
“Ini sobekan baju milik Brianna,” desis Elektra. Saking takut dan khawatir, kedua tangan gadis itu sampai gemetar.
“Sebaiknya kita kembali ke pondok sekarang. Ini sudah terlalu larut. Akan sangat percuma mencari seseorang di tengah hutan dalam keadaan gelap begini,” ujar Keith seraya menuntun Elektra kembali ke pondok.
Elektra tidak membantah sama sekali. Dia hanya terdiam dan menuruti semua perkataan Keith. Gadis itu bahkan tak menolak, ketika Keith melepas sepatu lali membaringkannya di ranjang.
“Aku yakin Brianna pasti akan baik-baik saja. Dia tidak dimakan oleh hewan buas atau diculik,” hibur Keith dengan nada bicaranya yang lembut terhadap Elektra.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Elektra ragu.
“Instingku mengatakan demikian. Aku sangat yakin bahwa Brianna menghilang karena melarikan diri. Dia mungkin tidak tahan harus tinggal di hutan seperti saat ini,” jawab Keith.
“Anggap saja begitu,” sorot mata Elektra yang sendu, memantik perasaan aneh dalam hati Keith.
“Beristirahatlah. Besok kita akan mencarinya lagi.” Keith menutupi tubuh Elektra dengan selimut hingga sebatas dagu. Setelah itu, dia melangkah keluar pondok untuk berjaga di sana. Seperti biasa, Keith selalu melakukan hal seperti itu setiap malam. Dia selalu terjaga untuk mengawasi sekitar pondok tersebut.
Elektra yang kelelahan, segera terlelap. Gadis itu tidur sangat nyenyak, hingga tak menyadari bahwa malam telah berlalu. Elektra baru membuka mata, ketika Keith masuk dan menimbulkan suara yang membuatnya terbangun. “Apa ini sudah pagi?” tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.
“Ya. Matahari baru menyingsing. Di luar masih cukup dingin,” jawab Keith. Tak terlihat rona lelah di wajah tampannya. Entah bagaimana pola hidup pria itu, karena Elektra sendiri merasa heran.
“Tak ada alarm yang membangunkanku,” ujar Elektra seraya bangkit, lalu duduk beberapa saat di tepian tempat tidur portable yang sengaja disiapkan Keith di sana.
“Tak masalah. Jika malam datang, kau akan mendengar lolongan serigala atau anjing hutan. Jika hari berganti siang, maka suara kicauan burung yang akan kau nikmati,” ujar Keith. “Terdengar sangat sempurna ya?” Pria itu tersenyum kecil. Dia yang tengah menyiapkan ransel yang entah berisi apa, mengalihkan perhatian kepada Elektra. Gadis itu terlihat sangat kacau dengan wajah lusuh dan rambut acak-acakan. Namun, Elektra masih terlihat manis.
Keith tersenyum kecil seraya menggeleng samar. “Aku menyimpan sisa daging kemarin untuk sarapan kita hari ini,” ucap Keith. Dia melihat sekilas kepada Elektra. Gadis itu tampak sedang melamun.
“Brianna?” Elektra tidak menanggapi apa yang Keith ucapkan. Dia benar-benar tidak berkonsentrasi.
“Kita akan mencarinya setelah sarapan. Jangan khawatir.” Keith kembali menoleh seraya tersenyum kalem. Dia berdiri, lalu menghampiri Elektra yang masih termenung. “Mari. Kita tidak boleh membuang waktu,” ajak Keith.
Elektra menoleh. Tanpa menanggapi dengan kata-kata, gadis itu mengikuti langkah Keith. Pria berambut coklat tersebut berjalan gagah menuju tempat dirinya memanggang daging serigala tadi malam. Tanpa ada rasa jijik, Keith menghangatkan daging itu di atas perapian yang baru dinyalakannya. .
Keith lalu mengiris daging itu menjadi beberapa bagian. Pria itu memberikannya pada Elektra. “Setelah menemukan Brianna, sepertinya kita harus mencari tempat persembunyian lain. Hutan bukanlah bukanlah wilayah yang aman.” Keith mengembuskan napas pelan. Matanya menerawang ke arah danau kecil berair jernih.
“Aku tidak bisa berpikir. Aku akan mengikuti apapun yang kau katakan. Tak ada alasan bagiku untuk tidak menyetujuinya,” sahut Elektra tak bersemangat.
“Baiklah.” Keith mengalihkan perhatiannya pada Elektra. “Cepat habiskan makananmu. Aku yakin, Brianna pasti belum pergi terlalu jauh dari sini.”
“Kuharap dia baik-baik saja,” ujar Elektra seraya mengunyah makanannya.
