengambil kudapan di dapur,” lanjutnya tanpa ditanya.
Elektra tak menanggapi pertanyaan Brianna. Dia tampak berpikir keras tentang sesuatu. “Bolehkah aku masuk ke kamarmu? Aku ingin bercerita,” pinta Elektra ragu.
“Masuk saja, aku bisa mengambil kudapan nanti,” Brianna akhirnya mengajak Elektra duduk di atas ranjang berukuran besar.
“Bagaimana kencanmu dengan dosen muda itu? Apa dia sudah mengundurkan diri dari kampus? Dia tidak akan kembali lagi ke Salisbury, ‘kan?” cecarnya.
Elektra mengangkat kedua bahu. “Aku tidak tahu. Aku belum sempat menanyakan hal itu padanya,” jawabnya lirih.
“Memangnya apa saja yang kalian bicarakan di sana, sampai-sampai kau tidak menanyakan hal yang sepenting itu?” Brianna menautkan kedua alis seraya memasang mimik heran.
“Aku … kami ….” Elektra tergagap. “Dia tiba-tiba menciumku, Brie. Aku sangat terkejut, sehingga tidak bisa memikirkan apapun. I-ini adalah ciuman pertamaku,” tutur Elektra gugup.
“Ya, ampun. Kau baru kali ini berciuman? Bagaimana dengan Aiken yang selalu mendekatimu itu? Apa kau tak pernah bermain-main dengannya?” pancing Brianna. Sikap ketusnya kembali muncul.
“Aku bukan gadis murahan, Brie. Bagaimana bisa seseorang mencium lawan jenis yang bahkan tidak dia suka,"”gerutu Elektra kesal.
“Aneh sekali jika kau tidak menyukai Aiken, Cassie. Tidak ada gadis yang tidak menyukainya,” sahut Brianna enteng.
“Tidak semua, karena aku tidak pernah tertarik kepadanya,” balas Elektra yang semakin sebal dengan sikap Brianna.
“Kau memang aneh, Cassie. Entah seperti apa tipe pria kesukaanmu. Yang jelas, gadis-gadis seusia kita seharusnya sudah berkali-kali berciuman,” timpal Brianna tak mau kalah.
“Bagaimana denganmu? Memangnya, kau sudah berapa kali berciuman hingga usiamu sekarang?” tanya Elektra, yang seketika membuat Brianna tampak gelagapan.
“Itu urusan pribadi. Untuk apa kuberitahukan padamu,” sahut Brianna ketus seraya membuang muka. Dia tak mungkin mengakui bahwa dirinya kalah. Gadis itu belum mendapatkan ciuman pertamanya. Namun, dia terlalu gengsi untuk mengakui hal tersebut di depan Elektra.
“Ah, sudahlah. Berbicara denganmu semakin membuatku pusing,” Elektra mendengus kesal. Dia merasa tak ada gunanya bercerita dengan Brianna. Gadis itu malah memojokkannya.
Elektra menunduk, menikmati pemandangan taman belakang kastil.
Tanpa sengaja, iris mata hijaunya menangkap sosok Keith mendorong Evangeline ee yang duduk di kursi roda. Mereka tampak berbincang akrab. Keith berkali-kali melemparkan senyumannya yang menawan.
“Astaga,” hati Elektra semakin sakit melihatnya. Namun, kedua kaki gadis itu seolah tak dapat digerakkan.Alhasil, Elektra hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri. Jauh di dalam hati, Elektra sangat ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan, walaupun tak mungkin baginya untuk melompat turun untuk sekadar menguping.
Nyatanya, Evangeline tengah bertanya pada Keith tentang semua yang berhubungan dengan pria tampan itu. “Sejak kapan kau tinggal di London?” Lembut suara putri tunggal keluarga Walsh itu menyapa pendengaran Keith.
“Sejak aku lahir. Ibuku merawatku di sana, dibantu oleh beberapa orang pelayan,” jawab Keith.
“Kenapa paman Cornelius menyembunyikan keberadaanmu pada seluruh anggota lima bangsawan?” tanya Evangeline ee lagi.
