The Adventure Of Chi

The Adventure Of Chi
Chapter 28



Rey dan Chuya menghampiriku yang sedang tergeletak di Arena itu sedangkan Ilulu mengurus Lili untuk dibawa keluar Arena, tetapi...


" Bwa... ", teriak Lili yang berusaha mengejutkan Ilulu.


Namun Ilulu tidak terkejut...


" Wah... jadi selama ini kau hanya pura-pura pingsan ya ", sahut Ilulu.


" Hehe... tadi aku sekalian merapal skill support sih untuk membantu kalian, aku berpura-pura pingsan biar tidak diganggu ", Lili langsung berdiri seakan akan dirinya tidak terluka sedikitpun.


" Yah pantas saja kecepatanku tadi meningkat " sahut Ilulu.


Sementara itu, aku sedang terkapar di Arena dalam keadaan pingsan. Lalu Rey dan Chuya segera menggendongku untuk keluar dari Arena.


Saat mau keluar Arena...


" Woi kalian ", ucap Ryo kepada Rey dan Chuya selaku pemimpin party King Of Speed yang telah kalah dari partyku.


" Hah? kami ? ", jawab Rey kepada Ryo.


" Mau kau bawa kemana orang itu ? ", ucap Ryo.


" Ya ke rumahlah ", sahut Rey.


Ryo pun langsung menunjukkan arah Istana Kerajaan dengan telunjuk jarinya.


" Bawa ke sana saja, kan tadi Raja sudah bilang kalau ada yang sekarat bawa saja ke Istana, sama seperti rekanku yang tadi ditusuk oleh gadis itu(melihat Chuya dengan sorot mata tajam, Chuya memalingkan wajahnya dengan ekspresi merasa bersalah), tenang saja... cepat kok pemulihannya ", sahut Ryo.


Rey dan Chuya langsung mengangguk-angguk dan segera membawaku ke Istana Kerajaan.


Tap... Tap... Tap...


Setibanya di sana...


Rey dan Chuya langsung menyerahkan diriku kepada penjaga pintu depan kerajaan.


" Baiklah, nanti kalian jemput dia dalam 3 jam lagi di tempat ini ", ujar penjaga gerbang itu.


Chuya dan Rey mengangguk-angguk dan segera pulang ke rumah. Aku dibawa penjaga gerbang itu menuju ruang perawatan, suasana ruangan itu cukup ramai karena tidak hanya aku yang ada di sana, peserta lainnya juga mengalami cidera, lumpuh, dll setelah pertandingan tadi.


Srett...


Penjaga gerbang itu mengoperkan diriku ke dokter yang ada di ruangan itu.


Dokter itu pun langsung membaringkanku yang sedang pingsan ke tempat tidur.


" Nah saatnya memeriksa apa yang terjadi pada anak ini ", ucap dokter itu.


Saat dokter itu sedang melakukan analisis tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan suara berisik.


" Woe dokter tangan sakit nih saat bertanding tadi ", ucap tuan putri sambil menodohkan tangannya ke dokter yang seharusnya sedang memeriksaku.


" Oh tuan putri, sebentar ya akan saya cek ", ucap dokter itu.


Dokter itu langsung mengecek tuan putri itu dan mulai menyembuhkan lukanya.


Syut... syut...


" Eh, ini kan orang yang itu ", ucap tuan putri.


" Oh dia juga salah satu peserta yang terluka tadi kok, sepertinya lukanya cukup parah saat aku cek tadi ", sahut dokter itu.


Setelah selesai menyembuhkan tuan putri, dokter itu giliran menyembuhkanku, namun..


Aku terbangun...


" Hoamm... sudah pagi ya ", ucapku sembari duduk di tempat tidur itu.


Tuan putri dan dokter itu terkejut dengan diriku yang tiba-tiba siuman.


" Heh bocah bukannya kamu sedang terluka parah ya ? ", ujar dokter itu.


" Oh... itu hehe, oh... tuan putri yang tadi ya, makasih ya atas jubahnya hihi, aku suka kok ", ucapku sambil memberikan senyuman.


Dokter itu terkejut saat mendengar kalau tuan putri memberikan sesuatu kepada orang asing.


" A-apa sih, itu kan dari adikku, harusnya kamu berterima kasih pada adikku bukan ke aku ", ucap tuan putri itu sambil membuang mukanya.


Aku membalasnya dengan senyuman.


" Apasih senyum-senyum terus, najis tau ", ucap tuan putri itu.


" Hahaha, engga kok ngomong-ngomong... namaku Asaka Chiro ", ucapku sambil berdiri dan menundukkan badanku untuk berkenalan dengan tuan putri.


Aku melakukan itu karena merasa harus menghormati dirinya sebagai tuan putri.


" Gajelas dah, siapa juga yang mau kenalan, ngomong-ngomong namaku Claire Lucia ", ujar putri itu.


Dokter tadi masih berdiri dan mendengar percakapan kami.


" Cie tuan putri akhirnya punya kenalan walaupun dia hanya rakyat jelata, haha ", ucap dokter itu dengan nada mengejek.