“Dia akan baik-baik saja,” balas Keith yakin.
“Brianna anak yang manja. Dia jarang melakukan segala sesuatu sendiri. Aku tidak yakin dia bsa bertahan di luar sana.” Elektra begitu resah saat tak kunjung menemukan keberadaan Brianna, padahal hari sudah menjelang siang. Matahari bahkan tak lama lagi akan berada tepat di atas kepala.
“Tenanglah. Kita masih belum menjelajah sisi utara,” hibur Keith menenangkan. “Ayo.” Pria rupawan itu tak melepaskan genggaman tangannya dari Elektra. Dia membawa gadis itu melewati semak-semak rimbun, lalu berhenti sejenak di tepi sungai. “Minumlah dulu.” Keith mengarahkan Elektra agar menurunkan tubuh, lalu meraup air menggunakan kedua tangan. Dia meminum air jernih itu beberapa teguk. Keith seperti tengah mengajari gadis itu. “Anggaplah kita sedang mengikuti latihan pramuka,” ujarnya mencoba menghibur Elektra, yang mengikuti dirinya.
“Segar sekali. Bagaimana kau bisa yakin bahwa air ini aman untuk diminum?” tanyanya sedikit ragu. Namun, Elektra kembali mengambil air dengan tangan, lalu meneguknya lagi. Gadis itu memejamkan mata, merasakan kesegaran air yang membasahi tenggorokannya.
“Kita beristirahat sebentar di sini,” ujar Keith seraya mengarahkan pandangan ke sekitar tempat mereka berada.
“Baiklah.” Elektra menurut. Dia duduk di dekat sebatang pohon sambil menatap langit yang terlihat sangat cerah.
Hingga beberapa saat, mereka memulihkan tenaga di sana. Saat keduanya bersiap melanjutkan pencarian, sayup-sayup terdengar suara Brianna yang berteriak memanggil nama James.
“Kau dengar itu?” Elektra langsung berdiri seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar.
“Ya. Ikuti aku.” Dengan langkah cepat, Keith berlari menyeberangi sungai dan menyibak tanaman perdu yang cukup rimbun. Keith mengembuskan napas lega, saat melihat Brianna yang tampak kebingungan di dekat sebatang pohon.
“Kami mencarimu ke mana-mana, Brie.” Elektra segera menghambur dan memeluk Brianna yang tampak kacau.
“Aku tidak sanggup berada di sini! Aku ingin pulang. Tolong antarkan aku pulang,” racau Brianna.
“Iya, Brie. Kita akan pulang sekarang juga. Benar kan, Keith?” Elektra menoleh pada pria itu untuk meminta persetujuan.
Dosen muda tersebut tak segera menjawab. Dia memijat tengkuk sebelum menggunakan telepon genggam satelit yang tak pernah terlepas ikat pinggangnya. Keith menghubungi seseorang sebelum mengambil keputusan. “Ayah, berikan tujuan baru untuk kami. Suatu tempat yang jauh dari Salisbury, atau Irlandia Utara,” ucap Keith tanpa basa-basi.
“Kau tahu jika kita akan membutuhkan uang yang banyak untuk bersembunyi di luar negeri,” balas sang ayah dari seberang sana.
“Aku akan mencari cara untuk mengumpulkan uang, asalkan kau memberikan tujuan yang jelas pada kami,” desak Keith.
“Tunggu sebentar. Akan kuperhitungkan dulu segala sesuatunya. Nanti kuhubungi kau lagi.” Cornelius mengakhiri panggilannya. Dia tak langsung memberikan jawaban, sehingga membuat Keith tercenung sejenak.
“Apakah ada masalah?” tanya Elektra was-was.
“Kita kembali untuk mengemasi barang-barangku, lalu mencari jalan keluar dari hutan,” ajak Keith yang langsung membalikkan badan, lalu berjalan ke arah pondok.
“Ayo, Brie,” ajak Elektra setengah memaksa Brianna yang masih terpaku. Dia menuntun putri James tersebut, dan bergegas menyusul Keith.
Setelah tiba di pondok dan berkemas, Keith mengajak dua gadis itu keluar dari hutan lindung. Dia tetap waspada dalam setiap langkah saat menyusuri jalan setapak, hingga mereka tiba di lokasi yang berada tepat di seberang rumah James.
Dari kejauhan, Brianna memperhatikan rumahnya yang dipenuhi garis polisi. Tampak juga pihak berwajib dan beberapa mobil patroli berlalu lalang di depan rumah tersebut. “Sepertinya kita tidak bisa masuk ke sana,” ujar Brianna dengan raut penuh sesal.