
Hari mulai gelap, aku dengan Chuya masih mencari tempat untuk istirahat dengan menyusuri hutan yang sangat lebat.
Sreek... sreek...
Ada sesuatu yang membuat semak-semak di hutan itu bergerak.
"Chi... itu apa ? ", tanya Chuya sambil memegang tanganku dengan erat.
Dengan pedenya, aku pun langsung memeriksa semak-semak itu...
Sosok laki-laki perlahan menampakkan dirinya dan dia adalah...
Tap... tap... tap...
"Oh... ada Chuya dan Asaka ya disini ", ucap Rey.
"Eh... Rey kok kamu bisa disini ? ", tanya Chuya sambil melepaskan genggaman tanganku.
"Tadi aku tidak sengaja terpental saat melawan Naga Finstren sih... dan aku pun jatuh di sini ", ucap Rey.
Mereka pun ngobrol panjang sambil berjalan mencari tempat yang tepat untuk istirahat.
Aku hanya diam, sambil menyimak obrolan mereka yang terlihat asik.
Tiba-tiba Chuya kesakitan...
"Awww... leher ku sakit... tolong aku ", ucap Chuya sambil memegang lehernya
"Hehh Chuya, gara-gara kalung itu lagi ya ", ucap Rey sambil mendekati Chuya.
"Hah? apa maksudmu Rey? berarti kamu sudah tahu kalau kalung itu seperti kutukan ? ", tanyaku sambil membuka buku sihirku.
"Uhm iya benar... hanya saja aku tidak mampu untuk melepas segelnya, dan kutukan ini akan bekerja jika Chuya tidak segera kembali ke orang yang memberikan kutukan ini ", ujar Rey dengan tatapan serius menghadapku.
"Reyyy!!! kenapa kamu kasih tahu ke dia, huft... aww... sakit ", ucap Chuya yang masih memegangi lehernya.
Aku pun langsung mencari mantra sihir untuk menghilangkan kutukan Chuya.
"Aha ketemu, hihihi...", kataku sambil tertawa.
" Recovery ", ucapku sambil mengarahkan telunjukku ke kalungnya Chuya.
(Note: Recovery adalah skill sihir tingkat 10)
Kalungnya pun hancur menjadi partikel kecil berwarna biru yang makin lama menghilang, Chuya sudah terbebas dari kutukan tersebut, kini dia sudah bisa berbuat sesukanya.
"Eh aku sudah tidak merasa sakit...", ucap Chuya.
"Haha haha... syukurlah ", ucapku dengan muka tersenyum kecil.
Rey pun melihatku dengan tatapannya yang terlihat kalem, dia mulai mempercayaiku sebagai orang yang baik, namun...
"Ternyata Asaka ehm... kamu kuat juga ya, terima ka---".
Brukk...
Aku terjatuh dan sekujur tubuhku terasa lemas, aku tidak bisa bergerak lagi karena semua Indraku tiba-tiba mati rasa. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.
...----------------...
Esok Hari pun tiba
"Ugh... Woi bodoh kau menghalangi jalanku, minggir sana... uhm...", teriakku yang sedang bermimpi.
"Wah.. imut juga ya dia kalau lagi tidur, hihihi ", ucap Chuya kepada Rey.
"Huum... ngomong-ngomong dia anak yang baik ya, padahal belum kenal kita untuk waktu yang lama tapi mau membantu kita ", balas Rey.
"Chuya... bisa kenal dia dulu saat dimana ? ", tanya Rey sambil menyiapkan sarapan pagi di tengah hutan.
"Oh anu... itu... aku menusuknya di Hutan Ein hehehehe...", ujar Chuya dengan ekspresi meringis.
"Pfftt, hahaha... tapi dia bisa hidup lagi ya... aneh loh, sudah 2 kali juga saat disekolah itu aku melihatnya dia terluka parah ", ujar Rey sambil tertawa sedikit.
"Hmm kalau dipikir-pikir, apa dia itu salah satu Raja Iblis ya... tapi sepertinya bukan, dia terlalu baik untuk jadi Raja Iblis ", ujar Chuya.
"Awalnya aku pun sama, mengira kalau dia adalah orang jahat, namun setelah kenal dia ternyata dugaanku salah, yah bersyukur aja ada orang kuat yang baik seperti dia ", ucap Rey sambil duduk di atas batang pohon.
Aku pun terbangun dari tidurku karena suara mereka mengobrol.
