
“Ah, lupakan perkataanku barusan,” Keith menarik kalimatnya, lalu tertawa pelan. “Maaf, karena sudah membuatmu merasa tak nyaman,” imbuhnya. Keith kembali sibuk membolak-balik kulit serigala itu sambil mengasah pisau berburunya di atas permukaan batu.
Sementara Elektra yang sempat tertegun atas ungkapan Keith tadi, hanya bisa tersenyum samar. “Aku akan melihat keadaan Brianna,” dalihnya. Buru-buru dia masuk ke dalam pondok dan mendapati Brianna tengah membongkar tas ransel yang teronggok di sudut ruangan.
“Milik siapa itu?” tanya Elektra penuh selidik.
“Milik siapa lagi kalau bukan dosen aneh itu,” jawab Brianna ketus. “Lihat ini,” ujarnya seraya menyodorkan beberapa lembar foto pada Elektra.
“Ini foto-fotoku saat acara keluarga beberapa tahun yang lalu,” gumam Elektra sambil mengamati satu demi satu potret kebersamaannya dengan sang ayah. “Usiaku masih sebelas saat itu,” Elektra mengempaskan napas pelan. “Aku menyesal karena jarang sekali mengabadikan foto-foto bersama kedua orang tua dan adik-adikku. Aku bahkan tak suka difoto,” gadis cantik berambut pirang itu tertawa getir.
“Kenapa selama ini kau memakai wig?” tanya Brianna tiba-tiba, membuat Elektra terbelalak. DIa langsung meraba rambutnya yang indah bergelombang.
“Astaga, aku lupa memasangnya kembali,” keluh Elektra. “Selama ini, ayahmu berusaha mati-matian untuk menyembunyikan diriku agar tak ditemukan oleh siapapun. Dia memberikanku identitas dan rambut palsu. Namun ternyata … semua sia-sia. Mereka tetap mengetahui keberadaanku.”
“Apakah itu berarti bahwa kematian ayah dan ibuku sia-sia?” mata Brianna berkaca-kaca saat berkata demikian.
Elektra tertegun sejenak. Sorot matanya yang sendu memperhatikan raut sedih Brianna. Elektra menyadari satu hal saat itu. “Tidak, aku tidak akan membuat kematian mereka sia-sia. Aku berjanji padamu, Brie,” tukas Elektra dengan yakin.
“Bagaimana caranya? Kita tidak akan bisa melakukan apapun di tengah hutan belantara seperti ini. Jujur saja, aku muak dengan keadaan seperti ini,” Brianna mengomel sangat cepat, seolah berusaha untuk mengeluarkan semua yang dia pendam di dalam hatinya.
“Bersabarlah sejenak. Aku akan memikirkan cara agar kita dapat keluar dari situasi semacam ini,” tutur Elektra.
“Ah, marah-marah membuatku lapar,” Brianna mengusap-usap perut, sedangkan matanya nyalang menatap lantai pondok yang juga terbuat dari kayu. “Biasanya pagi-pagi sekali ibuku sudah menyiapkan sarapan, lalu kami sarapan bersama sambil bercerita tentang hal-hal yang seru,” paparnya tanpa diminta.
“Biasanya jika bersedih, maka aku akan tidur seharian. Setidaknya aku bisa melupakan sejenak kesedihanku dengan bermimpi,” timpal Elektra.
“Apakah kau bisa tidur setelah kejadian mengerikan yang menimpa keluargamu?” tanya Brianna dengan raut pilu.
“Setengah mati aku mencoba untuk tidur, walaupun harus berakhir dengan mimpi buruk. Namun setidaknya aku bisa menemui keluargaku di alam mimpi,” Elektra tersenyum getir.
“Setidaknya kita bisa bertemu dengan mereka meskipun hanya sekejap saja,” sahut Brianna seraya mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. “Kita tidur saja untuk menghalau rasa lapar,” gumam gadis itu dengan mata terpejam. Tak membutuhkan waktu lama bagi Brianna untuk tertidur.
“Sepertinya aku juga harus tidur,” Elektra ikut naik ke ranjangnya sendiri dan berbaring meringkuk. Tanpa sadar, dirinya terlelap sampai sebuah tepukan lembut membuatnya terjaga.
“Makan malam sudah siap, Elektra,” bisik Keith lembut.
Gadis cantik beriris mata hijau itu langsung terduduk dan menoleh ke arah Brianna. Putri tunggal James tersebut masih nyenyak tertidur. “Aku akan membangunkannya dulu,” Elektra menyibakkan selimut lalu turun dari ranjang menghampiri Brianna.
“Kita makan dulu, Brie,” Elektra mengguncangkan bahu Brianna sampai gadis itu terbangun.
