
Keesokan harinya...
Aku bangun dari tempat tidur, sepertinya ada yang menggendongku sampai di kasur, tapi siapa ya?
" Uhm... Ah... jam berapa ini... ", ucapku sambil melihat jam beaker.
Jam tersebut menunjukkan pukul 10 pagi. Karena sudah terlalu siang menurutku, aku langsung menuju kebawah untuk makan sebentar lalu latihan lagi seperti kemarin.
" Oh Chi... kamu sudah bangun ya... eh... ", ucap Rey.
Namun aku langsung menuju ke halaman belakang rumah untuk melanjutkan latihanku.
Selagi berlatih... Chuya datang sambil membawa camilan seperti bakso yang disunduk.
Syuut... Syuut...
Aku yang sedang berlatih mengayunkan pedang.
" Hyat.. Hyat... eh.. Chuya ? ", ucapku sembari berhenti mengayunkan pedang.
" Chi... sini makan camilan dulu, hihihi... ", ucap Chuya sambil memberikanku makanan itu.
" Ah... makasih, tau aja aku lagi lapar ", balasku sambil menerima cemilan yang diberikan Chuya.
Aku dan Chuya pun segera duduk di kursi dan makan bareng, mungkin suasananya seperti romansa sih, tapi kami bukanlah sepasang kekasih... walau aku berharap begitu.
" Nyam... ini enak Chuya, makasih ya hehe ", ucapku.
" Sama-sama Chi, oh anu sebentar jangan bergerak ", Chuya langsung mendekatiku dan memakan sesuatu yang ada di pipiku menggunakan mulutnya.
Cup...
Aku tersipu malu...
" A-apa yang kau lakukan bodoh... ", ucapku sambil membuang muka.
" Humm Chuya hanya memakan sisa camilan tadi yang ada di mulutnya Chi kok, hihihi ", ucap Chuya sambil meringis.
" Humph... ya udah, aku lanjut dulu ya latihannya ", ucapku sambil melanjutkan latihanku.
Chuya pun balik ke rumahnya, namun saat berada di samping rumah.
" Hihi... ciee yang tadi lagi mesra mesraan ", ucap Ilulu.
" Hah eh... emm engga kok ", ucap Chuya yang berusaha menyangkalnya.
" Beneran?? tadi aku liat loh kak Chi sama kak Chuya ciuman gitu, UwU ", ucap Lili.
" Wah... benarkah? hey Chuya, apa kau suka sama Asaka? hihihi ", ujar Rey.
" Ishhh kalian kenapa sih ", ucap Chuya kesal.
" Hahaha ", Lili, Ilulu, dan Rey pun tertawa bersamaan.
" Asaka... dia orang yang hebat ya, padahal kemarin dia muntah darah tapi sekarang masih saja latihan, selain regenerasinya yang sangat tinggi, dia juga pekerja keras ", ucap Rey.
" Baguslah, tapi aku tetap khawatir sama Chi, bagaimana kalau dia gk akan balik lagi ", ucap Chuya sambil memegang kepalanya.
" Hey kalian bertiga, akan kukasih tahu yang sebenarnya ", ucap Ilulu dengan nada serius.
" Eh apa? ", ucap Rey.
" Sebenarnya... teman kalian itu, Chi... mungkin setingkat atau melebihi Raja Iblis. Tenang saja, dia bukan Raja Iblis kok, aku bisa tahu karena aku adalah Raja Iblis ", ujar Ilulu.
" Terus kak Chi siapa dong ? ", tanya Lili.
" Hihi Chi adalah pacarnya Chuya hahaha ", ujar Rey dengan wajah meringis.
" Ish... apasih Rey ", ucap Chuya.
" Hahaha ", serempak Rey, Lili, dan Ilulu tertawa bersama.
Lanjut dengan latihanku, aku berlatih dan berlatih terus sampai larut malam, berhenti paling cuman untuk makan... itupun langsung lanjut latihan lagi.
Saat sudah larut malam, mungkin sekitar jam 11 malam lebih aku masih berlatih...
" Hyat... Phantom Slash ", ucapku sambil mengayunkan kedua pedangku.
Sring,Sring... Sring,Sring...
Akhirnya aku bisa melakukan skill Phantom Slash tanpa terluka seperti kemarin.
" Baguslah... hari ini aku sudah bisa...
huft tapi capek sekali... aku mau cek dulu deh total energi powerku... ", ucapku.
Aku mengeceknya di status yang tertera di lencana petualangku, dan hasilnya...
" Wah lumayan... jadi 4000 mp, berarti semakin aku sering menggunakan skill, semakin naik juga energi powerku, baiklah semangat diriku ", ucapku sambil meregangkan tanganku.
" (Chi... jangan maksain...) ", gumam Chuya yang sedang melihatku dari balik jendelanya.
Aku langsung mengakhiri latihan hari ini, dan segera balik ke kamarku.
" Fyuh... terbayar juga akhirnya, besok latihan melawan Ryu ah... apa aku akan menang ya Huhu... ", ucapku.
Tak lama setelah aku mengomel dengan diri sendiri, akhirnya aku pun tertidur....
Zzz... Zz... z...
Esok hari pun tiba...
" Hoaam... uh ? ", aku bangun, namun ada hal yang tak biasa.