" Menyingkirlah atau kubunuh kau ", sahut tegas putri itu.


Dokter itu pun langsung menjauh dan segera mengecek pasien lainnya yang sedang terluka.


" Oh iya ya ini dimana ya ? ", tanyaku ke putri itu.


" Istanaku, kenapa emang ? ", balasnya.


" Chuya dan lainnya dimana ? ", tanyaku.


Aku menundukkan kepalaku, dalam hati aku menebak itu pasti Rey tapi kenapa hatiku seperti cemburu padanya, padahal aku hanyalah temannya.


" Kau kenapa? oh apa mungkin kau suka ya sama cewek itu? hihihi ", sahut putri itu.


" Emm... engga gitu tuan putri ", ucapku.


" Stop!! memanggilku tuan putri, panggil saja Claire atau Lucia tidak apa-apa ", sahut Claire.


" Baiklah Claire ", ucapku.


Setelah mengobrol dan berkenalan dengan tuan putri, tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang.


" Woe bocah hahaha ", sahut om Gardon dengan nada keras.


" Oh wah om juga terluka ya haha ", ucapku.


" Iyalah, pria sejati selalu mendapatkan luka dan tidak pernah merengek ", ucap om Gardon dengan bangga.


Aku dan om Gardon pun membahas tentang pria sejati, sementara itu tuan putri Claire merasa menjadi nyamuk.


" His... WOI JANGAN ACUHKAN AKU ", teriak putri Claire.


" Ah maaf-maaf hahaha, aku tidak melihatmu putri, habisnya kau kecil sekali sih ", ucap Om Gardon.


" Apa katamu... aku kan sama tingginya dengan Asaka ", ujar putri Claire.


" Wah kau kenal dia ya, jarang-jarang loh yang kenal putri ", ujar om Gardon.


" Psst... semangat bro dapatin hatinya dia, tapi sepertinya mustahil karena dia adalah seorang bangsawan haha ", bisik om Gardon kepadaku.


" Steve Gardon ", ucap penjaga gerbang yang berada di depan pintu ruangan itu.


" Oh aku dipanggil, duluan ya bocah dan semangat ya hahaha ", sahut om Gardon.


Ia pun keluar dari ruangan itu, kini aku sama putri Claire saling bertatapan namun juga saling membuang muka.


" Ehm... ", gumam putri Claire.


" Ada apa Claire ", ucapku.


" Anu... mau mengelilingi kerajaan gak? sebelum kamu kembali ke rumah ", ucap malu putri Claire.


" Boleh saja, emangnya gak malu ngajak rakyat jelata pergi bareng gini ? ", ucapku.


" Sudah, tidak apa-apa kok ", ucapnya.


Sambil menunggu aku dijemput, aku pun menurutinya untuk mengelilingi kerajaan ini bersama dengannya.


Tap... tap... tap...


Kami mengunjungi beberapa ruangan seperti ruang makan, ruang perpustakaan, ruang koleksi, dan lain lain.


Awalnya semuanya tenang-tenang saja sampai saat kami melewati ruang penelitian.


Duarr...!!!


Sebuah sihir berbentuk gelombang yang panjang keluar dari pintu ruangan itu dan...


Sialnya sihir itu mengarah ke kami.


" Minggir Claire, Mega Shield ",


Duarrr...


Suara benturan keras terjadi saat aku menangkis sihir itu.


" Kau tidak apa-apa ? ", ucapku ke tuan putri Claire.


" Ah ehm makasih ", sahut putri Claire.


" Woe kalian tidak apa-apa ? ", ucap suara cowok dari dalam ruangan.


Tap... Tap... Tap...


2 orang muncul dari dalam ruangan itu, mereka semua adalah cowok yang sepertinya seumuran denganku, namun sepertinya mereka jugalah bangsawan.


" Wah ternyata Claire, oh kau melindungi dia ya boleh juga kau ", ucap seorang bangsawan itu.


" Tunggu... sepertinya aku pernah melihatmu ", ucapku.


" Oh iya? jangan-jangan kau yang pernah memberikanku sebuah pedang platinum emas ya ? ", sahutnya.


Aku menahan amarahku karena masih sedikit kesal jika mengingat kejadian itu.


" Hahaha... apa kau mau mengambil balik pedang kesayanganmu itu? ululu, padahal hanya rakyat jelata beraninya kau kesini cuih ", ujarnya dengan nada mengejekku.


" Hentikan Zarth ", ujar putri Claire.


" Ada apa sayangku? mau nikah denganku lebih cepat ya? boleh kok hihihi ", jawab Zarth.


Sedangkan bangsawan yang satunya hanya diam dan berusaha agar tidak terlibat dalam masalah itu.


" Najis tahu, mending aku sama rakyat jelata ini daripada denganmu ", ucap putri Claire.


" Anu tapi... aku sudah ada orang yang kusuka hehe ", ucapku sambil menggaruk kepalaku.


Mereka bertiga sekilas melihatku dengan tatapan yang tajam.


...----------------...