“Sampai sekarang, aku tidak mendapatkan alasan yang pasti. Akan tetapi, ayah sering mengatakan bahwa aku dipersiapkan untuk menjadi penjaga terkuat di organisasi. Tanggung jawabku adalah menjaga keamanan Keluarga Hagen. Sayang sekali, peristiwa mengerikan itu terjadi saat aku masih belum siap,” jelas Keith panjang lebar.
“Ah, ya, aku juga mendengarnya dari ayah. Kasihan sekali Elektra. Dia adalah gadis yang sangat cantik,” tutur Evangeline, membuat angan Keith melayang kembali ke beberapa saat yang lalu, ketika dirinya mendapat kehormatan dapat mencium bibir Elektra yang terasa begitu manis dan lembut.
“Ya, dia memang sangat cantik. Elektra merupakan gadis yang istimewa,” balas Keith. Dia menimpali dengan kata-kata yang tidak dirinya sadari, karena pikiran pria tampan tersebut tengah melanglang buana pada beberapa momen saat dia dan Elektra tengah berada di hutan.
“Apa kau menyukai gadis itu?” tanya Evangeline tiba-tiba, Pertanyaan yang membuat Keith seketika tersadar. “Usiaku sudah dua puluh tahun. Aku bisa membedakan makna dari tatapan seseorang untuk lawan jenis yang disukainya, meskipun selama ini aku hanya menghabiskan waktu di dalam kamar,” ujar gadis cantik berambut pirang itu. Raut wajahnya terlihat sedikit berbeda, setelah berkata demikian.
“Elektra berusia enam belas tahun saat ini. Dia masih sangat belia. Entahlah, aku tidak tahu akan seperti apa. Namun, ayah mengatakan bahwa aku telah dijodohkan denganmu. Kita harus menikah. Itulah keputusan yang telah diambil,” ucap Keith memaksakan diri untuk tersenyum.
Evangeline tidak segera menanggapi. Gadis bermata biru itu menatap lekat pria tampan di sebelahnya. Dia lalu tersenyum lembut. “Kau bisa menolak jika merasa keberatan. Aku bisa memahami apa yang ada dalam pikiranmu.”
Keith menautkan alis setelah mendengar ucapan Evangeline. Terlebih, saat melihat senyum kelu yang mengiringi tutur katanya. “Maksudmu?” tanya Keith hati-hati, meski sepertinya dia sudah bisa menebak ke mana arah yang Evangeline maksud.
“Lihatlah kondisiku saat ini. Jangankan untuk melakukan sesuatu. Sekadar ingin berpindah tempat saja, aku membutuhkan bantuan orang lain. Sebenarnya, aku sudah menolak perjodohan ini. Namun, ayah dan Paman Flynn mengatakan bahwa pernikahan kita bisa membawa kekuatan yang jauh lebih besar, untuk mengembalikan kestabilan dalam organisasi,” tutur Evangeline.
“Aku juga tak akan memaksamu, Keith. Kau sangat tampan dan memiliki tubuh yang sempurna. Kau berhak menikahi gadis yang terbaik dari yang paling baik. Aku tidak mau jika hal ini menjadi beban bagimu. Masih ada waktu jika kau ingin mundur. Aku tak akan memaksa,” ucap gadis itu lagi pasrah. Dia lalu mengarahkan perhatiannya pada beberapa tanaman bunga yang ada di dekat mereka. “Maukah kau memetik satu tangkai untukku?”
“Tentu.” Keith beranjak dari tempatnya. Dia memetik sekuntum mawar berwarna putih yang sudah mekar sempurna. Tanpa diminta, pria tampan tersebut menyelipkan bunga cantik tadi di telinga sebelah kiri Evangeline.
Apa yang Keith lakukan, tentu saja membuat Evangeline tersenyum manis dan merasa tersanjung. Akan tetapi, hal itu justru membuat paras cantik Elektra seketika menjadi muram bagaikan bunga yang layu.