" (Oh iya... jam beakerku rusak, eh bukan itu...) ", ucapku dalam hati.
Karena aku ngerasa ada yang aneh dibalik selimutku, aku pun segera membukanya.
Wushhhh...!!!
Zzz... Zz... z...
Ternyata Chuya semalaman tidur bersamaku dengan posisi dia memeluk badanku.
" Hey... emm bangun... duh gimana sih bangunin cewe... ", ucapku.
Tidak lama setelah aku mencari ide untuk bangunin Chuya, ia sendiri langsung bangun seperti yang kuharapkan.
" Oh... pagi Chi... hoaammm... ", ucap Chuya dengan keadaan setengah sadar.
Saat kulihat-lihat ternyata Chuya manis banget saat bangun tidur seperti ini, aku jadi tidak tega mau memarahi dia...
" Anu... kenapa kamu tidur disini ? ", ucapku.
" Uh... gk boleh ya ? ", ucap Chuya.
" Jelas gk bolehlah kalau belum nikah, hadeh ", ujarku sambil mengeluh.
" Kalau gitu kita nikah aja ", ucap Chuya.
Lagi-lagi aku dibuat bingung oleh dia, aku pun langsung beranjak dari tempat tidur, namun..
Pakkk...
Chuya menahanku agar tidak jauh-jauh darinya.
" Kamu mau apasih... ", ucapku.
" Uhm... ", Chuya tiba-tiba mendekat pada diriku, seperti ingin memelukku, akan tetapi.
Brak...
Pintu kamarku terbanting keras, pelakunya adalah seorang cewe.
" Pagi Asaka, hehehe yuk kita ma--- ", ucap Ilulu namun dia berhenti bicara karena kaget melihat poseku yang sedang dipeluk oleh Chuya.
" Oh... maaf ya aku ganggu, hehe silahkan dilanjut, hahaha ", ucap Ilulu.
Brak...
Ilulu langsung pergi meninggalkan kami di meja makan.
" Woeeee Ilulu... Ini salah PAHAMMM !!!! ", teriakku dengan lantang.
Aku dan Chuya pun langsung turun ke bawah dan segera makan.
" Oh iya Ilulu, sepertinya kamu sudah tidak butuh darah ya ? ", ucapku.
" Oh tenang saja, aku sudah dapat sendiri kok, hasil dari berburu saat aku tidak ada disini kemarin, hihihi ", ucap Ilulu.
Seketika aku, Rey, Chuya, dan Lili saling tatap muka seperti sedang memikirkan sesuatu yang sama.
" Baiklah... terima kasih atas makanannya, aku lanjut latihan dulu ", ucapku.
" Aku ikut... kau mau latihan lawan Nagamu kan? si Ryu ", ucap Chuya.
" Eh... hehehe iya sih ", ucapku.
" Izinkan aku ikut yaa... ", ucap Chuya sambil memasang wajah imut.
" Baiklah-baiklah humph ", ucapku sedikit kesal.
Tiba-tiba Rey mendekatiku dan berbisik padaku.
" Coy... ini kesempatan emasmu loh, hihihi, kalau bisa bikinlah seorang bayi muehehe ", bisik Rey kepadaku.
Bugh...
Aku memukul dada Rey dan dia terpental sedikit kebelakang.
" Berhentilah menggodaku Rey, lagi pula... mungkin itu mustahil, karena dia lebih suka kau ", ucapku ke Rey.
" Eh apa? apa yang kalian bicarakan ? ", ucap Chuya.
" Tidak apa-apa, yuk Chuya... jadi kan ? ", ucapku.
" Eh yuk... emm ", ucap Chuya
Aku dan Chuya langsung berangkat dengan hanya membawa beberapa camilan dan minuman sebagai bekal latihan nanti, aku pergi ke tengah hutan dengan berjalan kaki sama Chuya agar lebih romantis eh maksutku lebih hemat energi hehe :v
Kami pun sudah sampai di tempat tujuan.
" Woah... akhirnya sampai, Chuya kamu siap melawan Ryu ? ", ucapku.
" Siap kok hihihi ", ujar Chuya sambil tertawa sedikit.
" Summon Pet ", aku langsung memanggil Ryu lewat lingkaran perintah itu.
Gruoahhhh...!!!
" Yo Ryu, lama tak jumpa hehehe ", ucapku.
" Yo bocah... tumben kau memanggilku, pasti ada maunya nih hahaha ", ucap Ryu.
Aku pun langsung menjelaskan tujuanku agar Ryu dapat melatih kami berdua dan bisa memenangkan event dari Guild Petualang.
" Humm begitu ya, baiklah... tapi pertama... siapkanlah mental kalian, kedua... jangan ragu untuk membunuhku karena aku takkan mati, dan ketiga... kalian sepertinya cocok jadi sepasang kekasih hahaha ", ujar Ryu.
Aku dan Chuya langsung berekspresi garing ketika Ryu mengucapkan syarat ketiganya.
" Sudahlah yok langsung saja latihannya ", ucapku dengan penuh semangat.
" Sebentar bocah... aku merasakan hawa keberadaan yang aneh ", ucap Ryu.
" Eh apa itu ?? ", ucapku.
...----------------...