"Hoaamm... unch... apasih berisik sekali kalian ini ", ucapku dengan keadaan setengah sadar.
"Hihihi ", ucap mereka berdua.
"Oh ada apa ? ", jawabku kebingungan.
Kruyuk... kruyuk...
Perutku berbunyi menandakan aku kelaparan.
"Hehehe, aku makan boleh?" ucapku yang tidak sabar ingin memakan sup itu.
"Boleh, silahkan makan sepuasnya ", ujar Rey.
Aku pun langsung menyantap habis-habisan sup buatan Rey, tidak kusangka ternyata rasanya enak sekali sehingga aku tidak bisa berhenti memakannya.
Aku pun kenyang, perutku penuh dengan makanan. Tiba-tiba Chuya mengelap makanan yang ada di dekat bibirku dengan cara memakannya.
Blushhh////(tersipu malu)
Dag dig dug
Jantungku berdetak kencang saat Chuya melakukan itu.
"Chu-chuyaaa... apa yang kamu lakukan", ucapku dengan ekspresi malu.
"Hihihi...", balas Chuya sambil tersenyum manis.
"Ahahaha sudahlah Chuya, kamu memang suka ya menggoda dia ", ucap Rey sambil mempersiapkan barang-barang kami.
"Baiklah... ngomong-ngomong... kita akan pergi kemana ya ? ", ucap Chuya sambil memasang muka imut.
"Kita akan ke barat dan mencari daerah permukiman dahulu untuk meningkatkan skill sihirku ", ucapku.
"Ohh daerah pemukiman ya... aku tahu permukiman yang dekat disekitar sini, emm tidak, mungkin itu kota besar sih", ujar Rey.
"Terima kasih infonya, aku akan berkemas dulu ", ujarku sambil mengambil tas dan buku sihirku.
"Oh iya aku lupa... aku kan punya naga, biar lebih cepat, hehehe", ujarku sambil menggaruk garuk kepala.
"Heeehh... kenapa gak dari kemarin coba, huft Chuya capek jalan gini ", ujar Chuya dengan kesal.
"Hehe ya udah maaf, sebentar ya... Summon Pet ", ucapku sambil merapalkan mantra.
lingkaran sihir pun muncul dan muncullah sosok yang tak asing bagiku.
Wushhhh... Gruoahhhh...!!!
Chuya dan Rey seketika terdiam sembari melihat wujud naga yang sangat mengerikan itu.
"Ada apa wahai tuanku... ups maksutku bocah ", suara Lord Dragon kemarin.
"Oh... ternyata kau masih hidup ya, kukira sudah mati, ahahaha ", jawabku dengan nada ngejek.
"Bacot kau bocah, huft... ngomong-ngomong kau belum memberiku sebuah nama, sebelum diberi nama aku tidak akan mematuhimu ", Ujar naga itu.
"Oh iya ya... apa ya enaknya hum...", gumamku.
"Ahaa... bagaimana kalau Ryu, hihihi ", ujarku dengan meringis.
"Ryu ya... MENARIKKK... AKU SUKA, HAHAHA ", balas naga itu dengan suaranya yang sangat keras.
Langsung disetujuin dong, nagampangan deh.
Setelah memberi nama ke naga, Aku, Rey, dan Chuya segera menaiki Ryu untuk pergi ke arah timur.
Wusshhhh...
Kami melesat dengan kecepatan sedang agar tidak jatuh, sambil menunggu ditempat tujuan, kami berbicara sedikit.
"Ngomong-ngomong kapan kalian jadian ? ", kata Rey yang duduk diposisi paling belakang.
"Heh? maksudnya...", ucapku.
Chuya tidak berkutik namun dia terlihat malu sembari membuang mukanya dari hadapanku.
"Heh... Rey hentikanlah, kasian Chuya loh ", ucapku yang duduk diposisi paling depan.
"Ahahaha aku paham aku paham, tapi bro saranku cepat tembak dia ya, sebelum dia diambil orang loh, hihi... tenang saja, gwe cuman sahabat masa kecilnya kok ", ujar Rey.
"Humm tapi... ", ucapku dengan memasang muka malu.
"Woi bocah, kita sudah hampir sampai di sebuah kota, lihatlah kedepan...", ucap Ryu.
Kami pun turun agak menjauh dari kota itu agar tidak menjadi heboh dengan kedatangan nagaku.
"Yoshh... petualangan baru saja dimulai !!! ", Teriakku dengan nada semangat
...----------------...