“Apa ini sudah pagi?” tanya Brianna lirih sambil memicingkan mata.
“Ini malam hari,” sahut Keith. “Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian.”
“Baiklah,” dengan langkah gontai, Brianna mengikuti Elektra berjalan ke halaman belakang pondok. Di sana, dia melihat Keith tengah memutar daging asap yang diletakkan di atas api unggun. Setelah benar-benar matang, Keith mengiris daging itu tipis-tipis, kemudian meletakkannya di atas tiga lembar daun yang berukuran cukup lebar.
Pria bertubuh tinggi dan tegap itu membagikan daging tersebut untuk Elektra dan Brianna. Dia juga menyiapkan untuk dirinya sendiri. “Bon appetit,” ucapnya seraya mengangkat daun yang digunakan sebagai wadah makanannya.
Brianna tak menanggapi. Dia langsung melahap daging itu dan mengunyahnya cepat-cepat sampai habis. “Ini enak sekali,” sanjungnya sembari mengunyah. Apakah ini daging rusa?” tanya Brianna.
“Anggap saja begitu,” jawab Keith enteng. “Yang jelas, hewan ini berkaki empat.”
“Jangan bercanda. Aku bertanya serius padamu,” hardik Brianna.
“Kenapa kau harus bertanya? Bukankah tadi pagi kau melihat kegiatanku?” balas Keith dengan nada bicara yang terdengar tenang.
“Tadi pagi aku masih mengantuk sehingga tidak bisa berkonsentrasi, lagipula aku juga merasa sangat lapar ….” Brianna tak melanjutkan kalimatnya. Dia memandang Keith curiga. Terlebih saat ekor matanya menangkap kulit hewan yang sempat dia lihat tadi pagi. Kulit hewan yang tadinya dijemur di atas bebatuan, kini sudah menjadi alas duduk Keith.
Brianna seketika melotot ketika Keith memutar alas duduk dan menampakkan jelas kepala serigala yang telah bersih dan kering pada gadis itu. “Ja-jangan katakan kalau daging yang kumakan tadi ….” Perut Brianna tiba-tiba mual. Dia membayangkan daging serigala yang sudah masuk ke dalam lambungnya.
“Ini daging monyet,” jawab Keith asal, membuat isi perut Brianna naik sampai ke kerongkongan.
“Tidak, tidak, aku bercanda. Ini adalah daging serigala yang sudah berhasil kubunuh tadi pagi,” ralat keith dengan santainya.
“Kau gila ….” Umpat Brianna sebelum berlari ke tepi danau dan memuntahkan seluruh makan malamnya.
“Aku membencimu, Keith! Aku membencimu!” pekik Brianna berulang-ulang penuh kebencian.
“Kau keterlaluan,” Elektra berdecak pelan. Tak disangka bahwa di balik sikap Keith yang senantiasa tenang dan kalem, terdapat sisi lain yang sedikit kekanak-kanakan.
“Aku hanya sedikit menggodanya, Elektra. Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan perlakuannya padamu selama bertahun-tahun,” ujar Keith membela diri.
“Ah, sudahlah,” Elektra mengibaskan tangan sebagai isyarat agar Keith berhenti berbicara. Saat itu, dia berniat untuk menyusul dan membujuk Brianna. Akan tetapi, Elektra tak menemukan keberadaan gadis itu di tempatnya.
“Brie?” panggil Elektra sambil menyusuri tepian danau kecil. Dia menajamkan penglihatan karena minimnya pencahayaan. Satu-satunya sinar terang adalah berasal dari api unggun yang digunakan keith untuk memanggang daging.
“Brie?” panggil Elektra lagi. Kali ini dia memasuki pondok dan mencari di sana. Namun, sosok Brianna tak juga terlihat. Elektra yang panik, bergegas keluar dan menghampiri Keith. “Brianna menghilang!” serunya. “Apa menurutmu dia telah diculik oleh seseorang?” racau Elektra.
“Aku meragukan hal itu. Akan tetapi, setiap kemungkinan bisa saja terjadi,” Keith langsung berdiri dan menyiapkan pisau lipat berburunya yang sudah memakan korban seekor serigala.
“Berjalanlah di belakangku, Elektra,” Keith menarik tangan putri sulung keluarga Hagen tersebut. Dengan langkah hati-hati, dia berjalan menyusuri pepohonan lebat di kawasan hutan. Tak lupa, Keith menyalakan senternya.
Keith baru berhenti saat melihat sehelai kain tersangkut di ujung dahan semak-semak. “Apakah menurutmu ini adalah bagian dari dress yang dipakai oleh Brianna Wilson?” desisnya sembari memperlihatkan kain itu pada Elektra.